NovelToon NovelToon
Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.

Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

happy reading guys

------------------------------

BAB 11: Pengumuman yang Mengguncang Publik

Kabar tentang kehancuran Bram Corp belum juga reda, namun Kota Jakarta kembali diguncang oleh berita megah yang laksana bom waktu di siang bolong.

Seluruh stasiun televisi nasional dan platform media sosial serempak menyiarkan siaran langsung dari Grand Ballroom Hotel Syailendra Luxury.

Malam itu, kilatan cahaya lampu kamera dari ratusan wartawan media bisnis dan hiburan tidak berhenti berkedip, menerangi podium megah berlogo emas Syailendra Group.

Di atas podium, Nicholas Syailendra berdiri tegap dengan ketampanan yang mutlak.

Mengenakan setelan tuksedo hitam potongan desainer Italia, tangan kekalnya melingkar posesif di pinggang ramping Elena Vance.

Elena tampil sangat memukau dengan gaun malam sutra putih gading yang mengekspos bahu indahnya, lengkap dengan cincin berlian hitam yang berkilau mewah di jari manisnya.

"Malam ini, saya secara resmi mengumumkan pertunangan saya dengan Elena Vance, perwakilan utama dari Vance Jewelry Prancis,"

suara berat Nicholas bergaung lewat pengeras suara, membungkam seluruh ruangan dengan wibawa mutlak.

"Pernikahan kami akan digelar bulan depan. Mulai detik ini, siapa pun yang berani mengusik tunangan saya, artinya berani berurusan langsung dengan saya dan seluruh kekuatan Syailendra Group."

Kasak-kusuk riuh seketika meledak di antara kerumunan wartawan.

Sementara itu, di dalam sel tahanan sementara markas besar kepolisian, suasana terasa sangat kontras.

Bramantara duduk meringkuk di atas lantai semen yang dingin, menatap layar televisi kecil yang menggantung di sudut sel besi dengan mata membelalak horor.

Wajahnya seputih kain kafan saat melihat pemandangan Elena yang sedang tersenyum manis sembari bersandar di bahu tegap Nicholas.

"Adeline... kamu benar-benar mau menikah dengan pria lain?"

bisik Bram dengan suara serak, mencengkeram jeruji besi selnya hingga buku-buku jarinya memutih dan berdarah.

Rasa cemburu dan penyesalan yang luar biasa besar bercampur menjadi satu, mencabik-cabik kewarasannya di dalam ruang sempit yang bau itu.

------------------------------

Di saat yang sama, badai kemarahan yang sesungguhnya justru sedang meledak di dalam kediaman utama keluarga besar Syailendra—sebuah rumah dinasti bergaya Eropa klasik yang sangat luas di kawasan elite Menteng.

Brak!

"Nicholas benar-benar sudah gila! Bagaimana bisa dia mengumumkan pernikahan secara sepihak dengan wanita asing yang tidak jelas asal-usulnya?!"

raung Ardi Syailendra, sepupu sepantaran Nicholas, sembari membanting cangkir porselen mahalnya ke atas lantai marmer hingga hancur berkeping-keping.

Ardi berjalan mondar-mandir di dalam ruang keluarga besar dengan napas memburu.

Wajahnya memerah padam karena amarah dan rasa iri yang teramat sangat.

Selama bertahun-tahun, Ardi selalu mengincar posisi CEO Syailendra Group, namun posisinya selalu tertahan karena Nicholas dinilai terlalu sempurna tanpa cela.

"Tenanglah, Ardi. Jangan biarkan kemarahanmu membuatmu terlihat bodoh di depan Nenek," sebuah suara wanita paruh baya terdengar tenang namun sarat akan racun.

Itu adalah Sarah Syailendra, ibu Ardi sekaligus bibi kandung Nicholas.

Sarah duduk dengan anggun di sofa kulit, melipat kedua tangannya di dada sembari menatap tajam ke arah layar televisi yang masih menampilkan kemesraan Nicholas dan Elena.

"Nicholas sengaja melakukan ini karena dia tahu posisi pimpinan tertingginya sedang terancam. Kakekmu memberikan syarat bahwa pewaris sah Syailendra Group haruslah seorang pria yang sudah memiliki istri dan keluarga yang stabil."

"Tapi kenapa harus wanita bernama Elena Vance itu, Ibu?! Kudengar wajah wanita itu mirip sekali dengan mendiang istri Bramantara yang murahan dan mati sebulan lalu!" sahut Ardi frustrasi.

"Justru itu celah kita, Ardi,"

Sarah tersenyum miring, sebuah senyuman licik yang terlihat sangat mengerikan.

"Wanita asing dari Prancis itu pasti menyembunyikan sesuatu. Tidak ada yang tahu dari mana Nicholas memungutnya. Kita hanya perlu menguliti identitas palsunya dan menjatuhkan Nicholas dari takhtanya sebelum hari pernikahan itu tiba."

Suasana di dalam ruangan mendadak membeku saat ketukan tongkat kayu berkepala emas berbunyi teratur dari arah koridor tangga utama.

Tok... Tok... Tok...

Seorang wanita tua dengan pakaian kebaya sutra hitam yang sangat elegan melangkah perlahan dibantu oleh seorang pelayan pribadi.

Meskipun rambutnya sudah memutih seluruhnya, sepasang mata milik Ibu Suri Syailendra—Nenek kandung Nicholas sekaligus pemegang keputusan tertinggi keluarga—memancarkan ketegasan yang sanggup membuat Ardi dan Sarah langsung menundukkan kepala mereka dengan hormat.

"Nenek..." sapa Ardi dengan suara yang mendadak melembut, menyembunyikan seluruh kemarahannya.

Nenek Syailendra duduk di kursi kebesarannya di ujung meja panjang, menatap bergantian ke arah anak dan cucunya dengan pandangan sedingin es.

"Kalian berdua tidak perlu repot-repot menyusun rencana murahan di belakang punggung Nicholas. Besok malam, suruh Nicholas membawa wanita asing itu untuk makan malam di rumah ini."

Nenek Syailendra meremas kepala tongkat emasnya dengan erat, matanya menatap tajam ke arah televisi.

"Aku sendiri yang akan menguji seberapa tebal kulit wajah Elena Vance itu. Rumah keluarga Syailendra tidak akan pernah menerima wanita sampah yang hanya ingin mengincar harta kekayaan dinasti kita."

------------------------------

Keesokan harinya, di dalam mobil limosin hitam yang membelah kemacetan jalanan Jakarta menuju kediaman utama Menteng, atmosfer di dalam kendaraan terasa begitu pekat.

Elena Vance menatap ke luar jendela kaca yang gelap, jemarinya meremas pelan tas pesta hitam kecil di pangkuannya.

"Kamu tegang, Elena?" tanya Nicholas yang duduk di sampingnya.

Pria itu mengulurkan tangan kekarnya, menangkup jemari Elena yang terasa sedingin es ke dalam genggamannya yang besar dan hangat.

Elena menoleh, menatap langsung ke dalam manik mata elang milik pria yang kini menjadi tunangan kontraknya. Sebuah senyuman miring yang tipis terukir di bibirnya.

"Aku tidak tegang karena takut, Nicholas. Aku hanya berpikir... permainan malam ini pasti akan jauh lebih melelahkan daripada menghadapi Bram dan Siska di toilet hotel."

Nicholas terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat seksi namun sarat akan wibawa penguasa.

Ia mempererat genggaman tangannya pada jemari Elena.

"Keluarga besarku adalah sekumpulan serigala berbulu domba. Sepupuku Ardi dan ibunya pasti sudah menyiapkan jebakan untuk menguliti identitas barumu di depan Nenek."

Nicholas memajukan tubuhnya sedikit, menatap Elena dengan sorot mata yang mendadak berubah menjadi sangat intens dan protektif.

"Tapi ingat satu hal, Elena. Malam ini, statusmu adalah tunanganku, calon Nyonya Muda Syailendra yang sah. Gunakan seluruh keangkuhan Elena Vance yang sudah kulatih selama satu bulan ini. Jika ada yang berani menghinamu, hancurkan harga diri mereka di depan wajah Nenek. Aku yang akan menanggung semua akibatnya."

Elena menatap ketegasan di wajah Nicholas, merasakan sebuah getaran aneh yang mendadak berdesir di dalam dadanya.

Pria di hadapannya ini selalu berdiri sebagai perisai yang paling kokoh untuk melindunginya sejak malam kehancurannya.

"Baik, Tuan Nicholas Syailendra,"

bisik Elena, matanya berkilat memancarkan api ambisi yang kembali membara.

"Mari kita lihat, seberapa tajam taring para serigala di dalam rumah dinasmu malam ini."

Limosin hitam mewah itu akhirnya berbelok memasuki gerbang besi raksasa kediaman utama Syailendra, membelah pelataran luas menuju ke arah lobi rumah utama di mana babak baru dari pertempuran intrik keluarga kelas atas baru saja resmi dimulai.

------------------------------

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!