NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Balasan Pertama

Di samping kertas itu, Nadia meletakkan sebuah pulpen hitam.

Pulpen itu bergulir sedikit di atas meja, berhenti tepat di dekat ujung jari Surya. Suara kecilnya tenggelam oleh bunyi monitor jantung Pak Kusuma.

Tit. Tit. Tit.

"Tanda tangan di sini," kata Nadia.

Nada suaranya lembut. Namun, matanya memerintah.

Dokter muda itu menggeser kursi. "Bapak Surya, saya jelaskan sekali lagi. Ini persetujuan untuk mengikuti rangkaian pemeriksaan dan prosedur donor. Setelah hasil lengkap keluar, sebelum tindakan operasi, Bapak tetap harus memberikan konfirmasi akhir. Bapak berhak mundur kapan saja sebelum tindakan."

Nadia menoleh tajam, tidak senang mendengar kalimat terakhir.

Surya justru mengangguk. "Saya paham, Dok."

"Risikonya tidak kecil," lanjut dokter. "Donor ginjal adalah tindakan besar. Kami perlu memastikan Bapak tidak berada di bawah tekanan."

Pak Kusuma mencengkeram pergelangan Surya lebih kuat.

"Tekanan apa?" suara pria tua itu serak. "Dia suami anak saya. Dia makan dari keluarga kami. Ini kewajiban."

Ruangan mendadak sunyi.

Dokter itu menatap Pak Kusuma, lalu kembali kepada Surya. Ia tidak membantah orang sakit di ranjang, tatapannya jelas: keputusan ada pada Surya.

Surya menatap kertas di depannya.

Nama Surya Prasetyo tercetak rapi. Di bawahnya, ada ruang kosong untuk tanda tangan. Satu garis pendek yang akan membuat semua orang di ruangan ini percaya bahwa hidup Pak Kusuma kembali ada di tangan mereka.

Satu garis pendek.

Dan satu harapan palsu.

Surya mengambil pulpen itu.

Nadia menahan napas. Para kerabat di pintu saling melirik. Pak Kusuma tidak berkedip.

Ujung pulpen menyentuh kertas.

Surya menandatangani namanya perlahan.

Begitu tinta hitam selesai membentuk huruf terakhir, Nadia seperti baru saja memenangkan perang. Bahunya turun. Bibirnya bergetar menahan senyum. Ia mengambil kertas itu secepat orang mengambil sertifikat tanah.

"Terima kasih," katanya.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Nadia mengucapkan terima kasih kepada Surya.

Surya hampir merasa itu lucu.

Dokter menerima formulir dan memeriksa singkat. "Baik. Saya akan koordinasikan dengan tim nefrologi dan transplantasi. Tapi kondisi pasien sekarang harus distabilkan dulu."

"Secepatnya, Dok," kata Nadia. "Papa tidak bisa menunggu lama."

"Kami akan lakukan yang bisa dilakukan."

Pak Kusuma menarik tangan Surya mendekat lagi. Napasnya berat, bau obat dan logam samar keluar dari mulutnya.

"Jangan mengecewakan saya," bisiknya. "Kalau saya selamat, saya akan ingat jasamu."

Surya menatap wajah itu.

Jasa.

Tiga tahun ia memasak di rumah itu, disebut beban. Tiga tahun ia membersihkan lantai, disebut laki-laki gagal. Sekarang, karena tubuhnya bisa dipotong untuk menyelamatkan kepala keluarga Kusuma, ia tiba-tiba punya jasa.

"Saya juga akan ingat semuanya, Pak," jawab Surya.

Pak Kusuma tidak menangkap dingin di balik kalimat itu. Nadia juga tidak.

Mereka terlalu sibuk memeluk harapan.

Sekitar dua puluh menit kemudian, harapan itu mulai retak.

Monitor di samping ranjang berbunyi lebih cepat. Pak Kusuma tiba-tiba mengerang, tangan kirinya mencengkeram dada. Wajahnya berubah abu-abu. Salah satu tante menjerit.

"Papa!" Nadia berlari ke sisi ranjang. "Papa, kenapa?"

Dokter muda yang belum jauh dari kamar langsung kembali bersama dua perawat. "Mundur dulu, Bu! Tolong beri ruang!"

Ruangan yang tadi penuh hinaan berubah kacau. Kursi terseret. Kerabat berdesakan keluar. Nadia menangis keras. Namun, tangannya masih menggenggam map putih seolah dokumen itu bisa menahan nyawa ayahnya.

Surya berdiri di sisi lain ranjang.

Ia melihat dokter memeriksa tekanan darah. Perawat memasang alat tambahan. Ada perintah cepat, suntikan, panggilan ke ruang tindakan. Semua bergerak.

Dalam kekacauan itu, Nadia menoleh kepadanya.

"Surya, jangan pergi!" teriaknya. "Kamu dengar? Jangan pergi! Mereka butuh kamu!"

Surya tidak menjawab.

Ia malah mengambil langkah ke pintu, lalu berhenti di dekat perawat yang sedang memanggil bantuan.

"Mbak," katanya dengan suara cukup jelas, "pasien sesak dan tekanan turun. Saya keluar supaya ruangan tidak penuh."

Perawat itu mengangguk cepat tanpa menatapnya. "Iya, Pak. Mohon tunggu di luar."

Surya keluar.

Di koridor, kerabat Kusuma panik. Ada yang menelepon keluarga lain, ada yang menangis, ada yang menyalahkan dokter. Tidak ada yang memperhatikan Surya berjalan menuju lift.

Nadia menyusul sampai pintu kamar.

"Surya!" suaranya pecah. "Kamu mau ke mana?"

Surya menekan tombol lift.

Pintu logam terbuka.

Ia masuk.

Nadia berlari. Namun, seorang perawat menahannya karena dokter memanggilnya kembali. "Bu Nadia! Tolong tanda tangan persetujuan tindakan darurat!"

Nadia terbelah antara ayahnya dan Surya.

Untuk pertama kalinya, Surya melihat perempuan itu tidak bisa mengendalikan semuanya.

Pintu lift mulai menutup.

"Surya! Jangan matikan HP kamu!"

Surya menatapnya dari celah pintu yang mengecil.

Wajah Nadia pucat. Map putih masih di tangannya. Di balik bahunya, monitor kamar VIP berbunyi kacau.

Pintu lift tertutup.

Surya menekan tombol lantai dasar.

Begitu lift bergerak turun, ia mengeluarkan handphone. Belasan pesan Nadia masuk dalam hitungan menit.

Jangan pergi.

Papa kritis.

Angkat telepon.

Surya, aku mohon.

Ia menatap kata "mohon" itu lama.

Lalu ia menekan tombol daya.

Layar mati.

Di luar rumah sakit, Jakarta siang terasa terlalu terang. Surya berdiri di bawah kanopi lobi, menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak menemukan sepatu laki-laki itu, udara masuk ke dadanya tanpa terasa seperti pisau.

Ia memesan mobil online.

Tujuannya: Hotel Mulia Senayan.

Di perjalanan, ia tidak menoleh ke belakang. Mobil melewati jalanan macet, gedung kaca, motor yang menyelip, dan baliho besar Perkasa International yang menampilkan kalimat tentang ekspansi bisnis berkelanjutan. Nama itu hanya melintas di sudut mata Surya.

Perkasa International.

Entah kenapa, nama itu terasa seperti pintu lain yang kelak harus ia buka.

Satu jam kemudian, Surya berdiri di kamar hotel yang dingin dan sunyi. Kamar itu terlalu mewah untuk pria yang semalam tidur di tepi sungai. Karpet tebal menelan suara langkahnya. Di luar jendela, lampu kota mulai menyala satu per satu.

Ia memesan sebotol red wine.

Ketika pelayan pergi, Surya menuangkan sedikit ke gelas. Ia tidak terbiasa minum. Ia juga tidak sedang merayakan kematian.

Ia hanya ingin menandai satu hal.

Surya Prasetyo yang dulu sudah keluar dari rumah keluarga Kusuma.

Yang tersisa sekarang adalah pria yang tahu kapan harus menunduk, kapan harus diam, dan kapan harus meninggalkan musuh tepat saat mereka paling membutuhkan napasnya.

Menjelang malam, ia menyalakan televisi.

Berita bisnis sedang membahas Perkasa International. Seorang pembawa berita menyebut nama Budiman Tanuwijaya dan rencana ekspansi anak perusahaannya. Di bagian bawah layar, teks berjalan menampilkan nama PT Perkasa Enviro Tbk.

Surya menatap layar itu tanpa ekspresi.

Handphone-nya masih mati di meja.

Di dalam kepalanya, ia bisa membayangkan Nadia menelepon tanpa henti, menangis, memaki, memohon, lalu menyalahkan semua orang.

Tidak lama setelah berita itu selesai, Surya menyalakan handphone.

Puluhan panggilan tak terjawab masuk sekaligus.

Satu pesan terbaru dari Nadia muncul di layar.

Papa meninggal.

Surya membaca dua kata itu.

Lalu ia meletakkan handphone, mengangkat gelas, dan menatap pantulan wajahnya di kaca jendela.

"Balasan pertama," bisiknya.

Wine merah bergerak pelan di dalam gelas.

Tetapi di balik ketenangan itu, satu masalah belum selesai.

Polis asuransi jiwa Rp 5 miliar itu masih mencantumkan Nadia Kusuma sebagai penerima manfaat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!