Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria di Balik Hujan
Hujan turun semakin deras, mengubah jalanan kota menjadi lautan pantulan cahaya. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, sementara suara klakson kendaraan bersahutan memenuhi sore yang perlahan berubah menjadi malam.
Aluna berdiri di bawah kanopi sebuah toko buku, memeluk kantong hadiah yang dibungkus rapi dengan kedua tangannya. Ia mengangkat wajah, memperhatikan titik-titik air yang jatuh tanpa henti dari langit kelabu.
Ia seharusnya membawa payung.
Bibi Mira sudah mengingatkannya sebelum berangkat, tetapi kebiasaannya yang sering mengabaikan hal-hal kecil kembali terulang.
Aluna mengembuskan napas pelan, lalu melangkah keluar. Jarak menuju halte tidak terlalu jauh. Jika berlari kecil, mungkin ia tidak akan terlalu basah.
Belum sempat mencapai trotoar, suara deru mesin yang melaju kencang terdengar dari ujung jalan.
Sebuah sedan hitam melintas dengan kecepatan yang tidak wajar. Ban mobil itu bergesekan keras dengan permukaan jalan yang licin, meninggalkan suara melengking sebelum akhirnya kehilangan kendali.
Brak!
Benturan keras mengguncang suasana.
Mobil itu menghantam pembatas jalan hingga bagian depannya ringsek.
Orang-orang yang berada di sekitar spontan menghentikan langkah mereka.
Sebagian memilih menjauh.
Sebagian lagi hanya berdiri memandangi dari kejauhan.
Tidak ada yang berani mendekat.
Aluna menatap mobil itu beberapa detik. Asap tipis mulai mengepul dari kap mesin, bercampur dengan guyuran hujan yang semakin lebat
Tanpa berpikir panjang, ia berlari menghampiri.
"Jangan, Nona!" teriak seorang pria dari belakang. "Bisa saja mobil itu meledak!"
Namun Aluna seolah tidak mendengarnya.
Ia tiba di samping pintu pengemudi dan mencoba membukanya. Pintu itu tidak bergeming.
"Apakah Anda bisa mendengar saya?"
Tidak ada jawaban.
Aluna mengitari kendaraan hingga mencapai pintu belakang.
Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, pintu itu terbuka dari dalam.
Seorang pria keluar perlahan.
Tubuhnya tinggi dengan setelan jas hitam yang kini basah oleh hujan. Wajahnya tampak tenang, seolah kecelakaan yang baru saja terjadi hanyalah gangguan kecil.
Namun perhatian Aluna segera tertuju pada tangan pria itu.
Darah mengalir pelan dari sela-sela jemarinya.
"Anda terluka."
Pria itu mengikuti arah pandang Aluna sebelum melihat tangannya sendiri.
"Hanya goresan."
"Itu bukan goresan."
Aluna mengeluarkan sapu tangan bersih dari dalam tasnya lalu menyodorkannya.
"Tekan bagian yang terluka. Setidaknya sampai Anda mendapat penanganan."
Pria itu tidak langsung mengambilnya.
Tatapannya berhenti pada wajah Aluna.
Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dalam sorot mata gadis itu.
Tidak ada rasa takut.
Tidak ada kepentingan
Hanya kekhawatiran yang tulus terhadap orang asing yang baru ditemuinya beberapa detik lalu.
"Silakan."
Aluna mengulurkan sapu tangan itu sekali lagi.
Barulah pria tersebut menerimanya.
"Terima kasih."
Suaranya rendah dan tenang.
Itu hanya dua kata, tetapi entah mengapa terdengar begitu asing, seolah ia tidak terbiasa mengucapkannya.
"Kita harus memanggil ambulans."
"Tidak perlu."
"Anda kehilangan banyak darah."
"Aku baik-baik saja."
Aluna mengerutkan dahi.
"Anda selalu sekeras kepala ini?"
Untuk pertama kalinya, sudut bibir pria itu bergerak tipis.
Nyaris seperti sebuah senyum
Sangat singkat.
Begitu singkat hingga Aluna mulai meragukan apakah ia benar-benar melihatnya.
"Jarang ada orang yang berani memarahiku."
"Saya tidak sedang memarahi Anda."
"Lalu?"
"Saya hanya tidak ingin seseorang pingsan di depan saya."
Pria itu tidak menjawab.
Namun sebelum keheningan berubah canggung, suara beberapa kendaraan terdengar mendekat.
Tiga mobil hitam berhenti hampir bersamaan di sisi jalan.
Pintu-pintunya terbuka
Belasan pria berpakaian serba hitam turun dengan langkah tergesa.
Mereka tidak berteriak.
Tidak berlari.
Mereka bergerak dengan disiplin yang nyaris menyerupai pasukan terlatih.
Salah seorang pria mendekat, kemudian berhenti beberapa langkah dari pria di hadapan Aluna.
"Tuan."
Ia menundukkan kepala.
Diikuti seluruh orang yang datang bersamanya.
Aluna berkedip pelan.
Suasana mendadak berubah.
Pria yang berdiri di sampingnya tidak lagi terlihat seperti korban kecelakaan biasa.
Ada wibawa yang membuat semua orang menghormatinya tanpa diminta.
"Mobil cadangan sudah siap, Tuan," ucap pria itu pelan.
Pria berjas hitam hanya mengangguk.
Tatapannya kembali beralih kepada Aluna.
"Sapu tanganmu akan kukembalikan."
Aluna tersenyum kecil.
"Itu tidak penting."
"Bagi sebagian orang mungkin tidak."
Pria itu melipat sapu tangan yang kini ternoda darah, lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya dengan hati-hati.
"Tetapi aku tidak suka memiliki utang."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun cara ia mengucapkannya membuat Aluna yakin bahwa pria ini selalu menepati setiap ucapannya.
"Kalau begitu, anggap saja itu hadiah."
"Hadiah?"
"Untuk orang asing yang mengalami hari yang buruk."
Hening kembali tercipta.
Beberapa pria berbaju hitam saling berpandangan.
Belum pernah ada orang yang berbicara kepada pemimpin mereka dengan nada setenang itu.
Dan yang lebih mengejutkan...
Pria itu tidak menunjukkan sedikit pun tanda keberatan.
Ia justru memandang Aluna beberapa saat sebelum akhirnya berkata,
"Siapa namamu?"
"Aluna."
Pria itu mengangguk perlahan, seolah sedang mengingat nama tersebut.
"Niel."
Hanya itu.
Tanpa nama keluarga.
Tanpa penjelasan lain.
Sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka.
Salah seorang pria membuka pintu belakang.
"Niel."
Aluna memanggilnya sebelum ia masuk ke dalam mobil.
Pria itu menoleh.
"Lukamu sebaiknya segera diperiksa."
Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik.
Kemudian Niel mengangguk pelan.
"Akan kuingat."
Mobil itu perlahan meninggalkan lokasi.
Aluna tetap berdiri di tempatnya hingga iring-iringan kendaraan hitam itu menghilang di balik hujan.
Ia tidak menyadari bahwa dari seberang jalan, pria bertopi hitam yang sejak tadi mengawasinya kembali mengangkat alat komunikasi di telinganya.
"Target telah melakukan kontak."
Suara dari seberang terdengar dingin.
"Bagaimana respons pria itu?"
Pria bertopi memandang ke arah jalan yang kini mulai lengang.
"Lebih tenang dari perkiraan."
Hening sesaat.
"Lanjutkan pengawasan."
Sambungan terputus.
Pria itu memasukkan alat komunikasinya ke dalam saku.
Tatapannya tetap tertuju pada Aluna.
Lalu, tanpa disadari siapa pun...
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Permainan ini akhirnya dimulai."
— Bersambung —