Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Audit Kematian
Depot kereta bawah tanah Sektor 4 kini menjadi jantung kerajaan kecil Arka. Lampu-lampu sorot merkuri berdengung rendah, menyinari tumpukan peti senjata dan kristal mana yang disuplai oleh Silver Moon. Bram berdiri di dekat peron, kain lapnya bergesekan dengan baja pedang Frostbite—suara gesekan ritmis itu menjadi musik kebanggaan bagi mereka. Hasan, di sudut lain, sibuk menghitung stok dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya yang kotor.
Arka berdiri di ruang kendali, matanya menyapu layar monitor yang memancarkan data arus logistik. Segalanya berjalan presisi. Arka merasa sistem telah ia taklukkan. Dia telah menemukan celah, menggunakan rival Vanguard untuk membiayai markasnya, dan sekarang, dia memiliki infrastruktur yang mustahil disentuh.
"Semua sesuai rencana," gumam Arka. Dia menyesap kopi hitamnya; suhunya sudah dingin, meninggalkan rasa pahit yang tertinggal di lidah. Dia merasa tak terkalahkan. "Vanguard tidak akan pernah bisa melacak suplai kita jika kita menggunakan jalur bawah tanah yang mati ini."
Lalu, keheningan turun ke stasiun.
Bukan keheningan biasa karena absennya monster. Ini adalah keheningan yang artifisial, berat, dan menekan, seolah oksigen di ruangan itu mendadak habis. Hasan berhenti menghitung. Bram menghentikan gerakan lapnya.
Pintu gerbang utama yang tadi terkunci rapat, terbuka pelan. Tidak ada ledakan. Tidak ada dentuman logam. Hanya gesekan mekanis pintu besi yang bergerak halus, presisi, dan mengerikan.
Seorang pria melangkah masuk. Setelan jas abu-abunya begitu rapi, kontras dengan lantai beton yang dipenuhi jelaga dan debu Sektor 4. Dia tidak membawa senjata, hanya sebuah map kertas berwarna cokelat.
Arka berdiri tegak, tangannya secara refleks membuka antarmuka Logistics Grid. "Bram, waspada."
Bram bergerak maju, otot bahunya menegang di balik jaket kulitnya. Namun, saat ia melangkah mendekati pria itu, lututnya lemas. Ia ambruk ke lantai beton dengan suara gedebuk yang keras. Bukan karena serangan fisik, melainkan karena tekanan kewenangan yang mencekik. Pria itu memancarkan aura birokrasi yang dingin, seolah keberadaan mereka di sana adalah sebuah anomali yang harus dihapus.
"Siapa kau?" Arka bertanya. Suaranya berusaha stabil, namun detak jantungnya berpacu seirama dengan deru mesin stasiun yang mendadak terdengar terlalu keras.
Pria itu berhenti. Matanya menatap Arka, kosong, tanpa kilatan emosi. "Kaelen. Divisi Audit Pusat, Asosiasi Hunter."
Dia meletakkan map di atas meja kendali yang berdebu. "Saya tidak ada urusan dengan Vanguard. Laporan menunjukkan adanya anomali sinkronisasi data sebesar 3 juta kredit dalam rantai pasokan Sektor 4. Sistem mendeteksi penggunaan aset ilegal untuk mendirikan entitas 'Grey Underground'."
"Itu transaksi sah," Arka membalas. Jemarinya menari di atas gawai, mencoba meretas sistem audit Kaelen melalui koneksi internal depot.
Zzzzt.
Kilatan rasa sakit menghantam tengkorak Arka. Itu bukan rasa sakit biasa—itu seperti kawat pijar yang ditusukkan menembus saraf di belakang matanya. Arka terjatuh, mencengkeram kepalanya hingga kuku-kukunya hampir menembus kulit. Pandangannya kabur. Data jernih di monitor berubah menjadi deretan kode kacau yang menyiksa sarafnya.
[Sistem: Deteksi Intrusi. Mengaktifkan Neural Feedback.]
Ghost code yang tertinggal dari usahanya meretas sistem pusat kemarin kini membakar otaknya dari dalam. Setiap kali Arka mencoba berpikir kompleks atau memanggil grid-nya, syarafnya seolah diremas.
"Kau mencoba meretas audit negara?" Kaelen menatap Arka yang tergeletak di lantai, wajahnya datar. "Itu hanya akan mempercepat proses penghapusanmu."
Arka terengah-engah, mencoba mengumpulkan sisa logikanya, tapi setiap kilasan pikiran memicu ledakan nyeri baru. "Kami... kami Guild resmi... kami bayar deposit..."
"Deposit yang berasal dari barang jarahan bukanlah modal." Kaelen membuka mapnya, mengeluarkan stempel digital. Permukaan stempel itu tidak hanya memancarkan cahaya, tapi juga gelombang frekuensi statis yang memekakkan telinga, beresonansi dengan struktur molekul di ruangan itu.
Kaelen menekan stempel itu ke atas plat perak 'Grey Underground' di meja.
Dzing!
Seketika, plat itu meredup, kehilangan pendaran sihirnya.
Bersamaan dengan itu, gelombang anti-mana tingkat tinggi meledak dari stempel tersebut. Kala, yang bersembunyi di sudut langit-langit, menjerit—bukan suara kucing, melainkan lengkingan purba yang memilukan. Wujud bayangannya terkoyak, terbakar oleh frekuensi pemurnian tersebut. Tanpa sempat melawan, entitas itu tersedot paksa ke dalam dada Arka, masuk ke dalam kondisi hibernasi ekstrem di sudut terdalam jiwanya demi bertahan hidup.
"Izin Guild dicabut. Aset ini ditarik kembali oleh negara," suara Kaelen datar. "Mulai detik ini, setiap kartu identitas milik orang-orang di ruangan ini telah dinonaktifkan."
Kaelen berbalik, berjalan pergi tanpa menoleh ke arah Arka yang masih kejang di lantai.
"Tunggu!" teriak Bram, suaranya pecah karena tekanan yang masih mencekik tenggorokannya.
"Sistem tidak mengenal 'tunggu'," jawab Kaelen dari ambang pintu. "Kalian punya waktu satu jam sebelum segel permanen dipasang. Jika kalian masih di dalam saat itu, kalian akan dikategorikan sebagai limbah berbahaya."
Pintu gerbang tertutup. Lampu Depot berkedip merah, lalu mati total, meninggalkan Arka dalam kegelapan.
Arka terbaring di lantai, napasnya memburu. Dia mencoba mengakses grid-nya untuk mencari jalan keluar, tapi serangan balik di otaknya jauh lebih dahsyat. Dia tidak bisa meretas. Dia tidak bisa berpikir. Dia hanya bisa merasakan bagaimana sistem yang ia agung-agungkan, kini mencabut hak hidupnya.
Dia bukan lagi pemenang. Dia hanyalah file yang sedang dihapus.
***
**[AUTHOR NOTE]**Kala dipaksa hibernasi! Kaelen datang dengan membawa otoritas yang tidak bisa dilawan dengan kekuatan fisik maupun retasan sederhana. Arka kini kehilangan satu-satunya senjata terkuatnya: Kala dan sistem sarafnya sendiri sedang menyerang balik. Ini adalah titik terendah Arka sejak dia membangun Grey Underground. Apakah dia bisa keluar dari depot yang terkunci ini sebelum 'segel permanen' mengubah mereka menjadi limbah? Jangan lupa bookmark dan berikan pendapat kalian di kolom komentar tentang taktik gila apa yang akan Arka gunakan selanjutnya!
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼