Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 6 Curhatan Hati Sang Wakadanna dan Adu Nasib Sang Asisten|
...|Legacy of Soryu|...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Bara melangkah dengan kedua tangan terkubur di dalam celananya. Sebuah setelan tuksedo yang tampak terlalu megah untuk sekadar berjalan kaki di trotoar Jakarta yang berdebu.
Davian mengekor setengah langkah di belakang, sembari memeluk tabletnya yang mati, menjaga ritme napasnya dengan susah payah agar tidak merusak keheningan yang sedang dibangun tuannya.
Rapat yang ia datangi baru saja usai dalam waktu rekor kurang dari dua puluh menit. Bara Soryu telah memangkas semua basa-basi para distributor, ia menyodorkan angka final yang membuat lawan bicaranya menandatangani dokumen dengan jemari gemetar dan keringat dingin yang mengucur di pelipis.
Davian masih sering merasa takjub sekaligus ngeri; bagaimana mungkin pria yang baru berusia dua puluh tiga tahun ini bisa memiliki aura yang begitu mencekik hanya dengan diamnya saja?
"Wakadanna," Davian akhirnya memberanikan diri memecah kesunyian setelah sepuluh menit mereka berjalan tanpa arah. "Kita ini sebenarnya mau ke mana?"
Bara terus melangkah, mengabaikan pantulan dirinya di etalase gedung kaca.
"Jika memang tidak ada agenda darurat, lebih baik kita kembali ke kantor. Laporan keuangan kuartal ini masih butuh anotasi akhir—"
"Jalan-jalan," potong Bara pendek.
Davian mengerjap, nyaris tersandung kakinya sendiri. "Jalan-jalan? Maksud Anda... rekreasi gitu?"
"Kau butuh kamus untuk memahami kosa kata itu, Davian?"
"T-tentu tidak, Wakadanna. Baik, mari kita... berekreasi." Davian menyerah, memilih mengikuti arus aneh yang sedang membawa bosnya.
Bara berhenti di depan sebuah bangku beton di sisi gedung perkantoran. Ia duduk dengan gerakan anggun, sama sekali tidak peduli pada debu yang mungkin menodai celana berbahan wol premiumnya itu. Matanya menatap lurus ke arah arus manusia yang berlalu-lalang di trotoar.
Davian berdiri kaku di sampingnya selama beberapa saat, seperti ajudan yang sedang berjaga, sebelum suara Bara kembali terdengar.
"Kau menghalangi pandanganku, Davian."
Davian segera duduk di ujung bangku dengan punggung tegak. Ia meletakkan tablet di atas pangkuannya, mencoba memproses suasana melow yang tiba-tiba menyergap di antara mereka.
Tak lama, sebuah keluarga kecil muncul dari ujung jalan. Seorang ayah dengan kaus sederhana sedang menenteng kantong belanjaan, di sampingnya sang ibu menggandeng anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun yang melompat-lompat dengan riang. Mereka tampak begitu ringan, tertawa pada lelucon internal yang tidak perlu dimengerti oleh dunia, mereka berjalan tanpa beban seolah-olah ekonomi global tidak sedang berada di ambang resesi.
Bara tidak berkedip. Matanya terus mengekor pada keluarga itu, mengamati binar di mata sang anak hingga mereka perlahan menjauh dan hilang di balik tikungan jalan.
"Kenapa aku tidak bisa hidup normal?" tanya Bara tiba-tiba. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan kepada angin.
Davian menahan napas, tidak ingin menginterupsi arus kejujuran yang langka ini.
"Kuliah S2. Hal-hal yang dilakukan pria berusia dua puluh tiga tahun pada umumnya," lanjut Bara. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang bersih namun terasa berat akan beban tanggung jawab.
"Pergi ke mall tanpa harus memikirkan protokol keamanan, menonton bioskop tanpa memesan seluruh kursi satu ruangan, atau sekadar berkencan dengan pacar tanpa merasa ada musuh yang mengincar leherku dari balik bayang-bayang."
Bara mengembuskan napas panjang, wajahnya menunjukkan ekspresi lelah yang sangat manusiawi.
"Aku punya segalanya, Davian. Aku bisa membeli gedung di depan ini sekarang juga jika aku mau. Tapi aku tidak bisa membeli satu jam saja rasa tenang."
Davian sedikit bergeser, merasa dadanya agak sesak—mungkin karena sedikit tersindir dengan keluhan bosnya yang bergelimang harta itu.
Wakadanna, setidaknya Anda meratapi nasib di atas bangku beton sambil mengenakan jam tangan seharga rumah saya...
"Dan sekarang?" pancing Davian pelan.
"Dan sekarang, aku di sini," Bara menatap trotoar dengan getir.
"Duduk di depan gedung orang lain pada jam sepuluh pagi, mengeluh tentang kehidupan yang diimpikan oleh jutaan orang, sementara kepalaku dipenuhi daftar tersangka yang mungkin telah membunuh ayahku sembilan belas tahun lalu."
Bara menoleh ke arah Davian, senyum sarkas tersungging di bibirnya. "Ironis, bukan? Aku punya kekuatan untuk menghancurkan pasar, tapi tidak punya kekuatan untuk sekadar menjadi pria biasa yang mengantre kopi di pagi hari."
Davian terdiam, hanya bisa menatap tuannya yang sedang terjebak dalam sangkar emas buatan sejarah keluarganya sendiri.
"Kadang, ketenangan adalah kemewahan yang paling mahal bagi seorang seperti Anda, Wakadanna."
Keheningan di antara mereka kini bergeser fasanya—dari ketegangan yang menyesakkan menjadi sesuatu yang lebih seperti canggung.
Davian menatap aspal jalanan, jemarinya mengetuk pinggiran tablet dengan ritme yang lambat, seolah sedang menimbang-nimbang beratnya rahasia yang akan ia bagi.
"Wakadanna," suaranya akhirnya pecah, lebih rendah dan serak dari nada profesional biasanya.
"Setiap manusia lahir dengan beban yang sudah ditakar. Tak ada yang benar-benar ringan."
Bara tidak menyahut, namun ia tidak juga memutus kontak batin itu. Ia memberikan ruang bagi Davian untuk melanjutkan.
"Contohnya saya," Davian menjeda, matanya menyipit di balik kacamata bulatnya.
"Mungkin Anda hanya melihat saya sebagai orang yang dibayar untuk mengatur jadwal Anda. Tapi sebelum saya mengenakan jas ini, saya adalah tulang punggung keluarga kelas menengah ke bawah yang broken. Ayah meninggal saat saya SMP, meninggalkan Ibu dan dua adik yang masih butuh biaya."
Bara menoleh sedikit, menatap profil wajah samping asistennya yang tampak lebih tua dari usianya saat menceritakan hal itu.
"Sore hingga malam saya menjaga warung Madura, lalu lanjut mengantar katering tetangga. Pernah suatu hari, saya pulang membawa nilai ujian yang sempurna, tapi Ibu saya justru menangis di pojokan karena tidak punya uang untuk menebus obat adik saya yang sesak napas. Di detik itu, nilai akademis saya tidak lebih berharga dari selembar kuitansi apotek."
Davian menoleh, mengunci tatapan Bara dengan keberanian yang jarang ia tunjukkan.
"Jadi, jika Anda bertanya kenapa tidak bisa hidup normal... saya hanya bisa bilang: Wakadanna adalah orang yang sangat beruntung di antara jutaan orang yang tidak beruntung."
Bara tertegun. Ada sesuatu yang bergeser di balik dadanya—rasa ego yang selama ini ia pelihara sebagai tameng pelindung, tiba-tiba terasa retak.
"Beban Anda memang unik, Wakadanna. Memimpin dinasti sebesar Soryu Group sambil memikul dendam sembilan belas tahun lalu... itu luar biasa berat," Davian merapikan tabletnya yang sebenarnya sudah sangat rapi.
"Tapi jika Anda lahir di pinggiran kota dengan tanggungan tiga nyawa di pundak, Anda tidak akan sempat meratapi 'hidup normal'. Anda akan terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara agar besok ibu serta adik Anda tidak kelaparan."
Bara menghela napas panjang, menatap ujung sepatunya yang mengkilap.
"Kau sedang mencoba membuatku merasa menjadi orang paling jahat karena mengeluh, ya?"
"Tidak, Wakadanna. Saya hanya sedang memberikan perspektif lain supaya, Wakadanna bisa bersyukur."
"Kedengarannya tetap seperti dakwaan."
"Maaf jika kejujuran saya terdengar seperti tuntutan hukum."
Bara terdiam cukup lama. Jemarinya yang tadi terkepal kuat kini melemas. "Maaf," ucapnya pelan.
Davian hampir tersedak ludahnya sendiri. "A-apa? Maaf?"
"Ya, maaf," ulang Bara, kali ini lebih tegas. "Aku mengeluh tentang hak istimewaku di depan orang yang harus bertaruh nyawa hanya untuk bertahan hidup. Itu... tidak elegan sama sekali."
Kilatan haru yang sulit disembunyikan terpancar di balik kacamata Davian. Ia tidak menyangka pria sedingin es ini bisa mencair secepat itu.
"Dan," Bara melanjutkan, suaranya sedikit lebih lembut, "terima kasih. Untuk tetap bertahan di sampingku meskipun aku adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada."
Davian tersenyum tulus, senyum yang mencapai matanya. "Wakadanna, jangan salah paham. Alasan utama saya bertahan adalah karena Anda membayar saya tiga kali lipat dari standar pasar."
Bara mendengus, menoleh dengan tatapan sarkas. "Jadi bukan karena aku orang yang menyenangkan untuk diikuti?"
"Sama sekali tidak. Anda adalah manusia paling tidak menyenangkan yang pernah saya temui dalam radius seribu kilometer."
"Dan kau masih di sini?"
"Uangnya sangat membantu, Wakadanna."
Bara tertawa kecil—sebuah tawa singkat yang lebih mirip hembusan napas lega, disertai lengkungan samar di sudut bibirnya. "Baiklah. Kalau begitu, periksa rekeningmu nanti sore. Aku baru saja memutuskan untuk menambahkan bonus kompensasi atas 'ketidaksenangan' yang kau alami selama satu kuartal ini."
Mata Davian membelalak. Di dalam hatinya, ia berteriak kegirangan—mungkin sanggup membeli mobil baru atau melunasi cicilan rumah ibunya seketika. Namun di luar, ia hanya berdehem sopan.
"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Wakadanna."
"Jangan berlebihan. Itu hanya cara agar kau tidak berhenti bulan depan," sahut Bara, kembali ke mode dinginnya yang biasa.
"Lalu, apa lagi yang ingin kau katakan?"
Davian kembali menatap ke depan, suaranya kembali tenang. "Ibu saya sudah tidak menangis lagi sekarang. Adik-adik saya sekolah dengan fasilitas terbaik. Rumah kami tidak lagi bocor saat hujan badai. Semua itu karena Anda memberikan saya kesempatan. Jadi, sebenarnya sayalah yang berterima kasih, Wakadanna. Anda keras di luar, tapi saya tahu... di dalam sana masih ada hati yang selembut Hello Kitty."
Bara mengangguk sekali, menatap langit Jakarta yang mulai terik. "Baguslah. Setidaknya uang Soryu Group berguna untuk sesuatu yang nyata."
Hening kembali menyelimuti, namun kali ini terasa hangat. Tak ada lagi canggung, tak ada lagi sekat. Bara bangkit dari bangku beton itu, merapikan jasnya yang tak berkerut sedikit pun.
"Ayo balik. Laporan keuangan itu tidak akan selesai dengan sendirinya, dan kau harus bekerja lebih keras untuk bonus itu."
"Tentu, Wakadanna," jawab Davian dengan semangat yang jauh lebih menyala.
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉