NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta CEO Galak

Dikejar Cinta CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rifani

Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. ( Tukang Pamer )

(Siapa Zein?)

Bisik-bisik mulai terdengar saat pemimpin meeting sibuk dengan pikirannya sendiri. Saat ini mereka sedang membahas agenda akhir tahun dimana perusahaan biasanya menyelenggarakan pesta olahraga untuk para karyawan. Sayangnya hampir satu jam mereka berada di sana masih belum ada keputusan final dari pemimpin perusahaan. Entah apa yang sebenarnya terjadi, semua orang saling bertanya lirih.

"Siapa Zein?"

Veroz menatap bosnya sebentar. Setelah itu dia menatap satu persatu orang yang ada di ruang meeting. "Tuan Zein, silahkan bicara."

Tak ada yang menyahut. Malah saling melihat siapa diantara mereka yang bernama Tuan Zein.

"Emm Tuan Veroz, diantara kami tidak ada yang namanya Zein," ucap salah satu orang kikuk.

Sejak masuk ke ruang meeting Andrea berdiri di belakang, tak berani menampakkan diri di depan Lucien. Kali ini dia cukup merasa takut, tapi bukan takut pada orangnya, melainkan takut kehilangan pekerjaan. Dan ketika Lucien menyebut nama Zein, dia hampir saja kelepasan bicara mengira kalau Zein yang dimaksud adalah teman yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri.

(Jangan berulah dulu, Andrea. Tahan. Siapa tahu Zein yang dimaksud adalah orang lain. Lucien bisa semakin murka nanti jika tahu kau ada di ruangan ini)

"Zein?" Lucien kembali bergumam menyebut nama seseorang yang mana membuat Veroz dan yang lainnya semakin bingung. "Kau siapa sebenarnya. Kenapa bisa sampai disebut olehnya?"

Cemburu. Ya, Lucien sedang merasa cemburu pada sosok laki-laki yang namanya sempat disebut oleh Andrea. Kecewa karena tak dibujuk, dia malah memecat Andrea dan ketika di ruang meeting pikirannya tak fokus pada pekerjaan, tapi terusik oleh satu nama, yaitu Zein.

"Di mana Andrea?"

"Aku di sini."

Tubuh Lucien menegang. Cepat dia menoleh ke sumber suara. "Apa yang kau lakukan di sana? Tugasmu itu mencatat hasil meeting, bukan malah bersembunyi seperti anak kucing yang dibuang. Dasar bo ....

Mulut Lucien seketika tertutup rapat begitu teringat dengan pendidikan yang Andrea beri karena tak sengaja memakinya. Merinding, tangannya bergerak pelan mengusap kaki. Amit-amit.

"Nona Andrea, silahkan duduk di samping Tuan Lucien. Dan ini," ucap Veroz penuh pengertian memberikan sebuah buku dan pena pada Nona Andrea. "Anda bisa mencatat hasil meeting di sini. Nanti saya akan menyerahkannya pada Tuan Lucien untuk dibahas secara berkala."

"Aku duduk di situ?" tanya Andrea ragu.

"Iya."

"Apa tidak apa-apa? Tadikan aku sudah dipecat."

"Ekhhmm!"

Secepat kilat Andrea berpindah duduk di samping Lucien. Orang ini masih marah, tak boleh mencari masalah dulu.

"Lanjutkan meetingnya!" titah Lucien semringah. Ekor matanya curi-curi pandang ke arah samping di mana Andrea mulai sibuk menulis catatan. "Bilang saja ingin dekat denganku. Begitu harus menunggu Veroz yang memerintah. Dasar tidak peka."

"Kau bicara apa barusan?" bisik Andrea. "Aku tidak dengar."

(Apa-apaan gadis ini. Apa maksudnya berbisik begitu dekat denganku? Tidak tahu apa di sini ada banyak orang?)

Walaupun tak ada kata yang terucap, dari ekspresi di wajah bosnya Veroz bisa menebak isi pikirannya. Pasti bosnya mengira kalau Nona Andrea sengaja menggodanya di depan para karyawan. Padahal, sangat jelas terlihat kalau tindakan Nona Andrea hanyalah sebuah profesionalitas kerja.

"Dasar tidak jelas,"

"Andrea, aku dengar ucapanmu ya."

"Kalau dengar kenapa tidak menjawab? Aku sungguh tidak tahu apa yang kau katakan barusan. Bisa ulangi tidak?"

"Bisa." Senyum licik muncul di bibir Lucien. "Tapi ada syaratnya."

"Kalau begitu tidak usah."

Seketika wajah Lucien berubah masam. Padahal, syarat yang dia minta sangatlah mudah. Kecup sekali. Dan bisa dipastikan syarat tersebut akan sangat menguntungkan Andrea.

"Tuan Lucien, apakah lomba lari bersama pasangan akan dimasukkan lagi ke dalam agenda tahunan kali ini?"

"Ya."

"Lalu lomba melempar kelereng?"

"Ya."

"Lomba di atas air?"

"Ya."

Hening. Kali ini semua mata tertuju pada Veroz. Ditatap sedemikian rupa Veroz hanya bisa menghela nafas. Tidak ikut makan nangka tapi dia yang kena getah. Bosnya yang patah hati sekarang Veroz yang harus menyelesaikan masalah. Entah ada apa lagi kali ini. Tadi semringah, tiba-tiba berubah jadi lesu dan tak bersemangat. Mood orang yang sedang jatuh cinta benar-benar sulit diprediksi.

"Semua daftar perlombaan tahun kemarin masukan lagi untuk agenda tahun ini. Dan untuk hadiahnya digandakan satu kali dari tahun lalu."

"Tuan Veroz, boleh usul tidak?" Andrea tiba-tiba menyela. Kalau soal memilih perlombaan yang menarik dan unik, dia adalah ahlinya.

"Silahkan, Nona."

"Bagaimana kalau kita adakan lomba khusus untuk pasangan dimana nanti pemenangnya akan mendapatkan tiket liburan. Lucukan?"

"Ide itu terlalu membosankan, Nona. Yang lain saja."

"Aku belum selesai bicara. Nanti pemenangnya ketika liburan diwajibkan untuk membuat video pendek tentang aktivitas mereka selama berada di sana. Nah di sini pemenangnya harus lebih dari satu kelompok. Video pendek siapa yang paling menarik itulah yang akan jadi pemenang sesungguhnya. Bagaimana? Menarik bukan?" ucap Andrea dengan bangga.

"Lalu hadiahnya?"

"Ummm kalau itu ....

Lucien yang hilang semangat, tak menyadari kalau kini semua orang tengah menatapnya. Tanpa tahu pasti rencana apa yang sedang dibahas, dari mulutnya keluar satu kalimat yang membuat semua orang bersorak kegirangan. Kecuali Veroz tentunya.

"Villa tepi pantai."

"Oyeyyyy!" teriak Andrea dengan gembira. Reflek, dia memegang lengan Lucien sambil tersenyum lepas. "Kau benar-benar bos yang royal. Hebat."

Ruangan yang tadinya sempat heboh kini berubah sunyi seperti kuburan saat Lucien tiba-tiba berdiri. Andrea yang tak menyangka respon Lucien akan seperti ini, seketika membeku di tempat.

"BUBAR!!!"

Tanpa babibu para karyawan lari kocar-kacir setelah sang tiran mengaum dengan begitu kerasnya. Sedangkan Lucien sendiri, dadanya nampak naik turun dengan cepat, tanda kalau emosinya sedang bergejolak. Itu menurut penglihatan Veroz dan Andrea. Akan tetapi ....

(Aku hanya bilang villa tepi pantai dan dia langsung memeluk lenganku? Astaga. Bagaimana jika aku menyebut tentang kastil di luar negeri? Apa dia akan langsung menerkam dan meniduriku?)

"Veroz!"

"Ya Tuan, saya di sini."

"Aku ini orang yang sangat kaya bukan?" tanya Lucien bengis. Seketika jiwa pamer meronta-ronta dalam tubuhnya. Jika dengan memamerkan kekayaan bisa membantu memuluskan rencana Andrea untuk merayunya, maka dengan senang hati dia akan menunjukkan aset-aset berharga. Lucien jadi tidak sabar akan seliar apa gadis itu nanti setelah mengetahui sekaya apa dirinya.

"Anda bukan hanya sangat kaya, tapi adalah yang terkaya di negara ini," jawab Veroz meyakinkan.

(Oh, sedang pamer ternyata. Pantas tiba-tiba membahas kekayaan)

"Tahu kastil milikku yang di luar negeri?"

"Tentu saja tahu."

"Berapa nilai kastil itu?"

Berusaha untuk tidak menunjukkan rasa geli, Veroz menyebutkan harga dari kastil pribadi milik bosnya. Setelah itu ia melirik ke arah Nona Andrea, yang mana hampir tak bisa menahan tawa melihat ekspresi kagetnya. Selucu itu, pantas jika bosnya mendadak jadi orang gila.

"Kau dengar itu, Andrea?"

"Dengar, iya dengar," jawab Andrea polos. "Tak disangka ternyata kau sekaya itu ya."

"Bagaimana? Apa sekarang sudah terpikir cara untuk ....

Andrea mengernyitkan dahi saat Lucien menjeda ucapannya. Cara untuk apa? Dia bertanya-tanya dalam hati.

"Ah sudahlah, hal seintim ini lebih baik kau pikirkan saat di rumah nanti," ucap Lucien berbunga-bunga. Mungkin alasan Andrea tak langsung menjawab adalah karena masih syok setelah mengetahui betapa kaya dirinya. "Veroz, kau aturkan meja kerja untuk Andrea di ruanganku. Dia butuh tempat yang steril dan tertutup."

Dia atau dirimu sendiri? Itu yang ada dipikiran Veroz saat mendengar perintah nyeleneh dari bosnya.

"Kenapa harus satu ruangan denganmu? Memangnya pekerjaan apa yang harus ku kerjakan?" tanya Andrea bingung.

"Jangan pura-pura tidak tahu, Andrea. Tapi kau tenang saja, apapun tujuanmu aku sudah merestui," jawab Lucien sambil tersenyum aneh. Mengabaikan kebingungan Andrea, dia melenggang keluar dari ruang meeting. "Ckck, dia pasti bangga sekali karena aku tidak menolak kehadirannya. Besok apa lagi ya yang mau aku pamerkan?"

***

1
Fadillah Ahmad
Covernya bagus... Menarik juga... 😂😂😂

Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂
Mak Rifani: Amiinnn m 🙏🙏
total 3 replies
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖
makkkk
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖ : ok mak😘
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!