NovelToon NovelToon
Aster Veren

Aster Veren

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Tamat
Popularitas:260.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fiane

Aster gadis kecil yang hidup sendiri setelah ditinggal pergi oleh ibunya diusia mudanya. Kini dia juga harus kehilangan sosok neneknya, satu-satunya keluarga yang masih dimiliki olehnya.

Lalu suatu hari dia bertemu dengan seorang pria asing dalam sebuah kecelakaan, siapa sangka pertemuannya dengan pria itu membawanya pada kehidupan yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fiane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 03

–Aster–

Pagi ini paman mengantarku pulang setelah selesai sarapan pagi bersamanya, bahkan dia benar-benar meminta kak Hana untuk memasak makanan untuk ku. Sepertinya paman aneh ini mengkhawatirkanku, terlihat jelas dari sorot matanya.

Saat ini aku berada di dalam mobil mewah miliknya dan duduk disampingnya yang sedang memainkan ponselnya, sementara aku hanya bisa menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi dibalik kaca jendela mobil disampingku.

“Ada apa?” Suara paman mengejutkanku yang sedang asik melamun.

“Eng—enggak ada ... aku cuma kepikiran sama PR-ku yang belum ku kerjakan.” Jawabku melantur, aku tidak bisa bilang padanya kalau aku merindukan nenek dan ibu kan? Rasanya setiap hari aku selalu merindukan ibu dan nenek.

Apalagi sejak mereka pergi meninggalkanku, aku sering memimpikan hari-hariku bersama dengan ibu dan nenek. Rasanya benar-benar menyenangkan, tapi saat aku terbangun dari tidurku aku merasa—sedih.

“Ku kira kenapa.” Ucapnya kembali meruntuhkan lamunanku.

“Kita sudah sampai tuan muda.” Tutur pak supir sambil menepikan mobilnya dipinggir jalan.

“Benar disini rumahmu?” Tanya paman terlihat memperhatikan sebuah rumah bercat hijau disebelah kiri jalan.

“Iya,” Jawabku sambil mengangguk, “Terima kasih karena sudah mengantarku pulang, dan terima kasih untuk makanannya juga.” Lanjutku berusaha memberikan senyuman terbaikku sambil menunjukan tas berisi kotak makanan sebelum kami berpisah.

Lalu pintu mobil disebelahku terbuka, ku lihat ada pak supir yang membukakan pintunya dari luar. Kemudian tanpa banyak bicara lagi aku langsung keluar turun dari mobil mewah itu.

“Tunggu Aster,” Suara paman menghentikan langkahku, “Apa aku boleh mampir?” Lanjutnya membuatku mengangguk cepat tanpa banyak berpikir, karena aku sudah tak sabar ingin menemui bi Siti dan suaminya. Mereka pasti senang saat melihatku membawa banyak makanan enak untuk kami semua.

Ku lihat paman turun dari dalam mobilnya dan berjalan mendekatiku sambil membenarkan jas abu yang dikenakannya. Entah kenapa aku malah mengizinkannya mampir ke rumah. Bahkan hatiku merasa senang tanpa alasan, padahal kami baru bertemu. Mungkin karena selama ini tak ada yang pernah mengunjungiku semenjak nenek dan ibu pergi. Jika pun ada, mereka hanya para tetangga yang baik padaku.

“Aster!” Teriak bi Siti membuatku segera berlari mendekatinya.

“Bibi.” Ucapku segera memeluk tubuhnya.

“Kamu darimana saja nak? Bibi sangat mengkhawatirkanmu, kenapa semalam tidak ada di rumah? Apa kamu baik-baik saja?” Tanyanya bertubi-tubi dengan sorot mata khawatirnya dan sesekali menciumi puncak kepalaku.

“Aster baik-baik saja kok bi, maaf sudah membuat bibi khawatir ... ah iya, Aster bawa makanan enak buat bibi dan paman.” Jawabku sambil mengulas senyum dan menunjukan tas berisi makanan di tanganku.

“Lain kali kalau mau pergi keluar bilang-bilang dulu sama bibi ya ....” Tuturnya terdengar khawatir membuatku merasa bersalah karena tidak meminta diantar pulang oleh paman semalam.

Seandainya aku langsung meminta diatarkan pulang setelah selesai makan malam, mungkin bibi tak akan memasang ekspresi sedih seperti itu. Tapi kalau semalam aku minta diantar pulang, aku benar-benar akan merepotkan paman.

“Untunglah Hana memasak banyak makanan untukmu ya, jadi kamu bisa memakannya bersama ibumu dan membagikannya pada–” Suara paman mengalihkan perhatian bibi.

“Tuan ini? wah dia kerabatmu ya nak? Syukurlah dia datang, kamu pasti senang kan bisa bertemu dengannya. Akhirnya kamu tidak sendirian lagi.” Tutur bibi memotong ucapan paman, membuat paman itu terkejut.

Ah sepertinya bibi salah paham. Batinku sambil tersenyum tipis padanya.

“Ma—maaf saya bukan–” Jelas paman terhenti saat merasakan tangan bibi menepuk bahunya dengan ekspresi berseri-serinya. Entah kenapa wajahnya benar-benar terlihat lucu.

“Kita bicara di dalam saja ya.” Ucap bibi sambil menarik tangan paman menuju rumahnya.

“A—anu bibi, paman ini hanya mengantarku pulang. Aku tidak mengenalnya ....” Tuturku berusaha menjelaskan semuanya pada bibi sambil mengikuti langkahnya, ku lihat paman menoleh padaku dan tersenyum tipis sambil menganggukan kepalanya. Apa itu semacam ucapan tidak apa-apa?

“Duduklah nak.” Ucap bibi mempersilahkan paman duduk saat kami sampai di dalam rumah, “Aku siapkan dulu teh hangat untukmu ya, tunggu sebentar. Aster juga bantu bibi yuk.” Lanjutnya membuatku sedikit ragu untuk meninggalkan paman di ruang tamu sendirian, tapi keraguanku menghilang saat melihat anggukannya lagi dengan senyuman yang lebih lebar dari sebelumnya. Ku sunggingkan senyuman lebar padanya sebelum pergi menyusul bibi ke dapur.

Sesampainya di dapur, aku menyimpan tas berisi makanan ditanganku ke atas meja dan mendekati bibi yang sedang bersenandung. Terlihat begitu senang, “Syukurlah ....” Gumamnya sambil meraih puncak kepalaku dan mengusapnya dengan lembut.

Sebenarnya apa yang bibi pikirkan? Batinku bertanya-tanya dengan suasana hatinya hari ini.

Setelah airnya mendidih bibi langsung menyeduh teh hangat untuk paman, memasukan sedikit gula lalu mengaduknya dengan hati-hati.

“Aster bawa ini ke ruang tamu ya, bibi mau membawa sesuatu di kamar bibi.” Ucapnya membatku mengangguk paham dan segera membawa cangkir teh dihadapanku menuju ruang tamu, lalu kembali ke dapur untuk membawa dua cangkir teh lainnya secara bergantian.

Aku tidak bisa membawanya sekaligus diatas nampan kan? Lagipula bibi tak akan mengizinkannya, bibi terlalu khawatir padaku. Dan aku tak bisa membuatnya terus mengkhawatirkanku, jadi aku menurut saja.

Ku lihat paman kembali menunjukan senyumannya dan meletakan cangkir teh ditangannya keatas meja dihadapannya. Sepertinya dia baru meminumnya.

“Bibimu baik ya,” ucapnya membuatku mengulas senyum tipis dan berlari mendekatinya, “Jadi dimana ibu dan nenekmu?” Lanjutnya bersamaan dengan kedatangan bibi.

“Maaf sudah membuatmu menunggu.” Ucap bibi membuatku berjalan mendekatinya yang sudah duduk dihadapan paman itu, terhalang oleh sebuah meja.

Ku lihat paman juga memasuki ruang tamu sambil tersenyum padaku dan beralih menatap paman berambut merah itu, aku lupa menanyakan namanya.

***

–Arsel–

Suasana menegangkan apa yang ada dihadapanku ini? batinku merasa begitu tegang memperhatikan wajah pasangan paruh baya dihadapanku dan berganti menatap wajah Aster yang tersenyum tipis padaku saat mata kami bertemu pandang.

“Jadi orang ini kerabatnya Aster ya.” Suara pria paruh baya itu mengejutkanku.

“I—itu ....” Gumamku merasa bingung, sebenarnya ada apa dengan keluarga ini? kenapa mereka mengira aku kerabatnya anak ini? dan lagi aku harus menjawab apa?

“Aster sayang, bibi harus memberitaumu soal ini padamu. Tadinya bibi tidak ingin menjual rumah yang kau tempati kepada orang lain, tapi saat ini bibi membutuhkan uang dan mereka siap membeli rumah itu kapanpun. Syukurlah pamanmu datang disaat yang tepat–” Jelasnya membuatku semakin bingung.

“Rumah itu? Bukankah itu rumah ibuku?” Tanya gadis kecil itu terlihat terkejut untuk beberapa saat.

“Bukan sayang, ibu dan nenekmu hanya menyewa rumah itu dari bibi.” Jawab wanita itu dengan suara lembutnya sambil mengelus puncak kepala anak disampingnya.

“Jadi Aster tidak punya rumah?” Tanyanya, kali ini dengan sorot mata yang sudah berkaca-kaca dan suaranya yang sedikit bergetar. Sepertinya dia mencoba menahan tangisnya.

“A—anu ....” Ucapku mengalihkan perhatian wanita itu.

“Ah maaf, aku melupakanmu.” Ucapnya sambil tersenyum ramah dan meletakan sebuah amplop putih di atas meja, tepat dihadapanku.

“Nak Helen menitipkan ini pada ibunya sebelum kepergiannya, lalu ibunya menitipkan surat itu pada kami sebelum menyusul putrinya. Dan saat ini Aster hidup sendirian di rumahnya, aku sempat mengkhawatirkannya dan ingin mengadopsinya. Tapi syukurlah kamu datang diwaktu yang tepat, Aster juga pasti senang kan? Akhirnya ada kerabatmu yang mau menjadi walimu.” Lanjut seorang pria disampingnya membuatku terkejut dan semakin tak mengerti dengan ucapannya.

Apa dia bilang? Anak ini hidup sendirian di rumahnya? Dan kenapa tak ada kerabatnya yang mau merawatnya saat ibu dan neneknya telah tiada? Semua pertanyaan itu memenuhi kepalaku, bahkan saat ini aku merasa begitu yakin kalau dia benar-benar ... anaknya Helen, Helen yang ku kenali.

.

.

.

Thanks for reading...

1
𝐁𝐈𝐍𝐓𝐀𝐍𝐆
♥️
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
woy secepat ini kah endingnya
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Time skip?😳
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Carel kangen ayang🤣
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
gue suka eps kali ini sama dua eps sebelumnya. Gila manis banget interaksi Aster sama Carel. Tu cowoknya keliatan perduli banget sama Aster, disisi lain gue malah ngira si Carel lagi ngasuh adeknya wkwkwk🤣
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
figuran yg sangat peka ya🤣
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Mungkinkah Carel berpikir Aster bakal lepas lagi darinya? Secara kan waktu itu Aster dalam bahaya waktu jauh dari Carel, terus Carel juga gk sempet datang tepat waktu buat nolong Aster.

Jadi secara naluri dia berusaha buat tetap jagain Aster dan gk mau jauh-jauh dari Aster. Jadi kalau ada apa-apa juga, Carel bisa bantu. Gitu kan? Kalau gitu gue paham kenapa Carel sampai sepanik itu waktu Aster lepasin genggaman tangannya dan lari jauhin dia🥲
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
berusaha menahan kesal ya🤣
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Apa ini apa ini?

Jadi Aster udh tau kalau Carel ngaku2 pacarnya dari temen2nya? Terus dia pura2 gk tau buat godain Carel gitu?

Eps kali ini banyak gulanya ye?
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
selamanya juga boleh, yakin tuh si Carel kegirangan karena dipeluk sama pujaan hatinya
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Termasuk gue sebagai pembacanya ye kan😌
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
ni anak gemesin banget woy. Karung mna karung >///<
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
ayo bahas biar Ansel ngamuk
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
sedang menggosipkan si Carel dan ketidakpekaanmu itu
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Ya berduaan denganmu itu maksudnya nak🤣
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
minga maaf karena udh naksir si Aster ya🤣
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Ternyata si Lea salah paham🤣

Rupanya si Aster sibuk mikirin ucapan si Carel toh.

Gue suka sih interaksi mereka disini. Apalagi Aster mulai memutuskan buat lebih terbuka sama Kalea. Berarti mulai dari sini hubungan pertemanan mereka bakal lebih dalam lagi kan? Mungkin🤔

Btw, gue ngerasa ada bau2 scene romance kedepannya. Apakah sudah waktunya Aster dan Carel mulai memasuki kisah mereka?
𝐌𝐄𝐆𝐀𝐍: lanjutkan👍
total 3 replies
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Nah iya, setuju gue. Sekali-kali Aster harus marah, jangan buat dia terlalu sabar😭
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Karena terlalu seneng sama hubungan pertemanan mu sama Aster itu.

Apalagi Asternya kelewat baik:')
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Oh jadi intinya si Ansel mau memperbaiki hubungannya dengan Aster dengan cara membuat batasan yg jelas sama si Kalea toh.

Ya sih, udh seharusnya tu anak berhenti nganggap Ansel sebagai bapaknya. Kan dia udh nemu bapak baru juga.

Disisi lain ni si Ansel pengen buat Aster seneng kayanya karena kedepannya cuma dia yang bisa manggil Ansel ayah😌
𝐁𝐈𝐍𝐓𝐀𝐍𝐆: Bapak baru🗿
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!