Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 Misi baru
Arka menusuk potongan kecil caviar bertabur lembaran emas tipis itu dengan garpunya, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Rasa gurih dan sensasi pop dari telur ikan sturgeon yang berpadu dengan minyak truffle langsung memenuhi rongga mulutnya.
"Hmm... teksturnya unik sih, tapi jujur aja, lidah gue tetap lebih terbiasa sama telur gulung biasa," bisik Arka pelan, terkekeh sendiri membayangkan betapa berbanding baliknya selera aslinya dengan makanan bernilai jutaan rupiah di depannya.
Tak berapa lama, pelayan datang membawa hidangan utama: Wagyu A5 Tomahawk Steak yang aroma panggangnya langsung memancing air liur. Asap tipis masih membumbung dari piring saji.
"Silakan dinikmati, Tuan Arka. Jika ada yang kurang sesuai, jangan ragu untuk memberitahu kami," ujar pelayan itu seraya menuangkan saus wine merah tanpa alkohol di atas daging wagyu tersebut.
"Terima kasih banyak, Mas. Aromanya juara banget ini," puji Arka.
"Sama-sama, Tuan. Selamat menikmati hidangan Anda."
Arka memotong bagian tepi daging steak itu dengan pisau pemotong. Dagingnya begitu lembut, nyaris seperti memotong mentega cair.
Saat gigitan pertama mendarat di lidahnya, mata Arka langsung membelalak. Rasa gurih alami marbling wagyu yang meleleh dan bumbu yang meresap sempurna membuat Arka mengangguk-angguk puas.
"Okey, yang ini nggak usah dibandingin sama telur gulung. Ini beneran enak banget!" gumamnya riang.
Di meja seberang, Arka bisa merasakan tatapan canggung dari Rendi yang beberapa kali mencuri pandang ke arah mejanya.
Teman wanitanya tampak bingung melihat Rendi yang tiba-tiba mendadak diam dan kelihatan gelisah sepanjang makan malam.
Arka sengaja tidak membalas tatapan itu dan memilih menikmati setiap gigitan makanannya dengan tenang.
Setelah menyelesaikan hidangan utamanya dan mengelap bibirnya dengan serbet kain polos, pelayan menghampiri meja Arka kembali.
"Bagaimana dengan hidangan utamanya, Tuan?" tanya pelayan.
"Luar biasa, Mas. Koki di sini benar-benar jempolan," balas Arka jujur.
"Terima kasih atas pujiannya, Tuan. Apakah Anda ingin melihat daftar menu penutup malam ini?"
"Aduh, perut ku udah pas banget kenyangnya nih, Mas. Langsung tagihannya aja tolong ya," kata Arka.
"Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar."
Pelayan itu kembali membawa sebundel map kulit kecil berisi struk tagihan. Arka membukanya santai. Di sana tertera angka Rp 10.000.000,- termasuk service charge dan pajak.
Jika ini terjadi sebulan lalu, Arka pasti sudah pingsan di tempat. Namun sekarang, ia hanya tersenyum tipis. Arka mengeluarkan ponselnya.
"Silakan, Mas. Langsung aja," ucap Arka.
"Baik, Tuan. Kami proses sebentar."
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit hingga transaksi berhasil.
Saat pelayan memberikan resi pembayaran beserta kartunya kembali, sang manajer restoran bertubuh tegap tadi kembali menghampiri meja Arka.
"Tuan Arka, terima kasih banyak atas kunjungannya malam ini," ujar sang Manajer dengan sangat sopan. "Ini ada kartu Member VVIP L’Amour. Dengan kartu ini, Tuan Arka bisa melakukan pemesanan meja prioritas kapan saja tanpa perlu antre atau reservasi jauh-jauh hari."
Arka menerima kartu hitam beraksen emas itu dengan senang hati. "Wah, makasih banyak ya, Pak. Pelayanannya benar-benar mantap."
"Sudah menjadi kewajiban kami, Tuan. Mari saya antar sampai ke pintu keluar."
Baru saja Arka ingin melangkahkan kakinya, sistemnya muncul di depan.
Ting!
[Misi Baru]
[Menyelamatkan nyawa seorang bapak-bapak yang mendadak pingsan karena makan-makanan berlemak tinggi]
[Status misi sedang berlangsung]