Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Terjebak Hasrat Sang Raja Vampir
'Kumohon, kali ini saja... biarkan aku terbebas dari jeruji besi itu.'
Elara sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tahu betul konsekuensi dari perbuatan nekatnya ini sangat mengerikan.
Memfitnah seorang penguasa tertinggi klan Vampir di depan publik bisa membuatnya berakhir mengenaskan, bahkan dijatuhi hukuman mati oleh hukum antarras. Namun bagi Elara, mati dieksekusi jauh lebih baik daripada harus kembali membusuk di dalam kegelapan sel penjara yang dingin seumur hidupnya.
Menyadari bahwa para pengawal Elf Hutan itu tidak akan langsung bubar hanya dengan modal tangisan air mata palsu, Elara segera mengambil langkah terakhir yang jauh lebih berisiko. Ia perlahan mengendurkan pelukan di pinggang pria itu, lalu memejamkan sepasang mata birunya erat-erat.
'Tidak ada pilihan lain lagi...' batin Elara pasrah pada takdir.
Kedua tangannya yang semula berada di pinggang Jacob kini merayap naik, mencengkeram kuat tengkuk tegap sang Raja Vampir. Elara memaksa kedua kaki telanjangnya yang terluka untuk berjinjit, mendongak, dan...
Cup!
Ia mendaratkan sebuah ciuman yang sangat dalam dan intim tepat di atas bibir Jacob Salvatore. Ciuman itu terasa begitu pekat dan penuh gairah semu, menyerupai gerakan seseorang yang sudah sangat andal dalam melakukan jalinan asmara panas.
Nyatanya, tubuh Elara hanya bergerak refleks, meniru kembali memori sentuhan brutal yang dipaksakan oleh Edgard ke atas dirinya semalam di kamar VIP kasino.
Tindakan ekstrem itu seketika membuat mata merah Jacob melotot sempurna karena syok yang teramat sangat. Tidak hanya sang Raja Vampir, ketiga pengawal Elf Hutan yang menyaksikan adegan intim tersebut secara langsung dari jarak dekat pun ikut melotot horor dengan rahang yang nyaris jatuh ke tanah. Harga diri dan wibawa dingin Jacob runtuh dalam satu kecupan paksa dari sang Siren.
"Bubar! Kembali ke pos penjagaan sekarang juga!" perintah sang pemimpin pasukan tiba-tiba, membalikkan tubuhnya dengan cepat demi menyembunyikan wajahnya yang kini sudah memerah padam menahan malu sebagai saksi mata skandal tersebut.
"Tapi... bagaimana dengan Siren penyusup itu, Ketua?" tanya salah satu pengawal bawahannya dengan nada ragu, tatapannya masih terpaku pada dua makhluk yang menempel erat di pilar gerbang.
"Sudah, lupakan saja! Turuti saja perintah Ketua!" sahut temannya sembari menarik paksa tangan pengawal tersebut untuk segera melangkah pergi dari sana.
Prajurit itu tahu diri; jika mereka nekat menyeret gadis Siren tersebut masuk ke dalam sel penjara bawah tanah, itu sama saja dengan mengantarkan nyawa atau memicu perang diplomatik dengan klan Vampir.
Ciuman panas di depan publik itu sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan mereka semua bahwa Elara memang memiliki hubungan khusus yang sangat intim dengan sang penguasa tertinggi klan Vampir Luminara.
Elara masih terus melanjutkan aksi nekatnya, terlalu fokus memperdalam sandiwara hingga tidak menyadari bahwa suara derap langkah para pengawal Elf Hutan tadi sebenarnya sudah menjauh dan menghilang.
Sementara itu, batin Jacob bergolak hebat. Penguasa Vampir yang awalnya menolak keras eksistensi takdir baru ini mendadak kehilangan seluruh kewarasannya.
Alih-alih mengempaskan tubuh Elara atau melepaskan tautan bibir mereka secara paksa, pertahanan kokoh Jacob justru runtuh seketika.
Aroma sedap malam dan samudra yang menguar pekat dari tubuh sang Siren berpadu dengan kehangatan bibir yang melekat, membuat sang Raja Vampir perlahan terbuai dan terhanyut ke dalam pusaran gairah yang intim.
Jacob tidak pernah merasa segila dan sefrustrasi ini selama ratusan tahun lamanya, semenjak kematian tragis Laura—istri tercintanya. Ada bagian dari insting imortalnya yang mendadak bangkit, menuntut hal yang lebih jauh dari sekadar kecupan pasrah dari gadis asing ini.
Ketika Elara merasa aktingnya sudah cukup dan hendak menarik mundur kepalanya untuk memeriksa apakah situasi di sekitar mereka sudah aman, takdir justru berbalik mencengkeramnya. Jacob menolak melepaskannya. Dengan satu gerakan dominan yang tak terduga, tangan besar pria itu justru menahan erat tengkuk Elara, memperdalam ciuman mereka dengan intensitas yang menuntut.
Sembari mempertahankan pautan bibir mereka yang kian memanas, Jacob membawa tubuh mungil Elara bergerak mundur, menyeretnya menjauh dari area gerbang menuju sebuah koridor istana yang sepi. Dengan kecepatan khas ras imortal, ia menuntun sang gadis Siren masuk ke dalam salah satu kamar kosong yang terdekat, lalu menendang pintu kayu tersebut hingga tertutup rapat.
Blam!
Kesadaran Elara seketika tersentak bangun. Rasa panik yang teramat sangat langsung mendera seluruh rongga dadanya saat menyadari mereka kini terkunci berdua di dalam ruangan yang temaram, dengan bibir Jacob yang masih enggan melepaskan miliknya.
'Mengapa... mengapa situasinya malah menjadi liar seperti ini?!' batin Elara menjerit panik.
Niat awalnya yang hanya ingin memanfaatkan sang Raja Vampir sebagai tameng pelarian, kini justru melemparkannya ke dalam sangkar predator baru yang jauh lebih berbahaya dan tak tertebak.
Jacob mendorong tubuh Elara ke depan dengan satu sentakan dominan, membuat gadis Siren itu terempas di atas ranjang kayu yang ada di dalam kamar kosong tersebut.
Pria itu melepaskan tautan bibir mereka sejenak, mengizinkan pasokan udara tipis masuk ke paru-paru mereka. Sepasang netra merah darah Jacob menatap lekat-lekat manik mata biru jernih Elara dengan pandangan intens yang sulit diartikan.
"Jangan salahkan aku atas kelanjutan malam ini," desis Jacob rendah, suaranya terdengar serak di tengah kabut gairah. "Kau sendiri yang nekat melemparkan umpan berbahaya ini kepadaku, Gadis Siren."
Belum sempat Elara memulihkan kesadarannya untuk kabur atau sekadar mengucapkan sepatah kata penolakan, Jacob sudah kembali bergerak secepat kilat. Ia kembali membungkam bibir Elara tanpa ampun, sembari menyusupkan jemari besarnya untuk mencengkeram dan mengunci kedua pergelangan tangan Elara erat-erat di atas kepala gadis itu.
"Emmppph!"
Pekikan Elara tertahan di tenggorokan. Rasa panik yang luar biasa membuat dadanya sesak akibat pasokan oksigen yang menipis. Namun, sang Raja Vampir tampaknya enggan melepaskan mangsanya begitu saja. Kedua kaki telanjang Elara yang terluka mencoba menendang-nendang udara, meronta mati-matian untuk melepaskan diri.
Namun sia-sia, Jacob langsung menindih tubuh ringkihnya, menggunakan berat badannya untuk mengunci total pergerakan Elara di bawah kendali mutlaknya.
****
Sementara itu, jauh di koridor utama istana, Celine dan Lyra akhirnya memutuskan untuk menyudahi sesi makan mereka dan bergegas pergi menemui Jacob untuk menyusul ke area pasar.
"Kenapa kau bisa pelupa sekali, sih, Lyra? Bagaimana kalau Kakek Jacob nanti memarahimu—atau malah memarahiku—karena kau justru asyik ikut makan di dalam?" omel Celine cemberut, menyelaraskan langkah kakinya yang kecil di sepanjang lorong batu istana.
Lyra menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan raut wajah bersalah. "Maaf, Celine. Aku benar-benar lupa saat melihat makanan enak tadi. Semoga saja Kakek masih setia menunggu di luar sana dan tidak marah pada kita. Ayo, cepat!"
Dengan tidak sabar, Lyra menarik pergelangan tangan Celine, membawa sepupunya itu berlari kecil menuju pintu utama istana.
Namun, langkah kaki kedua gadis kecil itu mendadak terhenti tepat di ambang pintu depan istana. Area gerbang yang semula menjadi tempat penantian tampak kosong melongpong. Sosok Jacob tidak ada di sana.
"Kakek!" teriak Lyra lantang, memanggil nama sang kakek. Suaranya menggema membelah keheningan sore.
"Kamu yakin kalau Kakek tadi berjanji menunggumu di sini? Jangan-jangan beliau sudah pergi duluan ke pasar karena lelah menunggumu?" tanya Celine ragu, menatap sekeliling beranda luar yang sepi.
"Mana mungkin! Kakek kan sangat baik dan sudah berjanji padaku tadi," kilah Lyra bersikeras.
Gadis kecil keturunan Pegasus itu mendadak terdiam. Ia memejamkan mata, memajukan wajahnya sedikit ke udara, lalu mulai mengendus-endus udara sekitar.
Sebagai keturunan imortal, hidung tajamnya samar-samar menangkap jejak feromon dan aroma pinus hitam yang sangat familier. Itu adalah aroma khas milik Jacob Salvatore.
"Kakek masih ada di sekitar sini. Aromanya sangat dekat," lanjut Lyra dengan binar mata ungu yang kembali bersemangat. "Ayo, Celine! Ikuti aku, kita cari Kakek!"
Tanpa membuang waktu, Lyra menarik Celine berbelok memasuki koridor sepi yang mengarah ke deretan kamar kosong istana, tepat menuju ruangan tempat Jacob sedang mengurung Elara di atas ranjang.
Langkah kaki kedua gadis kecil itu akhirnya terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu kamar yang tertutup rapat.
"Kau yakin yang ini kamarnya, Lyra?" tanya Celine ragu, menatap daun pintu di hadapan mereka.
"Iya, aku sangat yakin. Jejak aroma Kakek Jacob berhenti tepat di depan kamar ini dan baunya terasa semakin pekat. Tidak salah lagi, pasti Kakek ada di dalam,"