NovelToon NovelToon
Rumah Jiwa Yang Lelah

Rumah Jiwa Yang Lelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: meiithandi

Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.

setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adit Bertemu dengan Rio mantan suami Davina

Perusahaan Rio Group — Kota A

Sesuai janji, berita-berita itu telah lenyap dari peredaran. Pernyataan resmi telah disebarkan, penyebar berita palsu mulai dilacak pihak berwenang. Semua tampak kembali tenang di permukaan. Namun bagi Rio, ketenangan itu terasa hampa.

Di atas meja kerjanya, tergeletak selembar kertas yang belum pernah ia tulis sebelumnya  surat permohonan kunjungan rutin kepada putrinya. Ia membacanya berulang kali, lalu menyandarkan punggung di kursi besarnya. Kata-kata Siska kemarin malam terus bergema di telinganya: "Cintaku bukan tempat sampah untuk rasa bersalahmu."

Rio tersenyum getir. Gadis itu benar. Selama ini ia berlari dari satu pelukan ke pelukan lain, bukan untuk dicintai, melainkan untuk lupa bahwa ia telah kehilangan tempat pulang yang sebenarnya. Dan tempat itu bukan lagi Davina sebagai istrinya, melainkan hati Zahra yang menunggu ayahnya pulang sebagai seorang ayah.

"Saya akan ke Kota C sore ini," ucapnya tiba-tiba kepada sekretaris yang baru masuk membawa berkas. "Tunda semua jadwal."

"Baik, Pak. Akan saya atur."

Saat pintu tertutup, Rio meraih foto Zahra yang tersimpan di laci meja. Matanya menatap tajam, penuh tekad. Kali ini ia tidak datang untuk meminta kembali cinta Davina, melainkan untuk menebus kesalahannya kepada anak yang tak berdosa itu.

Rumah Davina — Kota C

Davina baru saja selesai menyiapkan sarapan ketika terdengar ketukan di pintu. Ia mengernyitkan dahi, belum ada jam kunjungan, dan biasanya Rio memberi kabar lebih dulu. Saat pintu terbuka, ia tertegun.

Rio berdiri di sana, mengenakan kemeja sederhana, tanpa jas, tanpa penampilan mengintimidasi seperti biasanya. Wajahnya tampak lelah, namun matanya jernih tidak ada lagi kepura-puraan di sana.

"Boleh aku masuk?" suaranya rendah, penuh hormat. "Aku tidak bermaksud mengganggu. Aku hanya ingin bicara, sebentar saja."

Davina menoleh sekilas ke arah ruang tengah, di mana Zahra sedang asyik menggambar. Lalu kembali menatap pria yang pernah menjadi suaminya itu. Ada sesuatu yang berbeda pada sikapnya hari ini. Bukan tuntutan, bukan kemarahan. Hanya... kerendahan hati.

"Masuklah," jawab Davina singkat, lalu memberi isyarat agar berbicara di teras agar tidak mengganggu Zahra.

Di luar, angin pagi berhembus lembut. Rio menatap halaman depan sebentar, lalu menatap lurus ke mata Davina.

"Aku datang untuk melihat putriku," buka Rio lebih dulu. "Karena aku sangat merindukannya,aku juga membawa hadiah untuknya." Davina ....

Davina diam, mendengarkan.

"Aku sadar, selama ini aku memperlakukanmu dan Zahra seperti sesuatu yang masih menjadi milikku, padahal aku sudah kehilangan hak itu sejak aku membiarkan rumah tangga ini hancur," lanjut Rio dengan suara bergetar " Tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku tidak bisa kehilangan kalian dua, jika tidak ada kesempatan untukku maka izinkan aku...."

Ia menghela napas panjang, seolah melepaskan beban yang dipikulnya bertahun-tahun.

"Mulai hari ini, aku tidak akan lagi menuntut apa pun darimu. Tidak akan mendesakmu untuk kembali. Satu-satunya yang kumohon... izinkan aku menjadi ayah yang baik bagi Zahra. Hadir secara nyata, bukan sekadar kiriman uang atau panggilan telepon. Aku ingin tahu bagaimana harinya, mendengar ceritanya, menemaninya tumbuh. Tanpa melibatkanmu dalam urusan pribadiku."

Davina menatapnya lekat-lekat. Ia mencari jejak kebohongan atau kepura-puraan, namun tidak menemukannya. Untuk pertama kalinya, Rio berbicara bukan sebagai pengusaha yang ingin menang dalam tendernya , melainkan seorang ayah yang menyadari bahwa ia ingin putrinya berada di dekatnya meski sudah terlambat.

"Mimpi Zahra kemarin..." gumam Davina pelan, akhirnya bersuara. "Dia bermimpi kamu datang, lalu pergi lagi. Sedih sekali."

Wajah Rio berubah pucat. Matanya berkaca-kaca."Tidak akan lagi," janji Rio, suaranya serak namun teguh. "Aku berjanji, kali ini aku tidak pergi. Aku tetap ada, walau hanya sebagai ayahnya. Tidak akan menyusahkanmu lagi, Davina. Percayalah sekali ini saja."

Davina terdiam lama. Angin menerpa rambutnya. Di dalam hatinya, tidak muncul keinginan untuk kembali bersanding dengan pria itu,lukanya belum kering. Namun sebagai ibu, ia tidak tega merampas hak anaknya akan kasih sayang ayahnya.

"Baik," jawab Davina akhirnya. "Datanglah setiap akhir pekan. Jangan membawa masalah hidupmu ke sini. Jika Zahra bertanya, jawablah dengan jujur namun lembut. Jika kau melukainya... aku tidak akan segan-segan membatasi pertemuan kalian."

Rio mengangguk pelan, sepasang matanya memancarkan rasa syukur yang mendalam. "Terima kasih, Davina. Terima kasih."

Ia melangkah mundur sebentar, lalu menoleh sekali lagi.

"Boleh... aku menemuinya sebentar?"

Davina mengangguk.

Ketika Rio masuk ke ruang tamu dan melihat Zahra, yang sedang menatapnya dengan mata bulat yang masih ragu, hati pria itu terasa remuk sekaligus tumbuh kembali. Ia berlutut di lantai, menyamakan tingginya dengan putrinya.

"Zahra..." panggilnya lembut.

Anak itu menatapnya lama, lalu perlahan berjalan mendekat dan memeluk leher ayahnya. Tanpa berkata apa-apa. Hanya pelukan itu.

Rio memeluk erat tubuh mungil itu, menenggelamkan wajah di bahu kecilnya. Air mata yang tak pernah ia tampilkan kepada siapa pun akhirnya jatuh. Di pelukan putrinya, Rio menyadari: ia tidak perlu mencari rumah di pelukan wanita lain. Rumahnya ada di sini pada anak yang tak pernah berhenti menunggunya pulang.

Di Jalan Antara Kota  Kota C

Sementara itu, di sebuah mobil luxury hitam yang melaju tenang membelah jalanan Kota, Adit menatap jendela melihat jalanan berlalu lalang, Suasana begitu riuh dan berisik.. Adit mengambil ponsel dalam saku jas yang ia kenakan, ia melihat apa ada notif balasan pesan dari Davina , lagi - lagi Adit menghela napas panjang.

"Lagi - lagi tidak membalas pesanku " Ucap Adit frustasi.

"Kediaman Rumah Davina "

"Ayah ..... Zahra menghampiri Rio.

" Sayang , ayah punya sesuatu untukmu " Ucap Rio memancarkan wajah yang sangat bahagia, rio memberikan bingkisan yang ia bawa.

" Wahhh ...Ayah ini untukku ? Ucap zahra.

" Tentu sayang, ini untukmu semua.Oh iya kakek sama nenek titip salam buat zahra " Ucap Rio.

"Ayah , ibu  boleh tidak pulang sekolah kita jalan - jalan " Ucap Zahra minta izin.Davina dan Rio saling pandangan.Davina menganggung menyetujui permintaan putrinya.

" Boleh sayang, sayang sekarang waktunya mandi yuk  " Ucap Davina lembut.

"Baiklah , Ibu apa boleh ayah ikut antar zahra ke sekolah bu?.Soalnya kenzo selalu di antar ayahnya sekolah, zahra juga pengen bu..

" Iya sayang , boleh, yuk siap - siap " Ucap Davina.

Bu Rani membawakan sebuah nampak berisi kue dan teh.

" Ayok nak di minum " Ucap Bu Rani pada  mantan menantunya.

" Gak usah repot - repot bu " Ucap Rio sungkan tidak ingin membuat mantan ibu mertuanya repot.

15 menit kemudian, Zahra sudah siap mengenakan baju seragam sekolahnya.Rambutnya hitam lurus legam sudah di kepang dua.Zahra terlihat sangat cantik.

" Wahh putri ayah cantik sekali ya ,ayok berangkat " Ucap Rio menggendong putrinya.

" Ayah aku sudah besar tidak perlu di gendong " Ucap Zahra.

" Ternyata putri ayah sudah besar, baiklah mari masuk tuan putri " Ucap Rio membuka pintu mobil agar zahra masuk.

Davina memilih duduk di belakang, Davina tidak ingin duduk di samping Rio.Ia merasa canggung.

Namun zahra meminta Davina agar duduk di samping Rio.Davina hanya bisa menghela napas panjang namun ia tetap mengikuti perintah putrinya.

Sepanjang perjalanan menuju Paud Alghajaly.Rio dan Davina hanya diam saja.Merasa canggung untuk memulai darimana.Sesekali Rio melirik Davina, sementara Davina hanya melihat pandangan lurus ke arah jalanan, Davina tidak ingin melihat Rio.

" Apa kamu sangat membenciku.. , sampai tidak ingin melihatku " Gumam Rio dalam hati.

Sementara di sepanjang perjalanan Adit, seakan gelisah karena Davina tidak membalas chat yang ia kirim kemaren.

" Kita kerumah Kenzo " Ucap Adit kepada supirnya.

Adit sudah sampai di rumah kenzo,

" eh... om adit " Ucap Kenzo yang sudah siap dengan  menggunakan seragamnya tidak lupa tas yang sudah bertengger disana.

" Hai jagoan " Ucap Adit.Menghampiri kenzo keponakannya.

" Sejak kapan kamu disini ..? Ucap Alya.

" Baru saja .." Ucap Adit.

" Kebetulan , mobil aku lagi di bengkel tolong antar kami ya bang "Ucap Alya wajah memelas.

" Baiklah , ayok masuk " Ucap Adit.

Alya masuk di susul kenzo dan adit.

" jalan ke paud Alghajaly " Ucap Adit.

20 menit kemudian, Mobil Adit sudah berhenti di Paud alghajaly.Kenzo keluar dan disusul Alya.

Adit juga ikut turun, kebetulan ia ingin melihat seseorang yang selalu ada dipikirannya.

Setidaknya melihatnya sudah cukup untuknya.Setidaknya Adit melihat Davina dalam keadaan baik - baik saja.Sudah lebih dari cukup untuknya.

Namun siapa sangka, Yang ia tunggu telah datang dengan seseorang pria di sampingnya yang sedang menggendong zahra.

" Siapa lelaki itu " gumamnya dalam hati.

" Ayah , ayok turunkan aku.Itu kenzo temanku.Kenzo.....Ucap zahra riang.Rio menurunkan zahra dari gendongnya.Zahra menghampiri kenzo.

Sementara Adit mematung menggenggam tangannya, ia sedang menahan emosi yang tertahan.Adit sedang mode cemburu terhadap Davina.Davina yang beradu tatap dengan Adit, hanya bisa diam.Tiba - tiba Alya menghampiri Davina sahabatnya.

" Davina ini siapa ? Ucap Alya ingin tahu.

" oh ... ini kenalin ini ayahnya zahra... " Ucap Davina.Sementara Adit terdiam tidak tahu mau bereaksi apa.

Rio mengulurkan tangan, memperkenalkan dirinya terhadap teman Davina mantan istrinya itu.

Rio mengulurkan tangan ingin bersalaman dengan Adit.Sementara adit masih enggan untuk menjabat tangan dengan rio.Namun Alya menyenggol bahu abangnya.

" Adit " Ucap Adit.

" Ini pemilik yayasan tempat zahra sekolah " Ucap Davina.Mencairkan suasana yang mulai menegang disana.

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, penasaran nih alasan Davina minta cerai apa cuma gara-gara udah ga cocok atau ada hal lain?😌😳
Dian Meilani: jangan lupa pantengin ya, ku up ko okee
total 1 replies
nurulmarisa
seru banget ceritanya👍
IRINA SHINING STAR
saya mampir kak, semangat ya kakk. 😆
Dian Meilani: makasih kk 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
lanjut thor
Dian Meilani: makasih atas dukungannya
total 1 replies
Cilia
Baca ceritamu bikin ikut ngerasain kehangatan keluarga thorr, lanjutin terus ya! Semangat!
Dian Meilani: makasih kak atas dukungannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!