Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24: Luka Lama yang Bernanah dan Bayangan Gelap di Parkiran Basement
Suara riuh rendah mahasiswa di kantin utama Fakultas Hukum Universitas Airlangga Nusantara perlahan-lahan mereda, digantikan oleh gelak tawa renyah dari meja pojok dekat jendela kaca besar.
Di sana, Saka tampak memegang sebuah cangkir kopi hitam dengan gaya dramatis, sementara Alya dan Nayara menggelengkan kepala melihat tingkah poloh pemuda itu.
"Sumpah ya, Van, waktu lo pertama kali ngaku di depan mading kalau kalian udah nikah, jantungan gue rasanya mau copot!"
seru Saka heboh sambil menunjuk Revan yang duduk tenang di samping istrinya.
"Gue kira gue bakal jadi saksi tunggal perkelahian paling epik abad ini, eh taunya malah jadi saksi sidang isbat dadakan!"
Revan mendengus pelan, menyesap jus jeruknya dengan santai.
"Makanya, jadi orang jangan gampang kemakan provokasi.
Mangkanya muka lo bonyok kemarin kena bogem gue."
"Sialan, masih diungkit juga!"
protes Saka pura-pura kesal, sementara Alya tertawa lebar sambil menyenggol lengan Nayara.
Nayara Zayna Az-Zahra ikut tersenyum kecil.
Suasana hari itu terasa begitu kontras dengan ketegangan mencekam yang terjadi beberapa jam lalu di koridor kedokteran.
Setelah urusan di ruang dekan selesai dan seluruh dokumen administrasi pernikahan mereka diserahkan, beban seberat batu kali yang menghimpit dada Nayara seolah lenyap seketika.
Tidak ada lagi rasa takut harus bersembunyi, tidak ada lagi kecemasan akan tatapan sinis orang-orang kampus.
Statusnya sebagai istri sah Revan Al-Gibran kini telah terang-terangan diakui oleh dunia luar.
Namun, di balik tawa renyah dan kelegaan yang menyelimuti kelompok kecil itu, ada satu sudut kecil di area parkir basement kampus yang menyimpan hawa dingin berbeda.
---
Jarum jam menunjukkan pukul lima sore.
Matahari perlahan mulai terbenam di ufuk barat, menyisakan bias jingga kemerahan yang menembus celah-celah ventilasi beton gedung parkir basement Fakultas Kedokteran.
Suasana di area parkir bawah tanah itu tampak sangat sepi dan lengang.
Sebagian besar mobil mahasiswa dan dosen sudah meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan deretan kendaraan roda empat yang terparkir rapi dalam temaram lampu neon kuning.
Nayara berjalan seorang diri menyusuri lorong pilar nomor sembilan.
Ia baru saja kembali dari ruang laboratorium mikroskopis di lantai tiga untuk mengambil buku jurnal penelitiannya yang tertinggal di meja praktikum.
Revan tadinya ingin menemani, namun karena ada panggilan mendadak dari dosen pembimbing bisnis di gedung rektorat, Nayara memaksa suaminya untuk pergi lebih dulu.
Tap... tap... tap...
Suara derap sepatu pantofel Nayara bergesekan dengan lantai semen kasar, memantul pelan di dinding beton yang basah.
Udara di basement terasa lembap dan pengap.
Tiba-tiba, langkah kaki Nayara terhenti.
Bulu kuduknya mendadak meremang.
Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Suara derap langkahnya sendiri bukanlah satu-satunya suara yang terdengar di lorong sunyi itu.
Ada suara langkah kaki lain langkah yang diseret pelan, mengikuti ritme jalannya dari belakang.
Nayara menoleh dengan cepat ke belakang.
Lorong pilar itu tampak kosong melompong.
Hanya ada barisan mobil sedan dan SUV yang terparkir dalam remang-remang cahaya lampu neon.
"Halo?
Siapa di sana?"
panggil Nayara dengan suara bergetar kecil, mencoba menepis rasa takut yang tiba-tiba merayapi dadanya.
Tidak ada jawaban.
Yang terdengar hanya suara dengungan mesin exhaust fan dari kejauhan.
Nayara menghela napas panjang, menganggap itu hanya perasaan parianonya akibat kelelahan seharian penuh.
Ia kembali membalikkan badan dan mempercepat langkah kakinya menuju arah pintu keluar basement di dekat pos satpam.
Namun, baru saja ia melangkah tiga kali, sebuah bayangan hitam mendadak melompat dari balik pilar besar di sebelah kanannya, bergerak sangat cepat bagaikan kilat.
Bruk!
Sebuah tangan kasar yang mengenakan sarung tangan kain tiba-tiba membekap erat mulut Nayara dari belakang.
Bau cairan kimia yang menyengat langsung menusuk indra penciumannya.
"Mmm... mmmph!"
Nayara meronta hebat.
Buku jurnal di tangannya terlepas, jatuh berserakan di lantai semen.
Kakinya menendang-nendang udara secara liar, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kuat yang menarik tubuhnya mundur ke sudut gelap di antara dua mobil mewah.
Jantung Nayara berdegup kencang hingga terasa ingin meledak.
Ketakutan luar biasa kembali mencengkeram jiwanya, membangkitkan trauma mengerikan dari malam-malam kelam di masa lalu.
Di tengah kepanikan hebat itu, sebuah suara perempuan yang bernada dingin, serak, dan penuh kebencian mendalam berbisik tepat di telinga Nayara.
"Kaget, bitch?
Lo pikir lo bakal selamanya hidup tenang setelah bikin gue di-drop out dari kampus ini?"
Mendengar suara itu, mata Nayara membelalak lebar dalam dekapannya.
Suara itu... suara yang sangat ia kenal, suara yang menjadi mimpi buruk terburuk dalam hidupnya selama berkuliah di kedokteran.
Jessica.
Meskipun sudah di-drop out secara permanen oleh pihak rektorat beberapa minggu lalu akibat kasus pencemaran nama baik dan percobaan perusakan barang bukti, sosok berambut panjang bergelombang itu tampaknya belum kapok.
Dendam kesumat yang membara di dalam dada Jessica membuatnya nekat menyusup kembali ke area kampus secara ilegal demi melampiaskan amarahnya kepada Nayara.
"Mmm... lep... lepaskan aku!"
ronta Nayara dengan suara teredam oleh bekapan tangan Jessica.
Air matanya langsung tumpah membasahi punggung tangan pelaku.
Jessica semakin mengeratkan bekapan tangannya, sementara tangan kirinya mencengkeram kuat rambut Nayara dari balik jilbab, menariknya ke belakang hingga leher gadis itu terasa sakit luar biasa.
"Diam, atau pisau kecil ini bakal merobek wajah cantik sok suci lo sekarang juga!"
desis Jessica kejam di dekat telinga Nayara, sambil menempelkan sebuah benda tajam dingin di kulit leher bagian samping Nayara.
Ancaman itu membuat Nayara membeku seketika.
Seluruh tenaga di tubuhnya seolah lenyap.
Dinginnya bilah pisau di lehernya terasa sangat nyata, mengancam nyawanya dalam hitungan detik.
"Lo pikir lo hebat, hah?"
suara Jessica bergetar penuh kemarahan psikotik.
"Lo rebut semuanya dari gue!
Reputasi gue hancur, masa depan gue musnah, keluarga gue malu gara-gara perbuatan lo dan suami preman lo itu!
Tapi lo... lo malah bisa jalan-jalan dengan senyum manis seolah-olah nggak ada apa-apa yang terjadi!"
Nayara hanya bisa menangis dalam diam, merapalkan doa di dalam hatinya agar seseorang—siapa pun itu—datang menyelamatkannya dari cengkeraman wanita gila di hadapannya.
---
Di lantai atas, tepatnya di area parkir motor dekat lobi utama, Revan baru saja turun dari tangga darurat setelah menyelesaikan urusannya di gedung rektorat.
Pemuda itu berniat menemani Nayara kembali ke basement untuk mengambil barang-barang yang tertinggal.
Namun, saat ia melangkah masuk ke area pintu masuk basement, langkah Revan seketika terhenti.
Pandangannya menangkap sehelai buku jurnal medis berwarna biru tergeletak di lantai semen dekat pilar nomor sembilan, dalam keadaan terbuka dan halaman kertasnya sedikit terlipat.
Deg!
Naluri tajam seorang suami dan mantan penguasa jalanan langsung menyala terang di kepala Revan.
Buku itu milik Nayara istrinya tidak mungkin ceroboh menjatuhkan barang penting seperti itu kecuali sesuatu yang buruk sedang terjadi padanya.
Revan mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
Tanpa berpikir dua kali, ia berlari kencang menyusuri lorong basement dengan tatapan mata setajam elang, mencari setiap sudut gelap di antara deretan mobil yang terparkir.
"Nayara!"
panggil Revan dengan suara baritonnya yang menggelegar di seluruh sudut basement, memecah keheningan bawah tanah.
Mendengar teriakan itu dari kejauhan, tubuh Jessica di sudut gelap mendadak menegang.
Wanita itu mendengus panik.
"Sial... suami bodoh lo dateng cepet banget!"
cibir Jessica dengan gigi gemeletuk.
Ia menatap tajam ke arah Nayara.
"Ingat ya, Nay... ini baru permulaan.
Gue bakal pastikan hidup lo dan suami lo nggak bakal pernah tenang selamanya!"
Sebelum Revan sempat mendekati titik sumber suara, Jessica dengan cepat melepaskan bekapannya, mendorong tubuh Nayara hingga terjatuh membentur ban mobil, lalu berlari kencang menuju pintu darurat belakang basement yang mengarah langsung ke jalan raya luar kampus.
Bruk!
Nayara tersungkur lemas di lantai semen dingin, memegang lehernya yang terasa nyeri sambil terisak deras.
Beberapa detik kemudian, bayangan tubuh tinggi Revan muncul dengan napas memburu di ujung lorong pilar.
Begitu melihat istrinya terduduk lemas di tanah seorang diri, mata Revan membelalak ngeri.
Pemuda itu langsung berlari menerjang, menjatuhkan diri di hadapan Nayara, lalu merengkuh tubuh gemetar istrinya ke dalam dekapan hangat dadanya.
"Nay!
Ya Allah, Nay... kamu nggak apa-apa?
Siapa yang lari tadi?!
Siapa yang berani nyentuh kamu?!"
tanya Revan bertubi-tubi dengan suara bergetar panik, memeriksa setiap inci tubuh istrinya untuk memastikan tidak ada luka serius.
Nayara memeluk leher suaminya erat-erat, membenamkan wajahnya di dada bidang Revan sambil menangis histeris.
"Mas... Jes... Jessica... dia tadi di sini..."
Mendengar nama wanita pembawa malapetaka itu disebut kembali, manik mata Revan menyala dengan amarah yang jauh lebih mengerikan daripada saat ia memukul Saka di koridor kampus beberapa jam lalu.
Rahangnya mengeras sempurna, dan aura dingin mematikan menguar dari sekujur tubuhnya.
Di bawah temaram lampu basement yang senyap, badai baru yang jauh lebih berbahaya kini resmi dimulai.
bawangnya kebanyakan thor