Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengejaran
Mobil itu melaju jauh di atas batas kecepatan, membelah jalanan malam bak anak panah yang lepas dari busurnya. Di kursi penumpang, Sonja duduk tenang tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut. Seolah-olah ia sudah terbiasa dengan cara mengemudi pria di sampingnya. Kendaraan itu terus melesat, meninggalkan hutan yang perlahan lenyap di balik kegelapan.
"Kita mau ke mana?" Akhirnya Sonja memecah keheningan. Tak ada jawaban. Arthur tetap membisu, matanya terpaku lurus ke depan.
"Arthur, kita mau ke mana?" ulang Sonja dengan nada yang mulai dipenuhi kekesalan.
Entah apa yang merasuki pria itu. Tiba-tiba saja Arthur memaksanya bersiap dan meninggalkan mansion, tetapi kini ia memilih bungkam seolah Sonja tidak pantas mendapat penjelasan.
"ARTHUR!" bentak Sonja. "Kalau kau tetap diam, aku akan lompat dari mobil ini."
Arthur mendecak pelan."Ke suatu tempat. Jangan mengatakan hal yang aneh-aneh, Sonja," jawabnya dingin. Pandangannya tak bergeser sedikit pun dari jalan raya yang semakin lengang karena malam telah larut. Mereka mulai memasuki kawasan kota, tetapi mobil itu terus melaju tanpa tanda akan berhenti.
"Di mana? Tempat itu pasti punya nama," balas Sonja ketus.
"Nanti akan kuberitahu setelah kita sampai. Sekarang pejamkan matamu. Tidurlah, daripada terus memikirkan hal yang tidak-tidak." Arthur mengulurkan satu tangan, berusaha menyentuh wajah Sonja. Namun gadis itu lebih cepat menepisnya.
"Jangan coba-coba memantraiku lagi."
Arthur mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Pura-pura tidak tahu. Kau selalu memantraiku supaya tertidur. Pokoknya kali ini aku tidak mau tidur."
Seringai tipis terukir di bibir Arthur. Ocehan Sonja selalu terdengar menggelikan di telinganya. Rupanya gadis itu menyadari kebiasaannya menggunakan mantra setiap malam agar Sonja terlelap dan terbebas dari mimpi-mimpi buruk yang selama ini menghantuinya.
Namun secepat kilat senyuman kecil itu perlahan memudar. Pikirannya kembali dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia sendiri tidak pernah membayangkan akan melakukan hal yang menurutnya begitu memalukan, kabur dan menghindari serangan adiknya sendiri, Pangeran Alex. Arthur tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun. Alex bisa saja menggunakan cara licik untuk merebut Sonja dari sisinya. Terlebih jika para tetua memutuskan berpihak kepada sang pangeran. Menghadapi mereka sekaligus hanya akan memperumit keadaan. Untuk kali ini, menghindari pertarungan adalah pilihan terbaik.
Di sisi lain, Sonja diam-diam memperhatikan wajah Arthur. Pria itu tampak muram, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Apa yang sebenarnya sedang dipikirkannya? Sonja mengembuskan napas panjang. Ia akhirnya memilih bersandar di kursinya, memandangi jalanan malam yang sunyi. Entah ke mana Arthur akan membawanya.
Tak jauh di belakang mobil Arthur, sebuah mobil lain melaju dengan kecepatan yang sama, membuntuti setiap belokan yang diambil sang pemimpin. Di dalamnya terdapat tiga vampir kepercayaan Arthur."Aku sungguh tidak mengerti dengan Tuan," gerutu Greg sambil mengawasi mobil di depan."Sejak bertemu gadis manusia itu, sikapnya berubah. Dia jadi lebih sering menghindar. Padahal dulu dia selalu menikmati setiap pertempuran."
"Mungkin dia punya rencana lain," jawab Victoria, satu-satunya wanita di dalam kelompok itu.
Greg mendengus pelan."Kenapa harus serepot ini? Bukankah lebih mudah jika Pangeran langsung meminum darah gadis itu? Dia akan menjadi vampir terkuat, lalu menghancurkan pasukan Pangeran Alex tanpa kesulitan."
Victoria tersenyum tipis."Kau benar. Pangeran memang sedikit berubah. Tapi aku tidak peduli. Yang terpenting bagiku adalah memastikan beliau tetap selamat. Aku berutang nyawa padanya." Kenangan lama kembali berkelebat di benaknya. Andai saat itu Arthur tidak datang menyelamatkannya, mungkin ia sudah lama mati.
Greg mengangguk pelan. Ia memahami perasaan Victoria. Baginya pun demikian. Demi keselamatan Arthur, ia rela mempertaruhkan nyawanya sendiri.
"Yang paling tidak masuk akal justru kita bepergian memakai mesin seperti ini," celetuk Yuno yang sejak tadi hanya menjadi pendengar.
Victoria dan Greg terkekeh.
"Tapi harus kuakui," kata Victoria sambil tersenyum manis,"Mobil ini ternyata cukup nyaman."
Perjalanan panjang itu akhirnya membawa mereka kembali memasuki kawasan hutan. Dari kejauhan, Arthur mulai mengurangi kecepatan mobilnya.
"Kalau aku tidak salah, ini Hutan Fork. Sarang para werewolf," gumam Yuno seraya mempertajam penglihatannya dan tetap membuntuti mobil Arthur.
"Bau busuk mereka bahkan sudah sampai ke sini," ujar Victoria dengan senyum masam. Aroma para manusia serigala memang selalu membuatnya muak.
Greg menatap keluar jendela."Jadi kita benar-benar akan mengunjungi para makhluk berbulu itu."
***
Alea bersikeras mengejar Arthur. Meski awalnya Pangeran Alex tidak setuju, pada akhirnya keputusan itu tetap diambil karena ancaman Alea yang akan pergi sendiri jika tidak ada yang menemaninya. Seperti biasa, keras kepala gadis itu sulit dibantah.
Akhirnya, Pangeran Alex menunjuk Elleanor untuk mendampingi Alea. Elle dianggap satu-satunya yang mampu sedikit meredam sifat nekat sahabatnya itu. Tentu saja, tanpa ragu Elleanor menerima tugas tersebut. Namun sebelum mereka berangkat, Pangeran Alex memberikan peringatan tegas, terutama kepada Alea.
"Kalian hanya mengintai dan mencari tahu di mana Sonja disembunyikan. Jangan menyerang, apalagi bertarung."
Setelah menemukan Sonja, mereka harus segera menghubungi Pangeran Alex melalui telepati, seperti yang biasa dilakukan para vampir. Baru setelah itu mereka akan bergerak bersama untuk menyerang. Tugas Elleanor pun jelas yaitu memastikan Alea tidak bertindak gegabah.
"Selalu saja aku yang mendapatkan tugas berbahaya kalau bersamamu, Lea. Dan astaga, kali ini kita mengejar Pangeran Terkutuk." Elle bergidik kecil. Membayangkan harus berhadapan langsung dengan Arthur saja sudah membuat bulu kuduknya meremang.
"Jika kau takut, berbaliklah dan pulang." Suara Alea terdengar datar, dingin, dan setajam biasanya.
Elle hanya tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Mana mungkin dia membiarkan Alea pergi sendirian? Bahkan tanpa perintah Pangeran Alex sekalipun, dia pasti akan tetap ikut."Jangan meremehkanku, Lea. Solidaritas itu masih kupunya. Lagi pula, sudah lama kita tidak menjalankan tugas bersama. Sayang sekali kalau kesempatan ini kulewatkan."
Mereka terus melesat menembus hutan dengan kecepatan tinggi. "Lea," panggil Elle lagi, "menurutmu kenapa Arthur tidak langsung membunuh Sonja? Apa dia sedang menyiapkan rencana yang lebih busuk?"
Alea tetap fokus menatap ke depan."Entahlah. Tapi apapun rencananya, aku bersyukur Sonja masih hidup."
"Kau benar-benar mengkhawatirkan Sonja, ya?" Elle mendesah dramatis. "Oh Lea, aku jadi cemburu. Bisa-bisanya kau lebih menyayangi gadis itu daripada aku."
Alea memilih diam. Dia sudah terlalu hafal dengan tingkah Elleanor yang sering melontarkan omong kosong di saat-saat seperti ini.
Namun Elle belum juga berhenti."Padahal aku begitu menyayangimu, melebihi apa pun. Lihat saja, aku bahkan rela ikut menembus bahaya bersamamu dan menolak ajakan kencan Sebastian."
"Elle, hentikan omong kosongmu."
Alih-alih tersinggung, Elleanor justru terkekeh pelan. Dari nada suara Alea, dia tahu sahabatnya itu mulai kesal. Dan entah kenapa, reaksi seperti itu selalu berhasil menghiburnya. Sementara Alea tetap melaju tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun. Di dalam benaknya hanya ada satu tujuan, secepat mungkin menemukan Sonja sebelum semuanya terlambat.