Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 - DUNIA SEMAKIN BURUK
Cahaya pagi jatuh miring melintasi meja kayu di lantai tiga perpustakaan, menerangi debu-debu halus yang melayang malas. Di ambang jendela, Waskita bahkan tidak repot-repot menoleh dari gulungan bambunya; ia cukup membengkokkan jarinya dan menepuk dahi adiknya dengan gemas.
"Tentu saja — menyerah saja," katanya sambil menggelengkan kepala. "Sekarang pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi; aneh jika ayah membiarkanmu keluar rumah." Sekali lagi ia menggeleng, tak habis pikir dengan kelakuan adiknya yang satu ini.
"Itulah sebabnya aku datang kepadamu." Wulan mengedipkan matanya dan berkata dengan penuh percaya diri, "Jika aku bisa keluar sendiri, mengapa aku repot-repot mencarimu di sini?" Ada kilau licik di matanya yang membuat Waskita merasa ini tidak akan berakhir baik.
Waskita tersedak oleh logika adiknya, dan untuk sesaat ia merasa kata-kata itu masuk akal — hingga ia terdiam.
"Kakak Waskita, aku tidak punya pilihan lain selain datang kepadamu." Wulan menunduk, memainkan ujung jarinya — gaya khasnya ketika meminta sesuatu dengan sangat serius.
Waskita mengambil cangkir teh di atas meja, menyesapnya perlahan, dan berkata dengan tenang, "Jadi, apa yang akan kau lakukan saat keluar? Bukankah kemarin kau mengatakan sudah menemukan jawabannya? Jangan-jangan hari ini kau berencana kabur dari pernikahan lagi?" Kata-kata itu meluncur tenang, tetapi ada ujian di baliknya — seolah Waskita ingin menguji apakah adiknya benar-benar sudah berubah.
Mendengar itu, wajah Wulan sedikit memerah karena tersinggung, lalu ia berdiri dengan canggung. "Aku, aku ingin pergi ke Puri Senja." Suaranya tiba-tiba mengecil di bagian akhir, seperti takjub pada keputusannya sendiri. Keinginan itu tumbuh begitu kuat, seperti api yang tidak bisa lagi ia padamkan.
"Hah? Apa katamu?" Tangan Waskita gemetar, hampir saja cangkir teh di tangannya terjatuh. "Puri Senja?" Ia mengangkat kepala dan menatapnya dengan tidak percaya. Puri Senja — kediaman Pangeran Senja, pria paling ditakuti di ibu kota, yang bahkan para pejabat enggan menyebut namanya terlalu keras.
Waskita jelas belum menerima perubahan besar pada adiknya — dari gadis yang selalu menghindari Pangeran Senja, menjadi gadis yang ingin berkunjung ke kediamannya. Dulu, adiknya menolak perjodohan itu dengan cara menceburkan diri ke air. Kini ia ingin berkunjung sendiri. Perubahan ini terlalu cepat bagi Waskita. Ia mengamati Wulan dengan mata yang sedikit menyipit, mencoba membaca maksud sebenarnya.
"Ayah pasti tidak mempercayaiku. Bawa saja aku ke sana." Wulan menyambar cangkir teh di tangannya dan terus bersikap manja. "Kakak Waskita, tolonglah bawa aku ke sana." Genit itu diucapkan sambil menggoyangkan lengan kakaknya seperti kepompong yang menempel. Akhirnya, ia menyerah pada suara manja yang tidak bisa ia tolak itu.
"Eh? Leluhur kecil, jangan diguncang-guncang, jangan diguncang-guncang — tehnya akan tumpah." Waskita segera menghindari tangannya, mengangkat dagu dan memelototinya. "Pertama, katakan dulu — kenapa kau ingin pergi ke Puri Senja?" Di ibu kota, tidak ada yang berani mendekati Pangeran Senja — dan kini adiknya ingin masuk ke rumahnya? Meski begitu, Waskita juga tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Ya, seperti kata pepatah: sehari tidak bertemu, rasanya seperti tiga musim gugur. Tentu saja aku ingin menemui kekasihku." Wulan mengatakannya tanpa sedikit pun merasa malu. Kalimat itu diucapkan sambil menatap lurus ke depan, seakan memang itulah kebenaran yang paling sederhana di dunia.
"Batuk, batuk, batuk—" Mendengar kata-kata itu, Waskita tersedak seteguk teh yang tersangkut di tenggorokannya, dan ia terus batuk-batuk. Wajahnya memerah, teh menetes dari sudut bibirnya, dan ia hampir tersedak lagi.
"Oh, Kakak Waskita, aku tidak akan menemui kekasihmu, kenapa kau malah begitu bersemangat?" Wulan menepuk punggungnya begitu keras hingga kakaknya hampir kehabisan napas. Betapa tidak — biasanya Wulan menghindar jauh-jauh jika mendengar nama Pangeran Senja.
Dengan cepat menghindari cengkeraman adiknya, Waskita menyesap teh untuk menenangkan keterkejutannya, lalu terbatuk ringan dan berkata, "Wuri, perempuan harus menjaga adat istiadat. Lagipula, ada aturan yang melarang pria dan wanita bertemu sebelum menikah." Sebagai kakak, ia merasa berkewajiban untuk mengingatkan meskipun tahu adiknya tidak akan mendengarkan.
"Kalau begitu, bukankah Nalendra sendiri yang datang menemuiku kemarin? Aturan itu aturan orang lain, dan aku punya aturanku sendiri." Wulan tidak peduli dengan aturan semacam itu, lalu meraih tangan kakaknya dan berkata dengan suara manja, "Kakak Waskita, kakak Waskita, bawa saja aku ke sana!" Ia sudah tidak mau lagi hidup dalam penyesalan seperti kehidupan lampau.
Waskita diguncang-guncang adiknya hingga teh di tangannya tumpah, lalu ia mengangguk tak berdaya di tengah desakan yang terus-menerus itu. "Oke, oke, leluhur kecil! Tapi aku ingin membuat perjanjian denganmu dulu." Wulan menghentak-hentakkan kaki dan terus merengek, tidak memberi ruang untuk menolak.
Ia meletakkan cangkir tehnya dengan santai dan berkata dengan nada serius, "Pertama, jangan berlarian ke mana-mana. Kedua, aku harus melihatmu masuk ke Puri Senja dengan selamat. Ketiga, aku yang akan menjemputmu ketika kau kembali." Tiga syarat itu diucapkan dengan nada yang tidak bisa ditawar — gaya khas kakak yang sudah lelah mendebat.
"Ya!" Wulan buru-buru mengangguk, seolah meyakinkan dirinya sendiri. "Wuri pasti mendengarkan Kakak Waskita!" Bibirnya melengkung manis, seolah semua masalah dunia selesai hanya dengan berjanji.
Setelah diam-diam menyiapkan kereta, Waskita menjejalkan Wulan ke bawah kursi kereta, lalu mengenakan jubahnya di atas kursi itu dan berpura-pura duduk di depan meja kayu kecil, menghalangi sosok Wulan tanpa meninggalkan jejak apa pun. Meja kayu kecil itu menjadi tameng yang sempurna untuk menyembunyikan tubuh mungilnya. Sepanjang perjalanan, Wulan memejamkan mata, membayangkan wajah Nalendra saat ia datang mengetuk pintu.
"Aku menghadap Tuan Muda!" Penjaga di pintu belakang membuka tirai kereta dan memberi hormat dengan sopan setelah melihat sosok Waskita.
"Ehem." Waskita terbatuk dua kali dengan serius dan melambaikan tangannya.
Penjaga itu menurunkan tirai dan mundur dengan hormat.
"Aku sesak napas!" Setelah meninggalkan gerbang Puri Ardani, Wulan segera keluar dari bawah meja bundar kecil itu dan menarik napas dalam-dalam, seolah baru saja dilepaskan dari dalam sumur. Kereta itu bergoyang pelan di atas jalan berbatu, dan Wulan tertawa kecil di dalam hatinya.
"Ssst!" Waskita menutup mulutnya dengan satu tangan dan memberi isyarat agar ia diam. "Pelankan suaramu, ada pengawal tersembunyi di sekitar Puri Ardani. Jika mereka mendengarmu, kau tidak akan bisa keluar." Wulan mengangguk patuh, masih dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Senyum itu menyebar hingga matanya, penuh harapan.
"Oh, dunia macam apa ini? Aku harus bersembunyi-sembunyi hanya untuk keluar rumah." Ia menggerutu pelan, tetapi matanya berbinar penuh kegembiraan.
"Jadi, jaga dirimu baik-baik. Bukankah kau yang memilih jalan ini?" Kalimat itu membuat Wulan terdiam sejenak, merasa kakaknya benar.
Wulan mengerucutkan bibirnya. "Mungkin karena dunia memang sedang mengalami kemunduran." Waskita mengerutkan kening, tidak mengerti logika itu, tetapi akhirnya memilih menyerah — dan tidak tahu harus tertawa atau menangis.