NovelToon NovelToon
Saat Istriku Setuju Bercerai

Saat Istriku Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Yunus

Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.

Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.

Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.

Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harus marah pada siapa?

Azalia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang sudah dihuninya selama 2 tahun. Tidak ada barang mewah di sini. Tapi udara terasa lebih sejuk menyambut Azalia. Tidak ada bayang-bayang Gavin, tidak ada tatapan tajamnya yang selalu membuatnya merasa kecil. Hanya ada dia dan keheningan rumah ini.

Memasuki ruang tamu yang sederhana. Azalea menyapukan pandangan. Rumah ini sengaja disediakan Gavin untuknya, tidak semewah penthouse Gavin. Tapi di sinilah tempat yang dulu ia bangun dengan harapan-harapan untuk hidup bersama Gavin, untuk memiliki kehidupan pernikahan yang hangat dan penuh kebahagiaan.

Dulu, setiap kali dia duduk di sofa ini, dia selalu menunggu suara mobil Gavin di depan rumah. Setiap kali dia berdiri di dapur, dia selalu membayangkan memasak sesuatu untuk pria itu. Namun, bertahun-tahun berlalu, nyatanya Gavin tidak pernah benar-benar pulang. Dia hanya meninggalkan bayangannya, sebuah kehadiran kosong yang selalu membuat Azalia merasa sendirian. Meskipun mereka memiliki ikatan pernikahan.

Dan sekarang.... Azalia kembali di sini. Tapi perasaannya telah berubah.

Azalea berjalan menuju kamarnya yang dulu. Tempat tidur masih sama, lemari masih ada di sudut ruangan, tapi sama sekali tidak ada jejak Gavin di sini. Tidak ada pakaian Gavin, tidak ada wangi tubuhnya, tidak ada keberadaannya yang dulu Azalia dambakan.

Dulu, Azalea begitu menginginkan Gavin berada di sisinya. Tapi sekarang, ketika dia akhirnya bebas dari pria itu, perasaannya justru semakin sakit.

Azalia menekan dadanya yang terasa sesak.

Sesungguhnya Azalia tidak marah karena Gavin tiba-tiba baik padanya. Dia tidak marah karena perhatian itu datang di saat-saat terakhirnya.

Dia terluka.

Luka karena mengetahui bahwa selama ini Gavin hanya melihatnya ketika dia hampir pergi. Seolah-olah keberadaannya baru berarti ketika dia akan menghilang.

Azalia meremas ujung bajunya, matanya terasa panas.

Dia datang ke sini untuk menjauh dari Gavin. Untuk mencari kembali sedikit ketenangan yang masih tersisa.

Tidak ada Gavin di sini. Tidak ada beban untuk terus berharap pada seseorang yang tidak pernah benar-benar ada.

Rumah sederhana ini.

Di sinilah tempatnya.

Rumah yang mungkin hanya berisi kesepian, tapi setidaknya di sini, dia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa merasa seperti seseorang yang sedang dikasihani. Azalia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, saat akan mencoba tidur, suara mesin mobil terdengar dari luar.

Tubuhnya menegak. Azalia pergi ke jendela untuk mengintip.

Itu mobil Gavin. Tapi bukan hanya satu, melainkan ada banyak rombongan mobil yang tiba-tiba saja memenuhi halaman rumahnya.

Buru-buru Azalia keluar, melihat semua orang yang keluar dari mobil dengan bingung.

Sementara Gavin turun dari mobilnya dengan tenang. Posturnya tegap seperti lembing saat menatap rumahnya dan sekeliling.

Lalu Azalia melihat Abu, juga perawat yang dibawa Dokter Wahyu tadi.

Azalia kebingungan menatap berapa banyak orang yang dibawa Gavin. Lelaki itu juga memerintahkan orang-orang untuk membersihkan semua bagian tempat ini dengan baik. Baik di dalam, maupun di luar.

Semua orang yang turun tadi segera mengangguk, menyebar dengan tugas masing-masing.

"Tunggu! Apa yang kalian lakukan di sini?" Azalia bertanya.

Abu sibuk mengatur pelayan dan anak buah Gavin seolah tidak mendengar pertanyaannya.

Gavin mendekat. Langkahnya tenang. "Ini rumahku. Aku juga punya hak untuk tinggal di sini."

Azalia kehilangan kata-kata.

Gavin merengsek masuk melewatinya, melihat-lihat seolah dia baru kembali ke rumahnya setelah sekian lama.

Buru-buru Azalia mengikuti, menahan langkahnya. "Gavin, kenapa kamu..,"

"Kenapa? Aku juga tidak boleh tinggal di sini?"

Boleh. Tentu boleh. Tapi kenapa dia akan tinggal di sini?

"Tuan." Abu datang dari arah belakang, berdiri di hadapan mereka. "Kamar di sini hanya ada 3. Satu pelayan akan menginap di sini dan perawat untuk Nyonya bisa satu kamar. Saya juga sudah menempati kamar yang satu lagi. Jadi... Untuk barang-barang dan pakaian Tuan, saya jadikan satu dengan Nyonya."

Azalia baru akan membuka mulut untuk protes, tapi Gavin menyala ucapannya lebih cepat.

"Oke. Pastikan kalian menatanya dengan baik. Sebelum itu bersihkan dan ganti semua sprei dan gorden. Aku juga ingin tempat tidur yang baru, yang lebih besar dan lebih nyaman."

Abu mengangguk patuh. Segera melaksanakan perintah Tuannya.

"Gavin.."

"Kenapa? Aku juga tidak bisa tidur di kamar? Apa kau ingin aku tidur di luar?"

"Bukan, Gavin. Maksudku, rumah ini tidak sebesar rumahmu. Jika kau memindahkan semua orang ke sini? Rumah ini akan penuh sesak. Aku hanya..,"

"Ini kemauanmu. Karena kau yang keras kepala pergi dari rumahku." Gavin bicara santai. "Aku sudah bilang, kalau aku tidak akan membiarkanmu pergi."

Azalia membuka mulutnya lagi, tapi pada akhirnya, dia tidak memiliki kata-kata.

Dia hanya bisa meninggalkan Gavin masuk kamarnya dengan kesal.

Tidak tahu berapa lama dia tidur, saat dia bangun, lampu tidur sudah menyala di sisinya.

Tetapi suasana seperti ini sudah biasa baginya.

Karena dia sudah sering melupakan banyak hal, Azalia terbiasa membuka buku catatannya. Di bagian akhir, pandangannya berhenti.

Sebuah catatan panjang, lengkap dengan jam yang tertera. Serangkaian kegiatan yang sudah ia lakukan sejak pagi, hingga detail alasan kenapa dia kembali ke rumah ini.

Catatan itu membantunya mengingat, kalau tadi sore dia sempat berdebat dengan Gavin. Ya, pria itu ingin tidur di kamarnya.

Tapi sekarang, Gavin tidak ada di sisinya.

Azalia mengamati tulisan itu, terlalu rapi kalau itu goresan tangannya, jadi mungkinkah Gavin yang menulisnya?

Dadanya terasa sedikit sesak.

Azalia bangkit perlahan, melihat ke arah jam. Sudah pukul 01.00 dini hari, padahal rasanya baru sebentar dia tidur.

Pantas saja dia merasa lapar. Di catatan, menjelaskan bahwa dia tidur sejak sore.

Lorong rumah sudah gelap. Seperti hanya ada dia saja. Tapi saat dia menengok ke depan, tubuh panjang Gavin meringkuk seperti trenggiling di atas sofa.

Kedua tangan pria itu ada di bawah bantal, sementara kakinya meringkuk.

Azalia kembali dengan membawa selimut, meletakkan itu ke atas tubuh Gavin dengan hati-hati.

Dia sendiri pergi ke dapur, membuka lemari es. Mendadak semua bahan makanan sudah memenuhi ruang di dalamnya.

Tapi dia tidak tahu apa yang harus dia masak. Secara alami kakinya pergi ke lemari, tempat biasanya dia menyimpan mie instan.

Anehnya, tidak ada satu bungkus pun di sana. Semuanya hanya dipenuhi dengan bahan makanan, bahkan sampai rak ke bagian bawah.

"Apa aku lupa membeli mie?"

"Aku yang sudah membuangnya."

Tiba-tiba suara Gavin muncul dari belakang punggungnya, mengejutkan Azalia.

"Gavin? Kamu..."

"Lapar? Duduk di sana, aku yang akan menghangatkan makan malam untukmu."

Pelayan sudah meletakkan makan malam di lemari es, Gavin hanya perlu menghangatkan saja.

"Makanlah, pelan-pelan saja," katanya sambil menarik kursi tepat di depan Azalia.

Karena lapar, Azalia menarik piringnya, menyendok itu tanpa banyak bertanya lagi.

Tapi baru beberapa suap, kepalanya terangkat perlahan menatap Gavin. "Kau yang membuat catatan itu?"

"Kau tidak melihat tulisan seindah itu? Tentu saja aku yang membuatnya."

"Gavin kau tahu aku sedang sekarat, operasi pun tidak akan membantuku lagi. Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau memberatkan hatiku?" Tutur Azalia dengan bibir bergetar.

"Aku tidak memberatkan hatimu."

"Kau melakukannya. Kau tahu aku mencintaimu. Kenapa tidak bercerai saja? Dengan begitu, aku akan lebih mudah pergi tanpa ada orang yang menyadarinya."

"Kau tidak akan pergi kemana-mana. Selamanya kau akan tetap di sini." Gavin berdiri, berbalik menghindari tatapan Azalia.

"Gavin, aku sudah tidak memiliki banyak waktu. Kenapa kau menyia-nyiakan waktumu dengan orang sepertiku?"

Tiba-tiba Gavin berbalik lagi padanya, kedua tangannya menekan ke meja dengan kuat. "Dengar Azalia, tidak ada waktu yang sia-sia di sini. Jika aku bilang kau tidak akan pergi, maka kau tidak bisa pergi kemana-mana tanpa seizin ku."

Tidak hanya kemarin, bahkan di pagi dini hari pun. Azalia tidak membiarkan hati Gavin tenang.

Tidak tahukah perempuan itu hatinya sedang bergejolak.

Ingin marah, tapi tidak tahu marah dengan siapa?

Takdir?

1
Adinda
perduli mu teelambat Gavin
Ais
disatu sisi senang thor tp itu ngak sebanding dgn apa yg sdh azalia alami thor baik terhadap marta yg katanya ibu kandungnya jg gavin yg msh mengaku sbg suami azalia apa arti smua itu sementara azalia menahan derita dan sakit hati fisik mentalnya selama dia hidup didunia ini
Kar Genjreng
Renata memang benar dua Pria itu b****k tetapi punya alasan karena ternya istri bukan sedang bersandiwara tetapi memang nyata kalau sedang sakit dan nya lagi wanita itu lah yang sudah menyambung nyewa alvin,,,dengan ginjalnya,,,jadi ya mau bagaimana lagi,,
Rahma Inayah
bodoh nya Marta klu di manfaatin Mahesa demi suami rela kehilangan ank kandung darah daging sendri mending klu Mahesa ayah kandung or setidknya baik PD azalia ni gak .
Vie
ah akhirnya bisa update juga kak... 👍👍👍
Hani Ekawati
Bagus beri pelajaran buat orang orang serakah itu, orang tua yang tidak punya hati nurani terutama Marta. Demi bisa hidup mewah dia sampe menjual putrinya sendiri.
Hani Ekawati
Dasar kamu seorang ibu yang tidak punya hati
Bela Viona
rasakno
Hani Ekawati
Itu si Marta ibu yang tidak punya hati, anaknya sakit tapi tidak peduli sama sekali. Dan Gavin sepertinya sudah ada getar cinta atau hanya sebatas rasa iba.
Setyowati Setyowati
kapokmu kapan mahesa
Vie
yaaa padahal seru ceritanya.... lagi seru2 nya kak... 😭😭😭
Vie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
hadiah yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan.. 🤭🤭🤭
Vie
ya.. ya... ya... dalam mimpi mu kali ya.... 😝😝😝
Vie
ya harusnya kamu lebih berpikir lagi dengan jernih.... walau bagaimanapun dia sudah menikah, dan kalau kamu berada diposisi azalia, apakah kamu akan menerimanya begitu saja. melepaskan suami demi kembali bersama masa lalunya???
Vie
nah gitu dong kamu harus tegas dalam memilih suatu hubungan karena jelas kamu sudah memiliki seorang istri yang sangat mencintaimu, hanya saja kamu yang tidak bersyukur dan malah menyia2kan waktu saat bersamanya....
Vie
sok lah bawa dia berobat sampai sembuh total dan mendapatkan kebahagiaan
Vie
nah kan seperti hati kamu sekarang pada azilia. walau sebenarnya sudah terlambat karena waktu untuknya tidak akan lama lagi. isilah waktu yang tersisa itu dengan semua kebahagiaan untuk azilia....
Vie
bukankah kamu seperti menyindir diri sendiri ya??? 🤭🤭🤭🤭 karena hal itu seperti yang terjadi dalam hidup kamu.... 🤭🤭
Vie
ya siapapun pasti akan sangat hancur bila tau keadaannya seperti ini, terus dia merasa hanya dikasihani setelah apa yang dulu Gavin lakukan padanya.... itu wajar sih.... karena ini menyangkut nyawanya yang mungkin tinggal menunggu waktu akan menjemputnya... 😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!