Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 : GUDANG HARTA KEBOBOLAN
Fajar baru menyelinap di ufuk timur, cahaya samar menyentuh tembok putih kokoh Gudang Pusaka Kerajaan Galuh. Pintu besi yang terkunci ganda terbuka lebar, tanah di sekitarnya penuh jejak kaki kacau.
"Dewi Sri... apa yang terjadi ini?" bisik Ki Marto, penjaga gudang yang sudah mengabdi empat puluh tahun, kakinya lemas seketika.
Di belakangnya Panglima Wiraatmaja melangkah cepat, diikuti puluhan prajurit dan dua orang petugas penghitung harta kerajaan. Wajah Panglima mengeras saat menatap ruangan yang kini terasa kosong melompong.
"Semua peti emas simpanan pajak dan sumbu rakyat... semuanya hilang!" seru petugas penghitung sambil menyisir setiap sudut ruangan, tangannya gemetar memegang catatan lama.
"Tujuh peti besar, Panglima! Isinya emas batangan, perak, dan permata hasil kerja keras rakyat bertahun-tahun!"
Wiraatmaja melangkah maju, matanya meneliti setiap bekas di lantai dan tiang kayu penyangga atap. Ia berhenti di satu tiang di pojok kanan, tangannya meraba benda yang menancap di sana.
"Lihat ini," ucapnya pelan namun terdengar berat.
Semua mendekat. Sebuah panah menancap kuat di kayu. Bentuknya sama persis dengan yang sering dibawa Si Pemanah Rasa—ujung tumpul, batang dari kayu cendana ringan.
"Itu panah milik Bayu Suta, Panglima!" seru Ki Marto terkejut.
"Saya pernah melihatnya saat ia datang ke istana tempo hari!"
"Tak mungkin salah lagi," sahut prajurit di sampingnya.
"Selain dia tak ada yang memiliki panah bentuk aneh begitu."
"Panglima! Raja dan Permaisuri sudah menunggu di Balai Utama!" seru utusan istana datang tergesa.
Di Balai Agung, Prabu Kertayuda duduk diam di singgasana, wajahnya tenang namun matanya menyiratkan gelisah. Di sebelahnya Permaisuri Dyah Wulandari menatap cemas ke arah pintu. Putri Larasati berdiri tak jauh dari mereka, terus melangkah mondar-mandir.
"Melapor, Baginda!" Wiraatmaja masuk lalu bersujud hormat.
"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi," perintah Raja lembut namun tegas.
"Tujuh peti emas hilang seluruhnya. Pintu gudang dirusak dari luar. Dan kami menemukan jejak barang bukti ini," Wiraatmaja menyodorkan panah yang sudah dilepas dari tiang.
Larasati melangkah cepat mendekat, mengambilnya perlahan. Ia memutar-mutar batangnya, menatap saksama ukiran di pangkal panah.
"Ini benar ukiran Sanghyang Rasa... milik Bayu Kang," bisiknya tak percaya.
"Apakah kau yakin tak ada orang lain yang memilikinya?" tanya Permaisuri.
"Sampai hari ini hanya dia yang diketahui membawa panah seperti ini." jawab Wiraatmaja.
"Dan ingatlah Baginda, dia berasal dari desa yang selalu dipaksa menyerahkan lebih dari kemampuan. Mungkin saja ia memendam rasa dendam."
"Tak semudah itu menuduh orang, Panglima," kata Prabu pelan.
"Selama ini apa yang diketahui tentang dia? Ia menolong, ia melindungi, tak pernah sekalipun terlihat berniat buruk."
"Baginda! Lihat buktinya sudah nyata di depan mata!" seru Wiraatmaja sedikit meninggi.
"Atau apakah ada yang berani meniru persis benda sakti warisan leluhur?"
Sementara itu di sudut alun-alun istana, Pak Dawam penjual kerupuk yang lewat tadi pagi bersama istrinya berbisik-bisik pada tetangga.
"Kau dengar ga? Gudang istana dibobol habis!"
"Siapa yang berani melakukanya?"
"Katanya si Pemanah Rasa! Yang sering menolong desa kita itu!"
"Masa sih? Dia kan orang baik!"
"Jejak panahnya ditemukan di situ! Sudah pasti dia!"
Kabar itu menyebar secepat angin menerpa ladang padi. Sampai juga ke telinga Mbah Surip yang baru datang membawa sayuran dari desa sebelah. Ia menggeleng-geleng tak percaya, lalu segera bergegas pergi membawa pesan itu ke Kampung Cikabuyutan.
Di lereng bukit tak jauh dari Wana Kelor, di sebuah gua tersembunyi yang dulu dipakai perampok lama, sekumpulan orang tertawa riang menumpuk emas ke dalam karung. Di depan mereka berdiri sosok bertubuh besar berwajah garang, Jaka Jagad. Di tangannya ia memutar-mutar panah buatan tukang kayu yang dipesannya bulan lalu.
"Hahaha! Bagus sekali tiruannya! Tak ada yang akan curiga sedikit pun!" ucapnya sambil melempar panah palsu itu ke arah tembok gua.
"Benar Ki! Nanti semua orang membenci Bayu Suta, dan Ki Jaka bisa berkuasa sepenuhnya di wilayah ini," sahut anak buahnya yang bernama Karno.
"Kita tinggalkan sebagian jejak yang mengarah kepadanya. Biar Raja sendiri yang turun tangan menangkapnya," perintah Jaka Jagad sambil membetulkan topeng wajah yang persis seperti ciri khas Bayu yang dilihatnya dari jauh berkali-kali.
Kembali ke Balai Agung Kerajaan, suasana makin memanas saat Bupati Rangga Sasmita datang membawa pendapatnya.
"Saya sudah mendengar banyak hal tentang dia, Baginda. Di desanya saja ia dianggap istimewa, tak mau tunduk pada aturan Kadipaten. Sangat masuk akal kalau ia melakukan ini demi mengumpulkan kekuatan melawan Kita semua!"
"Tunggu dulu, Bupati," potong Larasati.
"Saya pernah melihat bagaimana cara kerjanya panah asli itu. Ia tak pernah melukai mati, selalu melumpuhkan saja. Apakah panah ini memiliki kekuatan demikian? Siapa yang bisa memastikan ini benar miliknya?"
"Putri, barang bukti sudah ada di sini. Apakah perlu kita tunggu sampai ia menghabisi kita semua baru percaya?" tukas Bupati.
Prabu Kertayuda menarik napas panjang, menatap sekeliling ruangan yang kini hening menanti keputusannya.
"Panglima Wiraatmaja," panggil Raja akhirnya.
"Hamba siap melaksanakan perintah, Baginda."
"Kirim pasukan ke Kampung Cikabuyutan. Bawa Bayu Suta kemari. Namun ingat: jangan menyakiti, jangan menuduh seenaknya. Katakan kami hanya ingin bertanya dan meminta penjelasan. Hanya itu."
"Siap, Baginda." Wiraatmaja membungkuk hormat lalu berjalan keluar memimpin rombongan.
Larasati berdiri diam di tempat, hatinya bergemuruh campur aduk. Ia sangat ingin percaya pada Bayu, namun bukti yang ada terlihat begitu meyakinkan. Di sisi lain, firasatnya berkata ada sesuatu yang disembunyikan, ada benang kusut yang belum terurai.
Di pinggir jalan raya, Pak Dawam masih terus bercerita pada siapa saja yang lewat.
"Kau tahu kan dulu Bupati pernah menagih utang desa terlalu banyak? Mungkin saja Bayu marah dan melakukan balas dendam!"
"Kalau benar begitu, pantas saja dia dihukum berat!"
"Tapi dulu dia yang selamatkan anakku dari jatuh ke jurang lho..."
"Siapa yang tahu isi hati manusia? Yang terlihat baik belum tentu hatinya juga baik!"
Mbah Suryanata mendengar percakapan itu saat berjalan pulang dari pasar. Ia mempercepat langkahnya, harus segera memberitahu Bayu sebelum pasukan kerajaan datang menjemputnya.
Sementara itu di gua persembunyiannya, Jaka Jagad tertawa puas sambil menyesap tuak hangat.
"Biarkan mereka saling membenci. Semakin kacau keadaan Kerajaan Galuh, semakin leluasa kita menguasai setiap sudut desa di sini. Tak lama lagi, nama sayalah yang paling ditakuti," ucapnya penuh keyakinan.
Fajar semakin terang menyinari tanah Galuh, namun mendung gelap mulai menaungi nasib seorang pemuda desa yang tak tahu bahwa badai fitnah sedang melanda kepalanya.