Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Pintu Ruangan Dekan dan Badai Birokrasi Kampus
Udara di koridor lantai dua Fakultas Kedokteran mendadak terasa kaku. Suara derap sepatu hak tinggi Ibu Dekan yang bergesekan dengan lantai marmer menggema pelan, mengiringi langkah tegas wanita paruh baya itu menuju ruangannya. Di belakangnya, Revan dan Nayara berjalan berdampingan, sementara Alya dan Saka hanya bisa terpaku mengamati dari kejauhan dengan perasaan cemas yang teramat sangat.
Sepanjang perjalanan menuju ruang dekan, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Revan menggenggam erat jemari Nayara di sisi tubuhnya, menyalurkan kehangatan dan ketenangan mutlak ke tangan istrinya yang terasa dingin akibat ketegangan. Bagi Revan, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Rahasia pernikahan mereka telah terungkap di hadapan seluruh mahasiswa, dan kini ia siap menghadapi konsekuensi apa pun dari pihak birokrasi kampus demi melindungi istrinya.
Begitu tiba di depan ruangan berdaun pintu kayu jati berukir dengan papan nama bertuliskan DEKAN FAKULTAS KEDOKTERAN, salah satu staf administrasi membukakan pintu lebar-lebar.
"Silakan masuk, kalian berdua," ucap Ibu Dekan dingin tanpa menoleh ke belakang.
Revan dan Nayara melangkah masuk ke dalam ruangan ber-AC sentral tersebut. Ruangan itu luas, tertata rapi dengan rak-rak buku arsip kedokteran yang tersusun tinggi, serta meja kerja besar berbahan kayu mahoni di bagian tengah. Ibu Dekan langsung berjalan menuju kursi kebesarannya, duduk dengan anggun, lalu melipat kedua tangannya di atas meja sambil menatap tajam ke arah Revan dan Nayara yang berdiri berdampingan di hadapannya.
"Duduklah," perintah Ibu Dekan singkat.
Keduanya duduk di kursi beludru berwarna cokelat tua yang berhadapan langsung dengan meja dekan. Suasana ruangan terasa begitu lengang, diisi hanya oleh suara dengungan pendingin ruangan yang berputar lambat.
Ibu Dekan menghela napas panjang, merapikan kacamata baca berbingkai emas di hidungnya sebelum kembali menatap pasangan muda di hadapannya dengan sorot mata menyelidik.
"Saya baru saja mendapat laporan dan melihat sendiri kehebohan yang terjadi di mading koridor lantai dua beberapa menit lalu," buka Ibu Dekan dengan nada suara yang tegas dan berwibawa. Beliau mencondongkan tubuhnya ke depan. "Revan Al-Gibran, mahasiswa tingkat akhir jurusan manajemen bisnis yang sering mengambil kelas lintas fakultas, dan Nayara Zayna Az-Zahra, mahasiswi kedokteran tingkat tiga yang berprestasi. Kalian tahu persis apa pelanggaran etika dan kode etik mahasiswa yang sedang kita bicarakan saat ini, bukan?"
Nayara menundukkan kepalanya, jemarinya saling meremas erat di atas pangkuannya. Rasa takut kembali merayapi dadanya. Ia takut pernikahan sah mereka justru menjadi bumerang yang menghancurkan masa depan akademik mereka di universitas ini.
Namun, sebelum Nayara sempat berbicara, Revan bergerak cepat mengambil alih. Pemuda itu menegakkan posisinya, menatap lurus ke manik mata sang dekan dengan penuh rasa percaya diri dan wibawa yang tidak menunjukkan tanda-tanda gentar sedikit pun.
"Saya tahu persis aturan akademik yang berlaku di universitas ini, Bu Dekan," jawab Revan dengan suara baritonnya yang tenang, tegas, dan sangat terukur. "Namun, sebelum pihak kampus menjatuhkan sanksi atau asumsi negatif apa pun, izinkan saya memperjelas satu hal yang paling mendasar."
Ibu Dekan mengangkat sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan keberanian mahasiswa di hadapannya. "Silakan, Revan. Saya mendengarkan."
Revan menoleh sekilas ke arah Nayara, memberikan tatapan penuh dukungan, lalu kembali menatap sang dekan.
"Foto-foto yang beredar di mading pagi ini memang benar menampilkan saya dan Nayara," aku Revan tanpa ragu sedikit pun. "Tetapi, tidak ada satu pun tindakan kami yang melanggar norma kesusilaan, hukum agama, maupun hukum negara. Karena di hadapan Allah, di hadapan hukum negara, dan di hadapan hukum adat masyarakat, Nayara Zayna Az-Zahra adalah istri sah saya. Kami sudah melangsungkan pernikahan secara resmi beberapa minggu lalu."
Pernyataan lugas dan blak-blakan itu membuat Ibu Dekan tertegun sejenak. Wanita paruh baya itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap bergantian antara Revan dan Nayara dengan ekspresi wajah yang melunak, meskipun sorot matanya tetap menunjukkan profesionalitas seorang pimpinan institusi.
"Menikah?" ucap Ibu Dekan mengulang. Beliau menghela napas pelan. "Revan, saya tahu di usia kalian saat ini pernikahan dini atau pernikahan mahasiswa adalah hal yang sah secara hukum agama dan negara. Tidak ada larangan mutlak bagi mahasiswa untuk menikah. Tapi masalahnya bukanlah pada sah atau tidaknya status pernikahan kalian..."
Ibu Dekan menunjuk ke arah dokumen laporan yang terletak di atas meja kerjanya.
"...masalahnya adalah bagaimana hal ini berdampak pada dinamika akademik di fakultas kedokteran, serta regulasi internal universitas terkait transparansi status perkawinan mahasiswa penerima beasiswa khusus atau bimbingan klinis. Terutama setelah insiden besar yang melibatkan mahasiswi bernama Jessica beberapa waktu lalu, pihak universitas sangat sensitif terhadap isu-isu kedekatan personal di lingkungan kampus."
Mendengar nama Jessica disebut, dada Nayara kembali bergemuruh. Trauma masa lalu tentang bagaimana Jessica dan komplotannya berusaha menjatuhkan dan mencoreng kehormatannya seolah berkelebat seketika di benaknya.
Melihat perubahan ekspresi di wajah istrinya, Revan langsung merespons dengan cepat. Ia menggeser sedikit kursinya, lalu dengan terang-terangan meraih tangan Nayara di atas meja, menggenggamnya erat-erat di hadapan sang dekan sebagai bentuk perlindungan mutlak.
"Ibu Dekan," ucap Revan dengan nada suara yang semakin tegas namun tetap sopan. "Istri saya, Nayara Zayna Az-Zahra, adalah korban dari fitnah dan tindakan kriminal keji yang dilakukan oleh Jessica dan kelompoknya beberapa waktu lalu. Kami memilih untuk menyembunyikan pernikahan kami bukan karena ingin berbuat curang atau melanggar aturan akademik, melainkan demi melindungi keselamatan psikis Nayara dari sorotan media dan gosip murahan yang tidak bertanggung jawab seperti yang disebar oleh oknum pagi ini."
Revan menatap tajam ke depan. "Jika pihak kampus mempermasalahkan transparansi administrasi pernikahan kami, saya siap mengurus seluruh dokumen pencatatan sipil, buku nikah resmi dari KUA, dan melampirkannya ke bagian administrasi kemahasiswaan hari ini juga. Tapi saya tidak akan tinggal diam jika ada pihak kampus siapa pun itu yang mencoba mendiskreditkan istri saya atau merusak masa depannya di fakultas ini."
Ketegasan, keberanian, dan rasa tanggung jawab yang luar biasa besar dari seorang Revan Al-Gibran membuat Ibu Dekan terdiam cukup lama. Sebagai seorang pendidik senior yang telah puluhan tahun memimpin perguruan tinggi, ia sangat jarang melihat mahasiswa seusia Revan yang memiliki jiwa kepemimpinan, keberanian moral, dan pembelaan mutlak terhadap istrinya sedemikian rupa.
Ibu Dekan menatap Revan dan Nayara secara bergantian. Perlahan-lahan, sudut bibir wanita paruh baya itu terangkat membentuk seulas senyuman tipis yang sangat sulit diartikan.
"Kamu benar-benar berubah drastis, Revan," ucap Ibu Dekan dengan nada suara yang jauh lebih santai dibanding sebelumnya. Beliau melepaskan kacamata bacanya, lalu meletakkannya di atas meja. "Dulu, nama kamu sering sekali masuk ke meja saya karena kasus balap liar, keributan antar-fakultas, dan keonaran di lingkungan kampus. Tapi hari ini... kamu berdiri di sini sebagai seorang suami yang melindungi istrinya dengan argumen hukum dan moral yang sangat matang."
Nayara mendongak, menatap sang dekan dengan perasaan cemas bercampur penasaran.
"Jadi... apa keputusan pihak kampus terhadap kami, Bu?" tanya Nayara dengan suara bergetar halus.
Ibu Dekan merapikan beberapa berkas di mejanya, lalu menatap pasangan muda itu dengan serius namun menenangkan.
"Pihak universitas tentu harus menegakkan aturan administrasi," jawab Ibu Dekan. "Kalian harus segera menyerahkan salinan buku nikah resmi dari KUA ke bagian kemahasiswaan selambat-lambatnya lusa untuk memperbarui data status sipil kalian di sistem universitas. Mengenai foto-foto di mading pagi ini..."
Ibu Dekan mendengus pelan. "...saya akan instrukturkan petugas kebersihan kampus untuk membersihkan seluruh mading tersebut, dan komisi disiplin mahasiswa akan memanggil pihak-pihak yang terbukti menyebarkan foto candid tanpa izin guna diberikan sanksi tegas atas pelanggaran privasi."
Mendengar keputusan tersebut, beban berat yang sejak tadi menghimpit dada Nayara seketika menguap tak bersisa. Ia mengembuskan napas panjang, air mata bahagianya hampir menetes di pipi.
Revan mengangguk hormat kepada sang dekan. "Terima kasih banyak atas kebijaksanaan Ibu Dekan. Kami akan segera melengkapi seluruh berkas administrasi yang dibutuhkan."
"Bagus," balas Ibu Dekan sambil tersenyum ramah. "Satu hal lagi untuk kalian berdua: Jalani pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab. Dunia perkuliahan kedokteran itu berat, Nayara Zayna Az-Zahra. Dan menjadi kepala rumah tangga di usia muda juga bukan hal yang mudah, Revan. Buktikan pada seluruh kampus bahwa keputusan kalian berdua adalah keputusan yang tepat dan diberkahi."
"Baik, Bu. Terima kasih banyak," jawab Revan dan Nayara hampir bersamaan.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang dekan terbuka. Revan dan Nayara melangkah keluar dengan senyuman tipis di wajah mereka.
Di ujung koridor, Alya dan Saka yang sedari tadi mondar-mandir menunggu dengan cemas langsung berlari menghampiri mereka begitu melihat ekspresi wajah keduanya yang tampak tenang.
"Nay! Revan!" panggil Alya setengah berteriak dengan napas terengah-engah. "Gimana di dalam? Kalian nggak di-DO kan? Sumpah aku deg-degan setengah mati dari tadi!"
Saka berdiri di samping Alya, menatap Revan dengan wajah penuh rasa bersalah. Pemuda berbadan tegap itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu menunduk pelan di hadapan Revan dan Nayara.
"Van... Nay..." suara Saka terdengar parau dan penuh penyesalan. "Gue... gue minta maaf banget. Gara-gara kepancing emosi sama foto-foto di mading tadi, gue malah nuduh kalian yang nggak-nggak dan bikin keributan di koridor. Sumpah, gue nggak tahu kalau kalian ternyata udah nikah sah."
Revan menepuk pelan bahu sahabat karibnya itu, lalu tersenyum tipis. "Udah, nggak usah dipikirin lagi, Sak. Gue paham kenapa lo emosi. Tapi lain kali, kalau dapat informasi, diselidiki dulu kebenarannya sebelum bertindak."
Saka mengangguk cepat, merasa sangat lega. "Iya, Van. Maafin gue ya. Pokoknya traktir kopi di kantin hukum wajib jadi hari ini, buat ngerayain kalau lo sekarang resmi jadi 'suami orang'!"
Semua orang yang ada di koridor spontan tertawa renyah, mencairkan ketegangan yang sempat melanda sejak pagi hari.
Alya merangkul erat lengan Nayara, tersenyum lebar penuh kebahagiaan. "Wah, Bu Nyai kita ternyata udah resmi jadi nyonya besar ya sekarang! Selamat ya, Nay Zayna! Sumpah aku seneng banget akhirnya semuanya clear!"
Nayara tersenyum tulus, membalas pelukan sahabat setianya itu. Rasa syukur yang amat besar membuncah di dalam dadanya. Badai besar yang mengancam kehancuran rumah tangga dan masa depan mereka telah berhasil dilewati bersama-sama.
Di tengah keramaian kampus yang kembali normal, Revan menoleh ke arah istrinya. Manik mata mereka saling bertatapan penuh cinta, menyadari bahwa perjalanan rumah tangga mereka masih panjang, namun dengan keyakinan penuh bahwa badai apa pun di masa depan akan mampu mereka hadapi berdampingan sebagai satu kesatuan yang utuh.