Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Haruskah aku pergi?!
Malam itu, hujan turun sangat deras. Suara petir menggelegar menyambar langit, angin berdesir kencang seakan badai besar siap menghancurkan isi bumi.
Setelah berbulan-bulan tidak pulang, bahkan tidak pernah sekalipun memberi kabar. Akhirnya malam ini, Halimah bisa tersenyum lega saat mendengar suara mobil suaminya berhenti di halaman depan.
Dengan langkah cepat ia keluar kamar dengan masih mengenakan mukena usai sholat Isya. Sebentar ia merapikan penampilannya, senyum lebar menghiasi bibirnya sebelum tangannya membuka lebar pintu depan.
"Mas..." lirihnya pelan.
Suara itu tiba-tiba tercekat di tenggorokan. Tangannya mencengkeram erat gagang pintu, matanya menatap tajam ke arah mobil. Rangga keluar sambil mengembangkan payung, namun tidak langsung melangkah ke teras. Ia justru membuka pintu penumpang samping.
Seseorang turun dari sana. Kakinya jenjang dengan sepatu hak tinggi hitam, pakaiannya rapi, rambut panjangnya terurai indah. Wajahnya tampak cantik dan segar dengan balutan riasan yang sempurna.
Tidak lama kemudian, Bu Ramlah dan Rengganis keluar menyambut wanita asing itu, seolah mereka memang sudah diberitahu sebelumnya.
"Eh, Nak Santi sudah datang," sapa Bu Ramlah ramah, langsung memeluk wanita itu.
Rangga tersenyum lebar, lalu menoleh sekilas ke arah Halimah dengan tatapan datar, tidak menyisakan sedikitpun rasa bersalah.
"Hujannya deras sekali ya. Nak Santi pasti kedinginan," ujarnya lembut sambil menyeka percikan air di bahu wanita itu saat mereka tiba di teras.
"Iya, Tante. Dingin banget. Hujannya gak berhenti dari sore, ditambah anginnya juga kencang begini," celoteh Santi akrab, seolah sudah lama menjadi bagian dari keluarga ini.
"Ya sudah, ayo masuk dulu!" ajak Rengganis merangkul lengan Santi.
Bu Ramlah ikut menggandeng Santi masuk ke dalam rumah, mereka mengabaikan Halimah yang masih tertegun di ambang pintu.
Setelah mereka menghilang di balik sekat ruang tamu, Halimah melangkah perlahan mendekati Rangga yang sedang melipat payung di teras. Tatapannya bergetar menatap punggung pria yang sangat ia rindukan itu.
Perlahan, tangan gemetar itu terangkat dan menyentuh lembut punggung suaminya. "Siapa dia, Mas?" tanyanya pelan, nyaris tak terdengar.
Rangga menoleh sebentar setelah selesai dengan payungnya. "Dia Santi, kekasihku. Aku sudah melamarnya, sebulan lagi kami akan menikah." Jawabannya begitu santai, seolah Halimah hanyalah orang asing yang tak dikenalnya.
"Mas..." panggil Halimah parau. Matanya memerah, air mata mulai menumpuk, ujung jemarinya mendadak terasa dingin membeku.
"Maaf, Halimah. Aku sudah bosan dengan pernikahan kita. Aku sudah menggugat mu, kamu sudah menandatangani surat gugatan itu, kan? Jangan khawatir, semua biaya perceraian akan aku tanggung sepenuhnya."
DUAR!
Suara petir menggelegar tepat di atas kepala, bersamaan dengan hancurnya hati Halimah berkeping-keping.
"Jadi... seperti ini saja akhir rumah tangga kita, Mas?" lirihnya berusaha tetap tenang, walau dunianya sudah runtuh.
Rangga menghela napas panjang, lalu menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Ia kemudian memegang kedua bahu Halimah dengan erat, "Halimah, harusnya kamu sadar diri. Aku tidak akan melakukan ini kalau saja kamu bisa memberiku Anak. Sejak awal aku sudah bilang, aku ingin membangun rumah tangga yang lengkap dengan adanya anak-anak. Sementara denganmu... semuanya nihil, sia-sia."
"Mas, aku akan berusaha..."
"Usaha apa? Berobat dengan menghabiskan uang berjuta-juta? Cukup Halimah. Terima saja kenyataan bahwa kamu menang tidak bisa hamil."
Mata Halimah berkedip cepat. Dadanya terasa sesak, sejenak ia lupa cara bernapas, sebelum akhirnya air matanya tumpah tak terbendung, "Mas, aku... aku tidak bisa hidup tanpa kamu, aku tidak punya siapa-siapa lagi..." bisiknya memohon penuh sisa harapan.
Rangga mendengus malas dan melepaskan cengkeramannya, "Aku sudah bosan hidup denganmu, Halimah. Tapi tenang saja, kamu boleh tetap tinggal di sini sampai menemukan tempat baru. Aku juga akan tetap memberimu nafkah selama masa iddah-mu."
Halimah menggeleng keras. "Mas, jangan ceraikan aku. Aku rela dimadu. Aku janji tidak akan menghalangi kebahagiaanmu... tolong jangan tinggalkan aku, Mas. Aku tidak punya siapa-siapa lagi..." Tubuhnya perlahan luruh, bersandar lemas di tiang teras.
"Maaf, Halimah. Santi tidak mau dimadu, dia tidak mau menjadi istri kedua. Aku harap kamu mengerti keputusanku." Rangga berjongkok menatap wajah istrinya yang penuh keputusasaan.
Melihat kesedihan itu, sejenak hatinya terenyuh, ia memeluk Halimah untuk terakhir kalinya.
"Masuklah ke kamar. Santi akan merasa tidak enak hati melihatmu menangis begini. Malam ini dia menginap di kamar Rengganis, aku akan tidur di sofa ruang tengah." Ucapannya begitu ringan mengatur segalanya, seolah tidak ada hati yang telah diremukkannya.
Rangga berbalik melangkah masuk. Sementara Halimah masih terduduk lemas di teras, menangis terisak membiarkan angin dan percikan air hujan membasahi kain mukenanya.
Dari balik pintu kamarnya, Rita menyaksikan semuanya. Di liriknya ke ruang tengah, dimana Mama dan Kakaknya menyambut Santi dengan penuh kehangatan.
Rengganis bahkan membuatkan teh hangat untuk Santi, Rangga mencolokkan alat pengering rambut, untuk mengeringkan rambut kekasihnya yang bahkan tidak basah. Sementara Bu Ramlah, sibuk mencari cemilan di dalam kulkas untuk disuguhkan pada calon menantunya itu.
Rita menghela napas panjang, tanpa sadar kepalanya menggeleng pelan menyaksikan ketidakadilan di depan matanya.
Saat tidak ada yang menyadari, Rita melangkah keluar untuk menghampiri kakak iparnya yang masih menangis terisak di teras.
"Mbak, sudahlah! Gak usah tangisi lelaki kayak Mas Rangga," ucap Rita terdengar cuek, namun nada bicaranya justru menyiratkan belas kasihan.
Halimah mendongak, menghapus air mata dengan ujung kain mukenanya, "Kamu belum tidur, dek?" tanyanya terisak.
"Gimana bisa tidur, badai seperti ini?" Rita menyodorkan payung lipat kecil miliknya. "Mau kabur dari sini?"
Pertanyaan itu membuat Halimah terdiam.
"Mbak belum tua-tua amat, kok. Kalau berhias sedikit saja juga masih cantik. Lebih baik pergi saja dari rumah ini. Cari kehidupan baru di luar sana yang lebih bisa menghargai Mbak, daripada bertahan di sini cuma kayak pembantu," ucap Rita jujur, meluapkan apa yang selama ini ia rasakan.
Air mata Halimah kembali jatuh makin deras. Tangannya menekan dada yang terasa perih, bayangan lima tahun pengabdiannya yang sia-sia berputar cepat di kepala.
Ucapan Rita barusan seakan menyadarkannya pada satu hal, bahwa ia sudah tidak dihargai di tempat ini.
Matanya menatap payung biru di tangan Adik Iparnya. "Haruskah aku pergi..." bisiknya dalam hati.
Bersambung...