Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Malam kian larut, menyisakan keheningan yang mencekam di ruangan rapat basecamp. Di atas meja kaca yang dipenuhi lembaran cetak biru proyek dan monitor portabel, Bara, Mike, Angel, serta beberapa anggota tim duduk melingkar.
Setelah berhasil meloloskan diri dari pelacakan tim ITE pusat, mereka tidak lantas bersantai. Malam ini, mereka berencana menyusun skenario balasan yang jauh lebih masif, yaitu sebuah sabotase total yang dirancang untuk meruntuhkan legitimasi bisnis Pak Danu dan Selina dalam satu kali pukulan mematikan.
Bara duduk bersandar di kursi, jemari tangannya memegang rokok dan menyesapnya lambat sambil mendengarkan pemaparan Mike dan analisis teknis dari Angel. Awalnya, Bara memutuskan untuk tidak pulang ke rumah malam ini. Ia ingin memastikan setiap detail rencana tereksekusi dengan baik.
Namun, tepat saat jarum jam dinding bergeser menunjukkan pukul satu dini hari, layar ponsel Bara yang tergeletak di atas meja mendadak menyala dan bergetar. Nama Andrea tertera di sana.
Kening Bara berkerut tipis. Ia sempat membiarkan panggilan itu beberapa detik, mencoba mengabaikannya demi profesionalisme di depan timnya. Namun, rasa gelisah yang mendadak menyeruak di dadanya membuat Bara akhirnya menyambar ponsel tersebut dan menggeser tombol hijau.
"Ada apa?" tanya Bara dingin sambil menempelkan ponsel di telinganya.
*"K-Kak ... Kak Bara .... "
Suara di ujung telepon tidak menyahut dengan kalimat yang jelas, melainkan suara isak tangis yang sesenggukan dan napas yang memburu ketakutan.
Gurat santai di wajah Bara seketika lenyap, digantikan oleh ketegangan yang mendadak meninggi. "Andrea? Kamu kenapa?"
"Kak ... tolong ... tolong pulang sekarang, Kak... aku takut ... tolong pulang .... " ratap Andrea dengan suara bergetar, terdengar seolah ia sedang bersembunyi di sudut ruangan yang gelap.
Bara mengatupkan rahangnya. Nalurinya terusik, namun sisi rasionalnya berusaha menahan diri di depan rekan-rekannya. "Jelaskan dulu ada apa! Kenapa kamu menangis seperti itu?" desak Bara menuntut agar Andrea cerita.
"Enggak ... aku nggak bisa cerita sekarang ... tolong Kak Bara pulang ... aku mohon ... pulanglah sekarang!" bisik Andrea penuh keputusasaan, menolak membeberkan alasannya dan hanya terus terisak ketakutan hingga panggilannya terputus secara sepihak.
Mendengar keputusasaan dari bibir Andrea, pertahanan logika Bara runtuh seutuhnya. Ia tidak sanggup lagi menahan diri. Tanpa mempedulikan tatapan heran dari Mike dan Angel yang sedang memapar materi, Bara mendadak berdiri dari kursinya, menyambar jaket kulit dan kunci mobilnya yang ada di atas meja.
"Bar? Mau ke mana kamu?! Rencana kita belum selesai!" seru Mike terkejut melihat sikap sahabatnya.
"Lanjutkan tanpa aku. Aku harus pulang sekarang," potong Bara pendek dengan nada suara yang dingin. Ia lalu meninggalkan ruangan tanpa memberikan ruang pada teman-temannya untuk bertanya lebih jauh.
Bara sama sekali tidak mengetahui kejadian kelam yang baru saja berlangsung di rumahnya sekitar tiga puluh menit sebelum panggilan telepon itu terjadi.
Malam itu, suasana rumah terlelap dalam kegelapan yang sunyi. Andrea, yang merasa kehausan, perlahan melangkah keluar dari kamarnya di lantai dua. Mengira seluruh penghuni rumah sudah tertidur lelap, gadis itu turun menuju dapur di lantai bawah tanpa memikirkan penampilannya.
Ia hanya mengenakan gaun tidur bahan sutra tipis bertali kecil berwarna merah muda lembut. Gaun tidur yang melekat pas di tubuhnya itu menjiplak sempurna lekuk kemolekan tubuh Andrea yang teramat menggoda. Pinggang rampingnya yang mungil, pinggulnya yang indah, serta potongan kerah rendah yang memamerkan kehalusan kulit dada dan selangkanya yang bersih.
Setiap gerakan langkah kakinya yang gemulai memancarkan daya pikat alami seorang wanita muda yang tanpa sadar sanggup membakar gairah pria mana pun yang melihatnya.
Andrea mengambil segelas air dingin dari kulkas dan menyesapnya pelan. Namun, ketika ia baru saja berbalik untuk kembali ke lantai atas, siluet seorang pria paruh baya mendadak berdiri di ambang pintu dapur.
Itu adalah Pak Danu.
Pria yang dipandang sebagai sosok ayah dan pengusaha terpandang itu berdiri dengan kondisi yang jauh dari kata rapi. Kemeja kerjanya sudah terlepas kancing atasnya, dadanya naik turun, dan matanya merah oleh pengaruh alkohol serta tekanan stres berat akibat kekacauan proyek perusahaannya hari ini. Pikirannya sedang sangat kacau dan penat.
Namun, saat manik mata Pak Danu terjatuh pada sosok Andrea yang berdiri di bawah temaram lampu dapur dengan gaun tidur tipis yang menerawang dan lekuk tubuh indah yang terpampang nyata, akal sehat dan moralitas pria itu runtuh seketika.
Hasrat terlarang yang liar bergejolak hebat di dalam dadanya. Kemolekan tubuh putri tirinya yang begitu ranum dan memikat mendadak menjadi pelampiasan sempurna bagi rasa frustrasinya.
"Om Danu?" lirih Andrea panik saat menyadari tatapan lapar dan menjijikkan yang dilayangkan Pak Danu padanya.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Pak Danu melangkah maju dengan gerakan cepat. Pria itu menyambar pergelangan tangan Andrea dengan cengkeraman kasar, menghempaskan gelas di tangan Andrea hingga pecah berantakan di atas lantai.
"Kamu tidak perlu takut, Andrea..." bisik Pak Danu dengan suara parau bercampur bau alkohol yang menyengat, menarik tubuh mungil Andrea hingga menempel pada dadanya. "Bantu Papa menghilangkan rasa penat malam ini ... hanya sebentar ... Sayang .... "
"Lepas! Om apa-apaan?! Lepaskan aku!" pekik Andrea histeris, berusaha mendorong dada bidang pria tua itu.
Namun, kekuatan fisik Pak Danu jauh lebih besar. Dengan kalap, tangan kasar Pak Danu mulai merayap liar, meremas pinggang ramping Andrea dan mencoba menyingkap gaun tidur tipis gadis itu, berniat menyentuh area-area sensitif yang sangat terlarang. Hasrat pria tua itu sudah berada di puncak, kejantanannya yang sudah mengeras menekan paha Andrea secara paksa.
Dalam kepanikan yang membakar dan rasa jijik yang luar biasa, Andrea tidak tinggal diam. Saat Pak Danu menundukkan kepala hendak mencium lehernya secara paksa, Andrea mengumpulkan seluruh sisa tenaga di tubuhnya.
BUGH!
Dengan ayunan yang teramat keras, Andrea melayangkan tendangan lututnya tepat menghantam bagian inti Pak Danu yang sedang mengeras rapat di antara kedua kakinya.
Hantaman telak itu seketika membuat Pak Danu mengerang kesakitan yang luar biasa. Pria tua itu langsung melepaskan cengkeramannya, membungkuk ke bawah sambil memegangi intinya yang hancur oleh rasa sakit yang mematikan, wajahnya memerah padam menahan erangan.
Tidak membuang kesempatan emas itu, Andrea segera berbalik dan berlari secepat kilat menaiki anak tangga menuju lantai atas, mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, lalu mendorong lemari kecil untuk menghadang pintu sebelum akhirnya beringisut di sudut kamar dalam keputusasaan hingga akhirnya ia menelpon Bara.