Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Aula utama Adhitama Mansion malam ini disulap menjadi ruang dansa yang luar biasa megah. Ratusan lampu lilin aromatik berjejer di sepanjang dinding marmer, berpadu dengan alunan musik klasik dari kelompok oktet gesek yang bermain di sudut ruangan.
Pesta perayaan kecil, yang sebenarnya jauh dari kata kecil bagi ukuran orang awam diadakan untuk merayakan pencapaian progres fisik proyek resort mewah di Bali yang telah selesai setengah jalan.
Para petinggi Adhitama Group, investor kakap, serta jajaran kolega bisnis elit Jakarta hadir dengan setelan terbaik mereka.
Alana Kirana berdiri di dekat pilar besar, menggenggam segelas sparkling water. Ia tampak memukau dengan gaun satin berwarna hijau zamrud berpotongan sederhana namun memeluk tubuh jangkungnya dengan sempurna,gaun hasil rancangannya sendiri.
Di sampingnya, Leo yang mengenakan tuksedo anak-anak berukuran mini sedang asyik mengunyah kue makaron cokelat.
"Mommy, kenapa orang-orang itu melihat kita seperti ingin menggigit?" bisik Leo, matanya melirik tajam ke arah sekelompok wanita sosialita dan pengusaha muda di seberang aula yang sejak tadi berbisik-bisik sinis.
Alana menghela napas pelan, mengusap bahu kecil anaknya.
"Abaikan saja, Leo. Mereka hanya heran melihat kita di sini. Ingat pesan Mommy, jangan jauh-jauh dari paman penjaga, ya?"
"Aku tahu, Mommy. Mereka kesal karena Mommy adalah kepala desainer yang paling hebat, sedangkan piring Tante ular kemarin sudah digusur ke penjara," sahut Leo dengan nada datar yang cukup keras, membuat beberapa orang di dekat mereka menoleh dengan wajah kaku.
"Leo, kecilkan suaramu, Sayang," tegur Alana, wajahnya sedikit merona.
Tiba-tiba, kerumunan di depan mereka membelah. Langkah kaki yang mantap dan berwibawa terdengar mendekat.
Devran Adhitama berjalan memotong aula dengan setelan tuksedo hitam pekat buatan penjahit terbaik Italia. Aura dominasinya begitu pekat, membuat bisik-bisik di sekitar seketika senyap.
"Kalian berdua tampak sangat serasi malam ini," ucap Devran, suaranya yang berat memecah kecemasan Alana.
Matanya mengunci sosok Alana, berkilat penuh kekaguman yang tidak lagi disembunyikan.
"Terima kasih, Tuan Adhitama. Ini semua berkat kontrak kerja ketat yang Anda paksakan," sindir Alana dengan suara rendah, melirik tajam pada pria yang masih menyimpan paspornya itu.
Devran hanya mengulas senyum tipis, lalu menunduk menatap putranya. "Bagaimana kuenya, Leo? Sesuai seleramu?"
"Kue makaronnya enak, Om seram. Tapi es krim yang Om janjikan kemarin belum datang ke kamarku," tagih Leo tanpa rasa takut, menatap ayahnya dengan tangan yang berkacak pinggang.
"Es krimmu akan diantarkan setelah pesta ini selesai, janji seorang Adhitama," balas Devran penuh wibawa.
Pria itu kemudian kembali menegakkan tubuhnya, mengulurkan tangan kanannya yang kokoh ke hadapan Alana tepat saat melodi lagu waltz klasik yang romantis mulai mengalun dari instrumen gesek.
"Nona Alana, lagu ini didedikasikan untuk keberhasilan konsep desainmu. Apakah kamu bersedia berdansa denganku?"
Alana tertegun, matanya membelalak. Ia melirik ke sekeliling aula.
Puluhan pasang mata, terutama para kolega bisnis wanita dan putri-putri investor yang berharap bisa memikat sang CEO kini sedang menatapnya dengan pandangan yang sanggup membunuh.
"Devran, jangan gila," bisik Alana panik, menolak maju.
"Lihat sekelilingmu. Jika aku menerima ajakanmu, besok pagi aku akan menjadi musuh nomor satu seluruh sosialita di kota ini."
"Biarkan saja mereka menjadi musuhmu, Alana," sahut Devran dingin, matanya berkilat posesif yang mutlak.
"Karena tidak akan ada satu pun dari mereka yang berani menyentuhmu selama tanganku yang menggenggammu. Sekarang, ikut aku."
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Devran meraih jemari Alana, menarik wanita itu dengan lembut namun tegas ke tengah lantai dansa yang luas.
"Om seram agresif sekali, Mommy! Semoga kakimu tidak diinjak!" seru Leo dari tepi lapangan, memberikan lambaian tangan kecil yang membuat beberapa pelayan di dekatnya menahan tawa.
Di tengah lantai dansa, Devran melingkarkan tangan kirinya di pinggang ramping Alana, sementara tangan kanannya mengunci jemari Alana yang terasa hangat.
Jarak di antara mereka terkikis habis, menyisakan aroma parfum maskulin kayu cendana milik Devran yang langsung memenuhi indra penciuman Alana.
"Kamu tegang sekali, Alana. Ikuti langkahku," bisik Devran, memandu tubuh Alana berputar mengikuti ritme musik yang lambat namun megah.
"Bagaimana aku tidak tegang?!" desis Alana, pandangannya terpaku pada dada bidang Devran karena ia terlalu takut untuk melihat tatapan tajam para tamu di sekitar mereka.
"Kamu sengaja melakukan ini, kan? Proyek Bali selesai setengah jalan itu hanya alibimu untuk memamerkan hubungan kita di depan kolega bisnismu!"
"Jika iya, lalu kenapa?" balas Devran tenang, tatapannya begitu intens menatap wajah Alana yang berada sangat dekat dengannya.
"Aku ingin mereka semua tahu, terutama para investor yang mencoba menjodohkan putri mereka denganku demi saham, bahwa posisi di sampingku sudah memiliki pemiliknya yang sah."
"Aku hanya desainer kotrakmu, Devran!" Alana mengingatkan dengan suara tercekat, jantungnya berdegup tidak karuan akibat kedekatan fisik ini.
"Kamu adalah ibu dari anakku, dan wanita yang memegang sapu tangan lavender itu, Alana. Berhentilah membuat batasan konyol di antara kita," ujar Devran, suaranya melembut, dipenuhi getaran emosi yang dalam.
Ia membawa tubuh Alana berputar dalam satu gerakan melingkar yang anggun, membuat gaun hijau zamrud wanita itu mengembang indah di bawah sorotan lampu kristal.
Di tepi lantai dansa, atmosfer justru terasa semakin panas oleh kecemburuan yang mendidih.
"Siapa sebenarnya wanita jalang itu? Berani-beraninya dia mendekati Devran setelah apa yang terjadi pada Siska!" bisik salah seorang putri pengusaha properti dengan wajah merah padam karena geram.
"Kudengar dia hanya desainer kelas dua yang dibawa dari Swiss. Mengapa Devran memperlakukannya seperti seorang ratu malam ini? Ini tidak masuk akal!" timpal rekannya, meremas kipas bulu di tangannya hingga patah.
Paman Devran, yang berdiri di dekat meja bar bersama beberapa dewan komisaris, hanya menatap pemandangan itu dengan senyum penuh arti.
"Anak itu... benar-benar mewarisi sifat keras kepala ayahnya jika menyangkut wanita yang dicintainya."
Kembali di lantai dansa, Alana bisa merasakan tatapan-tatapan penuh belati itu menusuk punggungnya. Ia mendongak, akhirnya berani menatap langsung ke dalam sepasang mata elang Devran.
"Mereka semua membenciku sekarang, Devran. Pesta ini akan menjadi awal dari masalah baru untukku."
Devran menghentikan putaran dansa mereka tepat saat alunan musik mencapai nada klimaksnya. Ia tidak melepaskan pinggang Alana, justru mengeratkan dekapannya selama beberapa detik ekstra di depan seluruh tamu undangan.
"Biar mereka membencimu, Alana. Tugas mereka hanya bisa menatap dari jauh dengan rasa iri," ucap Devran dengan nada suara yang penuh kepastian yang mutlak, menggema protektif di antara mereka berdua.
"Selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun konspirasi atau kecemburuan mereka yang bisa menggeser posisimu dari sisiku. Ingat itu."
Lagu berakhir dengan tepuk tangan formal yang terdengar agak terpaksa dari para tamu yang cemburu.
Devran melepaskan tangannya perlahan, memberikan kecupan lembut di punggung tangan Alana sebelum menuntunnya kembali ke arah Leo yang sudah menunggu dengan wajah bosan.
"Dansa yang bagus, Om seram. Tapi gerakan kakimu agak kaku di bagian akhir," kritik Leo langsung begitu kedua orang tuanya tiba di depannya.
Devran terkekeh, suara tawa yang sarat akan kebahagiaan sejati yang sudah bertahun-tahun tidak pernah terdengar di mansion itu.
"Kalau begitu, besok kamu yang harus mengajariku cara berdansa yang benar, Leo."
"Tentu saja! Tapi biayanya dua porsi es krim besar ya!" sahut Leo riang.
Alana hanya bisa tersenyum kecil melihat interaksi ayah dan anak di depannya.
Di tengah kepungan tatapan penuh dendam dari para kolega bisnis di aula tersebut, untuk pertama kalinya ia merasa bahwa mungkin berlindung di balik dada bidang Devran bukanlah pilihan yang buruk untuk masa depan mereka.