Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 21 — Mengapa Hanya ada Kau?
Malam pun benar-benar telah berganti menguasai langit. Di Puncak Pedang Kedua, Huo Li berdiri di atas tanah datar di belakang guanya, matanya yang gelap dan tenang memandang bulan purnama yang bersinar terang menyirami lembah.
Angin malam berembus dingin, namun tubuh Huo Li memancarkan hawa panas yang samar.
Dash! Dash!
Tubuhnya tiba-tiba bergerak merendah dan meluncur ke samping, meninggalkan bayangan ilusi yang memudar di udara. Itu adalah Langkah Ilusi Hantu, teknik gerakan yang baru saja ia pelajari beberapa jam yang lalu.
Ia bergerak lincah seperti hantu di bawah sinar bulan. Setiap kali ia mengambil langkah, 9 meridian utamanya, khususnya yang berada di kedua kakinya, menyerap Energi Surgawi emas dari dantiannya. Namun, karena ini adalah teknik yang digerakkan oleh energi spiritual biasa pada dasarnya, integrasi dengan Energi Surgawi miliknya masih mengalir dalam jumlah yang tidak terlalu sempurna.
Sesekali langkahnya tersendat, membuat jejak kakinya meretakkan batu di bawahnya karena luapan energi yang terlalu padat.
'Masih butuh penyesuaian. Energi Surgawiku terlalu buas untuk teknik gerakan yang mengandalkan kelembutan angin seperti ini,' batin Huo Li, terus mengulangi gerakannya tanpa kenal lelah.
Latihan sederhana itu terus terjadi di belakang gua miliknya, ia melatih semua teknik seni beladiri yang baru saja ia beli hingga embun pagi mulai turun.
Namun, Huo Li tidak menyadari bahwa di saat yang bersamaan, sesosok siluet tegap dengan pedang besar tersampir di punggungnya tengah mengawasi dari kejauhan. Sosok itu berdiri tegak bagaikan patung di atas atap sebuah paviliun bertingkat lima di puncak pedang pertama.
Mata sosok misterius itu setajam pedang, menembus kegelapan malam dan jarak yang membentang, memperhatikan setiap gerakan ilusi Huo Li.
"Hmm..." gumam sosok itu pelan, suaranya menggetarkan udara di sekitarnya, memancarkan aura mengerikan yang tersembunyi, sebelum akhirnya berbalik dan menghilang tertiup angin malam.
Keesokan harinya, matahari pagi baru saja merangkak naik, menyinari Sekte Pedang Tiran. Huo Li kembali melangkahkan kakinya ke Balai Penempaan Sekte.
Hawa panas dari tungku raksasa masih terasa, dan di sana, Pei Hubong tampak sedang membersihkan peralatannya.
"Pagi, Tuan Pei," sapa Huo Li dengan nada tenang dan sopan.
Pei Hubong menoleh, mengusap tangannya yang kotor ke celemek kulitnya. "Oh, Junior Huo. Kau cukup sopan untuk ukuran murid sekte ini," balasnya dengan senyum tipis.
Pei Hubong kemudian membalikkan badan, berjalan menuju sebuah meja panjang di sudut ruangan, hendak mengajak Huo Li mengambil senjata yang dipesannya kemarin.
Di atas meja berlapis kain hitam kotor itu, tergeletak sebuah pedang yang sangat menawan. Bilahnya berwarna putih tulang yang mengilap, memancarkan ketajaman yang membekukan darah. Namun, kontras dengan bilahnya, gagang pedang itu berwarna hitam pekat berbahan baja hitam. Pedang itu terlihat sangat elegan, namun di saat bersamaan memancarkan aura buas dan kejam peninggalan Raja Babi Hutan.
Huo Li menyentuh gagangnya, merasakan bobot dan keseimbangan pedang itu yang sangat sempurna untuk gaya bertarungnya.
Namun, saat ia mengedarkan pandangannya, Huo Li menyadari sesuatu. Kemarin sore ia mengira suasana sepi ini terjadi karena sudah waktunya para penempa pulang untuk beristirahat. Tapi pagi-pagi seperti ini, mengapa tidak ada penempa lain selain Pei Hubong? Balai penempaan sebesar ini hanya diisi oleh satu orang.
"Mengapa tidak ada penempa selain dirimu, Tuan Pei?" tanya Huo Li polos, rasa penasaran membumbung di kepalanya. Bagaimana balai penempaan tidak ada penempa lain yang bekerja?, hanya meninggalkan kepala penempa sendirian bekerja di sini.
Pertanyaan itu membuat atmosfer di ruangan mendadak kaku.
Pei Hubong menghentikan gerakannya di tengah memegang sehelai kain pembersih. Pria kekar itu tidak langsung menjawab. Ia berdiri mematung selama beberapa detik sebelum perlahan menoleh.
"Aku tidak tahu apakah kau benar-benar tidak mengetahuinya, atau kau sedang bercanda kepadaku, Junior Huo," ucap Pei Hubong pelan. Matanya kemudian menatap lekat ke arah Huo Li.
Di balik tatapan tajam pria paruh baya itu, Huo Li bisa menangkap kilatan emosi yang rumit. Ada sedikit masalah besar di dalam sekte ini, namun Pei Hubong sendiri tampaknya tidak berani menyebutkannya secara gamblang. Hanya ada raut wajah kesedihan yang tertahan dan kemarahan penuh arti yang berusaha disembunyikannya rapat-rapat.
Melihat reaksi tersebut, Huo Li segera menarik kembali rasa penasarannya. Ia tidak berani menebak.
Entah hal mengerikan apa itu, sampai-sampai para penempa ahli di sekte sebesar ini menghilang, menyisakan Pei Hubong sendirian. Mengetahui terlalu banyak rahasia saat ia belum memiliki kekuatan mutlak untuk dapat menjaga dirinya sendiri adalah tindakan bodoh.