Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi berdarah
Di depan gerbang utama Sekolah Esper Kota Cirebon, tampak sosok Agil berdiri tegak dengan tas ransel yang tampak menggembung penuh di punggungnya.
"Agil!"
Sebuah panggilan terdengar. Ia pun menoleh dan melihat Rahman bergegas menghampirinya.
"Lama," gerutu Agil, meski seringai lebarnya menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar kesal.
"Maaf."
Keduanya terdiam sejenak, lalu membalikkan badan untuk menatap gerbang besi menjulang tinggi di hadapan mereka. Di baliknya terbentang kompleks Sekolah Esper yang begitu luas. Bangunan-bangunan beton bertingkat berarsitektur modern berjejer rapi, mengelilingi lapangan latihan yang luas.
Karena sekolah ini berada di ujung tembok pembatas kota, kawasan tersebut dilengkapi menara-menara pelindung tambahan demi menjaga keselamatan para siswa.
Saat mereka masih terpaku mengagumi kemegahan fasilitas itu, terdengar langkah kaki santai mendekat dari arah pos gerbang.
Seorang pria paruh baya bertubuh kurus dengan seragam petugas kebersihan menghampiri mereka. Di tangannya tergenggam sebuah sapu lidi panjang. Guratan halus di wajahnya menandakan usianya telah menginjak kepala empat, tetapi tatapannya tampak ramah dan bersahabat.
"Murid baru, ya?"
Rahman tersentak kecil, lalu buru-buru mengangguk sopan.
"Eh, iya, Pak. Kami murid baru."
"Panggil saja Pak Dadang. Kalau begitu, langsung masuk saja. Jangan cuma berdiri di depan gerbang." Ia menunjuk ke arah koridor panjang di balik pos penjagaan. "Pergilah ke area asrama dulu untuk menaruh barang-barang kalian. Nomor kamar seharusnya sudah dikirim lewat email semalam, kan? Tinggal dicek di ponsel saja."
"Asramanya di sebelah mana, ya, Pak?" tanya Agil.
"Pergilah ke gedung besar di seberang sana," jelas Pak Dadang dengan sabar sambil menunjuk kompleks bangunan kembar yang dipisahkan taman luas. "Setelah masuk ke area utama nanti, perhatikan petunjuknya. Gedung di sebelah kanan adalah asrama laki-laki, sedangkan yang di sebelah kiri adalah asrama perempuan."
"Baik, Pak. Terima kasih banyak," ucap Rahman tulus.
Namun, sebelum melangkah masuk, Rahman teringat sesuatu dan segera bertanya lagi.
"Maaf, Pak Dadang... kalau boleh tahu, apa sudah ada remaja lain yang datang sebelum kami? Badannya tinggi, wajahnya datar sekali. Namanya Ryan."
Pak Dadang berpikir sejenak, lalu menunjuk ke arah dalam kompleks.
"Oh, bocah yang itu! Sudah. Dia datang sedari tadi. Malah sebelum gerbang benar-benar dibuka, dia sudah berdiri di depan seperti patung."
"Dia teman kalian? Waduh, Bapak sampai heran melihatnya. Entah kenapa mukanya suram banget," canda Pak Dadang sambil menirukan ekspresi kaku.
Mendengar itu, Agil menepuk jidatnya sendiri.
Waduh... Jelas banget nyasar lagi, dia! batinnya.
"Kalau begitu, kami permisi dulu ya, Pak Dadang. Kami mau langsung menyusul dia," pamit Rahman dengan sopan.
"Ya, silakan. Semoga betah tinggal di asrama, ya."
Rahman dan Agil pun melangkah melewati pos penjagaan. Namun, baru beberapa langkah berjalan, sebuah suara dari belakang membuat Rahman berhenti.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Secara refleks Rahman menoleh ke belakang. Ia melihat aura merah tipis membungkus tubuh Pak Dadang. Namun, begitu batuknya mereda, aura merah itu ikut menghilang. Pak Dadang kembali tampak seperti manusia biasa, mengayunkan sapunya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Apa sebenarnya itu?batin Rahman, tangannya mengepal hingga sedikit gemetar. Ia berusaha membuang sisa kecemasannya dan segera menyusul Agil yang sudah lebih dulu berjalan di depan.
Sesampainya di kamar masing-masing, keduanya segera merapikan barang bawaan mereka. Kamar asrama itu memang tidak mewah, tetapi lebih dari cukup. Dinding bercat putih berpadu dengan perabot sederhana yang tertata rapi. Di dalamnya tersedia sebuah kasur tunggal, meja belajar kayu, lemari dua pintu, serta kamar mandi berukuran kecil.
Klek.
Dua pintu kamar yang berdampingan terbuka hampir bersamaan. Agil melangkah keluar dari Kamar 97, sementara Rahman muncul dari Kamar 98. Mereka saling pandang sejenak sebelum Agil terkekeh pelan.
"Karena kita mendaftar bareng, kita dapat kamar yang bersebelahan begini," ujar Agil sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Iya, setidaknya kalau terjadi apa-apa, kita tidak perlu berjalan jauh," sahut Rahman sembari mengunci pintu kamarnya. Namun, pandangannya segera tertuju ke pintu tepat di sebelahnya.
Sebuah pelat logam mengilap bertuliskan: **Kamar 99.**
"Gil, jangan-jangan itu kamarnya Ryan?" tanya Rahman sambil menunjuk.
"Bisa jadi."
Agil melangkah menghampiri Kamar 99 dan mengetuk pintunya.
Tok! Tok! Tok!
"Oi, Ryan! Kamu di dalam?"
Hening.
Tak ada jawaban sedikit pun dari balik pintu.
Agil mengerutkan kening, lalu menempelkan telinganya ke daun pintu, berusaha menangkap tanda-tanda keberadaan seseorang di dalam.
"Sepertinya dia memang tidak ada," desah Rahman sambil menggeleng.
Agil kemudian melirik jam tangannya. Begitu menyadari waktu yang tersisa hanya sekitar tiga jam sebelum kegiatan sekolah dimulai, wajahnya berubah panik.
"Sial... sudah jam dua belas siang. Jam tiga sore sekolah mulai. Kita harus cepat menemukan Ryan!" seru Agil sambil bergegas menuruni tangga.
"Iya, iya! Tunggu Gil!" balas Rahman, buru-buru menyusul.
…
Malam pergantian tahun menuju 2012. Ryan yang masih kecil berdiri di antara ayah dan ibundanya. Kelopak matanya mulai terasa berat karena kantuk, tetapi ia tetap memaksa diri menatap langit malam. Tawa dan obrolan riuh orang-orang yang berkumpul di sekeliling mereka memenuhi suasana.
Tepat pukul 00.00, kembang api mulai menghiasi langit. Namun, dalam sekejap, warna langit berubah menjadi merah darah, diikuti cahaya bulan yang ikut memerah.
Hantu dan entitas astral yang selama ini hanya menjadi mitos serentak muncul dari kehampaan. Jeritan kegembiraan berubah menjadi pekikan kematian. Darah segar menyembur, membasahi rumput lapangan saat para hantu mulai membantai, mencabik-cabik setiap manusia di sekitar mereka dalam sebuah pesta pora yang brutal.
"Ryan!"
Sang ayah langsung mengangkat Ryan, berlari sekuat tenaga bersama ibundanya menembus lautan kekacauan menuju rumah.
Di dalam dekapan ayahnya, Ryan tidak menangis ataupun menjerit. Ia hanya diam merekam setiap detail adegan mengerikan di sekelilingnya. Namun, sepanjang pelarian itu mereka tidak diserang sama sekali. Para hantu itu justru menghindar.
Sesampainya di rumah, sang ayah langsung membanting pintu, menutupnya rapat-rapat. Di sudut ruangan yang gelap, sang ayah dan ibunda berlutut, memeluk Ryan erat-erat.
Suara lolongan, cakar yang menggores dinding, dan teriakan-teriakan histeris dari orang-orang yang dibantai terdengar semakin dekat dan menggila. Suara jeritan itu terus berlipat ganda, memekakkan telinga, terasa semakin bising, berisik, dan memenuhi seluruh isi kepalanya hingga seolah hendak pecah—
Hah!
Ryan tersentak bangun dengan keringat dingin yang mengucur deras dan napasnya yang tak beraturan. Ia menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, menatap kedua telapak tangannya sendiri.
Setelah berhasil menenangkan diri, Ryan segera mandi, mengenakan seragam sekolah barunya, lalu keluar dari kamar. Dari lantai atas, ia menatap orang-orang yang berlalu-lalang di bawah.
Apa itu tadi?Ia mencoba mengingat apa yang terjadi dalam mimpi, namun usahanya hanya membuat kepalanya semakin pening.
"Wah, kampret! Sudah dicari-cari malah sudah di sini!"
Sebuah suara kasar memutus lamunannya. Agil sudah berdiri menatap Ryan dengan raut wajah penuh kekesalan.
Tanpa menunggu balasan, Agil berbalik masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu hingga berdentang keras.
“Dia itu kenapa?” tanya Ryan pada Rahman yang terdiam mematung memandang wajahnya dengan tatapan aneh.