NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: PTS TELAH TIBA ! (TIME SKIP).

Tiga bulan telah berlalu sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di SMA Garuda.

​Hari ini, para siswa kelas 10 diumumkan untuk mulai gencar belajar. Pasalnya, tinggal satu minggu lagi mereka akan berhadapan dengan PTS (Penilaian Tengah Semester). Ujian yang sukses membuat sebagian besar murid ketar-ketir, meski ada juga segelintir yang malah menyambutnya dengan antusias.

​Di tengah hiruk-pikuk kelas, ada satu murid yang baru saja mendaratkan kakinya di ruangan dan langsung ambruk tidur di atas meja.

​Namanya Raka.

​Semalam, ia habis-habisan membantu ibunya mengangkut puluhan karung jeruk untuk disetorkan ke pembeli besar hingga jam sembilan malam. Meski durasi tidurnya sebenarnya cukup, rasa lelah di otot-ototnya masih tersisa. Alhasil, Raka memilih untuk menempelkan dahinya ke meja kayu yang dingin.

​Dimas yang baru masuk kelas melihat sahabatnya sudah 'terkapar' sejak pagi. Ia lantas berjalan santai dan langsung menduduki kursi di dekat Raka.

​"Oi, lu kenapa pagi-pagi udah teler aja?"

​"Aduh, jangan ganggu dulu, Mas... Gue lagi lelah banget nih," gumam Raka dengan suara teredam meja.

​"Lelah kenapa? OHH, lu begadang ya? Makanya, jangan biasain begadang!"

​"Ngawur. Gue kemarin bantuin Ibu ngangkut karung jeruk. Rasa pegalnya masih berasa sampai sekarang."

​"Ohh, gitu... Kalau gue sih lagi semangat-semangatnya nih, Rak!" ujar Dimas dengan cengiran lebar.

​Raka merespons tanpa membuka mata. "Apaan yang bikin lu semangat?"

​"Ya... Soalnya ada pasar malam minggu depan!"

​Raka langsung menaikkan kepalanya sedikit. "Serius lu? Lu semangat cuma gara-gara itu doang?"

​"Lah, emangnya gak boleh? Dari kecil gue pengin banget ke pasar malam tapi gak pernah dibolehin. Makanya sekarang gue pengin banget lihat!"

​"Ohh."

​"Cuek banget jawabnya! Lu gak ikut semangat juga, Rak?"

​"Hmm... Ada sih, dikit."

​"Lah, kok cuma dikit? Emangnya seminggu lagi ada apaan?"

​Raka menatap Dimas heran. "Lah, lu gak inget? Seminggu lagi kan kita PTS! Kemarin guru-guru udah pada bagi kisi-kisi, lu gak merhatiin?"

​"Gak... Gue tidur soalnya," jawab Dimas tanpa dosa.

​"Adduh..." Raka menepuk jidatnya sendiri. "Ada-ada aja lu!"

​"Hehe, berarti gue harus belajar dong?"

​"Ya iyalah! Kalau lu gak belajar, nilai lu hancur. Kalau nilai lu hancur, ya gak bisa naik kelas!"

​"Wah, malas sebenarnya, Rak!"

​"Ya terserah lu, lah."

​Dimas memutar otak sejenak. "Hmm... Gimana kalau kita belajar bareng aja, Rak? Hari ini kan Selasa. Pas jam istirahat nanti, kita isi kisi-kisinya bareng!"

​"Oke, boleh. Tapi yang niat lu! Jangan malah ikut-ikutan tidur kayak kemarin!"

​"Siap! Kalau gue tidur lagi, tampar aja muka gue!"

​"Gue pegang janji lu, ya!"

​"Yaudah, lu balik ke tempat duduk lu dulu. Gue mau tidur sebentar," gumam Raka sambil memosisikan tangannya sebagai bantal.

​"Sip," jawab Dimas singkat.

​Dimas pun berjalan menuju kursinya. Begitu sampai, ia menyandarkan tubuh dan mulai asyik memainkan ponselnya, sementara Raka perlahan melenyapkan kesadarannya dan menutupi kepala dengan kedua tangan.

​Namun, tepat saat Raka baru saja hendak memasuki alam mimpi, bel masuk berbunyi nyaring. Kringgg!

​Para siswa-siswi berhamburan masuk ke kelas dan menduduki kursi masing-masing. Pelajaran jam pertama dimajukan ke PPKn, di mana seluruh murid diminta mengerjakan deretan soal yang memenuhi papan tulis.

​Selesai jam pertama, bel pergantian pelajaran berbunyi. Jam kedua diisi oleh Fisika dengan materi presentasi penjelasan, disusul jam ketiga yaitu Informatika dengan materi seputar pengenalan dasar komputer.

​Begitu deretan tiga jam pelajaran yang menguras otak itu berakhir, bel istirahat yang sangat dinantikan akhirnya berkumandang.

​Dimas yang sempat terkantuk-kantuk langsung terbangun dan merapikan bukunya dengan kilat. Setelah selesai, ia melesat menuju meja Raka untuk mengajak sahabatnya itu menyegarkan pikiran.

​"Rak, yuk ke kantin!" seru Dimas antusias.

​Raka menatap Dimas heran. "Lah, katanya lu mau belajar bareng di klub? Lu lupa ya?"

​Dimas menepuk jidatnya sendiri. "Ah... iya, deng! Lupa gue!"

​"Hafhh, yaudah lah. Lu ambil buku sama pulpen lu dulu, habis itu kita langsung ke ruang klub."

​"Siaapp!"

​Setelah Dimas mengambil alat tulisnya, mereka berdua mulai berjalan menyusuri koridor menuju ruang klub.

​Dari kejauhan, Alya yang melihat pergerakan Raka dan Dimas merasa penasaran. Dengan canggung, ia diam-diam berjalan mengekor di belakang mereka.

​Aira yang melihat gelagat Alya langsung paham. Sambil terkekeh geli, Aira justru berlari kecil mendahului Alya dan menyapa Raka serta Dimas yang ada di depan.

​"Oii, teman-teman! Kalian mau ke mana nih?" panggil Aira heboh.

​"Kita mau ke ruang klub, mau belajar buat PTS," jawab Raka.

​"Wah, tumben banget! Kita ikutan juga, dong!"

​"Silakan aja."

​Aira langsung menoleh ke belakang dan menarik lengan Alya. "Nah, gini dong! Gak usah sembunyi-sembunyi lagi, Al!"

​"Duh... kenapa sih, Ra?" Alya merona tipis, merasa tertangkap basah.

​"Kamu yang kenapa! Bukannya langsung samperin malah ngintip-ngintip," goda Aira sambil menjitak pelan kepala Alya dengan gemas.

​"Hehe... aku kan gak terbiasa," gumam Alya sambil mengelus kepalanya.

​"Ohh, gitu..."

​Sesampainya di ruang klub, mereka berempat melepas sepatu dan mengambil posisi duduk melingkar di dekat jendela. Raka dan Dimas meletakkan buku serta pulpen mereka di atas meja.

​"Oke, sekarang kita udah berkumpul," buka Raka sambil memegang kisi-kisi pelajaran.

​Dimas menyenderkan badannya santai. "Terus, ngapain kita sekarang?"

​"Ya belajarlah, Pitung!" Raka langsung menoyor pelan bahu Dimas. "Buka buku Fisika lu. Kita bahas kisi-kisi nomor satu dari Pak Budi."

​Dimas meringis sambil membuka bukunya dengan gerakan super malas. "Aduh, Rak... baru ngeliat tulisan 'Massa x Percepatan' aja kepala gue udah mau pecah. Gimana kalau kita bikin perjanjian? Yang nilainya paling hancur di PTS nanti, wajib bayarin semua jajanan pasar malam minggu depan!"

​"Setuju banget!" Aira langsung menyambar cepat dengan mata berbinar. "Tapi siap-siap bangkrut ya, Dim. Lu kan kandidat utama pemegang nilai terendah se-paralel!"

​"Enak aja! Gue punya kartu AS!" Dimas menunjuk Alya dengan penuh percaya diri. "Al, lu harus bantuin gue! Lu kan pinter, masa tega liat temen sendiri makan angin di pasar malam?"

​Alya menatap Dimas dengan matanya yang bulat dan polos. Ia memiringkan kepalanya sedikit, nampak kebingungan. "Boleh saja... Tapi, bukannya massa dikali percepatan itu cuma rumus dasar Hukum II Newton? (F \= m • a). Kenapa bisa bikin kepala kamu pecah?"

​Dimas seketika bungkam. Mulutnya menganga, tak mampu membalas.

​Raka menahan tawa sampai bahunya berguncang, sementara Aira sudah tertawa terpingkal-pingkal sambil memukuli lantai kayu ruang klub.

​"Tuh kan! Belum apa-apa udah kena mental damage sama kepolosan Alya," ejek Raka puas.

​"Alya... lu kalau ngomong polos banget tapi nusuknya sampai ke ginjal ya," keluh Dimas sambil memegangi dadanya, pura-pura terluka.

​"Eh? Aku salah ngomong, ya?" tanya Alya panik. Ia menatap Raka dengan cemas. "Raka, apa ucapan aku kasar?"

​Raka yang menatap wajah polos Alya mendadak salah tingkah. Tatapan mata Alya yang begitu jernih dan tanpa dosa itu selalu berhasil membuat pertahanan Raka goyah. Duh, nih cewek kenapa polosnya bisa bikin gemes banget sih? batin Raka merutuki dirinya sendiri.

​"G-gak kok, Al. Lu gak salah. Dimas-nya aja yang kelewat lemah," jawab Raka cepat, berusaha mengalihkan pandangan sambil membenarkan posisi duduknya.

​Aira yang menyadari perubahan raut wajah Raka langsung tersenyum jahil. Ia menyenggol siku Alya pelan. "Tuh kan Al, kata Raka kamu gak salah. Lagian Raka pasti seneng kok kalau kamu yang ngajarin."

​"Benarkah?" Alya menatap Raka polos. "Kalau begitu, Raka mau aku bantu jawab kisi-kisi Informatika juga? Katanya tadi tentang pengenalan komputer."

​"B-boleh... Boleh banget," sahut Raka gagap. Sifat pantang menyerahnya yang biasa mendominasi mendadak menguap setiap kali Alya meresponsnya dengan kejujuran yang polos.

​"Sip! Kalau gitu gue mau diajarin Fisika bab Vektor dong!" potong Dimas tak mau kalah, sambil menyodorkan bukunya ke hadapan Alya. "Nih Al, coba jelasin kenapa panah-panah ini harus dihitung pakai Vx \= V • Cos θ segala? Kenapa gak tinggal digaris lurus aja sih?!"

​Alya mengambil pulpen milik Dimas. Dengan tenang dan sangat runut, gadis itu mulai menggeledah isi buku catatan miliknya.

​"Vektor itu punya arah dan nilai, Dimas. Kalau cuma garis lurus tanpa memperhitungkan sudut θ, nanti arah gayanya bisa tertukar," jelas Alya dengan nada suara yang sangat lembut. "Sama seperti kamu... kalau berjalan tanpa arah yang jelas, kamu cuma bakal muter-muter di tempat."

​DEZZZZ!

​Kalimat filosofis yang keluar secara tidak sengaja dari mulut polos Alya sukses membuat Dimas mematu di tempat.

​"Anjay... Kena mental dua kali!" Aira tertawa makin keras sampai memegangi perutnya. "Alya kalau ngasih penjelasan Fisika serasa lagi menampar realita hidup si Dimas!"

​Raka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah teman-temannya. Namun di balik kehebohan itu, Raka menyadari satu hal. Tiga bulan berada di ruang klub yang sama membuat Alya perlahan-lahan mulai terbuka. Meski gadis itu masih sangat polos dan canggung dalam mengekspresikan diri, Alya tidak lagi menarik diri seperti hari pertama mereka bertemu.

​"Udah-udah, kasihan si Dimas makin berasap otaknya," lerai Raka sambil mengambil alih lembar kisi-kisi. "Sekarang kita bagi tugas. Alya pegang Fisika dan Informatika, Aira bagian PPKn sama Bahasa Indonesia, gue sama Dimas yang bagian nyatet dan ngisi soal latihan. Gimana?"

​"Setuju!" seru Aira dan Alya kompak.

​"Gue bagian pasrah aja deh..." gumam Dimas lemas, menempelkan dahinya ke atas meja kayu yang dingin, pasrah meratapi nasib nilai PTS-nya minggu depan.

​Suasana ruang klub siang itu terasa begitu hangat. Di antara tumpukan buku pelajaran dan kisi-kisi PTS, canda tawa mereka berempat memenuhi ruangan kecil yang dulunya hampir terlupakan tersebut.

Tak terasa, bel tanda berakhirnya jam istirahat berkumandang nyaring ke seluruh penjuru SMA Garuda. Suara dengung bel itu seolah menjadi alarm pembangun dari mimpi buruk bagi Dimas, sekaligus penanda berakhirnya sesi belajar darurat mereka siang ini.

​"Akhirnyaaa selesai juga..." Dimas meregangkan kedua tangannya ke atas dengan helaan napas super lega. "Satu jam belajar Fisika serasa lima tahun mendekam di penjara!"

​"Baru satu jam, Dim," cibir Aira sambil merapikan pulpen-pulpennya ke dalam kotak pensil. "Gimana nanti pas ujian beneran seminggu penuh? Bisa-bisa otak kamu berubah jadi bubur ayam!"

​"Biarin! Yang penting hari ini gue udah berhasil bertahan hidup," jawab Dimas santai, lalu menatap Alya dengan tatapan memohon. "Al, thank you banget ya pelajaran menampar realitanya tadi. Walaupun otak gue kepanggang, setidaknya ada dua rumus yang nyangkut di memori jangka pendek gue."

​Alya mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis—senyum tulus yang sangat langka, namun belakangan ini makin sering terlihat di wajah cantiknya. "Sama-sama, Dimas. Jangan lupa diulang lagi di rumah, ya."

​Raka berdiri lebih dulu, mengemas buku-buku latihan dan kisi-kisi PTS ke dalam tasnya. Ia menatap tiga temannya bergantian. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyelinap di dadanya.

​Tiga bulan lalu, ia hanyalah anak kelas 10 yang cuma pengin menjalani hidup sekolah secara biasa-biasa saja dan santai. Tanpa beban, tanpa ambisi. Namun, hadirnya Dimas yang jahil, Aira yang heboh, dan terutama Alya—gadis misterius dengan segala kepolosan serta beban masa lalu yang belum sepenuhnya terkuak—telah mengubah hari-harinya menjadi jauh lebih berwarna.

​"Yuk, balik ke kelas. Pak Budi biasanya tepat waktu kalau masuk jam setelah istirahat," ajak Raka.

​Mereka berempat berjalan keluar dari ruang klub secara beriringan. Saat melintasi koridor menuju kelas, Raka sengaja memperlambat langkahnya, menyamai ketukan langkah Alya yang berjalan di sampingnya.

​"Al," panggil Raka pelan agar tidak terdengar Dimas dan Aira yang sedang asyik berdebat di depan.

​Alya menoleh, menatap Raka dengan mata beningnya. "Kenapa, Raka?"

​"Soal PTS minggu depan... lu gak perlu tertekan, ya. Nanti kalau ada materi yang bikin lu pusing, lu bisa tanya gue juga. Jangan dipendam sendiri," ujar Raka tulus.

​Alya sempat terpaku sejenak mendengarnya. Ia lalu mengangguk kecil, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hangat. "Iya, Raka. Terima kasih... Aku senang bisa belajar bareng kalian."

​Raka dengan cepat mengalihkan pandangannya ke depan, berusaha menyembunyikan rona merah yang mendadak muncul di kedua pipinya. Duh, senyumnya Alya emang berbahaya banget buat kesehatan jantung! batin Raka merutuki dirinya sendiri.

​Ujian Penilaian Tengah Semester memang sudah di depan mata. Tantangan akademis pertama mereka di SMA Garuda baru saja dimulai. Tapi melihat kekompakan kecil di antara mereka berempat siang ini, Raka yakin—apapun yang terjadi di PTS minggu depan, atau konflik besar apa pun yang menanti mereka di masa depan, mereka akan menghadapinya bersama-sama.

​Sebab, cerita mereka di SMA Garuda... baru saja dimulai.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!