NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Setelah menyelesaikan sesi lari pagi yang cukup melelahkan namun menyegarkan, Elio dan Alena melangkah santai menuju sebuah minimarket kecil yang terletak tidak jauh dari taman tempat mereka berolahraga. Udara pagi yang masih sejuk berpadu dengan cahaya matahari yang mulai menyebar lembut, menciptakan suasana yang sangat nyaman. Keringat yang membasahi dahi dan leher mereka terasa menyegarkan, dan keduanya sepakat untuk beristirahat sejenak sambil meminum minuman dingin sebelum melanjutkan perjalanan pulang.

Mereka memilih meja di sudut ruangan yang agak sepi, jauh dari keramaian pengunjung lain. Elio memesan dua gelas es teh manis dan sebungkus keripik singkong, lalu meletakkannya di atas meja dengan senyum santai. Ia mengusap pelan keringat di dahi Alena dengan ujung sapu tangannya, gerakan yang sudah terasa begitu alami dan akrab.

“Minumlah dulu, biar tidak dehidrasi. Hari ini agak terik meskipun masih pagi,” kata Elio lembut.

Alena tersenyum menerima gelas itu, lalu menyesapnya perlahan. “Terima kasih. Rasanya sangat segar sekali. Tadi lari cukup jauh ya, sampai kakiku terasa agak lemas.”

“Kalau lelah, nanti di mobil bisa istirahat saja. Atau… kita bisa berjalan-jalan sebentar kalau kamu tidak keberatan,” jawab Elio sambil menatap wajah gadis itu dengan pandangan lembut.

Namun, percakapan mereka terhenti seketika ketika suara langkah kaki yang riuh terdengar mendekat. Dari arah pintu masuk minimarket, muncul sekelompok pemuda yang terlihat akrab dengan Elio. Salah satu di antaranya adalah Bima, sahabat karib Elio sekaligus teman sekelas mereka sejak hari pertama masuk SMA. Bima adalah tipe orang yang ceria, periang, tapi juga sangat suka bercanda dan menjahili orang lain tanpa mengenal batas.

Begitu melihat Elio dan Alena duduk berdampingan, mata Bima langsung berbinar seolah menemukan bahan obrolan yang sangat menarik. Ia segera melambaikan tangan dan berjalan mendekat dengan langkah santai namun penuh rasa ingin tahu.

“Wah, lihat siapa yang ada di sini! Bukankah ini dua orang yang dulunya musuh bebuyutan di sekolah?” seru Bima dengan suara cukup keras, menarik perhatian beberapa pengunjung di sekitar.

Elio menghela napas panjang, sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan sahabatnya itu. “Bima, bisakah bicara dengan nada lebih pelan? Jangan bikin keributan.”

Bima tidak menghiraukan teguran itu. Ia malah menarik kursi dan duduk tepat di hadapan mereka, menatap bergantian wajah Elio dan Alena dengan pandangan menyelidik dan penuh godaan. Di belakangnya, dua orang temannya hanya berdiri sambil tersenyum geli menunggu kelanjutan cerita.

“Mana bisa diam saja kalau melihat pemandangan seunik ini,” kata Bima sambil menyandarkan siku di atas meja. “Masih ingat tidak, Elio? Saat pertama kali masuk sekolah, kalian berdua bertengkar hebat hanya karena memperebutkan tempat duduk, lalu saling ejek selama berbulan-bulan. Bahkan ada yang bilang kalau kalian itu tidak akan pernah bisa akur selamanya. Tapi lihat sekarang… duduk berdampingan, bertatapan lembut, dan terlihat sangat akrab. Apa yang sebenarnya terjadi di balik layar ini?”

Alena hanya tersenyum canggung, tidak tahu harus menjawab apa. Ia memang mengakui bahwa hubungan mereka dulu sangat buruk, tapi sekarang semuanya sudah berubah total. Namun, Bima terus saja melancarkan serangan godaannya, membuat suasana menjadi semakin lucu namun sedikit mengganggu.

“Alena, kamu harus cerita dong. Apa yang membuatmu berubah pikiran terhadap Elio? Dulu kamu selalu mengeluh kalau dia sombong, keras kepala, dan suka menyusahkan orang lain. Sekarang malah terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta,” lanjut Bima sambil melirik ke arah Elio dengan senyum miring.

Sebelum Alena sempat menjawab, Bima sudah melanjutkan ucapannya lagi. “Dan kamu juga, Elio! Dulu kamu selalu bilang kalau tidak akan pernah mau berdekatan dengan Alena, menganggap dia gadis yang keras kepala dan banyak tingkah. Sekarang malah membawanya lari pagi dan membelikan minuman. Wah, sepertinya ada rahasia besar yang disembunyikan dari kami semua ya?”

Setiap kali Bima berbicara, ia selalu menyelipkan kata-kata yang membuat Alena merasa salah tingkah. Kadang ia menyebutkan kejadian-kejadian konyol saat mereka masih bermusuhan, kadang juga bertanya hal-hal yang terlalu pribadi. Meskipun nada bicaranya hanya bercanda, lama-kelamaan hal itu mulai membuat Elio merasa sedikit jengkel. Ia tahu Bima tidak bermaksud jahat, tapi menjahili Alena secara terus-menerus mulai terasa melampaui batas.

“Sudah cukup, Bima. Jangan terlalu banyak bertanya. Urusan kami tidak perlu dibahas berulang kali,” kata Elio dengan nada yang sedikit lebih tegas, tanda bahwa kesabarannya mulai menipis.

Namun, Bima justru semakin terhibur melihat reaksi Elio. Ia malah mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Alena dan berbisik dengan suara yang cukup keras agar bisa didengar oleh Elio juga. “Alena, hati-hati ya sama dia. Kalau dia berbuat salah atau mulai bersikap sombong lagi, bilang saja padaku. Aku siap membantumu melawannya, seperti dulu saat kita satu tim dalam pelajaran olahraga. Aku tahu benar sifat aslinya.”

Mendengar itu, Elio akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Ia menepuk meja dengan cukup keras, membuat suara itu memecah keributan ringan di sekitar mereka. Tatapannya pada Bima terlihat tajam namun tetap berusaha tidak membuat keributan besar.

“Kamu sudah melampaui batas, Bima. Bercanda boleh, tapi jangan sampai mengganggu kenyamanan orang lain. Alena bukan orang yang bisa kamu jadikan bahan tertawaan sesuka hati. Ingat, dia adalah orang yang paling aku sayangi sekarang,” ujar Elio tegas namun tetap tenang.

Mendengar peringatan itu, Bima akhirnya menghentikan ucapannya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum malu. “Baiklah, baiklah… maafkan aku. Aku hanya bercanda saja, tidak bermaksud menyakiti hati siapa pun. Kalau sudah marah begini, aku mengalah saja deh.”

Elio mengangguk pelan, lalu segera berdiri dan merapikan barang-barang mereka. “Kita pergi saja, Alena. Sudah waktunya melanjutkan kegiatan hari ini.”

Alena mengangguk setuju, berdiri dan berjalan mengikuti Elio meninggalkan minimarket itu. Sebelum benar-benar pergi, Elio menoleh sebentar ke arah Bima dan teman-temannya, “Sampai jumpa di sekolah nanti. Jangan cari masalah lagi ya.”

Begitu mereka berjalan cukup jauh dari tempat itu, langkah Elio perlahan melambat. Ia menoleh ke arah Alena dengan wajah yang masih terlihat sedikit kesal, namun juga terlihat cemas.

“Maafkan tingkah Bima tadi. Dia memang sahabat baikku, tapi kebiasaannya menjahili orang itu seringkali membuat orang lain tidak nyaman. Semoga dia tidak membuatmu merasa terganggu atau tersinggung,” kata Elio dengan nada lembut.

Alena justru tersenyum lebar, lalu menyentuh lengan Elio untuk menenangkannya. “Tidak apa-apa, Elio. Aku tidak merasa tersinggung sama sekali. Justru aku merasa senang melihat kamu membela aku dengan tegas seperti itu. Dia memang suka bercanda, dan aku sudah terbiasa dengan tingkahnya sejak dulu. Lagipula, dia juga tidak salah sepenuhnya—dulu kita memang benar-benar bermusuhan, kan?”

Mendengar jawaban itu, ketegangan di wajah Elio perlahan hilang digantikan senyum lega. Ia menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan Alena erat-erat. “Syukurlah kalau begitu. Tapi ingat, siapa pun yang berani mengganggumu atau membuatmu tidak nyaman, aku tidak akan tinggal diam. Kamu adalah milikku, jadi hanya aku yang berhak menjagamu dan membuatmu bahagia.”

Kata-kata itu membuat pipi Alena memerah padam. Ia menunduk malu, namun senyum bahagia tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.

“Karena suasana pagi ini sudah terganggu sedikit, bagaimana kalau kita tidak langsung pulang saja? Kita berjalan-jalan sebentar ke pusat perbelanjaan, ya? Aku ingin mengajakmu bersenang-senang dan menghilangkan rasa lelah setelah lari pagi tadi,” ajak Elio tiba-tiba.

Mata Alena langsung berbinar cerah. “Benarkah? Boleh sekali! Sudah lama aku tidak pergi ke mal hanya untuk bersenang-senang seperti ini.”

Mereka segera kembali ke rumah sebentar untuk mengganti pakaian yang lebih rapi dan nyaman, lalu melanjutkan perjalanan dengan mobil Elio menuju mal terbesar di kota itu. Perjalanan berlangsung singkat, dan tak lama kemudian mereka sudah tiba di tempat tujuan. Begitu masuk ke dalam mal yang luas dan sejuk, suasana hati Alena langsung terasa semakin ceria. Ia melihat sekeliling dengan tatapan penuh kekaguman, menikmati keramaian dan keindahan tempat itu.

Mereka berjalan berdampingan, sesekali berhenti untuk melihat jendela toko atau sekadar mengamati barang-barang yang dipajang. Namun, saat melewati sebuah toko mainan yang cukup besar, langkah Alena terhenti seketika. Matanya terpaku pada satu benda yang terlihat sangat menarik di sudut etalase.

Itu adalah sebuah boneka kelinci berwarna putih bersih dengan telinga yang panjang dan lembut, berukuran sangat besar—hampir setinggi pinggang Alena. Matanya yang bulat dan hidungnya yang mungil membuat boneka itu terlihat sangat menggemaskan dan menawan.

Elio menyadari pandangan Alena, lalu tersenyum kecil. “Kamu suka boneka itu?”

Alena mengangguk antusias, namun segera menahan diri dan menggeleng pelan. “Iya, lucu sekali. Tapi tidak perlu dibeli ya, Elio. Aku hanya melihat saja. Boneka sebesar itu pasti memakan tempat dan harganya juga tidak murah.”

Namun, Elio sudah menarik tangan Alena dan membawanya masuk ke dalam toko. “Kalau kamu suka, kenapa harus menahan diri? Kalau itu bisa membuatmu senyum dan bahagia, itu sudah lebih dari cukup. Anggap saja ini hadiah dariku sebagai teman tidurmu setiap malam.”

Saat Alena masih terkejut mendengar kata-kata itu, Elio sudah memanggil pelayan toko dan meminta boneka kelinci itu untuk dibungkus rapi. Ia membayarnya tanpa ragu sedikit pun, sementara Alena hanya bisa berdiri di sampingnya dengan perasaan haru dan terkejut.

“Terima kasih banyak, Elio. Ini hadiah yang sangat indah dan tak terduga,” ujar Alena dengan suara lembut saat mereka keluar dari toko, sementara Elio menggendong boneka besar itu dengan santai seolah tidak terasa berat.

“Tidak perlu berterima kasih. Ingat, saat aku tidak ada di sampingmu, boneka ini bisa menemanimu dan menjagamu seperti aku menjagamu. Jadi jangan merasa kesepian lagi ya,” jawab Elio sambil tersenyum manja.

Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke area permainan yang ada di lantai paling atas. Di sana, mereka mencoba berbagai jenis permainan yang tersedia. Mereka bermain menembak sasaran, balap mobil, memutar roda keberuntungan, hingga menaiki wahana putar yang membuat keduanya tertawa lepas. Saat bermain lempar bola, Alena berhasil mengalahkan Elio dan mendapatkan hadiah gantungan kunci kecil, membuat gadis itu melompat kegirangan dan berteriak bangga.

“Aku menang! Lihat, aku lebih jago dari kamu!” seru Alena sambil memamerkan hadiahnya.

Elio hanya mengangkat kedua tangannya sambil tertawa lepas. “Baiklah, aku akui kekalahanku. Hari ini kamu memang ratunya permainan. Aku menyerah sepenuhnya.”

Waktu terasa berlalu begitu cepat saat mereka sedang asyik bersenang-senang. Sebelum matahari mulai condong ke barat dan suasana mulai gelap, Elio mengajak Alena untuk beristirahat sejenak dan memutuskan untuk pulang.

“Kita harus pulang sekarang, nanti sore hari mulai terasa panas dan lalu lintas juga mulai ramai. Kita sudah cukup bersenang-senang hari ini,” kata Elio sambil memeriksa jam tangannya.

Alena mengangguk setuju, meskipun masih terlihat ingin bermain lebih lama. “Baiklah. Terima kasih sudah mengajakku ke sini dan membelikan boneka ini. Hari ini benar-benar hari yang menyenangkan dan tak terlupakan.”

Mereka berjalan menuju tempat parkir dengan langkah santai. Elio masih menggendong boneka kelinci besar itu dengan santai, sementara Alena berjalan di sampingnya sesekali menyentuh bulu boneka itu dengan lembut dan tersenyum bahagia. Banyak orang yang melirik mereka dengan senyum penasaran, melihat pemandangan pemuda tampan yang membawa boneka raksasa bersama gadis yang terlihat sangat bahagia di sisinya.

Sesampainya di rumah, suasana terasa tenang seperti biasa. Kakek Baskara sedang duduk di teras sambil membaca koran, dan saat melihat mereka pulang dengan membawa boneka besar itu, ia hanya tersenyum lebar sambil mengangguk mengerti.

“Wah, pulang membawa teman baru rupanya. Pasti hari ini menyenangkan ya?” tanya Kakek Baskara dengan nada ramah.

“Benar sekali, Kek. Elio membelikannya untukku,” jawab Alena dengan bangga.

Malam itu, saat Alena masuk ke kamarnya, ia meletakkan boneka kelinci itu tepat di samping bantalnya. Ia memeluknya erat-erat, merasakan kelembutan bulunya yang mengingatkannya pada kehangatan pelukan Elio. Saat Elio menyelinap masuk sebentar untuk melihat keadaan gadis itu, ia tertawa melihat pemandangan itu.

“Jadi sekarang kamu punya teman tidur yang lebih lembut dariku?” goda Elio sambil bersandar di pintu kamar.

Alena mendongak dan tersenyum menggoda. “Iya, dia tidak suka bercanda berlebihan dan tidak membuatku kesal seperti kamu tadi pagi.”

Elio mendekat dan mencium kening Alena dengan lembut. “Tapi ingat, dia tidak bisa memelukmu sehangat aku dan tidak bisa membuatmu tertawa seperti aku, kan?”

Mendengar itu, Alena tertawa kecil dan menarik tangan Elio agar duduk di sampingnya. Hari itu, meskipun sempat ada sedikit gangguan dari Bima, akhirnya berakhir dengan kebahagiaan dan kenangan indah yang akan selalu mereka ingat. Hubungan mereka semakin erat, dan setiap momen yang dilalui bersama semakin memperkuat keyakinan bahwa jalan yang mereka pilih adalah jalan yang paling indah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!