NovelToon NovelToon
Istri Albino Sang CEO

Istri Albino Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: QueenMardhiah

Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.

----------

Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.


Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.

----------

Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bahaya Dari Selina

Deg!

Jantung Yasmin serasa mau copot. Darah seketika surut meninggalkan wajahnya, membuatnya kembali pucat pasi. Ia mengenal suara itu begitu jelas. Suara yang selalu mengejek, merendahkan, dan menjadi duri dalam hidupnya sejak kecil.

Perlahan, ia menoleh dengan mata terbelalak. Di hadapannya kini berdiri Selina, sepupunya sendiri, dengan tatapan penuh kemenangan seolah baru menemukan harta karun yang hilang. Wajah cantik itu menyunggingkan seringai sinis yang sangat menakutkan bagi Yasmin.

"Ternyata benar kamu, Yasmin! Aku tidak salah lihat!" seru Selina keras, tangannya mencengkeram lengan Yasmin semakin kuat hingga terasa nyeri. "Dasar cacat! Berani-beraninya kamu kabur dari rumah terus hidup enak-enak di sini sendirian!"

"Se-Se... Selina...?" bisik Yasmin terbata-bata, kakinya terasa lemas sekali. "Le-lepaskan... sakit..."

"Sakit? Itu baru permulaan!" bentak Selina, tidak peduli dengan keadaan Yasmin. "Kamu pikir kamu bisa lari selamanya hah? Karena ulahmu yang kabur waktu mau dijemput Juragan Irwan, semuanya jadi kacau! Ibu dan Bapak marah besar, dan yang paling parah... Juragan Irwan juga marah sampai menaikkan bunga pinjamannya!"

Yasmin menunduk ketakutan. Ia tahu, keputusan kabur itu memang membuat masalah besar bagi keluarganya, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak mau menikah dengan lelaki tua itu.

"Ka-karena itu aku kabur, Lin... Aku tidak mau..." cicit Yasmin pelan.

"Diam kamu! Urusan mau atau tidak itu tidak penting!" potong Selina ketus. "Yang jelas, gara-gara kamu ngilang, Juragan Irwan jadi tidak mau lagi memberi pinjaman uang buat keluarga! Dan kamu tahu akibatnya buat aku? Uang jajan aku dipotong habis selama sebulan ini! Aku jadi susah mau beli buku atau jalan-jalan sama teman-teman! Semua gara-gara kamu!"

Mata Selina berkilat marah bercampur keserakahan. Ia menatap Yasmin dari atas ke bawah. Melihat pakaian Yasmin yang terlihat bagus dan bermerek, serta penampilan yang jauh lebih terawat daripada saat di desa, rasa iri dan dendam makin membara.

"Wah... hidupmu ternyata enak ya di sini? Pakaianmu bagus-bagus..." Selina menyeringai lagi. "Tapi sayang, nasibmu tidak akan berubah. Kamu tetap saja barang rusak yang harus dijual buat bayar hutang!"

"Aku tidak mau kembali, Lin! Aku sudah menikah! Aku punya suami sekarang!" yasmin memberanikan diri membantah, mencoba jujur dengan niat Selina mau membebaskannya. Tanpa Yasmin tahu pengakuannya barusan akan menciptakan Boomerang dikemudian hari.

"Menikah? Hahaha! Jangan bohong! Siapa yang mau menikah dengan orang aneh sepertimu? Pasti kamu cuma jadi pembantu atau selingkuhan murahan kan?" Selina tertawa mengejek, lalu kembali mencengkeram keras. "Terserah mau alasan apa! Sekarang kamu harus ikut aku! Bapak sudah pesan, kalau ketemu kamu, harus langsung dibawa pulang! Nanti akan aku serahkan lagi ke Juragan Irwan, siapa tahu beliau masih mau menerima 'barang bekas' sepertimu, supaya hutang-hutang itu lunas dan uang jajan aku balik lagi!"

"Tidak! Tidak mau!" teriak Yasmin panik. Ia mencoba melepaskan diri, tapi Selina menarik tangannya dengan kasar. Obat yang baru dibelinya terlepas dari genggaman dan jatuh menggelinding di trotoar.

"Ayo jalan! Jangan memalukan aku di sini! Orang-orang pada lihat lho!" desis Selina sambil menyeret paksa tubuh Yasmin yang gemetar.

"Tolong... lepaskan... Pak Baskara...!" pekik Yasmin putus asa, air matanya akhirnya tumpah. Batuknya kembali datang menyerang hebat karena syok dan ketakutan, membuat dadanya terasa sesak sekali.

Dunia seakan berputar. Harapan indah yang baru saja ia rasakan beberapa menit lalu kini hancur berkeping-keping. Bayangan untuk kembali ke masa lalu yang kelam dan menyerah pada Juragan Irwan kini terasa begitu nyata.

"LEPASKAN! AKU TIDAK MAU KEMBALI!" teriak Yasmin putus asa.

Rasa takut yang luar biasa menguasai dirinya. Bayangan kembali ke desa, diserahkan pada Juragan Irwan, dan hidup menderita lagi membuatnya panik bukan main. Ia tidak boleh kembali! Tidak boleh!

Dengan sisa tenaga yang ada, Yasmin memutar tubuhnya keras-keras, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Selina yang kuat. Namun Selina tidak mau melepaskan, justru mencengkeram kedua lengan Yasmin dengan kedua tangannya.

"Jangan berontak dasar bodoh! Kamu harus ikut aku! Jangan bikin malu!" bentak Selina.

Di saat itulah, insting untuk bertahan hidup mengambil alih. Matanya menatap kaki Selina yang memakai sepatu kets. Dengan cepat dan tanpa pikir panjang, Yasmin mengangkat kakinya lalu

GLEK!

Ia menginjak jari-jari kaki Selina sekuat tenaga dengan tumit sepatunya.

"ADUH! SAKITTT! ANJxNGGG!"

Selina menjerit kesakitan, tangannya refleks melepaskan cengkeraman sambil memegang kakinya yang terinjak. Wajahnya memerah menahan nyeri.

Kesempatan itu tidak disia-siakan Yasmin. Tanpa menoleh ke belakang, tanpa berpikir panjang, ia membalikkan badan dan mulai berlari.

Tas kecilnya bergoyang hebat mengikuti irama larinya. Jilbabnya sedikit bergeser, tapi ia tidak peduli. Yang ada di kepalanya hanya satu: LARI! MENJAUH! SELAMATKAN DIRI!

"HEH! KEMANA KAMU! BERHENTI! YASMIN!!" teriak Selina dari belakang dengan suara melengking, diikuti oleh suara langkah kaki yang mengejar. "JANGAN LARI KAU GADIS CACAT! AKU TANGKAP NANTI KAMU MATI!"

Yasmin berlari secepat yang kakinya mampu membawanya. Napasnya memburu tak karuan, dadanya terasa sesak, dan batuknya mulai menyerang lagi karena kelelahan dan emosi, tapi ia tidak berani berhenti. Berhenti berarti mati, berarti kembali ke neraka.

"Ukhh... ukhh... Hahh... Hahh..."

Matanya memandang lurus ke depan, tapi pandangannya kabur karena air mata dan kepanikan. Ia tidak tahu jalan mana yang harus diambil. Ia baru sebulan tinggal di kota ini, dan selama itu pula ia hanya terkurung di apartemen atau duduk di dalam mobil. Jalanan di sini semua terlihat sama baginya: lurus, lebar, dan penuh gedung tinggi yang asing.

Di pertigaan jalan, ia membelok ke kiri secara acak. Lalu di tikungan berikutnya, ia belok kanan. Ia masuk ke gang kecil, lalu keluar lagi ke jalan raya yang lebih besar. Ia sama sekali tidak tahu arah. Yang penting, suara langkah kaki dan teriakan Selina perlahan mulai memudar.

"Tida...k... boleh... Tertangkap..." desisnya pelan di antara tarikan napas yang berat.

Orang-orang yang lewat menatap heran melihat seorang wanita berpakaian gamis panjang berlari kencang seperti dikejar hantu. Beberapa berbisik, ada yang menoleh, tapi Yasmin tidak peduli. Rasa malu sudah hilang tertelan rasa takut.

Hingga akhirnya, kakinya terasa berat sekali, paru-parunya terasa terbakar. Ia berbelok lagi ke sebuah jalan yang sepi, lalu berhenti sejenak di balik sebuah tiang listrik besar, bersembunyi sambil memegang dinding tembok sebuah toko yang masih tutup.

"Hah... hah... hah..." Napasnya tersengal-sengal hebat, bahunya naik turun dengan cepat.

Ia menempelkan punggungnya ke tembok yang dingin, matanya menatap tajam ke arah jalan yang baru ia lewati, waspada. Jantungnya berdegup kencang sekali, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada.

"Di... dimana ini..." gumamnya gemetar, matanya mengedar panik melihat sekeliling.

Semua tempat terasa asing. Tidak ada satu pun bangunan atau nama jalan yang ia kenali. Ia benar-benar tersesat. Jauh dari apartemen, jauh dari tempat aman, dan sekarang sendirian di tempat yang tidak dikenal.

"Selina... pasti masih cari aku..." bisiknya takut.

Tiba-tiba rasa takut yang lain muncul. Bagaimana jika ia tidak bisa pulang? Bagaimana jika Selina menemukan dia lagi? Atau yang lebih buruk... bagaimana jika Pak Baskara tahu dia melanggar janji? Baskara sudah bilang untuk langsung pulang, tapi sekarang dia malah lari entah kemana dan tersesat.

"Waduh... gimana ini..." Air mata kembali mengalir di pipinya. "Pak Baskara pasti marah besar... pasti dimarahi... pasti dimaki lagi..."

Tapi ia tidak menyesal menginjak kaki Selina tadi. Ia harus melakukannya. Ia tidak mau kembali. Ia ingin tetap di sini, bersama Baskara, walau suaminya itu galak, setidaknya ia tidak dijual seperti barang.

"Dasar Sixlxn! Mana kau?! Keluar kau!!"

Suara teriakan Selina masih terdengar samar-samar dari kejauhan, membuat bulu kuduk Yasmin meremang. Ia semakin membenamkan tubuhnya ke dinding, menutup mulutnya dengan kedua tangan agar suara napasnya tidak terdengar. Matanya terpejam kuat, berdoa dalam hati agar sepupunya itu lewat dan tidak menemukannya.

Beberapa saat berlalu, suara langkah kaki dan teriakan itu perlahan menjauh. Yasmin menghela napas panjang, tapi dadanya masih terasa sesak dan berdebar kencang.

"Hah... hah... untung... untung tidak ketemu..." bisiknya pelan, air mata masih terus mengalir membasahi pipi.

Namun rasa lega itu hanya sesaat. Ketika ia kembali membuka mata dan menatap sekeliling, kepanikan kembali menyerang. Jalanan ini asing. Sangat asing. Gedung-gedung tinggi yang tadi terlihat indah kini terasa seperti tembok penjara yang mengelilinginya.

Ia melangkah keluar dari persembunyiannya dengan kaki gemetar. Berjalan tertatih-tatih, mencoba mencari tanda atau nama jalan yang sedikit ia kenali. Tapi sia-sia. Semuanya terlihat sama. Lampu lalu lintas, rambu-rambu, toko-toko... semua baru baginya.

"Gimana caranya pulang ya..." tangisnya pecah lagi. "Aku lupa jalan... aku tidak hafal..."

Ingatannya hanya tertuju pada satu hal: Apartemen Pak Baskara. Tapi di mana letaknya? Ke arah mana ia harus berjalan? Ke kanan? Ke kiri? Atau lurus saja? Ia sama sekali tidak tahu.

"Pak Baskara... tolong aku..." rintihnya lirih.

Tiba-tiba ia teringat pesan suaminya. "Jangan lama-lama, jangan belok ke jalan lain, langsung pergi langsung pulang!"

Yasmin memegang kepalanya. Ia merasa sangat bersalah. Ia sudah melanggar janji. Ia lari, ia membelok ke sana kemari, dan sekarang ia tersesat.

"Pasti Pak Baskara sudah menunggu... Pasti beliau marah sekali... Aduh, Yaya... kenapa kamu sebodoh ini..." hardiknya pada diri sendiri.

Batuknya kembali datang, kali ini lebih hebat dari sebelumnya.

"Ukhh... ukhh... aakh..."

Dada terasa nyeri, tenggorokan panas. Obat yang dibelinya pun hilang, terjatuh saat ditarik Selina tadi. Kini ia benar-benar sendirian, sakit, takut, dan tersesat di kota besar yang kejam ini.

*****>>>{}<<<*****

Jam dinding di ruang tamu terus berdetak, menunjukkan waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang.

Baskara yang tadinya sibuk membaca berita di koran, kini melipat korannya dengan kasar. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu mendengus kesal.

"Huft... sudah tiga jam lebih gadis itu pergi. Jalan kaki ke apotek saja tidak butuh waktu selama itu," gerutunya pelan, matanya melirik ke arah pintu utama yang masih tertutup rapat.

Ia berdiri dan berjalan mondar-mandir sebentar. Sebenarnya ada rasa cemas yang mengganjal, tapi ia berusaha menepisnya. Ia ingat betul wajah Yasmin yang begitu bahagia dan berbinar saat diizinkan keluar sendirian.

"Mungkin... mungkin dia mampir sebentar ke taman atau duduk-duduk di tempat yang sejuk," bisik Baskara mencoba menebak, mencoba memaklumi.

Ia teringat ucapan Yasmin tadi pagi yang memohon ingin merasakan angin segar dan melihat orang-orang berlalu lalang. Wanita itu kan jarang sekali keluar, wajar kalau kali ini dia betah berlama-lama di luar.

"Dasar anak kecil. Seperti burung yang baru keluar dari sangkar," celetuk Baskara lagi, tapi kali ini nada suaranya tidak terdengar marah.

Ia berjalan menuju sofa dan kembali duduk, mengambil ponselnya. Jarinya sempat terhenti di atas layar, hampir saja ingin menelepon atau menyuruh sopir menjemput, tapi ia urungkan.

"Ah, biarkan saja. Kasihan juga kalau diawasi terus. Lagipula dia sudah janji akan hati-hati dan pulang sendiri. Lagipula daerah sini aman," pikir Baskara mencoba meyakinkan diri sendiri.

"Biar dia puas main angin dulu. Toh nanti kalau lapar atau hujan, pasti dia pulang sendiri. Wanita itu tidak akan berani membuat masalah terlalu lama," ucap Baskara pada ruangan yang kosong.

Ia kembali bersandar santun, mencoba bersikap cuek dan tidak mau ambil pusing. Baginya, Yasmin hanya butuh waktu sendiri untuk melepas penat setelah sebulan terkurung di apartemen.

"Paling juga sebentar lagi sampai. Nanti kalau dia datang, baru aku marahin karena kelamaan," gumamnya lagi, mencoba menutupi rasa khawatirnya yang sebenarnya mulai muncul.

1
Santy 2a
semoga banyak yang baca semangat kak
QueenMardhiah: aamiin... terimakasih sudah mampir. jangan lupa follow juga ya 🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!