NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

jari yang berdarah

Subuh. Aku ketiduran di meja, kepala nempel keyboard. File kontrak masih kebuka, progress 73 persen.

Klek. Pintu aula utama kebuka lebar lampu kristal dinyalain semua terang banget sampai mataku perih.

“Berlutut.”

Suara Axel Dingin. Ga ada Aira, Cuma perintah.

Aku mendongak Seluruh bodyguard berbaris di kiri-kanan aula 12 orang. Wajah datar Mata kosong Tapi mereka denger semua.

Di tengah aula, Axel duduk di sofa kulit hitam Jasnya rapi di meja depan dia laptopku. File kontrak 200 halaman kebuka di halaman 147.

“Kenapa berhenti ngetik?” tanyanya pelan Terlalu pelan Itu yang bikin ngeri.

Aku berdiri, kaki gemetar. “Tangan saya, Tuan. Saya_”

“Alasan,” potongnya. Dia lempar laptop ke lantai.

BUM.

Layar retak. “Kontrak ini nyawa ayahku. Dan kau berani berhenti di tengah jalan?”

Aku kaget byawa ayahnya? Aku ga ngerti maksudnya tapi aku tau sekarang bukan waktu buat nanya.

Axel berdiri, jalan ke arahku. Setiap langkahnya bikin bodyguard nunduk Tekanannya gila.

Dia berhenti 1 meter di depanku lalu angkat daguku pakai 2 jari dengan Keras. “Kau tau apa hukuman buat aset yang rusak karena kelalaiannya sendiri?”

Aku ga jawab bibirku getar.

“Kesalahan fatal,” bisiknya ke telingaku Napasnya dingin. “Kau pilih balik ke mansion. Kau pilih tetap di sini. Sekarang kau harus bayar harga karena ga sanggup pegang pilihanmu sendiri.”

Dia nengok ke bodyguard. “Semuanya keluar Kecuali Pak Bara.”

Sekali perintah, 11 bodyguard keluar pintu ditutup. Tinggal aku, Axel, Pak Bara di pojok nunduk.

Axel muterin aku sekali matanya ngelus aku dari atas ke bawah. Lama. dan nggak nyaman. Kayak barang yang lagi dinilai.

Lalu dia ngomong ke Pak Bara, tapi keras sengaja biar aku denger. “Lihat. Tubuhnya... proporsinya bagus. Pantes jadi pajangan di mansion ini. Sayang kalau cuma disuruh ngetik.”

Pak Bara ga jawab mukanya pucat.

Aku langsung paham itu penghinaan. Itu cara Axel ngerendahin aku di depan orang. Dia mau aku hancur harga dirinya dulu, sebelum fisikku.

“Seharusnya kau mati karena kesalahan keluargamu,” desis Axel pas lewat di belakangku suaranya cuma buat aku. “Tapi aku terlalu murah hati. Jadi aku kasih kau pilihan mati pelan-pelan di tanganku... atau mati lebih cepat di tanganmu sendiri.”

Dadaku sesak. Jadi bener Dia emang mau aku hancur. Dia mancing aku balik dari taman kemarin karena dia tau.

Axel narik kerah bajuku, nyeret aku 2 langkah ke depan bodyguard yang udah keluar tapi pintunya masih kebuka dikit. Cukup biar bayangan mereka keliatan.

“Lihat,” katanya ke arah pintu. “Ini contoh aset yang ga becus. Tubuh bagus, tapi otaknya kosong. Ga pantes dipakai kerja.”

Aku merem, nahan air mata. Penghinaan itu lebih sakit dari genggaman tangannya semalam. Dia ngomongin tubuhku di depan orang, dengan nada kotor. Dia mau aku malu sampai mati.

“Besok kau ulang ngetik dari halaman 1,” katanya sambil ngelepas kerahku kasar. Aku jatuh duduk di lantai marmer. “Pakai tangan yang memar itu. Sampai kau sadar.”

Axel pergi. Pak Bara lari ngambilin aku selimut, nutupin bahuku yang gemetar.

Tapi telingaku masih kebayang "mati di tanganmu sendiri”.

Axel ga mau ngotorin tangannya. Dia mau aku yang nyerah. Dia mau tanpa dia yang ngebunuh langsung.

Dan aku... untuk pertama kali sejak masuk mansion, aku ngerasain benci yang murni. Bukan benci karena disiksa. Tapi benci karena dia nginjak harga diriku di depan semua orang.

Benih balas dendam di dadaku... mulai kebakar.

Lantai marmer dingin nusuk ke tulang ekor. Aku duduk di situ, selimut dari Pak Bara cuma nutup bahu. Tapi dingin di dadaku lebih parah dari dingin di lantai.

“Berdiri,” perintah Axel dari jauh. Dia udah balik duduk di sofa, tapi matanya ga lepas dari aku sedetik pun. “Jangan bikin aku ngulang kata dua kali.”

Kakiku gemetar pas nyoba berdiri. Memar di pergelangan tangan kiri nyut-nyutan tiap aku topang badan. Aku jatuh lagi Lututku kebentur marmer Sakitnya nembak sampai pinggang.

Bodyguard di luar pintu masih kebuka dikit. Bayangan mereka panjang di lantai. Aku tau mereka denger semua mereka tau aku dipermalu kan Itu yang Axel mau.

“Ga bisa berdiri?” Axel bangun lagi kali ini dia jalan pelan. Tiap langkahnya kayak palu yang ngehantam lantai. “Aset yang ga bisa berdiri itu... beban.”

Dia berhenti tepat di depanku. Bayangannya nutupin aku semua lalu dia jongkok 1 meter 50cm. Wajahnya sejajar sama wajahku yang masih nunduk.

Pakai 2 jari lagi, dia angkat daguku. Kali ini lebih lama jempolnya neken di tulang rahangku sampai aku harus buka mulut.

“Mata,” bisiknya. “Lihat aku pas aku ngomong.”

Aku nurut air mata udah di pelupuk, tapi aku tahan aku ga mau dia liat aku nangis di depan bodyguard.

Yang aku liat mata Axel. Hitam. Kosong. Tapi di dasarnya ada api, api dendam yang udah kebakar belasan tahun.

“Kau tau kenapa aku ga langsung bunuh kau malam itu?” tanyanya pelan cuma aku yang denger. “Karena mati cepat itu hadiah. Aku ga suka ngasih hadiah.”

Aku ngerut. “ Tuan? Mama Papa saya... mereka udah meninggal waktu saya kecil,dan kali ini kau juga akan membunuh ku.”

Axel senyum. Senyum tanpa hangat. “Iya. Mereka meninggal. Kecelakaan. Katanya.” Kata katanya dia tekan. “Tapi sebelum kecelakaan itu... mereka ngambil sesuatu dari aku. Sesuatu yang ga bisa diganti sama uang.”

Aku diem. Otakku ga nyampe Aku anak panti. Aku ga tau apa-apa soal masa lalu Mama Papa selain mereka kerja di perusahaan kecil, lalu kecelakaan mobil dan aku dititipkan di panti.

Axel lepas daguku dia berdiri. Dia jalan ke laptop yang layarnya retak, nginjak pecahan kaca pelan. Krek. Krek. Suaranya bikin aku merinding.

“Kau ulang dari halaman 1,” katanya tanpa nengok. “Mulai sekarang. Sampai subuh. Kalau 1 menit aja kau berhenti, rantai ini,” dia angkat rantai besi tipis dari meja, “akan aku pasang di pergelangan kakimu juga. Biar kau ingat kaki yang lari ke taman kemarin... harus dihukum.”

Aku kaget jadi ujian bebas 1 jam kemarin emang jebakan dari awal. Dia udah siapin rantai. Dia tau aku bakal balik.

“Kenapa Tuan benci saya?” suaraku pecah. Ini pertama kali aku nanya langsung. “Saya cuma anak panti, Tuan. Saya ga ngerti urusan Tuan kalau soal barang bukti aku bisa hapus dan hancurkan. ”

Axel berhenti. Punggungnya kaku 5 detik dia diem. Lalu dia nengok setengah, profilnya tajam di bawah lampu kristal.

“Karena kau mirip dia,” gumamnya Pelan banget sampai aku hampir ga denger. “Senyumnya. Caranya nunduk pas takut. Sama persis.”

Dia ga jelasin dia siapa. Tapi nada suaranya... ada luka di situ. Luka lama yang dia tutup pakai kekerasan.

Lalu dia balik badan sempurna. “Mulai ngetik. Pak Bara awasin.”

Pak Bara langsung naruh laptop ganti di meja kecil depan aku. Laptop baru, tapi keyboardnya keras. Tiap pencet, memar di tangan kiriku protes.

Tik. Tik. Tik.

Halaman 1. “Perjanjian Kerja Sama...” Aku ngetik pake 1 tangan kanan dan 2 jari kiri yang paling ga sakit.

Jam 3 pagi, mataku udah ga fokus. Huruf di layar jadi dobel. Tapi aku ga berani berhenti. Bayangan rantai di tangan Axel masih kebayang.

Jam 4.12 aku salah ketik. “Hapuss”. Backspace Tapi jari kiriku kram Aku. “ssst” pelan.

Axel yang duduk di sofa langsung berdiri. Dia jalan ke aku, nginjak pecahan kaca lagi. Kali ini lebih deket.

Dia liat tanganku yang udah merah semua. Ujung jarinya lecet-lecet karena neken tombol terus.

Dia diem 3 detik. Lalu tanpa ngomong, dia narik tanganku, bawa ke wastafel kecil di pojok aula. Buka keran. Air dingin.

Aku kaget. “Tuan_”

“Diem,” potongnya. Dia siram tanganku sendiri. Air dingin bikin aku nahan napas tapi dia ga lepas Jempolnya ngusap punggung tanganku, mastiin semua lecet kena air.

“Ini bukan kasihan,” desisnya pas air masih ngalir. “Ini biar kau ga mati sebelum kontrak selesai. Aku bilang kau harus mati di tanganmu sendiri. Bukan mati karena infeksi bodoh.”

Aku natap wajahnya dari bawah Basah dan aura Marah. Tapi tangannya hati-hati banget pas megang tanganku yang luka.

Kontradiksi. Selalu kontradiksi. Dia hina aku di depan orang, tapi dia juga yang siramin tangan aku jam 4 pagi.

Axel nutup keran. Ngelap tanganku pake handuk kasar. lalu orong pelan tubuhku. “Lanjut.”

Dia balik ke sofa Tapi sejak itu, tiap 10 menit dia ngelirik ke arah aku. Diam-diam Kayak ngecek aku masih ngetik apa udah pingsan.

Halaman 89. Progress 44 persen.

Aku nyender ke meja, kepala berat Sebelum merem, aku denger Axel bisik ke Pak Bara “Kalau dia pingsan, bangunin. Jangan kasih dia tidur enak.”

Pak Bara jawab pelan “Tuan... dia cuma anak 20 tahun. Dia ga tau apa-apa tentang Tuan Besar.”

Axel ga jawab tapi rahangnya ngeras lagi.

Aku merem. Di sela sadar, aku mikir Jadi bener. Dia nyiksa aku bukan karena aku salah.

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!