Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Hari itu adalah hari libur kerjaku, hari yang sudah aku tunggu-tunggu sejak lama. Arjun sudah berjanji akan menjemputku pagi-pagi sekali untuk mengajakku jalan-jalan seharian, entah ke mana tempatnya masih jadi rahasia buatku. Semalam aku sudah sangat antusias sampai susah tidur, membayangkan betapa indahnya hari ini akan berlalu bersamanya.
Pagi itu, aku bersiap diri dengan teliti. Aku tahu Arjun pasti menjemputku menggunakan motor, jadi aku memilih baju yang nyaman, aman, tapi tetap indah dan kental budayanya. Aku memakai Baju Kurta Set baju khas wanita India yang ada celananya, cocok sekali untuk bepergian.
Warnanya Biru Dongker yang indah, persis sama dengan warna kemeja yang biasa dipakai Arjun, dengan sulaman benang emas yang berkilauan rumit di bagian leher, dada, dan ujung lengan. Bawahannya berupa celana panjang berwarna Krem, senada dengan celana panjang Arjun, membuat kami terlihat serasi dan kompak sekali. Lengkap dengan selendang tipis berwarna emas muda yang disampirkan santai di bahu.
Di pergelangan kakiku, terpasang indah gelang Payal hadiah darinya yang akan berbunyi gemerincing halus setiap kali aku melangkah. Penampilan ini tetap terlihat anggun, cantik, tapi sangat praktis dan pas sekali untuk berpergian naik motor. Rambutku kusanggul rendah agar tak berantakan kena angin, dan sedikit sentuhan riasan wajah yang sederhana namun membuatku terlihat lebih segar.
Di ruang tengah, Ayah dan Ibu sedang duduk santai menikmati teh hangat sambil membaca koran dan menata bunga. Mereka sama sekali belum tahu apa-apa. Mereka hanya tahu hari ini aku libur dan mau pergi keluar rumah, tapi mereka belum tahu sama sekali siapa yang akan menjemputku, apalagi status hubungan aku dan Arjun.
Selama ini aku memang belum sempat cerita, dan Arjun pun belum pernah datang ke rumah. Bagi Ayah dan Ibu, Arjun hanyalah nama teman yang sering aku sebut-sebut dalam obrolan biasa saja.
Pukul sepuluh tepat, terdengar suara motor berhenti di halaman depan rumah. Jantungku seketika berdegup kencang, campuran antara rasa bahagia, gugup, dan sedikit deg-degan. Dia datang.
"Bu, Yah... aku berangkat dulu ya," panggilku sambil berjalan mendekati mereka, suaraku sedikit bergetar karena gugup.
Ayah mengangkat wajahnya dari koran, Ibu pun menoleh sambil tersenyum.
"Hati-hati , Nak. Mau pergi sama siapa? Katanya ada teman yang mau jemput?" tanya Ibu santai, belum ada firasat apa-apa.
"Ehm... iya Bu. Dia udah ada di depan," jawabku pelan, lalu melangkah menuju pintu depan untuk membukanya.
Di sana, di balik pagar rumah kami yang terbuka, berdiri sosok Arjun yang tampak sangat gagah dan rapi. Dia memakai kemeja berwarna biru dongker yang rapi dimasukkan ke dalam celana panjang bahan berwarna krem, membuat kulitnya yang sawo matang terlihat semakin bersinar dan menawan.
Rambutnya tersisir rapi, senyum manisnya terlukis indah di bibirnya, dan tangannya tak kosong. Dia membawa sekeranjang buah-buahan segar dan dua kotak kue kering yang terlihat mahal dan enak. Dia tampak sangat sopan, tenang, dan berwibawa.
Saat melihatku keluar, matanya seketika berbinar takjub. Dia menatap penampilanku dari ujung kepala sampai kaki, menatap baju kurta Biru Dongker yang kupakai dengan sulaman emas, celana Krem yang serasi, dan gelang di kakiku.
Senyumnya melebar penuh kekaguman dan kebanggaan. Dia sadar betul kalau aku sengaja menyesuaikan warna bajuku sama persis dengannya, dan itu membuat hatinya sangat bahagia dan bangga. Arjun berjalan mendekat, tapi berhenti sejenak saat melihat ada dua orang yang kini berdiri di ambang pintu, yaitu Ayah dan Ibu yang penasaran ikut keluar.
Aku menarik napas panjang, menguatkan hatiku, lalu berbalik ke arah orang tuaku sambil tersenyum malu-malu namun bahagia. Inilah saatnya. Saatnya aku memperkenalkan dia secara resmi.
"Yah, Bu... kenalin," suaraku terdengar sedikit gemetar tapi jelas, tanganku perlahan meraih lengan Arjun dan menariknya sedikit maju ke depan agar lebih jelas terlihat.
"Ini Arjun. Teman dekat yang belum aku ceritain itu... dan..."
Aku menoleh ke arah Arjun, menatap matanya yang menatapku penuh dukungan, lalu kembali menatap Ayah dan Ibu yang kini menatap kami berdua dengan pandangan penuh tanya dan rasa penasaran.
"...dan Arjun ini, pacar aku, Yah, Bu. Laki-laki yang sekarang nemenin aku, dan jagain aku."
Keheningan sejenak menyelimuti halaman rumah itu. Mata Ayah sedikit membelalak kaget, Ibu tampak tertegun namun perlahan senyum kecil mulai mengembang di bibirnya. Mereka sama sekali tidak menyangka. Mereka hanya mengira Arjun teman biasa, ternyata lebih dari itu.
Arjun pun segera bereaksi. Dengan sangat sopan dan hormat, dia segera menundukkan kepalanya sedikit, lalu melangkah maju mendekati kedua orang tuaku dengan langkah yang hati-hati dan penuh rasa segan.
Dia meletakkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda penghormatan, persis seperti ajaran budayanya yang sangat menghargai orang yang lebih tua.
"Assalamu'alaikum, Pak, Bu. Maaf ya kalau datang tiba-tiba dan bikin kaget," ucap Arjun dengan suara yang lembut, berat, namun sangat jelas dan sopan. Matanya menatap Ayah dan Ibu dengan pandangan yang tulus, rendah hati, namun berani.
"Perkenalkan, nama saya Arjun. Maaf ya baru berani datang dan berkenalan hari ini. ini saya bawakan buah dan kue sedikit, Bu... semoga berkenan diterima."
Dia menyodorkan bawaannya dengan kedua tangan, sikap yang sangat halus dan sopan.
Ayah yang tadinya agak kaku karena kaget, perlahan mengangguk dan tersenyum sedikit. Ibu segera maju menerima bawaan itu sambil tertawa kecil karena merasa senang dan terharu.
"Wa'alaikumsalam, Nak Arjun. Ya ampun, kamu ini... kami dikira cuma teman biasa ternyata sudah lebih dekat ya," kata Ibu sambil menatapku sekilas dengan pandangan yang seolah berkata:
"Kamu ini ya, sembunyi-sembunyi."
"Masuk dulu, Nak. Jangan berdiri terus di depan pagar."
Arjun mengikuti langkah mereka masuk ke teras rumah, duduk di kursi tamu dengan sikap yang sangat tenang, punggung tegak namun tidak kaku, tangannya diletakkan rapi di atas paha. Dia terlihat sangat berbeda dari pemuda-pemuda lain yang pernah Ayah dan Ibu temui. Ada wibawa, ada ketenangan, dan ada kesopanan yang kental sekali dalam dirinya.
Ayah mulai bertanya dengan pandangan menilai, ingin tahu siapa sebenarnya pemuda yang sudah berhasil mencuri hati anak perempuannya ini.
"Kamu anak mana, Nak Arjun? Kerja apa?" tanya Ayah memulai, nadanya masih agak serius tapi sudah bersahabat.
"Saya anak asli sini juga, Pak. Orang tua saya punya toko kelontong dan bahan-bahan kebutuhan di pasar kota, saya bantu mereka mengurusnya sehari-hari," jawab Arjun luwes dan jujur, tanpa ragu sedikit pun.
"Keluarga saya memang keturunan India, Pak, Bu. Makanya mungkin ada bedanya sedikit dari segi penampilan atau kebiasaan, tapi kami sudah lama tinggal di sini, sudah dianggap bagian dari warga sini juga."
Ayah mengangguk paham.
"Oh ya? Keturunan India ya. Pantas saja sopan santunnya kental sekali. Kami lihat caramu bicara dan sikapmu, sangat halus dan menghormati. Bagus sekali," puji Ayah tulus.
Arjun tersenyum rendah, sedikit menundukkan kepala sebagai tanda terima kasih.
"Terima kasih banyak, Pak. Itu ajaran dari orang tua saya. Di budaya kami, menghormati orang tua dan orang yang lebih tua itu hal yang paling utama, apalagi kalau sudah menyangkut keluarga orang yang kami sayangi."
Dia diam sejenak, lalu menatap Ayah dan Ibu dengan pandangan yang makin serius namun penuh ketulusan. Dia melirikku sebentar yang duduk di samping Ibu, lalu kembali menatap mereka.
"Pak, Bu... jujur saja, saya senang sekali akhirnya hari ini bisa kenalan sama Bapak dan Ibu secara langsung. Saya sama Aira sudah saling kenal cukup lama. Awalnya kami cuma sahabat, teman kerja juga. Tapi lama-kelamaan saya sadar, rasa saya ke Aira itu lebih dari sekadar teman. Saya mencintai Aira, Pak, Bu. Saya mencintai dia dengan sepenuh hati."
Suasana menjadi hening sejenak. Ayah dan Ibu menyimak baik-baik.
"Saya tahu, Aira pernah punya masa lalu yang bikin dia sakit hati dan susah percaya sama orang lain. Saya tahu itu semua," lanjut Arjun lagi, suaranya makin lembut namun tegas.
"Makanya saya nggak pernah memaksa dia. Saya berjuang lama banget buat buktiin kalau saya beda. Saya nunggu dia lama, saya jagain dia diam-diam, saya sabar sampai akhirnya dia sendiri yang percaya dan mau nerima saya. Dan sekarang, setelah dia jadi milik saya... satu-satunya janji saya adalah saya bakal jagain dia seumur hidup saya. Saya nggak bakal biarin dia sakit hati lagi, saya nggak bakal biarin dia nangis sedih lagi. Saya bakal bahagiain dia, Pak, Bu. Sebisa kemampuan saya."
Mendengar itu, hatiku rasanya penuh sekali sampai mau meledak bahagianya. Arjun mengatakannya begitu jujur, begitu berani, dan begitu dalam. Dia menceritakan segalanya, bahkan tentang luka masa laluku, supaya orang tuaku tahu betapa seriusnya dia menjaga dan memahamiku.
Mata Ibu berkaca-kaca terharu. Dia menatapku, lalu menatap Arjun dengan pandangan yang jauh lebih hangat dan menyetujui. Ayah pun tersenyum lebar, raut serius di wajahnya hilang sepenuhnya berganti rasa lega.
"Kamu anak yang baik, Nak Arjun. Jujur, sopan, dan punya hati yang tulus," kata Ayah pelan namun tegas.
"Sebagai orang tua, kami paling bahagia kalau lihat anak kami aman dan bahagia. Dan kami lihat... sejak ada kamu, Aira jadi lebih ceria, lebih sering senyum, lebih hidup. Itu nggak bohong. Kami percaya sama omonganmu. Kami percaya sama kamu."
Ibu mengangguk setuju, lalu menoleh padaku sambil mengelus tanganku.
"Pilihan kamu bagus sekali, Nak. Arjun laki-laki yang berwibawa dan tulus. Kami ikut senang."
Aku tersenyum lebar, menahan air mata bahagia yang hampir jatuh. Arjun pun tersenyum lega, napasnya terlihat lebih ringan seolah beban berat sudah terangkat. Dia menundukkan kepalanya lagi sebagai tanda terima kasih atas kepercayaan itu.
"Terima kasih banyak, Pak, Bu. Terima kasih udah terima saya dengan baik. Saya janji, saya bakal buktiin terus kalau kepercayaan ini nggak bakal disia-siain," ucap Arjun tulus.
Tak lama kemudian, Arjun berpamitan dengan sopan karena kami harus segera berangkat. Dia berdiri, menyalami tangan Ayah dan Ibu dengan penuh hormat.
"Ya sudah Pak, Bu, kalau begitu saya izin ajak Aira jalan-jalan ya. Nanti sore saya anter dia pulang tepat waktu, aman, dan selamat. Nggak bakal saya bawa pulang telat," janjinya mantap.
"Boleh saja, Nak. Hati-hati di jalan berdua ya. Nikmati waktunya," pesan Ibu ramah.
Kami pun melangkah keluar rumah. Arjun membukakan helm untukku dengan sangat hati-hati, memastikan ikatannya kuat dan nyaman. Saat aku naik ke atas jok motornya, dia tersenyum padaku, senyum yang penuh kebanggaan dan kebahagiaan.
"Kamu hebat banget, Jun..." bisikku pelan di belakang punggungnya saat motor mulai melaju pelan meninggalkan halaman.
"Aku kira bakal gugup banget, tapi kamu malah kelihatan keren banget. Ayah sama Ibu kayaknya langsung suka sama kamu deh."
Arjun tertawa renyah, suaranya terdengar sangat lega dan bahagia. Dia memiringkan kepalanya sedikit ke belakang agar aku bisa mendengarnya jelas.
"Emang harus gitu dong, Sayang. Kan aku serius sama kamu. Kalau sama kamu aja aku harus berjuang dan buktiin, apalagi sama orang tua kamu. Aku harus nunjukin kalau aku laki-laki yang pantas buat anak perempuan kesayangan mereka," jawabnya mantap.
Dia merasakan ujung kakinya tersentuh sedikit, mendengar suara gemerincing halus dari gelang Payal yang kupakai. Dia tersenyum makin lebar.
"Dan satu lagi... kamu cantik banget hari ini, Ra. Kurta, gelangnya, semuanya pas banget. Dan rasanya makin bangga banget aku jalan sama kamu, apalagi habis dikenalin secara resmi sama orang tua kamu. Rasanya sekarang kamu makin resmi jadi milik aku seutuhnya, dan aku makin punya tanggung jawab besar buat jagain kamu sampai kapan pun."
Angin pagi berhembus sejuk menerpa wajah kami. Motor melaju menembus jalanan kota yang mulai ramai, membawa kami pergi menuju tempat tujuan yang belum aku ketahui. Namun apa pun tempatnya, aku yakin itu akan jadi tempat terindah. Karena bersamanya, diiringi suara gemerincing halus gelang di kakiku, dan dengan hati yang damai serta direstui oleh kedua orang tuaku... rasanya aku memiliki segalanya di dunia ini.