NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Sebenarnya, jika dilihat dari kondisi fisiknya, Damar saat ini sudah berada di batas limit kelelahannya.

Sepanjang hari ini dia sudah melakukan beberapa operasi besar yang memakan waktu berjam-jam. Tubuhnya terasa berat dan lemas, otot-ototnya terasa kaku, dan matanya pun tampak sayu menahan kantuk serta kelelahan yang luar biasa. Sebagai manusia biasa, dia sangat butuh istirahat, butuh tidur panjang untuk memulihkan tenaganya.

Tapi... semua rasa lelah dan rasa capek itu seketika lenyap begitu saja saat melihat wajah Adera.

Melihat gadis yang dia sayangi berdiri di hadapannya dengan mata bengkak, pipi basah oleh air mata, dan wajah yang memancarkan kesedihan serta keputusasaan... Hati Damar serasa diremas kuat. Dia sama sekali tidak sanggup, tidak mampu, dan tidak tega melihat Adera menangis sedih seperti itu.

Baginya, melihat Adera sedih adalah hal yang jauh lebih menyakitkan daripada rasa lelah fisik yang dia rasakan saat ini.

"Sudah... sudah sayang... jangan menangis lagi ya..." ucap Damar lembut, suaranya terdengar sangat lembut dan penuh kasih sayang. Tangannya yang besar perlahan terangkat, mengusap air mata yang jatuh di pipi gadis itu dengan jempolnya yang hangat.

Damar menatap lekat manik mata Adera yang berkaca-kaca, lalu mengucapkan kalimat yang menjadi penyelamat bagi hati gadis itu.

"Aku akan menuruti permintaanmu. Aku akan tangani operasi Papanya Nindy," kata Damar tegas namun lembut. "Aku akan lakukan yang terbaik. Aku janji akan berusaha semaksimal mungkin supaya Papanya Nindy bisa sembuh dan sehat kembali."

"Tapi dengan satu syarat..." lanjut Damar sambil tersenyum tipis menatap wajah Adera. "Kamu harus berhenti nangis sekarang juga. Lihat aku... senyum dong. Aku gak kuat liat kamu sedih gini. Kalau kamu nangis, rasanya sakit banget hati aku."

BRUK!!!

Mendengar jawaban penuh kerelaan itu, mendengar janji manis itu...

Rasa lega yang luar biasa langsung menyergap seluruh tubuh Adera. Beban berat yang menindih dadanya seakan hilang dalam sekejap mata.

Tanpa sadar, tanpa pikir panjang, dan tanpa peduli rasa malu...

Bugh!

Adera langsung melompat dan memeluk tubuh Damar dengan sangat erat!

Kepalanya bersandar sempurna di dada bidang pria itu, mendengarkan detak jantung Damar yang berdegup kencang. Dia memeluk seerat-eratnya, seolah ingin menyalurkan rasa terima kasih dan rasa bahagianya lewat sentuhan itu.

"Makasih Damar... makasih banyak banget..." isak Adera pelan di dalam pelukan, suaranya terdengar lega dan bahagia. "Kamu memang yang terbaik... makasih udah mau bantu kami..."

Damar yang terpeluk erat itu pun ikut tersenyum bahagia. Meski tubuhnya lelah, tapi hatinya berbunga-bunga luar biasa. Dia perlahan melingkarkan tangannya membalas pelukan hangat itu, membiarkan waktu berhenti sejenak di momen indah dan penuh cinta ini.

Sesaat sebelum Damar masuk ke ruang operasi, suasana terasa hening namun penuh ketegangan. Adera berjalan mendekat, menatap lekat wajah pria itu yang kini tampak sangat serius dan fokus.

"Damar..." panggil Adera pelan, suaranya terdengar lembut namun penuh harap. "Semoga berhasil ya... semuanya lancar. Aku percaya sama kamu."

Damar menatap gadis itu sejenak. Wajahnya yang biasanya bisa tersenyum manis kini tampak datar dan penuh konsentrasi penuh, tanda bahwa dia sedang dalam mode profesional maksimal. Dia hanya menganggukkan kepalanya pelan namun tegas, memberikan kode bahwa dia mengerti dan dia akan melakukan yang terbaik.

Tanpa berkata banyak, Damar pun berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruang operasi, diikuti oleh tim medis lainnya. Pintu pun tertutup rapat, memisahkan mereka untuk sementara waktu.

Di ruang tunggu, suasana terasa begitu mencekam.

Mama Nindy terlihat sangat cemas, tangannya terus berdoa memohon keselamatan suaminya. Nindy yang berdiri di sampingnya langsung memeluk mamanya erat-erat, berusaha menguatkan satu sama lain di tengah ketakutan yang mereka rasakan.

"Tenang ya Ma... Papa pasti kuat. Dokter Damar juga yang tangani, pasti berhasil kok," bisik Nindy gemetar, menenangkan mamanya sekaligus menenangkan dirinya sendiri.

Namun berbeda dengan Adera.

Gadis itu sama sekali tidak bisa duduk tenang. Kakinya seakan memiliki kehidupan sendiri.

Adera berjalan mondar-mandir dengan gelisah tak berhenti di depan ruang tunggu. Wajahnya pucat, matanya terus melirik jam dinding, dan tangannya tergenggam kuat menahan rasa cemas yang luar biasa. Setiap detik terasa seperti berjam-jam baginya.

''Adera tenang... Damar itu ahli... dia pasti bisa...''batinnya berusaha meyakinkan diri, tapi rasa khawatir itu tetap saja tak mau hilang.

Melihat tingkah sahabatnya yang sudah berjalan berputar-putar hampir satu jam lamanya, Nindy akhirnya menghela napas panjang dan mendekati Adera.

"Dera... kenapa kamu mondar-mandir terus," kata Nindy pelan sambil menahan lengan sahabatnya. "Duduk dulu gih, istirahat. Lo tuh dari tadi gak berhenti-berhenti jalan terus. Kasihan kaki lo."

Nindy menarik Adera untuk duduk di sofa, lalu melanjutkan dengan nada serius.

"Operasi sebesar ini kan butuh waktu yang lama banget Der, bisa berjam-jam. Lo gak bisa begini terus nanti lo yang malah sakit. Jadi duduk tenang, istirahat, dan kita doakan bersama-sama ya." Ujar Nindy.

Adera menurut dan duduk, meski matanya masih tak lepas memandang pintu ruang operasi dengan tatapan penuh harap dan doa.

Tiga jam berlalu... tiga jam yang terasa selamanya bagi mereka yang menunggu.

Hingga akhirnya... lampu hijau di atas pintu ruang operasi padam, tanda bahwa tindakan medis telah selesai dilakukan.

Pintu perlahan terbuka. Para dokter dan perawat mulai keluar satu per satu dengan wajah yang tampak lega.

"Operasi dinyatakan SELESAI dan SUKSES," ucap salah satu dokter tim dengan senyum lega. "Pasien dalam kondisi stabil dan berjalan sangat baik sesuai perkiraan."

Mendengar kalimat ajaib itu, seketika beban berat di pundak Nindy dan Mamanya hilang seketika.

" Syukurlah!!" seru Mama Nindy tak kuasa menahan tangis haru.

Nindy langsung memeluk mamanya dengan sangat erat, keduanya menangis bahagia, saling menguatkan dan bersyukur karena keselamatan Papa Nindy berhasil diselamatkan. Senyum bahagia kembali terukir di wajah mereka.

Namun... di tengah suasana bahagia itu, Adera justru tidak bisa sepenuhnya ikut tersenyum.

Matanya sibuk mengamati setiap orang yang keluar dari ruangan itu. Para tim medis sudah banyak yang keluar, tapi sosok yang dia tunggu-tunggu... sosok tinggi besar itu belum juga terlihat batang hidungnya.

Damar masih belum keluar.

"Damar mana ya?" gumam Adera pelan, jantungnya kembali berdegup kencang bukan main.

Rasa cemas yang tadi sempat mereda karena kabar operasi berhasil, kini kembali memuncak bahkan jauh lebih parah dari sebelumnya.

''Kenapa belum keluar juga?'' batin Adera bertanya-tanya, tangannya mulai gemetar lagi. ''Padahal yang lain udah pada keluar. Apa dia masih memeriksa pasien? Atau... apa ada sesuatu yang salah sama dia?''

Bayangan betapa lelahnya Damar tadi, dan fakta bahwa dia memaksakan diri bekerja padahal baru pulih dari kecelakaan, langsung menerpa pikiran Adera.

Adera semakin gelisah. Dia berjalan mendekat ke arah pintu ruang operasi, matanya menatap tajam ke dalam yang masih tertutup tirai, berharap pria itu segera muncul.

"Damar... keluar dong... kamu kenapa sih belum keluar juga?" bisik Adera lirih, matanya mulai berkaca-kaca karena khawatir setengah mati.

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!