[Trailer sudah tersedia di you tube author]
Antara cinta dan keimanan. Mereka tidak akan pernah bisa menyatu jika benteng tinggi yang berdiri kokoh tidak runtuh. Dan mereka tidak akan pernah bisa menyatu jika salah satu di antaranya tidak ada yang mengalah.
Pengorbanan, perjuangan dan cinta. Hal itu menyatu padu dalam sebuah untaian kata ‘cinta terlarang’ yang bagaimana pun tidak akan bisa disatukan jika syarat tidak dituntaskan.
Atas dasar ‘pengorbanan dan perjuangan’ mereka bisa menghapus kata ‘terlarang’ dalam kisah cintanya. Bersatu atau tidak, tergantung keputusan mereka.
“Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka.”
—QS. Al-Mumtahanah: 10.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aidahlia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter #19
Kamu tahu apa itu hampa? Ya, dia sunyi tanpa suara, dia sepi tanpa penghuni. Ya, seperti aku, tepatnya hatiku.
__________
Sudah dua hari Syahla tidak masuk sekolah. Keadaan dia sedang tidak baik-baik saja sejak berpulangnya abba ke rahmatullah. Suhu tubuhnya meningkat, tubuhnya lemas, dia lebih sering melamun, dia pun semakin irit berbicara, bahkan makan pun dia malas sekali. Yang biasanya dia takut apabila sang kakak marah, kini ia menanggapinya hanya dengan diam seribu bahasa.
Sudah berulang kali kak Syakib menasihatinya, ia tetap memberikan tanggapan yang sama, diam, diam, dan diam. Kak Syakib masih bisa bersyukur, Syahla hanya berubah dari sikap, tidak perbuatan. Ia masih rajin salat, masih rajin mengaji, bahkan sujud terakhirnya begitu lama dan banjir oleh airmata.
"Syasya? Dengar Kakak, kan?" tanya Kak Syakib ketika pertanyaannya tidak kunjung Syahla jawab.
"Dengar, hanya saja, hm ... Syasya enggak punya jawabannya," ucapnya seraya berusaha tersenyum.
"Kakak cuma tanya kamu mau makan apa hari ini Syasya, bukan tanya soal tasrif lughowi."
"Apa aja yang menurut Kakak enak."
"Kalo enggak dimakan Kakak bakal marah sama kamu, ini beneran," ucap Kak Syakib datar seraya berjalan ke arah luar untuk membeli makanan.
Setelah kepergian kak Syakib Syahla langsung menuju musalah rumah. Sebelum memasukinya ia berwudhu terlebih dahulu. Di pukul delapan malam ini ia ingin bermunajat kepada Allah, meminta ampun atas segala kesalahannya, dan meminta ketenangan hati yang sebelumnya gundah gulana.
Seperti biasanya, jika sudah bersimpuh di atas sajadah airmata begitu mudah sekali lolos menerobos benteng, membanjiri pipi yang sebelumnya hanya basah karena air wudhu.
" Ya Allah ... hamba tahu, hamba salah, tapi hamba begitu berat untuk melangkah ke lembaran baru yang sudah tersedia di depan mata. Hati hamba hampa, sunyi, sepi. Maaf hamba terlalu berlebihan menanggapi musibah ini. Hamba begitu mudah melupakan-Mu, begitu mudah terpuruk dengan keadaan. Hamba mohon, ampunilah hamba-Mu yang lemah ini, yang memiliki iman rendah. Berikanlah hamba ketenangan hati, kedamaian jiwa, hamba akan berusaha melangkah, hamba yakin hamba bisa. Dan hamba mohon ridhai segala langkah hamba, mudahkanlah, Ya Allah. Dan untuk nikmat-Mu ini, terima kasih, hamba berharap dengan nikmat sakit ini dosa-dosa hamba bisa terampuni."
Sambil menunggu kak Syakib Syahla memilih untuk melanjutkan hapalannya. Hapalannya tidak akan putus walaupun kini abba telah tiada. Ia bertekad, semoga di akhirat kelak ia bisa memberikan mahkota dan jubah kebesaran kepada kedua orangtuanya.
***
Kak Syakib tersenyum sendu melihat adiknya begitu serius menghapalkan Al-Qur'an. Bayangan wajah abba yang senantiasa menggalakkan Syahla untuk hapalan di masa kecil terasa berputar kembali, tayang di hadapan matanya.
"Syasya, makan dulu yuk, Kakak beli nasi goreng sama es jeruk," ucap Kak Syakib seraya menyentuh bahu kanan Syahla.
Syahla spontan menoleh. "Oh iya, aku nanti nyusul," ucap Syahla seraya menutupi wajahnya dengan mukena. Sepertinya ia menangis, dan saat ini ia sedang menutupi kenyataan itu dari Kakaknya.
Sebenarnya Kak Syakib sudah tahu kalau Syahla menangis, ia hanya berpura-pura tidak tahu. Seperti yang Syahla bilang, bahwa ia akan menyusul, akhirnya Kak Syakib berjalan keluar menuju ruang makan lebih dulu.
Sementara Syahla langsung melepit mukena dan membasuh wajahnya dengan air. Setelah itu ia baru menemui Kakaknya di ruang makan.
"Gimana badan kamu udah enakan?" tanya Kak Syakib seraya memberikan Syahla bungkusan berisi nasi goreng.
"Alhamdulillah, besok aku mau sekolah, Kak."
"Alhamdulillah kalo begitu, Senin depan, kan, kamu udah UKK. Kamu harus belajar semaksimal mungkin supaya hasilnya enggak buat kamu kecewa."
"Bismillah ...."
Setelahnya hanya terdengar suara dentingan sendok yang sesekali berbentur dengan piring.
Setelah menghabiskan makananya Kak Syakib memepersilahkan Syahla untuk belajar, sementara Kak Syakib mengerjakan tugas persiapan skripsinya yang hampir tuntas.
***
Di pagi harinya sesuai dengan yang Syahla ucap bahwa ia akan sekolah pagi ini. Ia berangkat ke sekolah diantar Kak Syakib karena Syahla masih belum diizinkan oleh Kak Syakib mengendarai motor sendiri.
"Kamu bawa handphone, kan?"
Syahla mengangguk. "Iya aku bawa."
"Nanti kalau udah pulang chat Kakak aja, ya, kalau enggak kamu nebeng tuh sama si Husna kalau dia bawa motor."
"Iya, Kak."
"Yaudah Kakak berangkat ya, belajar yang benar, semoga sukses dunia akhirat."
"Aamiin, semoga Kakak juga. Assalamu'alaikum, Kak." Berpapasan saat itu Syahla melangkah ke arah sekolah dan Kak Syakib berangkat menuju kampusnya.
Sesampai di kelas Syahla dapati senyuman Husna tertuju padanya. Senyuman persahabatan yang insyaallah tidak hanya di dunia, begitu pula di syurga-Nya Allah SWT yang kekal.
"Assalamu'alaikum Ustazahku," sapa Husna berusaha memecahkan suasana.
"Wa'alaikumussalam warrahmatullah, Bidadari Surga."
"Aamiin, Ya Allah, aamiin ...."
Seketika Syahla tersenyum.
"Aku kangen tau sama kamu, kok kamu enggak main-main sih kerumah aku?" ucap Syahla seraya menyenderkan kepalanya di bahu Husna.
Husna menghembuskan napasnya pelan, bibirnya mengerucut. "Aku lagi sebel, Syah, masa aku mau dijodohin, kan enggak lucu, aku aja belum punya KTP, salat malam masih bebelentongan."
Seketika Syahla tertawa. "Siapa sih?"
"Sama anaknya sahabat umi, dia sekarang lagi kuliah di Al-Azhar. Katanya sih dia hafiz 30 juz."
"Wah ... enggak apa-apa dong, siapa tahu kamu kecipratan tuh. Udah istikarah aja. Jangan merasa sebel gitu dong. Orangtua kamu itu cuma mau memberikan yang terbaik untuk anaknya."
Lagi-lagi Husna menghembuskan napasnya. "Tapikan dia bukan laki-laki yang ada di doaku."
Syahla tersenyum menggoda. "Oh ... selama ini Nana memendam perasaan kepada seorang ikhwan, ya? Siapa tuh ...."
"Syasya ...."
***
Di jam istirahat Syahla memilih untuk pergi ke perpustakaan. Sementara Husna salat dhuha lebih dulu. Hari ini Syahla sedang menstruasi, jadi dia tidak ikut Husna ke musalah.
"Hei, udah sembuh?"
"Astaghfirullah, Ar... "
Artha tersenyum lebar. "Udah lama enggak lihat lu, sekalinya ketemu, hm ... kayak lihat makanan di saat lapar, bahagia."
Syahla ikut tersenyum. "Ada-ada aja, berlebihan tau enggak."
Artha mengambil posisi duduk tepat di hadapan Syahla. Dia ikut membuka buku-buku yang Syahla pilih.
"Tau enggak, Sya?"
Syahla menggeleng, pandangannya masih fokus terarah pada barisan kata di buku berjudul Ittiba' Rasulullah SAW. "Kamu aja belum ngomong, mana aku tahu."
Artha menggaruk telungkuknya yang tidak gatal, dia mudah sekali gugup ketika berada di samping Syahla. Ia baru merasakan hal ini saat ia bersama Syahla.
"Gua tadi ketemu Anya, katanya dia mau minta maaf sama lu."
Syahla langsung menatap wajah Artha yang juga sedang menatapnya. "Emang dia punya salah apa sama aku?"
"Kan dulu dia sempet ganggu lu."
"Aku udah maafin kok itumah."
Artha menganggukkan kepalanya. "Lu enggak boleh keluar malam ya, Sya?"
Syahla mengangguk, pandangannya kini sudah kembali ke barisan kata.
"Nanti malem ulang tahun Angga, dia ngundang banyak orang di sekolah ini, dan termasuk lu. Dia bilang tolong sampein, lu sama dia kan dulu pernah sempet akrab katanya."
"Hm ... ya kalau diundang aku usahain nanti dateng. Aku kenal sama Angga udah lama, tapi cuma sekedar kenal aja. Aku kira dia udah lupa sama aku."
Artha tersnyum kegirangan, ada satu harapan, semoga Syahla mau ia jemput untuk berangkat bersama.
"Mana mungkin dia bisa lupa sama perempuan kaya lu."
"Hilih ...." Suara itu bukan berasal dari mulut Syahla, tepatnya dari mulut orang yang kini berada di samping Syahla.
"Lho ... O, lu ngapain ke sini?"
Rio menggedikkan bahunya. "Gue, kan, buntut lo, jadi kemana pun lo pergi ada gue."
Artha melotot.
"Sekarang gua tau, lu sering banget ilang-ilangan. Rupanya ganti profesi. Bukan lagi Artha sang laki-laki yang dikejar banyak wanita. Kini ia menjadi laki-laki pengejar satu wanita."
Satu buku berukuran A4 dengan tebal kira-kira 312-an lembar berhasil menyentuh kepala Rio.
"Gila sakit!"
Artha bangkit, ia pergi begitu saja. Timbul lagi Artha si kutub utara.
Syahla terbengong melihat aksi dua laki-laki famous ini.
"Maaf ya, Syah, si Artha mah gitu, datang tak diundang, pulang tak diantar. Kayak jin diamah."
"O ... gua denger!"
Rio dan Syahla menoleh bersamaan ke arah suara. Ternyata Artha masih berada di ujung rak buku. Dengan tatapan super dingin ia mendekat ke arah Rio dan menyeretnya untuk pergi.
***
Sambil menunggu kak Syakib Syahla menyempatkan diri untuk pergi ke ujung pembuangan sampah. Di sana ada seorang perempuan tua dengan satu cucunya yang sepertinya masih berusia delapan tahunan. Syahla tersenyum tulus ke arahnya.
"Assalamu'alaikum?"
"Wa'alaikumsalam."
"Jangan takut adik, aku cuma mau kenalan sama kamu dan nenek aja kok, aku enggak jahatin," ucap Syahla ketika cucu nenek tua itu langsung memeluk sang nenek.
"Aku juga sama kayak kamu, aku sudah enggak punya bunda dan abba. Mereka sudah lebih dulu pergi. Di sini aku juga cuma berdua, sama kakak aku. Oh ya, kenalin nama aku Syahla. Biasanya orang-orang dekatku bakal panggil aku dengan sebutan Syasya, kalian juga boleh kok panggil aku Syasya. Anggap aja aku ini saudara kalian. Kalo kamu, nama kamu siapa?"
Nenek tua itu tersenyum. "Dia pemalu, Syasya. Nama dia Adam, dia ini cucu nenek satu-satunya. Kalo nama saya, Asni, panggil aja Nini."
"Kok Nini?"
"Kepanjangan dari Nenek Asni."
Syahla tertawa kecil. "Salam kenal Nini, Adam. Semoga kita bisa bertemu di surga-Nya Allah kelak."
"Aamiin, semoga kamu selalu dilindungin Allah, Syasya."
"Masyaallah, aamiin."
Tiba-tiba ada yang merangkul Syahla. Saat ia menoleh, senyuman Kak Syakib yang ia dapati.
"Nah, ini Kakak aku, laki-laki yang paling aku sayang." Syahla langsung memeluk lengan kanan Kak Syakib.
"Oh ya, aku mau kasih ini, tadi pas di kantin aku lihat buku sama bolpoint ini banyak yang beli, aku jadi kepingin beli, padahal aku enggak suka sama warnanya. Mungkin ini rezeki Adam. Diterima ya Adam. Dari aku, sahabat kamu."
Adam tersenyum, yang tadinya ia terlihat takut kini mulai berani mendekat.
"Terima kasih Kakak, aku suka warna biru gambar mobil." Si kecil Adam meraih jemari Syahla. Ia kecup punggung tangan Syahla.
"Yaudah aku pulang, ya, sampai ketemu lagi."
***
Sesampai di rumah Syahla langsung memulai semua yang sudah biasa ia lakukan setiap hari. Dimulai dari bersiap melaksanakan salat Ashar, lalu menghapal Al-Qur'an, makan sore, bersiap salat Maghrib, lepas dari mukena selesai melaksanakan salat Isya.
Setelah itu ia membuka buku pelajarannya, belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan guru. Di pukul sepuluh malam ia berwudhu, sikat gigi, lalu bersiap tidur.
Di pukul tiga dia bangun untuk melaksanakan salat Tahajud. Selesai melaksanakan salat Tahajud ia memasak nasi menggunakan penanak nasi supaya saat sarapan nanti nasinya sudah matang.
Setelah itu ia mandi dan bersiap salat Subuh. Selesai salat Subuh Syahla mulai memasak apa saja yang ada di dapur untuk sarapan.
"Masyaallah, Syasyaku mulai beraktivitas kembali, seneng lihatnya."
Syahla tersenyum.
"Hitung-hitung belajar jadi istri ya, anggap aja aku suami kamu." Setelah mengucapkan itu Kak Syakib kabur.
"Kakak ...."
Entah mengapa saat Kak Syakib mengucapkan itu bayangan wajah Artha berkeliaran dengan lancar di pikiran Syahla.
"Astaghfirullah," desis Syahla seraya menepuk pelan keningnya sendiri.
Selesai sarapan Syahla menyempatkan diri untuk membereskan rumah. Setelah itu baru ia bersiap untuk berangkat ke sekolah menggunakan motor kesayangannya yang sudah lama ia anggurkan.
***
Sesampai di sekolah Syahla langsung membuka buku-buku yang sebelumnya ia sudah periksa di rumah. Ia baca apa yang akan dipelajari hari ini. Setelah merasa cukup, ia gunakan waktu sebelum bel tiba dengan berdzikir menggunakan tasbih digital kesayangannya.
"Syah! Syah! Syahla!"
Syahla terperanjat. Dengan spontan ia langsung menoleh kesumber suara. Ia dapati wajah Husna begitu tegang, peluh menghiasi keningnya. Ia telat hari ini, tapi dia terlihat tidak begitu tegang dengan kedatangannya yang telat ini. Ada hal lain yang membuatnya tegang.
"Kamu kan Osis UKS." Husna menghembuskan napasnya, berusaha menetralkan diri. "Di bawah, ada tabrakan bruntun, aku, aku kena, cuma, aku enggak jatuh. Tapi Artha ... dia ... dia pingsan, bantu cepet! Aku tadi disuruh lari sama Bu Linda buat jemput kamu, karena kan kunci UKS kamu yang pegang."
Syahla langsung melesat ke TKP. Dengan wajah penuh ketegangan ia beranikan diri mendekat ke kerumunan.
"Bu Linda?" ucap Syahla.
Bu Linda yang sedang sibuk menahan kucuran darah dari kening Artha menoleh cepat ke arah Syahla.
"Pak Wanto! Tolong digotong ke UKS," teriak Bu Linda, "dan kamu, Syah, tolong lebih dulu ke UKS.
Tubuh Syahla gemetar seketika.
"Syahla!"
"I ... iya maaf, Bu." Syahla langsung meluncur ke UKS dengan kecepatan penuh.
Seiring kaki melangkah, ikut serta doa dalam setiap langkahnya. Ia berdoa agar Artha baik-baik saja.
mampir and salken
Anty aidhon fii qolby daaiman, thor😍☺
Aku sekalian ijin promosi novel ku yang berjudul PEREBUTAN KEKUASAAN by Ira. Yuk mampir kakak di jamin seru jangan lupa like dan commen
Menjadi sosok yang berbeda bukanlah hal yang baik namun tidak juga buruk. namun apa jadinya jika seorang gadis tiba-tiba bertemu dengan keluarga yang terpandang dan kaya. Namun dia harus merelakan identitas aslinya menghilang begitu saja? Aira adalah gadis yang kehilangan namanya semua orang memanggilnya dengan Aurelia sejak hari itu semua berubah, namun itu juga awal pertemuannya dengan Dekarsa bersaudara.
Zidan memiliki cacat di wajahnya hingga membuat orang-orang membencinya dan menyebutnya monster, dia di asingkan oleh orang tuanya sendiri dan karena itu ia memiliki dendam terhadap ibunya. Dia selalu kesepian sampai dia bertemu dengan sosok Aurelia yang selalu menyemangati dan mendukungnya, dia juga yang membatunya untuk tampil Tampa sebuah topeng mengerikan itu lagi.
smoga sukses selalu
panjang umur
dan sehat
nyesel aku baru baca novel ini...
yang aku pingin baca tuh novel kaya gini
aku lebih hobi baca2 daripada ngumpul2