NovelToon NovelToon
Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Almesha

Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.

Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.

Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.

Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Dasar Cawan yang Pecah

Sore harinya, mendung yang bergelayut di atas langit Jakarta menumpahkan hujan deras yang membilas sisa-sisa kesombongan di mansion Menteng. Di dalam bangunan yang telah ditempeli plang penyitaan resmi berwarna merah mencolok di gerbang depannya, suasana terasa sedingin kuburan. Sebagian besar lampu sengaja dimatikan untuk menghemat sisa daya, meninggalkan lorong-lorong megah itu dalam cengkeraman remang yang mencekam.

Sheila berdiri di tengah kamar utama Siska Narendra dengan napas yang memburu pendek. Detak jantungnya bertalu-talu di balik daster katunnya yang kini tampak kusut. Matanya yang sembap dan dihiasi lingkaran hitam menatap nanar ke arah sebuah pilar kayu di sudut ruangan yang penutup rahasianya telah ia jebol paksa menggunakan linggis kecil milik tukang kebun.

Di balik pilar itu, sebuah brankas besi kuno berlogo angka kombinasi kini menganga lebar.

"Pasti ada... pasti wanita tua itu menyembunyikan sesuatu di sini," bisik Sheila dengan suara bergetar histeris. Jemarinya yang gemetar mulai mengobrak-abrik isi di dalam brankas.

Sejak Arka pulang dengan tubuh basah kuyup dan tatapan mata yang kosong bagai mayat hidup, ditambah kabar bahwa Siska kini terbaring lemah dengan selang oksigen di bangsal kelas tiga rumah sakit daerah, Sheila tahu bahwa waktu mereka telah habis. Tiga hari yang diberikan oleh juru sita pengadilan untuk mengosongkan rumah ini terus berjalan mundur bagai bom waktu. Dia tidak sudi keluar dari rumah ini sebagai gelandangan, apalagi dalam kondisi perutnya yang kian membuncit.

Tangan Sheila meraba bagian terdalam brankas, berharap menemukan beberapa batangan logam mulia atau sisa perhiasan berlian yang luput dari penyitaan bank. Namun, alih-alih kilau emas, jemarinya justru menyentuh sebuah kotak beludru hitam yang dilapisi debu tebal, bersama dengan selembar amplop cokelat berlogo firma hukum lama.

Dengan terburu-buru, Sheila membuka kotak beludru itu. Matanya berbinar sesaat melihat sebuah kalung berlian kuno bermata zamrud besar yang tampak sangat bernilai. "Ya Tuhan... ini bisa untuk biaya bersalin di rumah sakit mewah," gumamnya dengan tawa lega yang terdengar sumbang.

Namun, rasa ingin tahunya terusik oleh amplop cokelat di bawahnya. Sheila merobek segel kertas yang sudah rapuh itu dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen di dalamnya. Begitu matanya membaca baris demi baris tulisan di atas kertas legal tersebut, senyuman di bibir Sheila seketika membeku.

Itu adalah dokumen asli kesepakatan penyerahan seluruh warisan melimpah dari mendiang ibu Davira tiga tahun lalu. Namun, yang membuat tubuh Sheila gemetar hebat hingga dokumen itu hampir terlepas dari tangannya adalah sebuah klausul tambahan rahasia di lembar ketiga yang ditandatangani oleh Siska dan seorang oknum notaris yang telah dipecat.

Klausul Pembatalan Hak Waris (Pasal 7):

“Apabila Davira Mahendra meninggal dunia atau dinyatakan tidak lagi mampu secara mental/fisik (termasuk kehilangan fungsi reproduksi secara permanen) sebelum memiliki keturunan sah dari Arka Narendra, maka seluruh hak pengelolaan dan kepemilikan mutlak atas aset warisan keluarga Mahendra akan dialihkan seutuhnya menjadi hak milik pribadi Arka Narendra dan ahli waris penggantinya, tanpa hak sanggah dari pihak ketiga (Reno Mahendra).”

Mata Sheila membelalak sempurna. Otaknya yang licik segera merangkai benang merah yang teramat mengerikan.

"Jadi... jadi sejak awal... Ibu Siska merencanakan ini semua bukan cuma untuk menyingkirkan Davira," bisik Sheila, suaranya tercekat di tenggorokan. "Wanita tua itu... dia memanfaatkan kehamilanku, memanfaatkan sup beracun itu, dan sengaja membiarkan Davira sekarat malam itu... murni agar rahim Davira rusak atau dia mati, supaya seluruh harta ratusan miliar milik orang tuanya jatuh mutlak ke tangan Arka!"

Sheila mundur dua langkah hingga punggungnya membentur tepian ranjang. Ada rasa dingin yang menjalar di tengkuknya. Selama ini, dia mengira dirinya adalah dalang utama yang berhasil merebut Arka dan kemewahan Narendra dari tangan Davira. Namun dokumen di tangannya membuktikan kenyataan yang jauh lebih menjijikkan: dia dan bayinya hanyalah alat catur yang digunakan oleh Siska untuk melegalkan penjarahan harta terbesar dalam sejarah keluarga mereka.

Dan sekarang, Davira yang menjelma menjadi Vira Mahendra telah mengetahui semuanya. Itulah alasan mengapa Vira menghancurkan mereka tanpa ampun, memotong setiap jengkal napas finansial mereka hingga ke titik nadir.

Di luar kamar, langkah kaki yang berat dan terseret terdengar mendekat. Arka Narendra melangkah masuk melewati pintu yang terbuka. Penampilannya jauh lebih hancur daripada beberapa jam lalu saat dia berlutut di aspal V-Tech. Kemejanya kotor, dan sepasang matanya menatap kosong ke arah brankas yang membongkar seluruh rahasia busuk ibunya.

"Apa yang kamu lakukan, Sheila?" tanya Arka, suaranya terdengar datar, tanpa ada energi atau amarah lagi yang tersisa.

Sheila langsung mengangkat dokumen itu, menunjukkannya tepat di depan wajah Arka dengan tangan yang masih gemetar. "Mas! Lihat ini. Ibumu... Ibumu benar-benar iblis. Dia memanfaatkan kita berdua. Dia sengaja membuat Davira mandul dan membuangnya malam itu murni karena klausul sialan ini. Harta orang tua Davira... semuanya didapat dari rencana pembunuhan!"

Arka menatap lembaran kertas itu, namun anehnya, tidak ada keterkejutan di wajahnya. Dia hanya mengulas senyuman miris yang teramat pahit, lalu duduk di tepi ranjang, menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.

"Aku sudah tahu, Sheila," bisik Arka, suaranya teredam oleh getar penyesalan yang teramat akut. "Aku tahu tentang klausul itu seminggu setelah kita menikah. Dan ketamakanku membuatku menutup mata... aku membiarkan diriku menjadi kaki tangan iblis demi uang sepuluh miliar dan seluruh perusahaan ini."

Arka mendongak, menatap Sheila dengan pandangan mata yang layu. "Dan hari ini, Vira telah mengambil lembar saham terakhir dari sisa warisan orang tuanya di Narendra Group. Sore tadi, perusahaanku resmi dinyatakan pailit secara hukum oleh pengadilan dagang. Kita... kita benar-benar tidak punya apa-apa lagi, Sheila. Kalung di tanganmu itu pun... besok pagi akan disita jika kamu tidak menyembunyikannya."

Sheila menjerit frustrasi, melemparkan dokumen cokelat itu ke lantai. "Nggak, Aku tidak mau miskin, Arka. Aku tidak mau anak di dalam kandungan ini lahir di rumah petak murahan. Lakukan sesuatu. Temui dia lagi. Berlututlah sampai kakimu patah."

"Sudah tidak ada gunanya," Arka menggeleng lemah, air matanya perlahan luruh melewati pipinya yang cekung. "Di samping Vira... ada Adrian Atmadja. Pria itu menatapku seolah aku hanyalah seekor serangga yang siap dia injak sampai mati jika aku berani mendekat satu jengkal lagi. Kita sudah kalah, Sheila. Kita sudah kalah total."

*****

Sementara itu, di dalam restoran privat bernuansa klasik Jepang di kawasan bintang lima Jakarta, suasana terasa teramat kontras. Wangi teh hijau premium yang hangat berbaur dengan aroma kayu gaharu yang menenangkan.

Vira Mahendra duduk dengan anggun di atas bantalan tatami, perlahan menuangkan teh hangat ke dalam cangkir keramik milik Adrian Atmadja yang duduk di hadapannya. Di samping Adrian, Elvano duduk dengan tenang, sibuk mewarnai gambar dinosaurus di buku gambarnya, sesekali mendongak untuk memberikan senyuman manis pada Vira.

"Tante Cantik, nanti kalau kita ke kebun binatang lagi, Elvano mau kasih makan jerapah sama Tante, boleh?" tanya anak laki-laki itu dengan mata bulatnya yang berbinar jernih.

Vira meletakkan teko tehnya, dan seketika itu juga, wajahnya yang biasanya sedingin es mencair sempurna menjadi kelembutan yang teramat tulus. Dia mengulurkan tangannya, mengusap rambut halus Elvano dengan penuh kasih sayang, sebuah naluri keibuan yang sempat direnggut paksa darinya, kini seolah menemukan wadahnya kembali pada anak ini.

"Tentu saja boleh, Elvano. Nanti Tante temani sampai Elvano puas, ya," jawab Vira lembut.

Adrian memperhatikan interaksi itu dengan seulas senyuman tipis yang sangat menawan di wajah tampannya. Kehadiran Vira di sisi anaknya memberikan sebuah kelengkapan jiwa yang selama bertahun-tahun ini hilang dari istana Atmadja yang dingin.

Setelah Elvano kembali fokus pada buku gambarnya, Adrian memajukan sedikit tubuhnya, menatap Vira dengan intensitas mata elang yang sarat akan perlindungan mutlak.

"Reno baru saja mengirimkan laporan padaku," ucap Adrian, suaranya yang bariton rendah terdengar begitu menenangkan di telinga Vira. "Sore ini, Narendra Group resmi dinyatakan pailit oleh pengadilan niaga. Seluruh sisa portofolio warisan orang tuamu telah berhasil ditarik kembali dan dialihkan ke dalam aset konsolidasi V-Tech."

Vira mengambil cangkir tehnya, menyesapnya perlahan sebelum menatap balik ke dalam manik mata Adrian. "Terima kasih, Tuan Adrian. Tanpa bantuan tim hukum dan pengaruh Atmadja Group yang memblokir semua celah banding mereka, proses ini tidak akan berjalan secepat ini."

"Aku sudah mengatakannya padamu, Vira," Adrian mengulurkan tangan kanannya di atas meja, menyelipkan telapak tangannya untuk menggenggam jemari lembut Vira yang bebas. Genggaman yang erat, hangat, dan penuh otoritas. "Apapun yang menjadi milikmu, akan kukembalikan ke tanganmu. Dan apa pun yang telah menyakitimu... akan kupastikan mereka membayar harganya hingga ke titik darah terakhir."

Adrian meremas pelan jemari Vira, membuat debaran halus kembali terbit di dada wanita itu. "Besok, rumah Menteng mereka akan dikosongkan secara paksa. Apakah kamu ingin datang dan melihat bagaimana tikus-tikus itu keluar dari sarang palsu mereka?"

Vira menatap genggaman tangan Adrian, lalu sebuah kilat dingin yang tajam kembali menghiasi sepasang manik mata indahnya. "Tentu saja, Tuan Adrian. Aku ingin berdiri di sana, memastikan bahwa saat mereka melangkah keluar dari pintu gerbang itu, mereka menyadari bahwa keadilan dari darah yang mereka tumpahkan tiga tahun lalu... telah datang menjemput."

1
Ariany Sudjana
hahaha kamu menyesal arka? itulah hukum tabur tuai, nikmati saja konsekuensinya. kain ini pilihan kamu dan pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ayo Vira, coba buka hati kamu, laki-laki seperti Adrian dan elvano yang akan menyembuhkan luka di hati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!