Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Keputusan
Pagi itu, Sarah bangun dengan perasaan yang lebih ringan. Setelah semalaman merenung di apartemen barunya, ia akhirnya mengambil keputusan. Ia memilih untuk tinggal di mansion Samudra. Bukan karena kewajiban, bukan karena kontrak, tapi karena ia merasa nyaman dan aman di sana. Dan mungkin, karena ia mulai merasakan sesuatu yang lebih untuk Samudra.
Sarah berpakaian rapi, mengenakan blus putih dan celana panjang beige. Ia berangkat ke kantor dengan taksi, dan sesampainya di sana, ia langsung menuju ruang Samudra.
Sarah mengetuk pintu, lalu masuk setelah mendengar suara Samudra.
"Selamat pagi, Pak," sapa Sarah.
Samudra mengangkat pandangannya dari laptop. "Selamat pagi, Sarah. Ada yang bisa aku bantu?"
Sarah menarik napas dalam-dalam. "Pak, saya sudah memutuskan. Saya akan tinggal di mansion."
Samudra tersenyum tipis, tapi matanya berbinar. "Kamu yakin?"
"Yakin, Pak. Saya merasa lebih nyaman di sana. Dan mungkin... itu juga karena Bapak," jawab Sarah jujur.
Samudra menatap Sarah, ada rasa hangat di dadanya. "Terima kasih, Sarah. Aku akan menyiapkan kamar untukmu. Dan kamu bisa tinggal di sana selama yang kamu mau."
Sarah tersenyum. "Terima kasih, Pak."
Samudra menghela napas, lalu menatap Sarah dengan tatapan serius. "Sarah, ada satu hal lagi yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Ada apa, Pak?" tanya Sarah.
"Aku ada acara peresmian kantor cabang baru di London minggu depan. Aku ingin kamu ikut sebagai pendampingku," ujar Samudra.
Sarah mengerutkan kening. "London? Pak, saya masih hamil. Apakah aman naik pesawat?"
"Aku sudah memikirkan itu. Sebelum berangkat, kita akan periksa ke dokter kandungan dulu. Jika dokter mengatakan aman, kita akan pergi," jawab Samudra.
Sarah mengangguk. "Baik, Pak. Saya akan mengikuti keputusan Bapak."
Samudra tersenyum. "Bagus. Sekarang, kita akan ke dokter setelah makan siang."
Mereka pun melanjutkan pekerjaan masing-masing. Sarah kembali ke mejanya, menyelesaikan beberapa dokumen yang tertunda. Namun, pikirannya tidak bisa lepas dari rencana perjalanan ke London. Ini adalah pertama kalinya ia akan bepergian jauh setelah hamil.
Pukul satu siang, Samudra keluar dari ruangannya dan menghampiri Sarah. "Sarah, sudah siap?"
"Sudah, Pak."
Mereka berdua keluar dari kantor, dan Felix mengemudikan mobil menuju klinik ProVita. dr. Andini sudah menunggu di ruang pemeriksaannya.
"Selamat siang, Sarah, Samudra. Ada apa kali ini?" tanya dr. Andini.
Samudra yang berbicara. "Dok, kami berencana pergi ke London minggu depan. Sarah sedang hamil. Apakah aman baginya naik pesawat?"
dr. Andini tersenyum. "Boleh saya periksa dulu kondisi kandungan Sarah?"
Sarah berbaring di ranjang pemeriksaan. dr. Andini melakukan USG, dan memeriksa detak jantung janin, serta posisi plasenta. Setelah beberapa menit, dr. Andini tersenyum.
"Kandungan Sarah sangat kuat. Usianya sudah memasuki trimester kedua, yang merupakan masa paling aman untuk bepergian. Janinnya sehat, dan tidak ada tanda-tanda masalah," jelas dr. Andini.
"Jadi, dia bisa naik pesawat?" tanya Samudra.
"Bisa. Tapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan," jawab dr. Andini. "Sarah harus banyak minum air putih selama penerbangan, agar tidak dehidrasi. Jangan terlalu lama duduk, sesekali berjalanlah di lorong pesawat. Dan jika ada tanda-tanda tidak nyaman, segera berhenti dan istirahat."
Sarah mengangguk. "Baik, Dok. Saya akan ingat."
dr. Andini juga memberikan beberapa vitamin tambahan untuk perjalanan. "Ini vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh. Minum setiap hari."
"Terima kasih, Dok," ujar Sarah.
Mereka keluar dari klinik dengan perasaan lega. Samudra menatap Sarah, dan tersenyum.
"Kedengarannya, kamu siap untuk pergi ke London," ujar Samudra.
"Saya siap, Pak. Apalagi kalau Bapak yang menemani," jawab Sarah.
Samudra tersenyum. "Kalau begitu, kita akan berangkat Minggu depan. Aku akan memesan tiket dan hotel."
Mereka kembali ke kantor, dan Samudra segera menghubungi asistennya untuk mengurus tiket pesawat dan akomodasi di London. Sarah kembali bekerja, tapi pikirannya sudah melayang ke kota Inggris itu.
"London," batin Sarah. "Aku akan pergi ke London bersama Samudra."
Malam itu, Sarah kembali ke mansion. Yola sudah menyiapkan makanan favoritnya. Sarah makan dengan tenang, dan saat Samudra duduk di sampingnya, ia merasakan ada kebahagiaan yang sederhana.
"Pak, terima kasih sudah membawa saya ke dokter," ujar Sarah.
"Tentu. Kesehatanmu adalah prioritas," jawab Samudra.
Sarah tersenyum. "Saya senang bisa pergi ke London. Ini akan menjadi pengalaman baru bagi saya."
Samudra menatap Sarah. "Kamu akan menyukainya, Sarah. London adalah kota yang indah. Dan aku akan menunjukkan tempat-tempat terbaik di sana."
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan tenang, dan Sarah merasa bahwa hidupnya perlahan berubah. Dari seorang asisten kontrak, ia kini menjadi seseorang yang diperhatikan dan dihargai. Dan ia tidak ingin kembali ke masa lalu.