NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Pelarian di Lorong Gelap

Alea menahan napasnya, rasa panik sempat melintas di benaknya saat pandangannya menjadi buta total.

Namun sebelum rasa takut itu mengambil alih, ia merasakan sebuah tangan yang hangat dan kokoh merengkuh pergelangan tangannya dengan erat.

Jemari Adrian menggenggamnya dengan kepastian yang mutlak, memberikan jangkar arah di tengah kegelapan yang gulita.

"Genggam erat. Aku tahu jalurnya," bisik Adrian di tengah kegelapan.

Kalimat sederhana yang diucapkan dengan nada tenang tanpa kepanikan itu bekerja seperti obat penenang bagi Alea.

Kepanikannya perlahan mereda, digantikan oleh fokus penuh untuk menyamakan ritme langkahnya dengan gerakan Adrian. Mereka terus bergerak maju menyusuri sela-sela rak yang sempit.

Namun, keberuntungan tidak bertahan lama di pihak mereka.

SRET!!!

Sebuah sorotan cahaya lampu senter berdaya tinggi (taktis tactical flashlight) mendadak memotong kegelapan dari arah belakang mereka.

Cahaya putih yang menyilaukan itu menyapu ruangan dengan gerakan horizontal yang cepat, memantul di dinding-dinding logam rak arsip, sebelum akhirnya mengunci posisi bayangan Adrian dan Alea yang sedang bergerak.

"Berhenti di tempat!"

Sebuah suara pria bergaung keras di dalam ruangan.

Suara itu terdengar sangat dalam, berat, dan memiliki artikulasi yang aneh, sebuah indikasi jelas bahwa sang pembicara menggunakan perangkat pengubah suara elektronik (voice changer) yang terintegrasi pada topeng atau kerah pakaiannya untuk menyamarkan identitas aslinya.

Adrian tidak membuang waktu untuk membalas gertakan tersebut.

Alih-alih berhenti, ia justru menarik lengan Alea dengan sentakan yang kuat.

"Lari!"

Mereka berdua langsung memacu kecepatan, berlari sekuat tenaga membelah sisa koridor.

Suara langkah kaki mereka yang terburu-buru bergaung keras menabrak dinding beton, berbaur dengan derap langkah kaki para pengejar di belakang yang juga langsung mengubah ritme menjadi sprint penuh taktis.

Sorotan cahaya senter di belakang mereka bergerak liar, bergoyang-goyang mengikuti gerakan lari para penyusup.

"Ada berapa orang di belakang kita?" Tanya Alea dengan napas yang mulai terengah-engah, berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya saat melompati tumpukan kardus arsip yang berserakan.

"Minimal tiga orang," jawab Adrian tanpa memperlambat kecepatannya.

"Bagaimana kau bisa seyakin itu dalam kegelapan?"

"Pantulan suara langkah kaki mereka pada sudut dinding beton memiliki jeda frekuensi yang berbeda. Fokus pada langkahmu, kita hampir sampai di ujung!"

Kalimat Adrian terbukti benar ketika beberapa detik kemudian mereka mencapai ujung lorong terdalam.

Di sana, tertanam pada dinding beton yang lembap, terdapat sebuah pintu baja kecil yang menjadi akses masuk ke terowongan servis utilitas gedung.

Adrian langsung melepaskan genggamannya pada Alea, menumpu berat tubuhnya pada roda pengunci besi yang melingkar di tengah pintu, dan mulai memutarnya dengan sekuat tenaga ke arah kiri.

Namun, mekanisme pengunci tua yang telah berkarat selama dua puluh tahun itu tidak bergerak dengan mudah. Pintu itu macet.

"Adrian! Cahaya mereka sudah mencapai baris rak terakhir!" Seru Alea dengan panik, matanya menatap siluet tiga figur bertubuh tegap yang bergerak cepat ke arah mereka di bawah sorotan lampu senter.

"Aku tahu! Bertahanlah!" Adrian menggeram, otot-otot lengannya menegang sempurna saat ia memberikan tekanan maksimal pada roda besi tersebut.

Ia memukulkan telapak tangannya ke arah engsel untuk memecah lapisan karat yang mengunci sistem mekanisnya.

Logam tua itu akhirnya mengeluarkan bunyi berderit nyaring yang memekakkan telinga.

KRAKK!!!

Roda besi berputar penuh, dan pintu baja itu terbuka ke arah dalam.

Tanpa membuang waktu, Adrian mendorong tubuh Alea untuk masuk terlebih dahulu ke dalam celah pintu.

Mereka berdua terjatuh dengan keras di atas lantai semen lorong servis yang sempit, dikelilingi oleh jaringan pipa-pipa uap dan kabel-kabel tua yang berdebu.

Adrian dengan sigap langsung berbalik, menarik kembali daun pintu baja yang berat itu, dan memutar roda pengunci dari sisi dalam hingga mengunci mati secara maksimal.

BRAKK!!!

Tepat ketika pengunci interior terpasang, sebuah hantaman keras dari luar menghantam permukaan pintu baja tersebut.

Seseorang di sisi lain sedang mencoba mendobraknya menggunakan berat tubuh atau alat pendobrak taktis.

BRAKK! BRAKK!

Dua hantaman susulan kembali terdengar, membuat struktur pintu baja tua itu sedikit bergetar, namun material logam tebal era arsitektur lama tersebut terbukti masih cukup kokoh untuk bertahan menahan serangan fisik langsung.

"Kunci itu akan menahan mereka untuk beberapa menit, tapi tidak akan lama. Kita harus terus bergerak," kata Adrian seraya bangkit berdiri dan membantu Alea untuk tegak kembali.

Mereka kembali berlari menyusuri lorong servis utilitas yang menyerupai labirin tikus di bawah tanah Valerika.

Debu-debu tua yang tebal berterbangan di udara, menyiksa saluran pernapasan mereka.

Di atas kepala mereka, pipa-pipa besi berkarat memanjang tanpa ujung, sesekali meneteskan air dingin yang membasahi mantel mereka.

Beberapa lampu pijar kuning berdaya rendah yang terhubung dengan sirkuit terpisah tampak masih menyala redup, memberikan pencahayaan minimal yang nyaris tidak cukup untuk melihat pijakan kaki.

Setelah beberapa menit melakukan pelarian yang melelahkan melewati kelokan terowongan, mereka akhirnya menemukan sebuah tangga besi vertikal yang menuju ke atas sebuah jalur keluar darurat yang mengarah langsung ke permukaan tanah di luar batas pagar luar kompleks arsip.

Begitu Adrian berhasil mendorong penutup lubang keluar dan melangkah keluar ke permukaan, udara malam Kota Valerika yang dingin dan segar langsung menyergap wajah mereka, kontras dengan udara pengap bawah tanah yang baru saja mereka tinggalkan.

Alea langsung membungkuk, menumpu kedua tangannya di atas lutut demi meredakan rasa perih di dadanya.

Napasnya terengah-engah, dan jantungnya masih berpacu dengan ritme liar akibat sisa adrenalin yang belum sepenuhnya surut.

Di sampingnya, Adrian tidak membuang waktu untuk beristirahat. Ia segera berlutut di atas hamparan rumput basah, membuka ritsleting tas kerja balistik yang dibawanya, dan mulai melakukan pemeriksaan inventaris secara cepat di bawah pencahayaan lampu jalan yang temaram.

Ia harus memastikan bahwa semua dokumen Proyek Aurora yang mereka pertaruhkan dengan nyawa masih berada di tempatnya.

Jemari Adrian bergerak dengan ketangkasan yang tinggi, memeriksa isi kompartemen utama.

"Foto masa kecil... ada. Flash drive... aman. Buku catatan milik George... masih di tempatnya."

Namun, ketika gerakan jemari Adrian mencapai bagian kompartemen lipatan terdalam dari tas tersebut, gerakannya mendadak terhenti secara instan.

Ekspresi wajah pria itu berubah drastis dalam hitungan detik. Ketenangan yang biasa ia tunjukkan seolah menguap, digantikan oleh gurat keterkejutan yang sangat serius.

Alea yang menyadari perubahan atmosfer tersebut langsung menegakkan tubuhnya.

"Ada apa, Adrian? Ada yang tertinggal di dalam ruangan tadi?"

Adrian perlahan mengangkat kepalanya, menatap Alea dengan sorot mata yang tampak jauh lebih tajam sekaligus kelam daripada sebelum-sebelumnya.

"Salah satu dokumen inti dari dalam kotak itu... hilang."

"Hilang?" Alea merasakan tenggorokannya mendadak mengering seketika.

"Bagaimana mungkin? Bukankah kau sendiri yang memasukkan semua berkas itu ke dalam tas sebelum kita mulai berlari?"

Adrian mengangguk perlahan, rahangnya tampak menegang hingga memperlihatkan guratan otot yang keras.

"Aku yakin telah mengambil seluruh tumpukan berkas dari kompartemen beludru kotak itu. Namun, saat kita terlibat dalam aksi kejar-kejaran di lorong yang gelap tadi, atau mungkin saat pintu baja itu dihantam dari luar, lembaran dokumen teratas tampaknya terlepas atau sengaja direbut dari celah tas yang sempat terbuka sebelum sempat kukunci ritsletingnya secara penuh."

Alea melangkah lebih dekat, rasa cemas kembali merayap di dadanya.

"Dokumen yang mana yang hilang, Adrian? Apakah itu dokumen transaksi keuangan keluarga kita?"

Adrian tidak langsung menjawab dengan kata-kata.

Ia meraih ponselnya yang baru saja ia aktifkan kembali, membuka sebuah file gambar pada folder terenkripsi lokal, sebuah foto manifes daftar isi arsip Aurora yang sempat ia ambil menggunakan kamera ponselnya beberapa menit sebelum lampu padam di ruang penyimpanan bawah tanah.

Jemari Adrian menggeser layar sentuh tersebut, menyusuri baris demi baris teks daftar inventaris resmi Proyek Aurora, hingga akhirnya gerakannya berhenti pada satu baris teks paling bawah yang diberi tanda bintang merah tebal.

"Yang hilang dari genggaman kita..." Suara Adrian terdengar sangat rendah, hampir menyerupai bisikan yang dingin di bawah rintik gerimis malam.

"Adalah satu-satunya berkas dokumen yang diberi label dengan kode tingkat akses keamanan tertinggi. Berkas yang tidak memiliki salinan digital di server mana pun."

Alea menatap layar ponsel Adrian dengan mata menyipit, mencoba membaca baris tulisan yang ditunjuk oleh ujung jari pria itu.

Begitu matanya berhasil menangkap rangkaian kata tersebut, jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detak yang menyakitkan.

Di layar digital itu, tertera sebuah baris teks ketikan mesin tik lama:

MANIFES PROGRAM AURORA – SUBJEK KETIGA

Dan tepat di bawah baris judul tersebut, pada kolom informasi biodata dan rekam medis, terdapat sebuah stempel tinta merah tebal dengan tulisan yang sangat lugas:

IDENTITAS DIRAHASIAKAN / DATA FISIK DIHANCURKAN

Malam itu, di bawah langit kelabu Kota Valerika yang mulai kembali meneteskan sisa-sisa hujan, sebuah tabir konspirasi baru yang jauh lebih mengerikan telah resmi terbuka di hadapan Adrian dan Alea.

Untuk pertama kalinya sejak mereka memulai pencarian penuh risiko mengenai asal-usul Proyek Aurora, mereka dipaksa untuk menerima sebuah fakta baru yang mencengangkan, bahwa pusaran misteri masa lalu ini sama sekali tidak hanya melibatkan eksistensi hidup mereka berdua.

Ada sosok manusia lain.

Ada seorang subjek ketiga yang keberadaannya sengaja dihapus, dikubur, dan dihilangkan dari seluruh catatan sejarah resmi keluarga Corisand maupun keluarga Hutama.

Seseorang yang memiliki tingkat kepentingan yang begitu tinggi sekaligus berbahaya, hingga identitas aslinya harus disembunyikan bahkan di dalam dokumen arsip paling rahasia sekalipun.

Dan kini, lembar dokumen satu-satunya yang memuat petunjuk tentang siapa sebenarnya sosok subjek ketiga tersebut telah resmi jatuh ke tangan penyusup misterius yang memburu mereka di dalam kegelapan labirin bawah tanah Gudang 17.

Permainan bayangan ini baru saja memasuki babak baru yang jauh lebih luas, dan kini mereka berdua bukan lagi sekadar pencari jawaban melainkan bidak yang sedang ditarik masuk ke dalam rencana besar yang telah disusun sejak dua puluh tahun lalu.

1
Vanni Sr
bnr² woyyyy di bab ini blg lg wallianm ayah adrian , gmn sih nulis ny
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
Vanni Sr
g nyambungggg, george itu kakek apa ayah alea?? clarissa itu apa bianca ganti² , ngaco sih ini
typ
apa part 40 dan 41 terbalik?
Althea Shalmaira: benar, terima kasih mengingatkan,, akan saya coba althe perbaiki yah🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!