NovelToon NovelToon
Perjodohan Yang Tak Terduga

Perjodohan Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami / Aliansi Pernikahan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Falco Kaiseradler

Bercerita tentang seorang pemuda yang bekerja di sebuah kantor dan dijodohkan oleh bos pemilik perusahaan dengan putri dari bos tersebut. Tapi.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Falco Kaiseradler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Truth or Dare

"Kalian gila! Sumpah, kalian benar-benar gila! Tapi aku harus akui, aku sangat menghormati keberanian kalian!" seru Lila, sahabat dekat dari Visha, Tasha, Misha, Masha, dan Sasha, sambil tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya. Tangan kanannya bertepuk tangan riuh, memberikan apresiasi tertinggi atas aksi nekat para sahabatnya.

Hari itu kebetulan tanggal merah dan sekolah diliburkan. Lila memanfaatkan waktu luang ini untuk berkunjung ke rumah kelima saudari itu, khusus untuk mengulik detail drama panas yang terjadi di depan gerbang sekolah kemarin sore.

"Seneng banget kayanya kamu, Lila. Mukanya sampai merah padam gitu," komentar Tasha melihat reaksi sahabatnya yang heboh.

"Ya habisnya gimana? Aku kira kalian bakal nyembunyiin fakta kalau kalian udah nikah sampe lulus. Eh, ternyata kalian malah membongkar rahasia kalian dengan cara paling epik: blak-blakan mencium bibir suami kalian di depan satu sekolah!" kata Lila yang masih mencoba menahan sisa tawanya.

"Apalagi Mbak Visha, ekspresi Mbak Visha kemarin itu lho... benar-benar sempurna! Antagonis tapi elegan dan menggoda, aku suka aku suka!" lanjutnya dengan mata berbinar.

Visha yang teringat kembali pada aksi impulsifnya kemarin langsung menunduk, wajahnya memerah padam karena malu bercampur gairah. "Udah, jangan dibahas lagi. Itu refleks karena kesel sama Erik," gumamnya pelan.

"Eh, tapi aku penasaran banget nih. Serius nanya, Mbak Visha beneran udah 'main' sama suami kalian?" tanya Lila, kali ini mengubah nada bicaranya menjadi lebih serius, penuh selidik, dan sedikit nakal.

"Bukan cuma udah, mereka berdua itu tiap malam genjot-genjotan sampai kasurnya mau jebol!" bukan Visha yang menjawab, melainkan Sasha dengan ekspresi polos yang lucu namun bermakna ambigu.

"Heh! Tiap malam apaan? Jangan ngarang! Cuma dua kali doang, ya!" bantah Visha cepat, meluruskan fitnah adiknya dengan wajah yang semakin merona. Sementara itu, Lila kembali meledak dalam tawa melihat kepanikan Visha.

"Mbak Visha enak udah dua kali ngerasain surga, lah kami berempat ini masih perawan ting-ting, belum pernah disentuh sama sekali!" kali ini Tasha ikut menyela perdebatan itu dengan nada protes yang penuh hasrat.

"Iya tuh, masa Mbak Visha terus yang dimanja, gak adil banget," timpal Misha sambil cemberut iri.

"Benar, harusnya gantian dong. Kita juga mau ngerasain hangatnya Mas Fadli," lanjut Masha mendukung kembarannya.

"Loh, kalian kok protesnya ke Mbak Visha sih? Minta ke suami kalian lah langsung kalau emang udah gatel pengen," ujar Lila sambil menyeka air mata di sudut matanya akibat tertawa.

"Iya ya, bener juga kata Mbak Lila. Massss!!!...." Sasha yang langsung terpicu ide itu berteriak lantang dan berlari kencang menuju ruang bermain untuk mencari Fadli.

"Lah, malah yang paling bocil yang paling agresif," komentar Lila geleng-geleng kepala melihat kelakuan Sasha.

"Ngomong-ngomong, Mbak Visha katanya mau mengajukan pindah kelas ya? Pasti rasanya enggak nyaman banget kan satu kelas sama si Erik itu?" kali ini Lila benar-benar bertanya dengan nada prihatin.

"Iya, aku udah bicara sama Bu Indah dan pihak sekolah. Katanya boleh dan sedang diproses," jawab Visha mengangguk.

Tak lama kemudian, Sasha kembali sambil menyeret tangan Fadli yang pasrah mengikuti langkah kecil istrinya.

"Kenapa sih, Sasha? Narik-narik aku ke sini segala? Lagi seru main game juga," tanya Fadli sedikit bingung namun tidak marah.

"Halo Mas!" sapa Lila sopan yang dibalas anggukan ramah oleh Fadli.

"Mas ikut ngobrol sama kita dong di sini, masa menyendiri aja," kata Sasha memaksa Fadli duduk di sofa.

"Ya aku kan enggak mau ganggu obrolan cewek-cewek kalian. Nanti canggung," kata Fadli sambil mendudukkan diri di sofa.

"Ah, kebetulan banget Mas Fadli gabung! Aku bawa kartu 'Jujur atau Tantangan' nih, kita main bareng yuk!" ajak Lila antusias sambil mengeluarkan kotak kartu dari tasnya.

"Boleh-boleh, kayanya asik tuh buat seru-seruan," seru Misha menyetujui.

"Yup, aturannya yang gabisa ngelakuin tantangan atau enggak mau jawab jujur harus dihukum makan satu biji cabe rawit utuh," usul Misha dengan ide jahilnya.

"Oke, siapa takut! Tapi semua orang harus sportif ya, ngelakuin apa pun yang tertulis di kartu," tantang Visha.

Mereka semua kemudian duduk melingkar di sekeliling meja rendah, dengan tumpukan kartu permainan yang sudah diacak tertata rapi di tengah.

"Jadi siapa dulu yang mau ngambil kartu pertama?" tanya Tasha.

"Aku saja deh, sekalian yang paling tua," Fadli mengajukan diri dan mengambil satu kartu teratas dari tumpukan itu.

"Jujur: Apa makanan yang paling tidak kalian sukai atau benci?" baca Fadli dengan suara lantang.

"Hmm, aku enggak suka jeroan hewan sih," jawab Fadli pertama.

"Visha enggak suka segala jenis siput-siputan atau kerang yang amis," jawab Visha.

"Tasha paling anti sama kacang tanah," jawab Tasha.

"Kalo aku enggak suka... duh, aku lupa nama buahnya, bentuknya bulat kecil pahit gitu. Leunca ya? Pokoknya rasanya pahit banget," jawab Lila sambil mengingat-ingat.

"Itu Leunca, Mbak Lila. Kalau Misha justru enggak suka pare, pahitnya nempel di lidah," jawab Misha.

"Sama, Masha juga gasuka pare. Pahit!" timpal Masha.

"Kalau Sasha enggak terlalu suka susu kedelai sih, rasanya aneh," jawab Sasha polos.

"Waduh, nanti 'susu' kamu enggak bisa gede lho kalau kamu gasuka susu," canda Lila dengan nada nakal sambil melirik dada Sasha.

"Enak aja! Sasha suka susu sapi murni kok, jadi masih bisa tumbuh gede dan montok!" jawab Sasha sewot sambil membusungkan dadanya yang masih rata, memancing tawa yang lain.

"Oke, giliran aku yang ambil selanjutnya," kata Visha mengambil kartu berikutnya.

"Tantangan: Mainkan permainan secara terbalik (membelakangi meja) sampai giliran kamu selanjutnya," baca Visha sambil mengerutkan kening.

Tanpa banyak protes, mereka semua memutar posisi duduk mereka membelakangi meja, menciptakan pemandangan yang cukup konyol namun intim.

"Oke aku selanjutnya. Tantangan: Cium pemain yang ada di sebelah kanan kalian," baca Tasha.

Seketika suasana menjadi semakin meriah dan hangat. Fadli yang berada di sebelah kiri Visha mencium pipi istrinya dengan lembut, Visha mencium pipi Tasha, Tasha mencium pipi Lila, Lila dengan canggung mencium pipi Misha, Misha ke Masha, Masha ke Sasha, dan Sasha dengan penuh semangat dan sedikit nafsu mencium pipi Fadli.

"Oke, giliranku. Jujur: Sebutkan pengalaman yang paling memalukan bagi kalian akhir-akhir ini," Lila mengambil kartu dan membacakannya.

"Pengalaman memalukan ya? Ah, jelas saat aku tahu kalau Tasha, Misha, Masha, dan Sasha ngintip aku sama Visha lagi 'main' di kamar," jawab Fadli jujur.

"Ah ya, sama. Itu memang cukup memalukan sekaligus mendebarkan," jawab Visha menimpali dengan pipi merona.

"Eh? Beneran? Kalian ngintip adegan panas mereka?" Lila langsung menatap sahabat-sahabatnya dengan mata terbelalak kaget, lalu dia langsung tertawa terbahak-bahak setelah mereka mengangguk membenarkan.

"Kalau aku sih pas Mas Fadli gak sengaja ngelihat aku ganti baju di kamar dan aku lagi telanjang bulat," aku Tasha dengan wajah sedikit memerah panas.

"Yaelah, ngapain malu? Kan udah jadi suami sendiri, sah-sah aja kali," komentar Lila santai.

"Itu dulu pas masih baru awal-awal nikah, Lila. Sekarang sih udah enggak masalah, malah pengen dilihat," jawab Tasha membela diri dengan jujur.

"Oke kalau aku... pas celana olahragaku robek pas jam pelajaran Penjas kemarin," jawab Lila dengan wajah merah padam karena malu.

"Oh, aku ingat itu! Untung aja pas lagi sepi dan gaada cowok yang lihat, jadi kamu bisa langsung lari ganti celana," kata Tasha mengingat kejadian itu.

"Kalau aku sama Masha, pas enggak sengaja kesandung kaki sendiri di mall padahal gaada apa-apa," jawab Misha sambil meringis.

"Iya, mana diketawain sama segerombolan cowok yang lewat pula. Malunya banget," lanjut Masha.

"Kalau Sasha gaada! Sasha gapernah punya pengalaman memalukan karena Sasha selalu keren!" jawab Sasha dengan percaya diri yang sangat kekanak-kanakan.

Permainan terus berlanjut dengan meriah dan penuh gelak tawa. Terkadang muncul pertanyaan jujur yang menyentuh hati atau tantangan yang konyol seperti menirukan suara hewan, namun mereka tetap melakukannya dengan sportif. Bagi yang menyerah, hukuman mengunyah cabai rawit pedas sudah menanti.

"Oke, ini kartu terakhir ya," kata Lila mengambil satu kartu yang tersisa.

"Tantangan: Lepas semua pakaian kalian selama 5 menit..... Loh heh? Kok ada kartu beginian? Seingatku aku gak pernah lihat kartu kayak gini deh," kata Lila dengan wajah memerah dan sangat bingung, menatap kartu itu dengan tatapan tidak percaya.

"Aduh, aku nyerah deh! Mana cabenya, mana?" Lila panik mencari piring cabai, langsung menyambar satu biji dan mengunyahnya cepat-cepat. Wajahnya memerah karena pedas.

"Aku mau ke toilet sebentar ya, perutku mules gara-gara cabe! Selamat bersenang-senang, teman-teman!" kata Lila sambil mengedipkan matanya penuh arti, lalu berlari kecil menuju toilet tamu, membawa serta piring sisa cabai.

"Lila! Dasar teman laknat!" Tasha yang menyadari akal bulus Lila langsung berteriak, namun sahabatnya itu sudah menghilang di balik pintu.

Sementara itu, Visha dengan tenang mulai membuka kaosnya, menyingkap kulit halusnya perlahan. Aksi santainya itu membuat adik-adiknya menatap dengan bingung.

"Ada apa? Kenapa kalian melamun begitu? Kita kan udah nikah, ini rumah kita sendiri. Lila juga sengaja pergi supaya kita bisa bebas ngelakuin tantangan ini," kata Visha dengan nada santai namun menggoda.

Tasha, Misha, dan Masha saling berpandangan, lalu mengangguk setuju. Mereka mulai melepaskan pakaian mereka satu per satu, meskipun gerakan mereka masih terlihat kaku dan grogi. Berbeda dengan Sasha, si paling bungsu yang tanpa ragu sudah melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat dalam hitungan detik dengan senyum lebar, memamerkan tubuh mudanya.

Fadli, melihat istri-istrinya sudah mulai melepas pakaian mereka, akhirnya ikut melepaskan pakaiannya juga, menemani para istrinya dalam keadaan polos apa adanya, menciptakan atmosfer yang kental dengan gairah.

Ketika mereka semua sudah tidak memakai satu helai benang pun, Tasha, Misha, Masha, dan Sasha tak bisa menahan diri untuk tidak menatap tubuh Visha. Mereka melihat beberapa bercak kemerahan—bekas cupang tanda kepemilikan—yang menghiasi area leher dan dada kakak tertua mereka.

"Itu... sakit enggak, Mbak? Bekas merah-merah gitu?" tanya Tasha penasaran sambil menunjuk leher Visha.

"Enggak kok, rasanya geli-geli enak dan nikmat. Nanti kalian juga bakal tahu sendiri kalau sudah giliran kalian," jawab Visha sambil tersenyum misterius.

Visha kemudian melirik ke arah suaminya yang masih tampak sedikit malu-malu menutupi area pribadinya. Sebuah ide nakal muncul di benaknya. Visha mengatur posisi agar tubuh telanjangnya dan keempat adiknya berjajar rapi di hadapan Fadli, memamerkan keindahan tubuh mereka secara frontal.

"Bagaimana, Mas? Pemandangan tubuh semua istri Mas tanpa penghalang apa pun... indah bukan?" tanya Visha dengan nada menggoda, sengaja menonjolkan lekuk tubuh mereka.

Pemandangan erotis dan pertanyaan itu langsung membuat bagian kejantanan Fadli mulai bereaksi, membesar dan mengeras dengan jelas, berkedut penuh hasrat di hadapan mereka semua.

Mata Tasha, Misha, Masha, dan Sasha terbelalak lebar, nyaris copot saat melihat perubahan drastis pada kemaluan suami mereka yang menegang sempurna.

"Um... serius itu segede itu?" bisik Misha kepada kembarannya dengan jantung yang berdegup kencang seolah mau meledak karena rangsangan.

"Gila... emangnya barang segede dan sekeras itu bisa muat masuk ke punya kita?" tanya Masha yang wajahnya sudah semerah tomat matang karena membayangkan benda itu di dalam dirinya.

"Muat dong, tenang aja. Kan Mbak udah pernah cobain dan buktinya Mbak sangat ketagihan dimasuki itu," jawab Visha santai, semakin memanaskan imajinasi adik-adiknya.

Sementara itu, Tasha dan Sasha hanya bisa terdiam mematung. Mata mereka terpaku pada kemaluan suami mereka tersebut, hidung mereka mulai meneteskan sedikit darah mimisan karena merasa sangat terangsang. Mulut mereka sedikit terbuka, meneteskan air liur tanpa sadar, dan area kewanitaan mereka mulai terasa sangat basah, hangat, dan berkedut-kedut, menandakan keinginan yang mendalam untuk segera mencoba memasukkan kemaluan suami mereka itu ke dalam tubuh mereka. Visha hanya tertawa kecil melihat reaksi polos namun penuh nafsu dari adik-adiknya.

Di balik pintu toilet yang sedikit terbuka, Lila mengintip kejadian itu dengan mata melotot. Reaksinya tak jauh beda: wajah memerah, napas memburu, mimisan, dan basah kuyup di area bawahnya. Dengan senyum mesum, ia menunggu momen panas selanjutnya, berharap ada adegan genjot-genjotan yang bisa ia tonton secara langsung. Namun, harapannya pupus saat ia melihat mereka mulai memakai pakaian mereka kembali setelah waktu lima menit berlalu.

"Yah... kok udahan sih? Gak seru banget, padahal tinggal dikit lagi tuh," gumam Lila menghela napas panjang penuh kekecewaan. Ia pun merapikan dirinya, membasuh wajahnya yang panas, dan keluar dari toilet dengan wajah polos seolah-olah tidak pernah melihat pemandangan surga dunia barusan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!