NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

What A Coincedence (B)

Aula utama Columbia University sore itu dipenuhi oleh ratusan mahasiswi. Suasana terasa. Acara bulanan yang dinamai "Women Who Lead" menghadirkan sosok-sosok perempuan yang dianggap berhasil merebut posisi penting di berbagai sektor.

Para mahasiswi berbisik-bisik penuh antusias, sebagian sudah menyiapkan catatan, sebagian lain membuka kamera ponsel kala kini Emily Cooper berada di atas panggung. Pengusaha muda berusia tiga puluh tahun ini bukan hanya dikenal karena kepemimpinannya atas sebuah perusahaan properti mewah dengan omset miliaran dolar, tapi juga karena gaya kepemimpinannya yang berbeda. Ia cerdas, penuh strategi, dan sering kali tak terduga. Kehadirannya sudah ditunggu-tunggu.

Emily berdiri di belakang podium, blazer putihnya kontras dengan latar biru universitas. Rambutnya ditata sederhana, tetap cantik dan seksi dengan sorot matanya yang tegas.

"Pertanyaan pertama yang sering saya dengar," ucapnya dengan suara jernih, "adalah, bagaimana rasanya bisa sukses meskipun saya seorang perempuan?"

Emily terdiam beberapa detik, lalu senyumnya melebar kecil.

"Itu pertanyaan yang salah," lanjutnya. "Pertanyaan yang benar seharusnya adalah bagaimana rasanya merebut kembali sesuatu yang sejak awal memang milik kita?"

Emily meninggalkan podium, melangkah perlahan ke sisi panggung. "Berabad-abad lamanya, dunia dibangun di atas narasi laki-laki. Mereka yang disebut pemimpin, penguasa, penentu arah peradaban. Sementara perempuan, kita, diposisikan di pinggir, dianggap hanya sebagai pemanis atau objek. Kita didefinisikan dalam urutan ketiga jargon mereka. Harta, tahta, dan wanita. Seolah-olah nilai kita diukur bagai barang, dari sejauh mana kita bisa dimiliki, bukan sejauh mana kita mampu memimpin."

Beberapa wajah di barisan depan berubah serius. Emily tahu kalimatnya mengguncang beberapa hadirin.

"Tapi yang tidak mereka ajarkan di kelas sejarah adalah ini," lanjutnya, sambil menekan tombol pointer. Di layar besar muncul potret Cleopatra, Wu Zetian, dan Hatshepsut. "Di balik peradaban besar, selalu ada perempuan yang menjadi inti kekuatan. Cleopatra, yang menjaga Mesir tetap berdiri di tengah gempuran kekaisaran. Wu Zetian, kaisar perempuan satu-satunya dalam sejarah Tiongkok. Hatshepsut, firaun yang mengubah standar kepemimpinan di Mesir kuno."

Ia berhenti sebentar, menatap wajah-wajah muda di hadapannya. "Seorang ratu tidak perlu berteriak untuk membuktikan kuasanya. Ia membangunnya, mengendalikannya, hingga kerajaan bisa berdiri dan runtuh hanya dengan satu keputusannya."

"Kekuatan kita, perempuan, sering disalahpahami. Mereka bilang kita lemah. Mereka bilang kita hanya bisa mengikuti. Padahal, kekuatan kita seperti air. Terlihat lembut, tenang, dan tidak berbahaya. Tapi air bisa menembus batu, mengikis gunung, bahkan menenggelamkan seluruh kota. Air tidak pernah kalah. Air hanya menunggu waktu."

Hening kembali menyelimuti ruangan. Semua fokus pada kata-katanya.

"Dan inilah poin pentingnya," suaranya lebih tajam. "Tujuan kita bukan menjadi seperti laki-laki. Tujuan kita adalah menjadi perempuan yang sesungguhnya, dengan kecerdasan, dengan intuisi, dengan daya tahan, dan dengan kekuatan serta potensi yang kita miliki. Sampai akhirnya dunia dipaksa menyesuaikan diri dengan kehebatan itu."

Sekilas, Emily tersenyum tipis. Sorot matanya dingin." Saya berusia tiga puluh tahun. Saya memimpin perusahaan bernilai 2,8 miliar dolar. Dan dengarkan baik-baik, saya sampai di titik ini bukan karena saya meniru laki-laki, melainkan karena saya menjadikan setiap sisi diri saya yang sering diremehkan orang sebagai kekuatan. Sudah saatnya kita mengubah stigma itu. Perempuan bukan hanya mampu mendampingi, tapi juga bisa memimpin, mengarahkan, dan mengubah arah permainan."

Tepuk tangan kembali menggema, kali ini lebih lama. Beberapa mahasiswi berdiri, menyoraki Emily dengan wajah kagum.

Emily kembali ke tengah panggung. Dengan suara tenang tapi, ia menutup pidatonya. "Masa depan bukan milik laki-laki. Bukan juga milik perempuan. Masa depan adalah milik siapa saja yang cukup cerdas untuk merancangnya, cukup strategis untuk mengeksekusinya, dan cukup sabar untuk menanamkan visi itu ke dalam realita. Dan saya yakin dari ruangan ini akan lahir perempuan-perempuan yang bukan hanya mengubah hidup mereka sendiri, tapi mengubah dunia."

Sorak sorai meledak. Standing ovation memenuhi aula. Emily berdiri tegak, menerima tepuk tangan itu dengan wajah yang tetap datar, elegan, dan penuh wibawa.

Setelah sesi resmi selesai, Emily turun dari panggung. Panitia menyambutnya dengan hangat, beberapa mahasiswi bahkan berebut ingin berfoto bersama. Namun di balik semua keramaian itu, matanya menangkap satu sosok yang berjalan mendekat. Langkahnya tenang, suaranya terdengar jelas meski di tengah riuh.

"Nona Emily Cooper."

Emily menoleh, dan tanpa sadar sedikit terkejut melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

Reynard Walter.

Berbalut pakaian formal yang sedikit kasual, pria itu tampak begitu rapi. Kacamata berbingkai tipis menambah aura menawan dan intelektualnya. Wajahnya teduh, senyumnya tipis, cukup untuk membuat Emily tercengang sesaat.

"Kau... Reynard Walter, bukan?" ucap Emily, memastikan.

Reynard mengangguk pelan, mengulurkan tangan.

Emily meraih jabatan itu, masih dengan ekspresi bingung. "Kenapa kau bisa ada di sini?"

"Aku diundang."

Emily mengernyit, tidak puas dengan jawaban itu.

Reynard menambahkan. "Kebetulan aku juga alumnus dari universitas ini."

"What?" Emily mengedip, memastikan ia tidak salah dengar. "Benarkah?"

Melihat ekspresinya, Reynard tersenyum kecil meski samar. Cukup untuk dia mengagumi wajah ekspresif itu.

"Iya."

Emily mengangkat alis, rasa penasarannya tumbuh. "Tunggu... kau seorang arsitek, bukan?"

Reynard mengangguk sekali.

Emily tampak semakin tertarik, senyumnya muncul sumringah tanpa ia sadari. "Aku juga lulusan arsitektur dari kampus ini. What a coincidence. Tapi mengapa aku tidak pernah melihatmu dulu? Berapa beda usia kita?"

Sambil menyilangkan kedua tangan di balik punggung, Reynard menunduk sedikit dan merendahkan tubuhnya. Pria itu sengaja menyamakan tinggi mereka, membawa wajahnya begitu dekat hingga jarak di antara mereka terkikis tipis. Ia sedikit memiringkan kepala, mendekatkan telinganya tepat di hadapan Emily demi memastikan setiap kata yang keluar dari bibir wanita itu tidak teredam oleh riuhnya suara kerumunan di sekitar mereka.

Dari jarak sedekat ini, Emily bisa merasakan kehangatan tubuh Reynard yang samar-samar menerpa kulitnya, membawa serta aroma parfum harum yang khas dari pria itu.

"Maaf? Apa tadi pertanyaanmu, Nona?" bisik Reynard, suaranya terdengar berat dan rendah, beradu dengan bisingnya area itu.

Gestur sederhana terkesan manis itu, entah mengapa, justru membuat dada Emily berdebar aneh. Detak jantungnya mendadak berkejaran tanpa kendali. Tatapan mata Reynard yang terkunci pada dirinya membuat Emily mematung, hingga untuk sesaat, ia benar-benar lupa kata apa yang hendak diucapkannya.

Karena tak kunjung mendapat jawaban, Reynard sedikit memalingkan wajahnya. Gerakan itu memangkas sisa jarak yang ada hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan, memaksa mata mereka bertemu dalam sebuah tatapan yang begitu intens.

Demi Tuhan. Emily refleks menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa kering. Ada apa dengan dirinya? Mengapa ia tiba-tiba menjadi segugup ini hanya karena sepasang mata yang menatapnya dengan begitu lekat? Semua ketenangan yang biasanya ia banggakan menguap begitu saja.

"Atau..." Reynard menjeda kalimatnya. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk seulas senyum tipis yang tampak begitu menawan di antara lampu-lampu aula yang menerpa tegas rahangnya. "...maukah kau kuajak minum kopi sejenak di luar untuk berbincang, Nona? Anggap saja sebagai obrolan santai antar sesama alumnus di sini. Terus terang, aku sangat tertarik dengan poin-poin pidatomu tadi."

Suara berat Reynard yang terdengar tulus, ditambah dengan binar kekaguman di matanya, meruntuhkan semua dinding pertahanan Emily. Maka, seolah terhipnotis dan tanpa berpikir panjang lagi, Emily langsung mengangguk, mengiyakan ajakan itu sebelum akal sehatnya sempat memprotes.

"Mari..." kata Reynard lembut, seraya mengulurkan satu tangannya dan sedikit memundurkan langkah, mempersilakan Emily untuk berjalan lebih dulu dengan sikapnya yang begitu gentleman.

Emily memperhatikan sopan santun pria itu dengan saksama. Sungguhan, pembawaan putra bungsu keluarga Walter ini benar-benar berbeda bak bumi dan langit jika dibandingkan dengan sang putra sulung. Jika kakaknya dikenal keras kepala, kaku, dan cenderung mendominasi dengan keangkuhannya, Reynard justru memiliki kehangatan dan karisma alami yang membuat siapa pun di dekatnya merasa dihormati. Perbedaan yang begitu nyata itu membuat Emily diam-diam merasa lega sekaligus semakin penasaran.

1
Mita Paramita
Ralph lagi curhat nih 🤣🤣🤣
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Nona Syela: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Nona Syela: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Nona Syela: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Siap kak 😍💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!