"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Balas Dendam di Kota Mode
Paris dilingkupi oleh cuaca musim gugur yang sejuk saat pesawat jet pribadi keluarga Arkananta mendarat di Bandara Paris Charles de Gaulle. Kota yang dikenal sebagai pusat mode dunia itu memancarkan pesona klasiknya yang magis melalui deretan bangunan berasitektur gotik dan lampu-lampu jalanan yang mulai menyala romantis.
Namun, bagi Arthur, romansa Paris sedikit ternoda karena di dalam mobil limusin mewah yang membawa mereka menuju hotel, dia tidak bisa duduk berdua saja dengan Elena. Di tengah-tengah mereka, duduk Leon yang sibuk menganalisis lalu lintas Paris lewat laptopnya, dan Lia yang terus menempel pada Elena sambil menceritakan betapa dia ingin melihat Menara Eiffel dari dekat.
"Kita akan tinggal di Chateau de Versailles privat yang sudah aku sewa seluruhnya," ucap Arthur, melirik Elena dengan tatapan penuh damba yang tertahan. "Besok malam, ada acara pembukaan Paris Fashion Week eksklusif di Grand Palais. Aku sudah menyiapkan gaun terbaik untukmu dari desainer lokal, tapi aku tahu gaun rancanganmu sendiri jauh lebih indah."
Elena tersenyum manis, membelai rambut Lia lembut. "Terima kasih, Arthur. Sebenarnya, tujuanku ke Paris bukan hanya untuk berlibur. Aku membawa beberapa draf akhir dari koleksi gaun resor Bali. Aku ingin melihat apakah ada agensi mode Paris yang tertarik untuk melakukan kolaborasi global."
"Tanpa kamu minta pun, aku bisa membeli agensi mode terbesar di kota ini untukmu, Elena," balas Arthur dengan nada posesifnya yang khas.
Leon mendongak dari laptopnya, mendengus kecil. "Taktik memonopoli yang sangat kuno, Tuan Arthur. Lebih baik biarkan Mama memenangkan pasar dengan bakat murninya, sementara aku meretas papan iklan digital di sepanjang jalan Champs-Élysées untuk menampilkan wajah Mama selama dua puluh empat jam penuh."
Elena hanya bisa menggelengkan kepala, tertawa kecil melihat betapa kompaknya ayah dan anak itu dalam hal memanjakannya dengan cara yang ekstrem.
Keesokan malamnya, Grand Palais berdiri dengan megah di bawah siraman cahaya lampu sorot. Acara gala dinner pratinjau Paris Fashion Week dihadiri oleh jajaran desainer elite, supermodel, dan kritikus mode paling berpengaruh di Eropa.
Elena melangkah masuk ke dalam aula gala mengenakan gaun sutra satin berwarna hijau zamrud dengan potongan asimetris yang sangat berkelas, memancarkan aura girl boss internasional yang kuat. Arthur mendampinginya dengan setelan tuksedo hitam yang sempurna, sementara Leon dan Lia dititipkan sementara di ruang tunggu VIP anak di bawah pengawasan ketat Evan dan lima pengawal pribadi.
Saat Elena sedang menikmati segelas minuman sambil memperhatikan instalasi mode di sudut ruangan, sekelompok desainer lokal Paris berjalan mendekatinya. Pemimpin kelompok itu adalah Jean-Luc, seorang desainer couture senior Prancis yang terkenal angkuh dan rasis terhadap talenta Asia.
"Ah, jadi ini Eleanor Vance? Desainer dari Asia yang mendadak viral karena proyek resor di pulau kecil itu?" Jean-Luc berbicara dalam bahasa Prancis yang sengaja dibuat cepat dan sarat akan nada meremehkan. "Karyamu mungkin terlihat bagus di tempat tropis yang dipenuhi pohon kelapa, Nona. Tapi di Paris? Di kiblat mode dunia? Desainmu terlalu... sederhana dan kurang memiliki jiwa seni tingkat tinggi."
Teman-teman Jean-Luc tertawa kecil, menatap Elena dengan pandangan menilai yang merendahkan.
Elena tidak terpancing emosi. Dia justru tersenyum sangat tenang, menyesap minumannya dengan keanggunan mutlak sebelum menjawab dalam bahasa Prancis yang sangat fasih dan beraksen sempurna—warisan dari lima tahun masa pengasingannya di Eropa. "Tuan Jean-Luc, kesederhanaan adalah puncak dari kecanggihan yang sesungguhnya. Desain saya tidak membutuhkan lapisan kain yang berlebihan hanya untuk menutupi kurangnya inovasi struktur. Jika Paris adalah kiblat mode, maka sudah saatnya Paris membuka mata terhadap fajar baru dari Timur, sebelum industri Anda tertinggal karena terlalu lama bernostalgia dengan masa lalu."
Wajah Jean-Luc seketika menegang, tidak menyangka wanita Asia di hadapannya bisa membalas argumennya dengan begitu telak dan elegan dalam bahasanya sendiri.
Namun, sebelum Jean-Luc sempat membalas, sebuah bayangan tegap melangkah maju, berdiri di samping Elena dengan aura intimidasi yang begitu pekat hingga membuat para desainer Paris itu spontan menahan napas. Arthur Arkananta menatap Jean-Luc dengan sepasang mata elang yang berkilat dingin dan berbahaya.
"Siapa yang memberi Anda hak untuk menilai karya istriku, Tuan?" suara bariton Arthur terdengar sangat rendah namun sarat akan tekanan yang mengerikan.
"T-Tuan Arkananta...?" Jean-Luc memucat. Dia tahu siapa Arthur pria Asia yang memegang kendali atas rantai pasokan logistik dan pendanaan bagi beberapa rumah mode terbesar di Eropa. Menyinggung Arthur sama saja dengan mengakhiri karier modenya dalam semalam.
"Aku mendengar setiap kata penghinaanmu," desis Arthur, mengepalkan tangannya di balik saku celana. "Mulai besok pagi, aku akan menarik seluruh saham pendanaan dari Arkananta Capital di yayasan mode Paris ini, dan aku pastikan rumah modemu tidak akan pernah mendapatkan slot pertunjukan di Fashion Week mana pun di dunia."
"Tuan Besar, saya mohon maaf! Saya tidak bermaksud..." Jean-Luc gemetar hebat, hampir saja berlutut di atas lantai marmer, namun Arthur mengabaikannya dan langsung menuntun Elena menjauh dengan protektif.
Sementara drama terjadi di aula utama, di dalam ruang tunggu VIP anak, Leon sedang duduk di depan laptopnya dengan ekspresi bosan. Dia mendengus saat melihat layar monitor keamanan yang menampilkan Jean-Luc sedang menghina ibunya.
"Pria tua Prancis itu benar-benar mencari masalah," gumam Leon, jemari mungilnya mulai menari dengan kecepatan kilat di atas papan ketik.
"Leon, apa yang mau kamu lakukan?" tanya Lia yang sedang asyik memakan makaron stroberi.
"Memberikan kejutan kecil untuk pertunjukan utamanya malam ini," balas Leon dengan senyuman miring yang licik.
Leon berhasil meretas sistem pusat operasional Grand Palais. Dia menyusup ke dalam program proyektor holografik utama panggung dan sistem pencahayaan digital yang akan digunakan untuk menampilkan koleksi terbaru milik Jean-Luc beberapa menit lagi.
Saat acara inti dimulai, seluruh tamu undangan termasuk Arthur dan Elena duduk di barisan depan penonton (front row). Jean-Luc naik ke atas panggung dengan sombong, bersiap meluncurkan peragaan busananya. "Hadirin sekalian, nikmatilah mahakarya sejati Prancis!" serunya bangga.
Namun, begitu musik dimulai dan lampu sorot menyala, sebuah kesalahan sistem yang masif terjadi. Proyektor holografik raksasa di atas panggung tidak menampilkan logo rumah mode Jean-Luc, melainkan menampilkan draf desain gaun resor Bali milik Elena dalam resolusi 8K yang sangat memukau, lengkap dengan detail tekstur kain tradisional Indonesia yang berkilau indah.
Tidak hanya itu, sistem pencahayaan panggung berputar otomatis menciptakan efek aurora tropis yang sangat megah, membuat draf desain Elena tampak hidup dan luar biasa jenius di mata para kritikus mode dunia.
Di layar utama, Leon juga menyisipkan tulisan besar berbahasa Prancis: “The Future of Fashion: Eleanor Vance.”
Seluruh aula Grand Palais seketika gempar. Para kritikus mode papan atas langsung berdiri, bertepuk tangan meriah dan berdecak kagum melihat presentasi digital yang mereka anggap sebagai "inovasi seni paling jenius abad ini". Mereka mengira Jean-Luc sengaja memberikan panggung penghormatan untuk Elena.
Jean-Luc yang berdiri di panggung membelalakkan matanya dengan wajah yang berubah menjadi seputih kain kafan. Dia berteriak panik pada operator, namun sistemnya terkunci total oleh enkripsi militer buatan Leon.
Arthur yang melihat kejadian itu langsung menoleh ke arah ruang VIP anak di lantai atas, di mana dia bisa melihat siluet Leon yang sedang melambaikan tangan mungilnya dengan angkuh dari balik kaca. Arthur tidak bisa menahan tawa renyahnya, dia merangkul bahu Elena erat. "Putra kita benar-benar tahu bagaimana cara melakukan balas dendam yang glamor, Elena."
Elena menatap panggung yang dipenuhi karya desainnya dengan mata yang berbinar haru. Kehormatan dan bakatnya kini telah diakui di pusat mode dunia, dihantarkan oleh cinta dan perlindungan luar biasa dari suami dan anak kandungnya. Di bawah langit Paris yang indah, mahkota kejayaan Elena kini telah bersinar lebih terang dari sebelumnya, dan tidak akan ada lagi satu orang pun yang mampu menjatuhkannya.