NovelToon NovelToon
Kau Berkhianat, Aku Membalas!

Kau Berkhianat, Aku Membalas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.

Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.

Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.

Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 26.

Selama sebulan penuh, organisasi Moretti dan Kengsiton saling menyerang.

Hari itu langit mulai menggelap ketika iring-iringan kendaraan keluarga Romanov meninggalkan kawasan pelabuhan utara. Leon Romanov baru saja menyelesaikan pertemuan dengan beberapa pemimpin organisasi dari luar negeri. Kesepakatan baru mengenai jalur distribusi senjata dan logistik telah berhasil diamankan. Sebuah pencapaian yang tentu saja tidak diinginkan oleh banyak pihak.

Empat SUV antipeluru melaju dengan kecepatan stabil. Mobil Leon berada di depan, dan mobil Velicia berada di urutan kedua. Di dalamnya hanya ada Velicia, Lorenzo, dua pengawal kepercayaan Romanov, dan Vincenzo yang tertidur pulas di dalam kursi bayi khusus.

Velicia sesekali menatap putranya melalui kaca kecil di samping kursi bayi, bibirnya membentuk senyum tipis. Di dunia yang dipenuhi darah dan pengkhianatan, putranya menjadi satu-satunya alasan mengapa ia terus memilih bertahan.

"Terlalu sepi," ucap Lorenzo tiba-tiba.

Velicia mengalihkan pandangan dari putranya. "Maksudmu?"

"Jalan ini biasanya dipenuhi kendaraan pengangkut." Lorenzo menatap jalanan kosong di depan. "Kalau sampai kosong seperti ini... berarti seseorang sudah membersihkannya."

Seketika ekspresi Velicia berubah serius, Ia mengambil alat komunikasi kecil di telinganya.

"Antonio."

"Aku juga merasakan hal yang sama." Suara Antonio langsung terdengar.

Belum sempat percakapan berlanjut—

DUAAARRR!!

Ledakan besar mengguncang jalan. Mobil paling depan terangkat hampir satu meter sebelum menghantam aspal dengan keras, api langsung membumbung tinggi.

"Itu mobil Ayah!" seru Velicia.

"Jangan keluar!" bentak Lorenzo.

Belum selesai suara pria itu—

TRATATATATAT!!

Rentetan peluru menghujani seluruh konvoi, kaca anti peluru langsung dipenuhi retakan.

"Dari gedung sebelah kanan!"

"Sniper di atap!"

"Belakang juga diserang!"

Suara pengawal bercampur dengan dentuman senjata otomatis.

Lorenzo langsung menarik Velicia hingga tubuh wanita itu menunduk di balik kursi. "Tetap di bawah!"

"Lorenzo, Ayah masih di depan!"

"Aku tahu!"

Sopir membanting setir menghindari truk kontainer yang tiba-tiba melintang di tengah jalan, rem mobil berdecit keras. Dari balik kontainer, lebih dari tiga puluh pria bersenjata lengkap bermunculan.

Mereka mengenakan rompi hitam tanpa lambang, namun semua orang Romanov mengenali gaya bertarung mereka.

"Black Throne!"

Pengawal di kursi depan langsung membuka pintu. "Balas tembakan!"

DOR! DOR! DOR!

Perang meledak di tengah jalan raya, peluru beterbangan dari segala arah. Percikan api muncul setiap kali proyektil menghantam bodi kendaraan anti peluru.

Lorenzo membuka koper besi kecil di bawah kursinya. Di dalamnya tersimpan dua pistol, satu senapan pendek, serta beberapa magazen. Ia melempar satu pistol kepada Velicia.

Velicia menangkapnya tanpa ragu, tatapan wanita itu berubah dingin. "Sudah lama tidak memegang senjata."

"Jangan membuat mereka menyesal." Lorenzo tersenyum tipis.

Velicia memasukkan magazen.

Klik!

Suara penguncian peluru terdengar jelas, mata Velicia kini terlihat dingin seorang mafia.

Di sisi lain jalan, seorang pria berdiri di atas gedung dengan senapan runduk. Melalui teropongnya, Ia mengunci kepala Velicia.

"Tidak bergerak..."

"Bagus."

Jarinya mulai menekan pelatuk, lalu...

DOOR!!

Peluru sniper melesat ke arah Velicia.

"Awas! Velicia, arah jam dua belas!" Teriak Lorenzo, tapi terlambat. Pria itu langsung menerjang Velicia untuk melindungi wanita yang dicintainya itu.

Bukkk!!

Tubuh Lorenzo bergetar hebat, darah segar langsung menyembur dari dada kirinya.

"Lorenzo!" Velicia memeluk tubuh pria itu yang terjatuh menimpanya.

"Aku tidak apa-apa." Namun wajah Lorenzo mulai memucat, peluru itu menembus dadanya.

"Tetap berlindung."

"Luka ini..."

"Sudahlah, aku masih hidup."

Pria itu masih sempat tersenyum tipis, namun sebelum Velicia sempat berkata lagi—

BOOM!!

Granat meledak tidak jauh dari mobil, gelombang kejut membuat kendaraan berguncang hebat.

"Asap!"

Puluhan bom asap dilempar bersamaan, jarak pandang berubah menjadi hampir nol.

Antonio yang baru berhasil keluar dari mobil depan langsung berteriak melalui radio. "Mereka mau menculik Velicia!"

"Tim tiga lindungi bayi!"

"Tim empat ikut denganku!"

Pertempuran berubah semakin brutal. Dari balik asap, pria-pria Black Throne menyerbu sambil membawa senapan otomatis. Mereka tidak lagi sekadar menyerang. Target mereka jelas, Velicia Romanov.

Velicia membantu Lorenzo duduk bersandar, darah terus mengalir membasahi jas hitam pria itu.

"Kau kehilangan banyak darah."

"Aku masih bisa menembak."

"Lorenzo!"

Pria itu memandang Velicia beberapa detik. "Veli, aku sudah berjanji pada ayahmu. Selama aku masih bernapas, tidak akan ada peluru yang menyentuhmu."

Ucapan pria itu membuat dada Velicia bergetar. Sudah sangat lama, tidak ada seseorang yang melindunginya tanpa meminta imbalan apa pun. Namun saat itu bukan waktunya larut dalam emosi, Velicia segera mengangkat pistolnya. Begitu seorang penyerang muncul dari balik asap—

DOR!

Peluru tepat menembus dahinya, tubuh pria itu langsung roboh. Pengawal Romanov yang melihatnya sempat tertegun. Selama ini mereka tahu Velicia mampu menggunakan senjata, namun tak seorang pun menyangka kemampuan menembaknya setajam itu.

Dalam hitungan detik, dua penyerang lagi tumbang.

Di atas gedung, Sniper Black Throne kembali membidik. "Kali ini tidak akan meleset."

Ia mengarahkan laras tepat ke arah kepala Velicia. Namun, seseorang lebih dulu muncul di belakangnya.

"Lama sekali mencari posisimu, Bajingan!!!"

Suara dingin itu membuat si sniper membeku. Ia baru menoleh—

SRET!

Pisau Antonio Romanov sudah lebih dulu menggorok lehernya. Tubuh pria itu roboh tanpa sempat berteriak, Antonio mengambil radio milik korban.

"Sniper bersih, habisi sisanya."

Pertempuran berlangsung hampir dua puluh menit. Akhirnya, sirene pasukan khusus Romanov terdengar dari kejauhan.

Black Throne mulai mundur, mereka meledakkan dua kendaraan sebagai penghalang sebelum melarikan diri ke gang-gang sempit. Jalan raya berubah menjadi lautan api, puluhan mayat bergelimpangan. Mobil-mobil hangus, dan bau mesiu memenuhi udara.

Velicia tidak memedulikan semua itu, Ia berlutut di samping Lorenzo.

"Lorenzo..."

Pria itu masih sadar, namun napasnya mulai berat.

"Hei..."

"Aku baik-baik saja."

"Jangan bicara." Velicia menekan luka tembaknya menggunakan kedua tangan. Namun, darah tetap mengalir di sela-sela jemarinya.

Wajah wanita itu kehilangan ketenangannya. "Dokter! Tolong dia!"

Suara Velicia menggema di tengah jalan yang dipenuhi mayat. Antonio datang menghampiri, tatapannya langsung berubah ketika melihat kondisi Lorenzo.

"Helikopter medis sudah datang."

"Kau tidak boleh mati." Velicia menggenggam tangan Lorenzo.

Lorenzo menatap wajah wanita itu dengan mata yang mulai berat, sudut bibirnya masih sempat terangkat membentuk senyum kecil.

"Kalau kau... mulai mengkhawatirkan ku... berarti peluru ini... tidak sia-sia." Kelopak matanya perlahan tertutup.

"Lorenzo!" Velicia memanggil namanya untuk pertama kalinya dengan nada yang dipenuhi kepanikan.

Di kejauhan, suara baling-baling helikopter mulai terdengar semakin jelas. Namun di balik gedung yang terbakar, sepasang mata sedang mengawasi semuanya melalui teropong.

Joseph Bonanno menurunkan teropongnya perlahan, ia tersenyum dingin. "Lorenzo Sullivan... ternyata kau rela mempertaruhkan nyawamu demi seorang wanita. Itu sangat bagus, berarti akhirnya... kau memiliki kelemahan."

1
ρυтяσ kang'typo✨
semoga Lorenzo bisa selamat
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Lorenzo sudah mulai sadar
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
ρυтяσ kang'typo✨
wow keren thor... makin seru aja, semangat terus yaaaaaa
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
ρυтяσ kang'typo✨
(perasaan itu masih bisa tumbuh kembali pada orang lain)

apa g nyesek tuh Michael 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rere🌠: Nyesssss 🤣🤣🤣
total 1 replies
ρυтяσ kang'typo✨
Lorenzo... u. harus lebih percaya diri lagi dan jangan pernah menyerah untuk mendapatkan Velicia
ρυтяσ kang'typo✨
ok trimakasih ka....terus semangat yaaaa
Ariany Sudjana
Sania kenapa kamu harus marah sama velicia? velicia itu putri konglomerat, dan kelasnya jauh di atas kamu, yang hanya pelacur murahan 🤣🤣😂😂 dan tempat yang pantas buat kamu ya di tempat sampah 🤣🤣😂😂
Rere🌠: Udah bener di tempat sampah, skrg malah mau gaul sm kubangan darah. ampun dah ah🤣
total 1 replies
MataPanda?_
semangat trus kak lanjut terus 😅💪
gina altira
Sania ga ada kapoknya
Rere🌠: Mau jadi ratu kyk Velicia, ngimpi kali ah😬😬😬
total 1 replies
gina altira
lanjutt
gina altira
Michael bodoh
gina altira
Michael terlalu percaya diri
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Diana Dwiari
pemain catur yang sangat handal....
ρυтяσ kang'typo✨
Sania mau main" sama Velicia🤣🤣🤣salah pilih lawan oooyyy
ρυтяσ kang'typo✨
hayo loh.... siapa kah yang menyerang di balik kekacauan yang sedang terjadi saat ini🤔🤔🤔
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!