Masih dalam masa berkabung karena ayah dan semua saudara laki-lakinya gugur di medan perang. Bai Ningyuan, putri sulung jenderal Bai harus menerima kenyataan pahit yang sangat menyakitkan.
Putra mahkota, suaminya telah diangkat menjadi kaisar. Tapi titah pertama yang kaisar itu tulis adalah menurunkan pangkat Bai Ningyuan menjadi selir.
Tangan Bai Ningyuan gemetar, suaminya telah menjadikannya selir. Karena harus mengangkat putri perdana menteri Su menjadi permaisuri.
"Nyonya, silahkan berkemas. Dan pindah dari istana timur ini menuju istana Hanzi!" seru Kasim Wang.
"Nyonya..." pelayan di sisi Bai Ningyuan tampak sedih, matanya sudah berkaca-kaca.
"Lin'er, bereskan barang. Yang mulia ingin aku menjadi selir... " Bai Ningyuan terkekeh lirih, "maka aku akan menjadi selirnya!"
'Xuan Pingyan! jangan menyesali keputusanmu ini!' geram Bai Ningyuan dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Nyonya, kita bisa naik kereta..." ucapan Lin'er terjeda.
Karena memang dia tidak melihat keberadaan kereta kuda yang tadi pagi bahkan masih dia lihat ada di depan gerbang.
Lin'er bahkan sampai berlari ke arah belakang gerbang. Dan mencari di sekitar gerbang istana Hanzi.
"Keretanya..."
Lin'er segera menghampiri pengawal yang berjaga di depan pintu gerbang.
"Kalian berdua, dimana kereta istana ini?" tanya Lin'er.
"Tadi ada pengawal yang katanya dari istana, mereka butuh kereta untuk mengambil barang dari istana untuk di bawa kemari. Jadi, keretanya di bawa ke istana!"
"Istana siapa? istana mana?" tanya Lin'er.
Tapi ketika ditanya, pengawal itu malah terlihat kebingungan sendiri.
"Istana mana ya..."
"Bagaimana sih? lain kali tanyakan yang jelas. Kalau perlu masuk ke dalam dan lapor dulu pada nyonya..."
"Lin'er, sudahlah!" sela Bai Ningyuan.
Karena menurutnya percuma saja kalau Lin'er marah pada pengawal itu. Sepertinya dia sudah bisa menebak siapa yang mengambil kereta itu dengan sengaja.
Lin'er kembali berbalik mendekati Bai Ningyuan.
"Lalu bagaimana kita akan menuju ke istana Permaisuri, nyonya? kalau jalan kaki, kita akan terlambat..."
"Tidak masalah, jalan saja. Jangan terburu-buru, kita jalan pelan-pelan saja!"
Bai Ningyuan sudah bisa mencium ada aroma kelicikan yang dilakukan lagi-lagi oleh Su Qingyue itu.
Lin'er cemas, masalahnya mereka harus memberi salam pada permaisuri. Salam pagi ini, kalau sampai terlambat mereka akan mendapatkan hukuman.
Tapi, Bai Ningyuan justru ingin di hukum. Kenapa? karena akan ada yang mengamuk kalau dirinya dihukum. Jangan berpikir bahwa itu adalah kaisar, bukan? sama sekali bukan kaisar yang Bai Ningyuan harapkan untuk marah. Sebab, pria yang sudah menurunkan posisinya dari istri sah menjadi seorang selir. Mana perduli akan hal sekecil itu. Tapi, seseorang yang sudah pasti tidak akan bisa menerima Bai Ningyuan berlutut di depan orang lain.
Langkah Bai Ningyuan benar-benar perlahan. Sangat santai, dan itu membuat Lin'er semaki. cemas.
"Nyonya, apa nyonya baik-baik saja? apakah masih tidak enak badan karena terlalu banyak minum semalam?" tanya Lin'er khawatir.
Karena langkah Bai Ningyuan itu tidak seperti orang normal biasa yang berjalan. Cenderung ogah-ogahan, seperti memang tak niat sama sekali berjalan ke arah istana permaisuri yang bahkan jaraknya masih sangat jauh.
Sudah beberapa belas menit berjalan, mereka sampai di depan istana Hehua. Ada sebuah kereta kuda disana.
Di dalam kereta itu, Song Wanqing bahkan sengaja menunggunya. Sudah kesal setengah mati, Song Wanqing di dalam kereta.
"Mana sih wanita itu? ini sudah hampir jam 9. Yang ada permaisuri nanti marah padaku. Dia itu jalan atau merayap sebenarnya?" gerutu Song Wanqing yang merasa riasannya semakin pudar saja kalau terus menunggu Bai Ningyuan.
Hingga pelayan pribadinya melihat Bai Ningyuan yang berjalan dengan sangat santai dengan Lin'er.
"Nyonya, mereka datang!" kata pelayan itu.
Song Wanqing terlihat senang.
"Begitu mereka lewat, siram air kotor itu mereka ya. Ingat! buat mereka basah kuyup!"
"Baik nyonya!"
Lin'er yang melihat kereta kuda istana Hehua, segera mengernyitkan keningnya.
"Itu bukannya nyonya selir Song. Kenapa dia belum berangkat? biasanya dia yang sangat bersemangat kalau ke tempat permaisuri kan?"
Bai Ningyuan menghentikan langkahnya. Dia juga merasa agak aneh. Apalagi ketika dia mengarahkan pandangannya ke arah lain. Dia melihat dua pelayan yang ada di dekat pintu gerbang. Seperti maju mundur mengintip ke arahnya.
'Pasti mereka sudah menyiapkan sesuatu!' batin Bai Ningyuan.
Dia adalah putri jenderal Bai. Naluri pertahanan dirinya cukup naik. Dia punya insting yang baik pula. Hanya saja memang ketika dia menjadi putri mahkota, dia sudah tidak pernah menyentuh pedang, kuas atau segala macam yang tidak disentuh oleh putri mahkota yang anggun dan bersahaja memang.
Namun apa yang terjadi pada keluarganya beberapa hari yang lalu. Membuatnya sadar! kalau dia memang tidak bisa membiarkan dirinya menjadi lemah. Sekalinya dia lemah dan mengalah, kaisar benar-benar menempatkannya pada posisi yang membukanya sangat terpojok dan tak berdaya.
Bai Ningyuan meraih tangan Lin'er.
"Berjalan di sisi lain kereta, jangan berjalan di dekat gerbang!" kata Bai Ningyuan berbisik pada Lin'er.
Lin'er tidak bertanya, dari cara bicara nyonyanya dan sikap waspada Bai Ningyuan. Lin'er juga merasakan ada yang tidak beres.
Sayangnya apa yang akan dilakukan oleh Bai Ningyuan seperti terbaca oleh Song Wanqing.
"Heh, dia mau berjalan di sisi lain rupanya. Jangan harap!" gumamnya.
Song Wanqing segera meminta kusirnya untuk menggeser atau memindahkan kereta kuda itu ke arah kanan. Tepat dimana seharusnya jalan yang ingin dilalui Bai Ningyuan.
Gerakan kereta itu, membuat Bai Ningyuan menghentikan langkah. Jelas sekali, kereta itu sengaja bergerak ke arah kanan. Hingga dia dan Lin'er memang harus berjalan ke arah kiri dan entah rencana apa selanjutnya.
"Nyonya..."
"Kita jalan saja, perhatikan dua pelayan di gerbang itu. Sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu!"
"Baik nyonya!"
Bai Ningyuan dan Lin'er berjalan di arah kiri. Song Wanqing tersenyum puas. Dia berpikir rencananya pasti akan berhasil. Dan permaisuri Su akan sangat senang.
Bai Ningyuan dan Lin'er sudah berada di dekat gerbang. Dari arah gerbang itu dua pelayan membawa baskom air berukuran besar dan mengarahkannya pada Bai Ningyuan.
Dengan gerakan cepat, sebelum baskom air itu bisa mengguyur dirinya dan Lin'er. Bai Ningyuan menendang baskom itu dengan gerakan yang sangat cepat. Dia adalah putri sulung jenderal. Ilmu beladiri dan ilmu pedang, dia juga menguasai banyak.
Brakkk
Byurrr
"Agkhhh!" pekik dua pelayan itu yang jatuh, dan baskom air itu mengguyur mereka sendiri.
Song Wanqing yang melihat itu dari dalam kereta sangat kesal.
"Hahh, dasar pelayan bodoh. Cepat jalan! tinggalkan tempat ini cepat!" kata Song Wanqing pada kusir kereta kudanya.
Sementara dua pelayan itu mual-mual karena air yang mereka gunakan memang air bekas membersihkan kandang. Lin'er segera melindungi Bai Ningyuan. Berada di depan Bai Ningyuan supaya dua pelayan itu tidak menyipratkan air pada majikannya itu.
"Nyonya tidak apa-apa?" tanya Lin'er.
"Tidak apa-apa!"
"Mereka ini jahat sekali, jika nyonya terkena airnya. Bukankah kita harus kembali lagi ke istana untuk ganti pakaian. Benar-benar jahat!"
"Mereka hanya pelayan, Lin'er. Mereka hanya melakukan apa yang diperintahkan pada mereka. Tapi Song Wanqing juga tidak punya keberanian sebesar itu!"
"Jadi nyonya..."
"Semua ini ulah anak perdana menteri yang mengambil jasa ayahku itu. Bagus! perbanyak saja kesalahan padaku. Aku akan menagih beserta bunganya!" geram Bai Ningyuan mengepalkan tangannya.
***
Bersambung...
Kalau Bai Ningyuan mah santuy, untuk apa cari perhatian kaisar lagi..
Toh cinta nya saat ini udah mati..
Yg ada di hati nya hanya balas dendam atas keluarga nya yg telah mati & gak dihargai.. 🤭