NovelToon NovelToon
Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Perubahan Hidup / Kaya Raya
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Marcos

Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18 - Petunjuk Pertama

Hotel itu berada di kawasan hotel utara. Suite sederhana, dua kamar, pemandangan ke poros monumen yang menyala. Arga memesan kopi dan tidak menyentuhnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap koper hitam di tengah meja seolah benda itu akan meledak.

Pak Jaya berada di kursi sudut. Mata terpejam, tangan bertumpu di lutut, napas lambat. Ia tidak tidur. Ia sedang mengorek ingatan hampir dua dekade.

Arga tidak mengganggunya. Ia membuka laptop, memeriksa e-mail, menjawab pesan Rafael tentang kontrak tender, membaca berita tentang video viral yang sudah mencapai delapan juta penayangan, lalu menutup laptop. Ia kembali menatap koper.

Pukul sebelas lewat empat puluh malam, Pak Jaya membuka mata.

"Saya ingat."

Arga menoleh.

"Urutannya tiga tahap." Pak Jaya berdiri dan berjalan ke meja. "Pertama, ibu jari kanan di sensor. Tapi bukan di tengah. Di sudut kiri bawah. Ayah Anda kidal dan memakai sudut yang berbeda dari kebiasaan. Sensor itu dikalibrasi untuk sudut tersebut."

"Sudut kiri bawah."

"Betul. Kedua, sambil mempertahankan ibu jari, ketik kode angka di keypad samping." Pak Jaya menunjuk panel kecil yang sebelumnya tidak Arga sadari, tertanam di sisi koper. "Kodenya tanggal lahir Anda. Hari, bulan, tahun. Delapan digit."

Arga merasakan sesuatu mengencang di dasar dadanya.

"Dan yang ketiga?"

"Dua ketukan di tutup. Jeda. Tiga ketukan. Jeda. Satu ketukan." Pak Jaya membuat gerakannya di udara. "Beliau bilang itu irama lagu yang beliau nyanyikan untuk Anda saat Anda masih bayi. Beliau tidak pernah memberi tahu saya lagu apa."

Arga diam. Dua ketukan. Jeda. Tiga ketukan. Jeda. Satu ketukan.

Ia berdiri. Berjalan ke meja. Meletakkan ibu jari kanan di sudut kiri bawah sensor. Dengan tangan lain, ia mengetik: 15081996. Ibu jarinya tetap di tempat. Dengan buku jari, ia mengetuk tutup koper. Dua kali. Berhenti. Tiga kali. Berhenti. Satu kali.

Layar berkedip hijau. Bunyi klik logam menggema di suite. Koper terbuka kuncinya.

Arga mengangkat tutup dengan dua tangan. Pelan, seperti membuka sesuatu yang rapuh.

Di dalamnya, berlapis beludru abu-abu, ada lima flash drive hitam dalam kompartemen masing-masing, setiap satu diberi label angka satu sampai lima. Di sampingnya, tiga buku catatan bersampul keras, kecil, tebal, dipenuhi tulisan berkode yang tidak Arga kenali. Di bawah buku-buku itu, ada amplop bersegel lilin merah. Dan di dasar koper, terlindung bingkai akrilik, ada sebuah foto.

Arga mengambil foto itu.

Seorang pria tinggi. Rambut gelap, mata terang, wajah tegas. Di sampingnya, seorang perempuan berambut cokelat dengan senyum lebar, menggendong bayi. Bayi itu memejamkan mata dan mengepalkan tangan.

Di balik foto, tertulis dengan huruf tegas: "Raka, Elena, dan Arga. Kota pemerintahan, Oktober 1996."

Arga memandangi wajah ibunya lama sekali. Ia tidak mengenalnya. Elena meninggal ketika Arga berusia dua tahun. Semua yang ia tahu tentang ibunya hanya kepingan: aroma parfum yang mungkin ia ingat, suara yang mungkin milik ibunya, rasa hangat yang mungkin cuma ciptaan pikirannya.

Ia meletakkan foto di meja dengan hati-hati. Mengambil amplop. Mematahkan segelnya. Di dalamnya ada dua lembar tulisan tangan. Tulisan ayahnya, sama seperti tulisan di buku catatan yang pernah ia lihat di arsip Grup Imperial.

Arga,

Jika kamu membaca ini, aku sudah mati. Aku menulis kalimat itu bukan untuk dramatis, melainkan sebagai fakta. Keadaan di sekitarku tidak memungkinkan prognosis lain yang masuk akal.

Di dalam flash drive ada arsip lengkap struktur kepemilikan Grup Imperial, termasuk kepemilikan silang, kontrak fidusia, dan nama semua orang yang terlibat dalam pembangunan grup ini. Buku-buku catatan berisi kunci dekode. Masing-masing membuka satu tingkat arsip. Sistem ini dirancang agar tidak satu orang pun punya akses penuh sendirian. Kamu akan membutuhkan waktu dan seseorang yang bisa dipercaya. Pilih dengan hati-hati.

Ada orang-orang yang akan berusaha mengambil apa yang menjadi milikmu. Beberapa sudah mencoba saat aku masih hidup. Yang lain akan muncul setelah aku mati. Bersiaplah.

Satu instruksi terakhir, dan yang paling penting: jangan percaya siapa pun di kota pemerintahan. Jangan percaya pengacara yang mengurus warisan. Jangan percaya bank yang menyimpan aset. Jangan percaya bahkan keluarga Mahendra, terutama keluarga Mahendra.

Semua yang kamu butuhkan ada di arsip ini.

Jaga dirimu. Kamu adalah satu-satunya yang tersisa dari kita.

Raka.

Arga membaca surat itu dua kali. Pada kali kedua, garis-garis huruf mengabur. Ia melepas kacamata, padahal ia tidak memakai kacamata, tetapi gerakan itu tetap terjadi, jari-jarinya menyapu mata. Rahangnya bergetar. Ia menarik napas lewat hidung, sekali, dua kali, dan pada napas ketiga, napas itu gagal.

Ia tidak bersuara. Tidak terisak. Tangis itu datang seperti sesuatu yang fisik, tekanan yang naik dari dada, tersangkut di tenggorokan, lalu lolos dari mata tanpa meminta izin. Arga berdiri diam, memegang surat itu, sementara air mata turun dan menetes ke beludru abu-abu dalam koper.

Pak Jaya tidak bergerak. Tidak berkata apa pun. Ia berdiri di sudut suite, memandang dinding, memberi Arga satu-satunya hal yang bisa ia berikan pada saat itu: privasi.

Itu berlangsung kurang dari satu menit. Arga menarik napas dalam. Mengeringkan wajah dengan punggung tangan. Melipat surat dan memasukkannya kembali ke amplop. Ketika bicara, suaranya serak, tetapi mantap.

"Ada catatan tambahan."

Pak Jaya menoleh.

Arga memegang lembar kedua. Di bawah tanda tangan ayahnya, dengan huruf lebih kecil, hampir seperti catatan kaki:

PS: Cari nama 'Dewantara' di arsip. Mulai dari mereka.

Arga meletakkan lembar itu di meja. Ia menatap lima flash drive. Menatap buku-buku berkode. Menatap foto ayah, ibu, dan seorang bayi yang belum tahu sebesar apa perang yang akan diwarisinya.

"Dewantara," katanya pelan. "Siapa Dewantara?"

Pak Jaya tidak menjawab. Namun sesuatu berubah di wajahnya: bayangan singkat, seperti pengenalan.

Dan Arga melihatnya.

1
Anime aikō-kā
haii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!