Tak memiliki apa pun selain namanya, Kenzo bertahan hidup di dunia yang kejam. Bagi orang lain, mimpi adalah sesuatu yang bisa dikejar. Baginya, mimpi hanyalah kemewahan yang selalu direnggut oleh kenyataan.
Hingga suatu hari, sebuah antarmuka emas muncul di hadapannya.
Sistem Gacha.
Jaminan 100%.
Setiap putaran selalu menghadiahkan sesuatu yang nyata. Kemampuan, artefak, teknik, bahkan kekuatan yang sanggup mengubah takdir. Dengan sistem itu, Kenzo tak lagi sekadar bermimpi. Ia akan menapaki jalan menuju puncak dan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Gelap sempat menguasai lorong sejenak, sebelum akhirnya alarm darurat meraung nyaring.
Kilatan merah menyala berputar lambat, membasahi dinding logam Korporasi Nexus yang dingin.
Di tengah kebisingan itu, langkah kaki Kenzo terdengar teratur.
Di sebelahnya, Mystrul berjalan melayang tanpa menyentuh lantai beton.
Jubah biru tuanya bersih tanpa noda debu reruntuhan.
Mata sang Penyihir Agung itu lurus menatap ke depan dengan kehampaan yang damai.
Tiba-tiba, enam panel di langit-langit bergeser terbuka.
Moncong meriam otomatis berukuran besar turun, mulai mengumpulkan bola energi plasma panas.
Kenzo bergerak hendak mengambil Kapsul Asap Termal di sabuknya.
"Tidak usah mengotori tanganmu untuk hal sesepele ini, Tuan," sela Mystrul dengan suara berat.
Ia bahkan tidak menghentikan gerakan melayangnya. Matanya hanya melirik sekilas ke arah meriam di atas.
"Sungguh, aksi mereka sangat sia-sia," gumam Mystrul.
Seketika, sebelum plasma itu meluncur, energi panas di moncong meriam langsung menyusut drastis.
Cahaya membara itu redup lalu padam sepenuhnya. Sirkuit di dalam mesin langsung korsleting dan memuntahkan asap hitam.
Namun, pertahanan fisik musuh segera menyusul dari ujung belokan.
Pintu baja terbuka lebar, memuntahkan belasan prajurit dengan zirah mekanis tebal yang merangsek maju.
Langkah berat mereka membuat lantai bergetar hebat. Mereka membawa palu gada kinetik dan tameng logam raksasa.
"Mystrul, kacaukan keseimbangan mereka. Aku yang akan membereskannya," perintah Kenzo cepat.
Mystrul mengangguk tenang, lalu mengangkat tangan kirinya ke udara.
Medan gravitasi di sekitar para prajurit itu mendadak kacau, membuat tameng berat mereka terasa berlipat ganda lebih berat.
Gerakan mereka langsung melambat dan tidak seimbang.
Kenzo memanfaatkan celah itu dengan melesat maju bagaikan anak panah lepas dari busurnya.
Otot miliknya berkedut cepat, memberikan dorongan instan yang luar biasa kuat.
Ia merunduk rendah saat salah satu palu gada diayunkan secara acak.
Tangannya bergerak secepat kilat, mencabut Belati Frekuensi Tinggi dari paha kiri.
Bilah hitam itu bergetar hebat, memotong kaki zirah mekanis prajurit terdepan hingga roboh seketika.
"Samping kiri, Mystrul!" seru Kenzo sambil berguling menghindari serangan tameng lainnya.
Mystrul mengarahkan telapak tangan ke kiri, melepaskan gelombang tekanan angin padat yang menghempas tiga prajurit sekaligus ke dinding.
Dari posisi bergulingnya, Kenzo langsung mengacungkan Pistol Taktis Fantom di tangan kiri.
Tiga tembakan beruntun meluncur deras, menghancurkan pelindung dada musuh yang tersisa hingga hancur.
Kerja sama keduanya berjalan sangat rapi. Mystrul melucuti pertahanan, sementara Kenzo menghabisi mereka dengan efisiensi brutal.
Hanya dalam hitungan menit, belasan prajurit tangguh itu sudah terkapar tidak berdaya di lantai lorong.
Kenzo menyarungkan kembali belatinya sambil mengatur napas yang sedikit memburu.
'Ternyata bekerja sama dengannya tidak seburuk itu,' batinnya puas.
Mereka segera melangkah turun menuju lantai bawah tanah tempat penyimpanan kargo.
Di tengah ruangan luas itu, kubah dimensi berwarna ungu masih berdiri kokoh.
Di dalam kubah, sesosok monster biologis buatan Korporasi Nexus terus memancarkan energi untuk menjaga segel.
Sementara itu, di balik dinding energi, Azzy tampak sangat kesal karena gerakannya terus tertahan batas dimensi.
"Ruang isolasi yang berantakan," ucap Mystrul, menatap kubah ungu itu dengan mata kosongnya.
"Mereka menggunakan energi padat untuk menambal ketiadaan secara paksa. Konsep yang sangat primitif," tambahnya.
"Bisa kau hancurkan?" tanya Kenzo.
"Menghancurkan adalah bagian rekan kita di dalam. Aku hanya akan mengurai benangnya," jawab Mystrul tenang.
Ia berjalan mendekat, lalu menggambar sebuah simbol geometris sederhana di udara dengan jari telunjuknya.
Cahaya keemasan mengalir dari ujung jari Mystrul, merambat dan menyatu dengan kubah energi ungu tersebut.
"Hukum energi tempat ini terlalu cacat," bisik Mystrul datar.
Suara retakan nyaring bergema di seluruh ruangan.
Kubah ungu itu seketika pecah berkeping-keping sebelum akhirnya menguap menjadi debu cahaya.
Azzy berkedip sejenak, menyadari bahwa penghalang yang mengurungnya telah lenyap sepenuhnya.
Mata ungu gelapnya langsung berkilat marah menatap monster biologis yang kini kehilangan pelindungnya.
"Mainan jelek ini akhirnya rusak!" teriak Azzy riang namun terdengar menyeramkan.
Ia melesat cepat, menempelkan telapak tangannya yang pucat tepat ke dada monster besar itu.
"Hilang," ucap Azzy dingin.
Tanpa ada energi dimensi yang menahannya, kekuatan mutlak sang Penguasa Ketiadaan bekerja seketika.
Tubuh monster raksasa itu langsung meliuk aneh, tersedot ke dalam satu titik kecil di dadanya sendiri hingga lenyap tanpa sisa.
Ruangan kembali bersih, bahkan tanpa meninggalkan setetes darah pun di lantai.
Azzy berputar dengan gembira, lalu langsung berlari memeluk lengan Kenzo erat-erat.
"Kenzo! Azzy sudah selesai bermain! Orang-orang jelek itu sangat mengesalkan!" serunya sambil menempelkan pipinya.
Namun, detik berikutnya, tubuh Azzy menegang keras. Ia merasakan keberadaan entitas asing di sana.
Ia menatap Mystrul dengan pandangan penuh permusuhan. Suhu ruangan seketika anjlok drastis.
"Kenzo... siapa kakek tua yang baunya seperti buku apek ini?" desis Azzy sambil mempererat pelukannya.
"Ini tempat Azzy. Hanya Azzy yang boleh di dekat Kenzo. Biar Azzy hilangkan saja dia, ya?" pintanya manja namun berbahaya.
Mystrul sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanan dingin dari Azzy. Ia tetap bersedekap dengan santai.
"Sebuah eksistensi yang lahir dari ketiadaan, namun bertingkah seperti anak kecil yang haus perhatian," balas Mystrul tenang.
Ia menundukkan kepalanya sedikit ke arah Kenzo.
"Jika Tuan menginginkan aku pergi, aku akan kembali ke keheningan. Tapi selama aku di sini, kau harus belajar berbagi tempat, Anak Kecil," lanjut Mystrul.
Azzy menggertakkan giginya, bersiap memanggil bola kehampaan hitam di tangannya.
"Cukup," potong Kenzo dengan nada tenang namun mutlak.
Suara itu membuat kedua pelayan hebatnya langsung membeku seketika.
Kenzo menatap Azzy dengan pandangan serius. "Dia adalah rekanmu sekarang. Jika kau mencoba menyakitinya, aku akan sangat marah."
Mendengar kata marah, tubuh Azzy gemetar pelan. Kabut hitam di tangannya langsung surut tanpa bekas.
"T-tidak! Azzy tidak mau Kenzo marah. Azzy akan jadi anak baik," ucapnya pelan dengan kepala tertunduk lesu.
Kenzo menghela napas pelan. Ia menoleh ke arah kamera pengawas di sudut basement yang masih menyala.
Melalui lensa kacamata khususnya, ia tahu para petinggi Korporasi Nexus sedang gemetar menyaksikan kejadian ini dari pusat kendali.
"Pion mereka sudah habis," gumam Kenzo dengan senyum tipis yang dingin.
Ia mengangkat pistolnya, lalu melepaskan satu tembakan jitu yang langsung menghancurkan lensa kamera itu.
"Waktunya kita naik ke atas dan menyapa mereka secara langsung."