Rizky Adhitya adalah seorang penulis novel miskin yang hidupnya penuh kegagalan karena karyanya selalu ditolak. Namun, takdir berubah saat ia terbangun di dalam tubuh seorang Antagonis kaya raya dengan nama yang sama di dunia novel buatannya sendiri. Alih-alih mengikuti alur asli yang menakdirkannya mati mengenaskan di tangan sang protagonis, Rama Wijaya, Rizky memilih untuk menikmati kehidupan mewahnya dengan santai.
Berbekal "System Menghamburkan Uang" dan Kartu Hitam Tanpa Batas, Rizky yang kini berkepribadian periang mulai melakukan aksi gila. Ia membeli perusahaan penerbitan hanya untuk mencetak novel-novel lamanya yang dulu ditolak, hingga menggunakan artefak legendaris seharga triliunan hanya sebagai pengganjal pintu kantor asistennya, Rafa Ariyanto.
Aksi "trolling" finansial ini menghancurkan reputasi Rama, sang hero munafik yang kehilangan semua panggungnya. Sementara itu, tunangannya, Aprillia Rahma, yang semula sangat membencinya, mulai jatuh hati pada sosok Rizky yang baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futami Rizuryu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebimbangan Aprillia Rahma yang Memuncak
Langit di atas taman hiburan Dunia Megah telah sepenuhnya beralih menjadi kanvas hitam yang dihiasi ribuan lampu neon warna-warni. Aroma manis berondong jagung dan suara mesin wahana yang berderit pelan menciptakan suasana yang surealis, mengingat tempat seluas puluhan hektar ini kini hanya dihuni oleh segelintir orang elit. Di tengah kesunyian yang mewah itu, Rizky Adhitya berjalan dengan langkah santai, tangannya dimasukkan ke saku celana kain seharga puluhan juta, sementara wajahnya memancarkan ekspresi yang sangat periang.
Di belakangnya, Rafa Ariyanto tampak seperti pria yang baru saja memikul beban seluruh dunia di pundaknya. Ia membawa dua koper perak yang tampak berat, sesekali menyeka keringat dingin di dahinya meski udara malam cukup sejuk. Sementara itu, Aprillia Rahma berjalan di samping Rizky, matanya tidak lagi menatap wahana-wahana megah di sekelilingnya, melainkan terpatri pada sosok tunangannya yang kini terasa seperti orang asing yang sangat memikat.
"Rafa, berhenti sebentar!" seru Rizky tiba-tiba. Suaranya bergema di lorong yang biasanya penuh dengan teriakan pengunjung.
Rafa tersentak, hampir menjatuhkan koper di tangannya. "I-iya, Tuan Muda? Apakah ada wahana yang ingin Anda beli lagi?"
"Bukan wahana, Rafa. Lihatlah mereka," Rizky menunjuk ke arah barisan staf taman hiburan—mulai dari operator wahana hingga petugas kebersihan—yang berdiri membeku di sepanjang jalan, masih tidak percaya bahwa mereka baru saja mendapatkan 'bonus mendadak' hanya karena bekerja lembur melayani satu orang.
Rizky membuka salah satu koper perak itu, memperlihatkan tumpukan uang tunai yang masih terikat rapi. Dengan gerakan yang sangat santai, ia mulai membagikan gepokan uang tersebut kepada setiap staf yang ia lewati.
"Ini untukmu karena sudah menjaga komidi putar tetap berputar indah," kata Rizky sambil memberikan segepok uang kepada seorang operator muda yang gemetar. "Dan ini untukmu karena memastikan lampu-lampu di sini tidak ada yang padam."
April menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Ia melihat bagaimana Rizky memperlakukan para pekerja itu dengan sangat dermawan, bukan dengan cara yang merendahkan, melainkan dengan tawa humoris yang seolah-olah ia hanyalah seorang teman yang sedang berbagi rejeki. Rizky yang dulu dikenal dingin, kejam, dan jahat tidak akan pernah melakukan ini; ia akan menganggap para pekerja ini hanya sebagai alat yang bisa dibuang.
Namun, langkah Rizky tiba-tiba melambat saat ia mendekati area toilet umum. Di sana, seorang petugas kebersihan yang mengenakan seragam kebesaran dan hidung badut merah sedang merangkak dengan sikat gigi di tangannya . Itu adalah Rama Wijaya, sang pahlawan asli yang kini terjebak dalam skrip yang ditulis ulang oleh Rizky.
Rizky berhenti tepat di depan Rama. Ia menatap Rama selama beberapa detik dengan tatapan yang sulit dibaca—sebuah tatapan dari seorang mantan penulis gagal yang sedang menonton bab kehancuran karakternya sendiri. Rama tetap menunduk, tangannya yang memegang sikat gigi emas gemetar hebat karena rasa malu dan amarah yang meluap.
Rizky kemudian beralih ke petugas kebersihan lain yang berdiri beberapa meter di samping Rama. "Halo, Bapak. Sudah berapa lama bekerja di sini?" tanya Rizky ramah.
"S-sudah sepuluh tahun, Tuan Muda," jawab petugas itu dengan suara bergetar.
"Luar biasa. Ini untukmu, belilah rumah yang lebih layak untuk keluargamu," Rizky menyerahkan dua koper sisa di tangan Rafa—yang berisi miliaran rupiah—kepada petugas tersebut, sementara ia sama sekali tidak melirik Rama yang berada di dekat kakinya.
Rizky melewati Rama begitu saja tanpa memberikan satu sen pun, seolah-olah sosok pahlawan itu tidak lebih dari sekadar debu di lantai marmer taman hiburan tersebut.
[Ding! Evolusi Karakter Heroine Terdeteksi!] [Status Aprillia Rahma: Bingung\, Terpesona\, dan Merasa Terabaikan.] [Hadiah: Peningkatan Skill 'Pesona Sultan' ke Level 3!]
April berdiri terpaku, menyaksikan bagaimana Rizky benar-benar mengabaikan Rama. Dahulu, jika Rama ada di dekat mereka, Rizky akan langsung mengamuk, menuduh April berselingkuh, atau melakukan kekerasan fisik untuk menunjukkan dominasinya. Namun sekarang, Rizky seolah-olah menganggap Rama tidak ada.
April merasakan gejolak konflik internal yang sangat hebat. Di satu sisi, ia merasa lega karena terlepas dari obsesi gelap Rizky yang dulu menyesakkan. Namun di sisi lain, kebebasan ini justru membuatnya merasa "terabaikan". Rizky tidak lagi menatapnya dengan penuh nafsu atau tuntutan; Rizky justru tampak sangat sibuk menikmati kehidupan mewahnya dan melakukan kegilaan finansial yang tidak melibatkan April sama sekali.
Kenapa dia tidak menatapku lagi seperti dulu? batin April dengan rasa benci pada dirinya sendiri karena menanyakan hal itu. Ia merasa sangat terpesona melihat bagaimana Rizky mengelola dunianya sekarang. Rizky yang baru ini sangat bebas, tidak terikat oleh ekspektasi ayahnya, Rizal Adhitya, atau ketakutan akan kehilangan citra.
"Rizky..." April memanggil dengan suara lirih.
Rizky menoleh, senyum periang menghiasi wajahnya. "Iya, April? Apakah kamu bosan menontonku membagikan uang? Maaf, terkadang aku lupa bahwa tidak semua orang suka melihat uang keluar dari koper."
"Bukan itu," April melangkah mendekat, aroma parfum kayu cendana mahal milik Rizky memenuhi indranya. "Kenapa kamu tidak lagi... memaksaku untuk bersamamu? Kamu bahkan menawarkan pembatalan pertunangan tempo hari. Apakah aku benar-benar sudah tidak berarti bagimu?"
Rizky berhenti melangkah. Ia menatap April dengan pandangan yang dalam namun tenang—pandangan seorang pria yang telah "membeli takdirnya sendiri". "April, sebagai mantan penulis—maksudku, sebagai orang yang baru memahami arti hidup—aku menyadari bahwa cinta yang dipaksakan hanyalah draf novel yang buruk. Aku ingin menulis cerita di mana aku bahagia, dan kamu bebas. Bukankah itu yang kamu inginkan selama ini?".
April terdiam. Jawaban itu begitu dewasa dan tulus, sangat kontras dengan kemunafikan Rama Wijaya yang selama ini ia agungkan sebagai pahlawan. Ia mulai menyadari bahwa Rama Wijaya hanya menawarkan janji, sementara Rizky memberikan bukti nyata dengan cara yang paling tidak terduga.
Mereka sampai di depan wahana bianglala raksasa yang lampunya berkelap-kelip membentuk berbagai pola geometris yang indah. Rizky menatap wahana itu dengan mata berbinar-binar.
"Wah, lihat itu, April! Lampunya sangat lucu, bukan? Ada warna merah, biru, dan... eh, itu ada lampu yang berkedip seperti wajah jerapah Jojo!" Rizky tertawa lepas, sebuah tawa yang sangat jujur yang membuat pertahanan hati April runtuh perlahan.
"Lucu?" April tersenyum kecil tanpa sadar. "Hanya kamu yang menyebut bianglala raksasa seharga ratusan miliar sebagai 'lucu'."
"Memang lucu!" Rizky menoleh pada Rafa yang sudah siap dengan tabletnya. "Rafa! Hubungi pengelola Dunia Megah sekarang juga. Aku ingin membeli bianglala ini. Bukan seluruh taman hiburan, tapi khusus bianglala ini saja."
Rafa memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. "Tuan Muda... Anda tidak bisa hanya membeli satu wahana di tengah taman hiburan milik orang lain tanpa membeli tanahnya..."
"Gunakan Kartu Hitam-ku, Rafa! Bayar mereka seribu kali lipat dari harga wahana ini jika perlu. Katakan pada mereka aku ingin akta kepemilikan bianglala ini dipindahkan atas nama Aprillia Rahma sekarang juga!".
April terbelalak. "Rizky! Apa yang kamu lakukan? Aku tidak butuh bianglala!"
"Anggap saja ini 'hadiah pertemanan', April," kata Rizky sambil menyandarkan tubuhnya dengan santai di pagar pembatas wahana tersebut. "Kamu bilang hidupmu selama ini membosankan dan kaku. Nah, setiap kali kamu merasa sedih, datanglah ke sini, naiklah ke bianglala milikmu ini, dan lihatlah dunia dari atas. Dari sana, masalah-masalah kecil seperti pertunangan atau bisnis keluarga akan terlihat sangat kecil... sekecil badat yang sedang menyikat lantai di sana.".
Rizky menyerahkan secarik kertas simbolis yang baru saja dicetak Rafa dari tabletnya. "Ini milikmu sekarang, April. Karena menurutku lampunya lucu, dan aku ingin kamu memiliki sesuatu yang lucu dalam hidupmu yang terlalu serius."
April memegang kertas itu dengan tangan gemetar. Ia menatap Rizky, lalu menatap bianglala raksasa yang kini menjadi miliknya. Ia merasa sangat bingung dan bimbang. Di satu sisi, tindakan ini sangat gila dan tidak masuk akal secara finansial. Namun di sisi lain, ini adalah hadiah paling jujur yang pernah ia terima. Rizky tidak membelinya untuk mengikat April; ia membelinya hanya karena ia pikir itu akan membuat April tersenyum.
"Kamu... kamu benar-benar pria yang sangat aneh, Rizky Adhitya," bisik April, namun kali ini ia tidak bisa menyembunyikan binar kagum di matanya.
Rizky hanya tertawa periang, merasa sangat puas karena misinya menghamburkan uang berjalan sempurna. Sebagai mantan penulis gagal, ia tahu bahwa bab ini baru saja berakhir dengan sebuah plot twist yang manis: pahlawan asli sedang menyikat toilet, asisten sedang stres berat, dan sang heroine kini mulai benar-benar jatuh ke dalam jeratan 'Pesona Sultan' yang ia bangun dengan triliunan rupiah.
"Rafa! Pesan helikopter!" seru Rizky sambil berjalan menuju pintu keluar. "Aku ingin kita melihat bianglala milik April ini dari udara. Pastikan pilotnya tidak mengantuk karena aku ingin kita terbang setinggi harapan Rama yang baru saja kuhancurkan!"
Rafa hanya bisa menghela napas panjang, menutup koper kosongnya, dan mengikuti langkah bos sultannya menuju kegilaan berikutnya.