Ketika Jiang Chen terbangun di dunia kultivasi, ia mendapati dirinya mewarisi takhta Ketua Sekte Pedang Bintang—sebuah sekte yang dulunya agung namun kini berada di ambang kehancuran absolut. Pilar utama sekte, sang guru, telah tewas terbunuh. Para tetua berkhianat dan membawa lari seluruh harta benda, sementara musuh bebuyutan telah mendobrak gerbang depan untuk merampas wilayah mereka.
Dengan tingkat kultivasi dasar yang sangat lemah dan hanya ditemani oleh satu adik seperguruan yang masih setia bertahan, ajal seolah sudah menanti Jiang Chen di depan mata.
Namun, di saat maut dan keputusasaan memuncak, sebuah suara mekanis yang dingin bergema di benaknya: [Sistem Pembangunan Sekte Abadi berhasil diikat!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Palu Baja Menarik Mundur
Keheningan di Koloseum Grand Ibukota berlangsung selama tiga detik penuh, sebelum akhirnya meledak menjadi sorak-sorai dan jeritan histeris dari seratus ribu penonton.
"Satu pukulan! Dia menghancurkan kapak baja ganda dan tubuh Kuang Shan hanya dengan satu pukulan tumpul?!"
"Pemuda berpedang hitam itu hanya berada di Tingkat 8! Surga, monster macam apa yang dibesarkan oleh Sekte Pedang Bintang?!"
Di paviliun Sekte Langit Ungu, wajah Tuan Muda Zi Feng memucat. Kakak Seperguruannya, Zi Lingtian, meremukkan cangkir giok di tangannya hingga menjadi debu. Matanya yang tajam memancarkan niat membunuh yang menembus tulang.
Sebagai sekte penguasa ibukota, dipermalukan di ronde pertama turnamen adalah tamparan telak ke wajah mereka.
"Lei Jian," panggil Zi Lingtian dengan suara yang sangat dingin.
Di belakangnya, seorang pemuda berpakaian perak-ungu melangkah maju. Pemuda ini memancarkan fluktuasi qi yang jauh lebih padat dan mengerikan daripada Kuang Shan. Aliran listrik ungu meliuk-liuk di sekitar tubuhnya.
Dia adalah Lei Jian, jenius peringkat kedua Sekte Langit Ungu. Kultivasinya telah mencapai Ranah Pembentukan Fondasi Tingkat 1!
"Aku ingin kepalanya terpisah dari lehernya dalam tiga jurus. Jika kau gagal, jangan kembali ke paviliun ini," perintah Zi Lingtian mutlak.
"Sesuai perintah Kakak Seperguruan," Lei Jian menyeringai kejam.
CRAT!
Lei Jian berubah menjadi kilatan petir ungu dan mendarat di Arena Nomor 1, menciptakan kawah kecil berlapis listrik di atas batu Berlian Bintang. Ia menatap Han Feng yang masih memanggul pedang hitamnya.
"Kekuatan fisikmu memang lumayan untuk seekor keledai pengangkut batu, Bocah," desis Lei Jian sambil menghunus sebilah pedang tipis yang berderak oleh petir. "Tapi di hadapan kekuatan Pembentukan Fondasi yang sesungguhnya, otot kotor tubuh fana tidak ada artinya!"
Menghadapi tekanan aura Pembentukan Fondasi, Han Feng tidak gentar. Akar Roh Logam di dalam tubuhnya beresonansi dengan pedang tumpulnya.
"Banyak bicara. Ayo buktikan," tantang Han Feng singkat.
"Seni Pedang Petir Ungu: Kilatan Ular Berbisa!"
Lei Jian melesat. Kecepatannya dua kali lipat lebih cepat dari Kuang Shan. Pedang tipisnya menusuk dari sudut yang sangat mustahil, mengarah langsung ke tenggorokan Han Feng, membawa serta energi petir yang siap melumpuhkan sistem saraf.
Mata Han Feng menyipit. Dia tahu dia tidak bisa mengimbangi kecepatan itu.
"Seni Palu Seribu Tempa: Benteng Besi Mutlak!"
Han Feng menancapkan pedang hitam raksasanya ke tanah dan menggunakan tubuh pedang yang lebar itu sebagai perisai, sementara ia mengalirkan seluruh qi logamnya ke otot-ototnya, membuat kulitnya memancarkan warna perunggu.
CLAAANGG!! ZZZZTT!!
Pedang petir Lei Jian menghantam pedang hitam Han Feng. Benturan itu menghasilkan gelombang kejut yang menyapu debu di arena. Energi petir merambat melalui pedang hitam, menyengat tubuh Han Feng.
"Ugh!" Han Feng mendengus tertahan. Tubuhnya terdorong mundur sejauh lima meter, meninggalkan jejak goresan dalam di lantai arena. Darah segar menetes dari sudut bibirnya.
Perbedaan ranah besar antara Pemadatan Qi dan Pembentukan Fondasi benar-benar nyata. Meski Han Feng memiliki ketahanan fisik ekstrem, energi qi Pembentukan Fondasi Lei Jian terlalu tajam.
"Hahaha! Tahan serangan keduaku jika kau bisa!" Lei Jian tertawa liar, bersiap meluncurkan serangan yang lebih mematikan.
Namun, sebelum Han Feng kembali mengangkat pedangnya, sebuah suara yang sangat tenang dan berwibawa terdengar langsung di benaknya.
"Cukup, Han Feng. Kau telah membuktikan kualitas logammu. Mundur sebelum pedangmu retak."
Itu adalah transmisi suara dari Jiang Chen.
Sebagai pandai besi sekte, Han Feng sangat berharga. Mengorbankan nyawanya dalam pertarungan yang jelas kalah ranah bukanlah gaya Jiang Chen. Tujuan Han Feng turun ke arena hanya untuk melakukan pemanasan dan memamerkan ketangguhan Sekte Pedang Bintang, dan ia telah melakukannya dengan sempurna.
Mendengar perintah gurunya, Han Feng segera menarik pedangnya dan melompat mundur menuju tepi arena.
"Aku menyerah untuk ronde ini," ucap Han Feng datar.
"Menyerah? Setelah kau membunuh saudara seperguruanku?!" Lei Jian meraung marah, matanya memerah. "Di arena ini, kau hanya turun sebagai mayat!"
Mengabaikan aturan turnamen, Lei Jian melesat mengejar Han Feng yang sedang mundur. Pedang petirnya diarahkan tepat ke punggung pemuda pandai besi itu. Penonton menjerit kaget melihat serangan licik tersebut.
Namun, tepat saat ujung pedang petir itu berjarak satu jengkal dari punggung Han Feng...
KRAAAKK!
Suhu di Arena Nomor 1 tiba-tiba anjlok hingga mencapai titik beku. Sebuah dinding es kristal yang sangat tebal muncul dari ketiadaan, memisahkan Han Feng dan Lei Jian!
TANGG!
Pedang petir Lei Jian menghantam dinding es itu, tetapi bukannya hancur, petirnya justru membeku seketika. Hawa dingin yang sangat mematikan merambat melalui pedangnya, memaksa Lei Jian melepaskan senjatanya dan melompat mundur dengan tangan gemetar kedinginan.
Di udara, kepingan salju tiba-tiba turun, meskipun saat itu matahari sedang bersinar terik.
Seorang gadis cantik dengan jubah putih bersulam perak melayang turun dengan gemulai layaknya dewi yang turun dari kahyangan. Rambut hitamnya yang memiliki gradasi biru es berkibar pelan. Ujung kakinya menyentuh lantai arena tanpa menghasilkan suara sedikit pun.
Itu adalah Su Yue.
Dia memegang Pedang Bulan Beku, menatap Lei Jian dengan pandangan yang lebih dingin dari badai salju.
"Adik seperguruanku sudah bilang dia mundur," ucap Su Yue dengan suara merdu namun membekukan. "Menyerang dari belakang... apakah Sekte Langit Ungu hanya mengajarkan kelicikan anjing jalanan pada murid-muridnya?"
Han Feng yang sudah aman di luar arena, menunduk hormat ke arah Su Yue. "Terima kasih, Kakak Seperguruan."
Su Yue mengangguk pelan tanpa menoleh. "Kembalilah ke paviliun. Guru telah menyiapkan pil untuk memulihkan lukamu. Biar aku yang membersihkan sampah yang tersisa ini."
Di paviliun Sekte Langit Ungu, Zi Lingtian menyipitkan matanya. Dia bisa merasakan fluktuasi qi Su Yue berada di Puncak Pemadatan Qi Tingkat 9. Hanya selangkah lagi menuju Pembentukan Fondasi.
"Gadis itu memiliki aura yang aneh. Hati-hati, Lei Jian!" teriak Zi Lingtian memperingatkan.
Namun Lei Jian sudah dibutakan oleh amarah dan rasa malu karena senjatanya dibekukan. Ia memanggil pedang cadangannya, meledakkan seluruh energi Pembentukan Fondasi Tingkat 1 miliknya hingga ke batas maksimal.
"Hanya seorang jalang di ranah Pemadatan Qi! Mati kau!!"
"Raungan Naga Petir!"
Lei Jian menusukkan pedangnya ke depan. Energi petir ungu memadat membentuk siluet naga listrik yang melesat mengaum ke arah Su Yue, siap menghanguskannya menjadi abu.
Banyak penonton memalingkan wajah, tidak tega melihat gadis secantik itu hancur oleh petir.
Namun, di paviliun Sekte Pedang Bintang, Jiang Chen hanya menyesap tehnya sambil tersenyum tipis. Bakat Akar Roh Es Surgawi tidak bisa diukur dengan standar ranah fana.
Menghadapi naga petir yang buas, Su Yue tidak berkedip. Dia mengangkat Pedang Bulan Beku-nya perlahan. Akar Roh Surgawi di dalam Dantiannya berputar, melepaskan energi es murni yang sangat absolut.
"Seni Pedang: Pemakaman Bunga Es Seribu Tahun."
Su Yue menebaskan pedangnya ke bawah dengan satu gerakan elegan yang lambat.
WUUUSH...
Tidak ada ledakan besar. Hanya ada gelombang angin dingin berwarna biru pucat yang menyapu ke depan.
Begitu naga petir ungu itu bersentuhan dengan angin dingin Su Yue, raungannya terhenti seketika. Naga energi murni itu... membeku menjadi patung es di udara!
"A-Apa?!" Lei Jian membeku di tempatnya, matanya membelalak tak percaya. Energi qi Pembentukan Fondasi miliknya dibekukan oleh seorang kultivator Pemadatan Qi?! Ini menentang semua hukum alam yang ia ketahui!
Gelombang es Su Yue tidak berhenti di situ. Angin dingin itu terus melaju melewati patung naga petir, menyelimuti tubuh Lei Jian dalam sekejap mata.
"T-Tidaaakkk—"
Kata-kata Lei Jian terputus oleh suara gemeretak es. Mulai dari kaki, menjalar ke pinggang, dada, hingga ke wajahnya, tubuh ahli Pembentukan Fondasi itu dilapisi oleh kristal es yang sangat tebal. Dalam waktu kurang dari dua detik, jenius peringkat kedua Sekte Langit Ungu itu telah berubah menjadi patung es kristal yang indah namun mematikan.
Su Yue menjentikkan jarinya dengan santai.
TRANG!
Patung es naga petir di udara jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping. Lei Jian yang membeku di dalamnya tetap berdiri kaku, napasnya sangat lemah, seluruh meridiannya lumpuh oleh hawa es Surgawi. Ia tidak mati, namun kultivasinya hancur untuk setidaknya setengah tahun ke depan.
Kemenangan mutlak, tanpa sedikit pun luka.
Koloseum Ibukota kembali jatuh dalam keheningan yang menyesakkan. Jika kemenangan Han Feng tadi dianggap sebagai kebrutalan fisik, maka kemenangan Su Yue barusan adalah keajaiban mutlak dari kualitas qi yang sangat mengerikan.
Siapa sebenarnya Sekte Pedang Bintang ini?!
Di paviliun Sekte Langit Ungu, niat membunuh akhirnya meledak hingga meretakkan meja batu di depan kursi utama.
Zi Lingtian berdiri. Jubah ungunya berkibar liar dihantam pusaran energi qi Pembentukan Fondasi Tingkat 3 miliknya. Wajahnya yang tampan kini terdistorsi oleh amarah yang tak tertahankan.
Melihat jenius nomor satu ibu kota itu akhirnya bangkit, seluruh koloseum menahan napas.
Namun, dari paviliun Sekte Pedang Bintang, sebelum Zi Lingtian sempat melompat ke arena, sesosok remaja dengan pedang raksasa di punggungnya sudah melangkah ke tepi pembatas.
Lin Mo memandang Zi Lingtian dengan senyuman liar yang memamerkan deretan giginya, layaknya serigala kelaparan yang akhirnya melihat daging segar.
"Kakak Seperguruan," Lin Mo menoleh ke arah Su Yue di bawah. "Tugasmu menyingkirkan lalat kecil sudah selesai. Mundurlah."
Lin Mo perlahan mencabut Pedang Meteor Darah-nya, mengarahkannya tepat ke wajah Zi Lingtian dari kejauhan.
"Biar aku yang menghancurkan puncak kesombongan kota ini."