Sekuel Talak di Ujung Ramadhan
Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.
Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.
Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
Sadar bahwa Dokter Gema tidak bisa digertak , Bu Anisa yang semula meratap dramatis langsung menegakkan punggungnya. Air mata buatannya menyusut dalam sekejap, digantikan oleh sorot mata ular yang licik. Dia melirik Leo, memberi kode agar putranya menahan diri, sementara dia sendiri mengambil alih kendali sandiwara ini.
Tanpa memedulikan hadangan Dokter Gema, Bu Anisa sengaja memutar tubuhnya dan mendorong pintu kamar nomor 304 dengan sekali sentakan kuat.
Brak!
Pintu kayu itu terbuka lebar, menghantam pembatas dinding.
"Sarah! Ya Allah, Nak!" Jeritan histeris Bu Anisa seketika memecah kesunyian kamar rawat.
Dengan kecepatan yang tidak terduga untuk wanita seusianya, Bu Anisa langsung menghambur ke arah ranjang. Sebelum Sarah sempat mencerna apa yang terjadi, tubuh mertuanya sudah merosot di sisi tempat tidur, merengkuh tubuh ringkih Sarah ke dalam pelukan yang teramat erat—namun terasa begitu mencekik bagi Sarah.
"Seminggu ini Ibu dan Leo cari kamu ke mana-mana, Nak! Ibu sampai tidak enak makan, tidak bisa tidur mikirin kamu dan kandunganmu," ratap Bu Anisa dengan suara yang sengaja dikeraskan, bergema hingga ke koridor luar agar didengar oleh para perawat yang menonton di ambang pintu.
Sarah mematung. Tubuhnya seketika kaku bak es, dikepung oleh rasa syok dan trauma yang mendadak bangkit secara brutal. Bau parfum menyengat milik Bu Anisa yang merangsek masuk ke indra penciumannya justru membangkitkan memori malam kelam itu—saat piring makanan dihempaskan dan fitnah keji dilontarkan.
Saat Bu Anisa mengeratkan dekapannya, Sarah bisa merasakan bisikan super lirih yang mendesis tepat di samping telinganya. Suara ratapan itu berubah menjadi ancaman dingin yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"Ikut kami pulang atau karier Leo hancur. Kalau karier Leo hancur, jangan harap kamu dan anak perempuanmu itu bisa hidup tenang di dunia ini, Sarah," bisik Bu Anisa, sarat akan racun intimidasi yang mematikan.
Setelah membisikkan ancaman itu, Bu Anisa merenggangkan pelukannya. Dia beralih mengusap air mata di pipi Sarah yang pucat dengan jemarinya yang terasa sedingin belatung di kulit Sarah. Wajah wanita tua itu kembali memancarkan topeng penuh kasih sayang, menatap perut besar Sarah seolah-olah dia adalah nenek yang paling mendambakan cucunya.
"Ayo kita pulang ya, Sayang? Ibu sudah masakan makanan kesukaanmu di rumah." ajak Bu Anisa.
"Dokter," Bu Anisa menoleh ke arah Gema yang berdiri di ambang pintu dengan rahang mengeras, "Anak saya dan menantu saya sudah saling merindu. Kami mau mengurus administrasinya sekarang untuk membawa Sarah pulang."
Sarah menatap Dokter Gema dengan pandangan mata yang dipenuhi keputusasaan mutlak. Di satu sisi, ada dinding pelindung yang ditawarkan oleh pria masa lalunya; di sisi lain, ada jerat tak kasat mata dari keluarga suaminya yang siap menghancurkan sisa hidupnya jika dia menolak.
...------------------------------...
Bisikan beracun Bu Anisa masih berdenging di rongga telinga Sarah, mengirimkan gelombang dingin yang sempat membekukan darahnya. Namun, ada yang berbeda dari diri Sarah hari ini. Dia bukan lagi Sarah yang seminggu lalu merangkak di lantai kamar yang terkunci, mengemis belas kasihan dari manusia yang hatinya telah mengeras bak batu.
Di dalam rahimnya, sebuah tendangan kuat kembali terasa.
Sentakan kecil itu seolah menjadi pasokan keberanian yang mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya. Dia tidak boleh kalah lagi. Jika dia menyerah sekarang dan kembali ke neraka itu, bukan hanya dirinya yang hancur, melainkan juga masa depan anak perempuannya.
Bu Anisa tersenyum penuh kemenangan, bersiap bangkit untuk menyuruh Leo mengurus administrasi. Namun, senyum itu membeku ketika Sarah secara tiba-tiba menyentakkan kedua tangannya.
Bruugg!
Sarah menghempaskan cengkeraman tangan Bu Anisa dengan sisa tenaga yang ia miliki. Sentakan yang begitu lugas dan bertenaga itu membuat Bu Anisa terhuyung mundur satu langkah, menatap menantunya dengan mata terbelalak tidak percaya.
"Saya tidak akan pulang ke rumah itu!" ucap Sarah.
Suaranya tidak lagi berupa bisikan serak yang rapuh. Meski pelan, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu dingin, tegas, dan bergaung kuat memenuhi seisi kamar rawat.
Leo yang berdiri di dekat pintu langsung menegang, matanya menyalang murka. "Sarah! Jaga ya kelakuanmu di depan Ibu! Apa-apaan kamu ini?!" bentak Leo, hendak melangkah maju untuk meraih lengan istrinya.
Namun, Dokter Gema dengan sigap menggeser tubuhnya, memblokir jalur langkah Leo dengan tatapan mata yang memperingatkan. "Tetap di tempat Anda, Saudara Leo," potong Gema penuh otoritas.
Sarah mengabaikan gertakan suaminya. Dia menegakkan punggungnya yang masih terasa ngilu, menatap lurus-lurus ke dalam manik mata Bu Anisa yang mulai memancarkan kepanikan terselubung.
"Ibu bilang anak perempuan di kandungan saya ini tidak berguna, bukan?" ujar Sarah, membuka kartu yang selama ini disembunyikan rapat-rapat di depan publik rumah sakit. Para suster di luar pintu seketika saling berbisik, membuat wajah Bu Anisa memerah menahan malu. "Ibu dan Leo mengunci saya di kamar, mempersulit saya ke kamar mandi, bahkan menampar saya hingga saya pingsan di jalanan. Dan sekarang... Ibu mengancam akan menghancurkan hidup anak saya jika karier Leo hancur?"
"Sarah! Tutup mulutmu! Jangan membuat fitnah di tempat umum!" teriak Leo, napasnya memburu, wajahnya pias karena rahasia busuk mereka mulai dikuliti satu per satu di hadapan orang luar.
"Saya tidak memegang ponsel, saya tidak memegang KTP, dan saya tidak tahu siapa yang menelepon kalian tadi," lanjut Sarah, suaranya kian mantap, menumpahkan segala kepedihan yang menjelma menjadi kekuatan mutlak. "Tapi demi Allah, jika karier Anda hancur karena kelakuan bejat Anda sendiri, jangan pernah sangkut pautkan itu dengan anak saya. Selesaikan urusanmu sendiri, Leo! Aku dan anakku tidak akan pernah kembali untuk menjadi tameng kemunafikan kalian!"
Bu Anisa gemetar hebat, bukan karena sedih, melainkan karena syok mendapati Sarah yang penurut kini berani menentangnya secara terbuka. "Leo... lihat istrimu... dia sudah gila..." bisik Bu Anisa dengan suara bergetar, mencoba mencari perlindungan di balik tubuh anaknya.
Sarah menarik napas dalam, memegangi perut besarnya dengan kedua tangan yang kini tidak lagi gemetar. Dia menoleh ke arah Gema. "Dokter Gema... sebagai pasien, saya menolak kunjungan dari kedua orang ini. Dan saya tidak mengizinkan mereka menyentuh berkas medis saya."
Gema tersenyum tipis, sebuah binar kebanggaan sekilas melintas di matanya melihat keberanian wanita itu. Gema berbalik menghadapi Leo dan Bu Anisa, lalu menunjuk ke arah luar lorong.
"Anda berdua sudah mendengar keputusan pasien. Silakan tinggalkan ruangan ini sekarang juga sebelum saya memanggil pihak keamanan untuk mengusir Anda secara paksa," ujar Gema dingin.
Leo mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap Sarah dengan kebencian yang mendalam, namun ketakutan akan hancurnya karier di Singapura membuatnya tidak berkutik. Dengan kemarahan yang tertahan di dada, Leo menarik paksa lengan ibunya.
"Ayo, Bu! Biarkan saja perempuan tidak tahu diri ini membusuk di sini!" desis Leo kasar.
Ibu dan anak itu berbalik, melangkah pergi meninggalkan kamar dengan menghentakkan kaki. Topeng kesucian mereka hari ini retak berantakan di koridor rumah sakit.
Begitu sosok mereka menghilang di balik belokan lorong, pertahanan batin Sarah runtuh. Dia meluruhkan punggungnya ke sandaran ranjang, air matanya menetes deras—namun kali ini, bukan air mata kekalahan, melainkan air mata kebebasan.
Lala langsung mendekati Sarah. Membiarkan wanita menumpahkan semua isi hati. Gema tadinya ingin menenangkan Sarah, tapi Lala sudah sigap duluan.
"Ingat kak, bukan muhrim." ucap Lala.
dosa bu dosaaa...
bahkan uang ny Sarah bakal ditilep sama ibu matre ini jangan2...