NovelToon NovelToon
Runtuhnya Hati Seorang Daren(Penyesalan Terdalam Dan Ketulusan Cinta Nadia)

Runtuhnya Hati Seorang Daren(Penyesalan Terdalam Dan Ketulusan Cinta Nadia)

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.


"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.


"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.35 Masih sikap yang hangat

Pagi harinya, Daren tidak lagi canggung atau gengsi. Dia terbangun lebih awal untuk menyiapkan pakaian Nadia dan membantunya berjalan ke kamar mandi dengan telaten. Tidak ada lagi perintah kasar atau nada angkuh dari mulut Daren, yang ada hanya tutur kata lembut yang penuh kehati-hatian.

"Nadia hendak turun dari tempat tidur, Daren yang sudah bangun terlebih dahulu itu langsung menghampirinya dan mengulurkan tangan kanannya pada Nadia "Aku bantu Nadia," ucap Daren.

Nadia tidak berkata apa-apa dan membiarkan tangan Daren memegangi lengannya dan menuntunnya berjalan ke kamar mandi dengan sangat hati-hati "Awas pelan-pelan saja Nadia," ucap Daren pada Nadia saat melihat ada timba kecil yang menghalangi jalan Nadia, Daren segera menyingkirkan timba kecil itu agar tidak membuat kaki Nadia tersandung. Nadia memperhatikan sikap Daren itu sambil tersenyum samar.

"Aku antar sampai sini,Nanti kalau mau minta tolong panggil aku saja, aku menunggu kamu di luar," ucap Daren yang kemudian pergi meninggalkan Nadia yang masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Daren duduk-duduk di kursi di depan kamar mandi sambil berjaga dan menunggu Nadia selesai mandi.

Beberapa menit kemudian Daren mendengar Nadia membuka pintu kamar mandi dan dengan segera Daren bangkit dari tempat duduknya berdiri di depan pintu kamar mandi, Nadia keluar dari kamar mandi dan Daren kembali memapah Nadia.

"Kamu duduk saja di sini, aku yang akan ambilkan baju ganti buat kamu," ucap Daren yang kemudian mendudukkan Nadia di atas tempat tidur mereka.

Nadia mengangguk pelan, Daren kemudian berjalan menuju ke arah lemari pakaian yang terletak tidak jauh dari tempat tidurnya, Daren membuka lemari pakaian yang cukup besar itu sambil bertanya pada Nadia "Kamu mau pakai baju yang mana Nadia?" tanya Daren menoleh pada Nadia.

"Yang itu saja Tuan, gaun rumahan yang warna karamel," tunjuk Nadia pada gaun yang ada di gantungan lemari baju.

Daren kemudian mengambil gaun itu dari dalam gantungan lemari baju dan membawanya pada Nadia.

"Terimakasih Tuan," ucap Nadia sambil mengulas senyum tipisnya pada Daren.

"Aku keluar dulu sementara kamu ganti baju," ucap Daren pada Nadia.

Nadia menganggukkan kepalanya pelan, kemudian Daren melangkah keluar dari kamarnya.

Setelah selesai memakai baju Nadia pun keluar dari kamar, Dia melihat Daren sedang duduk-duduk di sofa yang ada di depan kamar itu.

"Tuan, saya mau turun," pamit Nadia pada Daren.

"Hm," Daren bangkit dari duduknya dan memegangi lengan Nadia yang akan menuruni anak tangga lantai dua itu.

"Tidak usah Tuan, saya bisa sendiri," Nadia menolak Daren yang akan membantunya turun itu dengan halus.

"Tidak Nadia, Aku harus membantu kamu turun supaya tidak terjadi apa-apa lagi dengan kakimu dan sesuai perintah Nenek Lusi aku harus menjaga kamu," ucap Daren yang tetap memegangi lengan Nadia.

Nadia pun pasrah menuruni tangga demi tangga dengan di bantu Daren.

Nadia yang mulai bosan diam di kamar mencoba pergi ke dapur untuk membuat teh. Daren yang melihatnya langsung menghampiri dan menawarkan diri untuk membantu.

"Kamu buat apa Nadia?" tanya Daren sambil mendekati Nadia di dapur.

"Saya membuat teh Tuan, Tuan Daren mau juga?" ucap Nadia.

"Boleh, aku yang ambilkan airnya ya," tanpa menunggu jawaban dari Nadia, Daren langsung meraih panci kecil dan mengisinya dengan air kemudian meletakkannya di atas kompor dan memasak air itu sampai mendidih.

Sementara itu Nadia menyiapkan dua cangkir dan mengisinya dengan gula dan teh " Biar aku yang tuangkan air panasnya," ucap Daren pada Nadia sambil memegang panci yang berisi air mendidih.

"Biar saya saja Tuan, itu panas," kata Nadia khawatir Daren kepanasan karena selama ini yang Nadia tahu Daren tidak pernah mengerjakan pekerjaan dapur.

"Kakimu masih sakit, biar aku saja yang menuangkan nya," kemudian Daren menuangkan air panas itu ke dalam cangkir satu persatu sampai penuh dan setelah itu Nadia mulai mengaduk teh itu.

Setelah teh jadi, Nadia menaruh teh itu di atas nampan kecil dan hendak membawanya ke meja makan tapi buru-buru Daren mencegahnya " Biar aku saja yang menaruhnya di meja makan," ucap Daren.

Daren kembali lagi ke dapur, Daren yang masih kaku dengan urusan dapur mencoba memotong buah untuk Nadia, namun tangannya malah hampir teriris. Nadia secara refleks memegang tangan Daren dan mengajarinya cara memegang pisau dengan benar. Jarak yang sangat dekat itu membuat jantung Daren berdegup kencang, sementara Nadia buru-buru memalingkan wajahnya yang memerah.

"Em, maaf aku memang tidak bisa mengerjakan pekerjaan dapur," ucap Daren canggung.

"Tidak apa-apa Tuan, saya paham selama ini yang Tuan pegang bolpoin dan laptop jadi wajar kalau Tuan tidak bisa mengupas buah," Nadia tidak lagi menyinggung Daren dengan kata-kata pedasnya karena dia tahu Daren sudah mulai belajar menjadi baik pada dirinya sekarang.

"Sepertinya aku harus banyak belajar dari kamu Nadia," Daren tersenyum menatap Nadia yang sedang menata irisan buah apel itu di atas piring buah. Nadia tersenyum tipis mendengar ucapan Daren padanya.

Kemudian Daren dan Nadia berjalan menuju ke ruang meja makan "Biar aku yang bawa nampannya," Daren mengambil nampan yang kecil yang kue dan buah itu dan kemudian meletakkannya di atas meja makan.

Menu sarapan pagi ini sudah terhidang semua, Bibik sudah memasak dan menyiapkan untuk sarapan Daren dan Nadia.

Daren menarik salah kursi meja makan dan menyuruh Nadia duduk kemudian Daren juga duduk di samping Nadia.

"Terimakasih Tuan," ucap Nadia sungkan.

"Lain kali tidak usah bilang terimakasih karena aku ini suamimu," Daren tersenyum.

Nadia mengambil piring dan hendak mengambil nasi untuk Daren "Tuan Daren mau makan apa?" tanya Nadia menoleh pada Daren yang duduk di sampingnya.

"Aku makan sama sop daging dan sedikit sambal saja," hati Daren berbunga-bunga karena baru kali ini dia merasakan hangatnya sikap Nadia padanya.

Kemudian Nadia mengambil nasi dan menuangkan sop daging ke dalam piring lalu menambahkan sedikit sambel " Silahkan Tuan," Nadia menyodorkan piring yang sudah berisi makanan itu ke depan Daren.

"Terimakasih Nadia," kemudian mereka berdua pun menikmati sarapan pagi ini.

...----------------...

Sore harinya, sebuah paket tiba di rumah. Ternyata Daren memesankan sebuah alat terapi kaki canggih dan beberapa set peralatan melukis kualitas terbaik untuk Nadia, mengingat dulu Nadia sangat suka melukis sebelum pernikahan kontrak ini merusak hobinya.

Nadia tertegun melihat alat-alat lukis tersebut. Daren tersenyum tipis dan berkata, "Aku ingin kamu kembali menjadi Nadia yang dulu, yang bahagia dengan impianmu. Kamu tidak perlu menjadi pembantu di rumah ini lagi." Penuturan Daren berhasil menyentuh bagian terdalam dari hati Nadia.

...----------------...

Malam harinya, Nadia berdiri di balkon kamar sambil memegang kuas melukis barunya, menatap langit malam. Daren mendekat dan menyelimuti pundak Nadia dengan kain rajut hangat agar istrinya tidak kedinginan.

Nadia tidak menolak hangatnya selimut itu. Dia menoleh pada Daren dan berbisik pelan, "Kenapa kamu begitu baik sekarang, Daren?" Nadia pertama kali memanggil nama Daren tanpa embel-embel 'Tuan', Daren terpaku mendengarnya, lalu tersenyum sangat tulus.

Daren menggenggam jemari Nadia yang dingin, menatap mata istrinya dalam-dalam. "Karena aku menyadarinya terlambat, Nadia... bahwa hatiku sudah sepenuhnya menjadi milikmu." Nadia diam, namun dia tidak menarik tangannya kali ini.

1
partini
hemmm satu daftar kebegoan Darren langsung gas esmosi
🤦
partini
aihhhh harusnya istri mu lihat pas kamu ngusir Elsa malah di hapus dasar lemot
partini
ehhh kenapa ga dari kemarin" urus aihh cari penyakit aja kamu ren
be smart don't be stupid alias i d i o t🤭
partini
kasih kali kau Darren,, bikin tekdung aja lah jalur cepat itu ren
partini
bikin mereka ga bisa berpisah nek ,ayo lah nek be smart
partini
lagian ada" saja mau di Pepet terus juga percuma lah wong ga ada rasa di hati buat kamu loh ren
partini
pastinya ga perduli Nadia kan ga ada rasa sama kau Darren
partini
rasain loh 🤭🤭🤭
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
partini
aku kira lagi Ina inu thor
Isshabell: ah kakak..🤭
total 1 replies
partini
rutuh yah aduhh
partini
gampang banget masuk rumah CEO behhh ga ada pengaman ga ada cctv juga wow
partini
ga cuma pengemis Maaaf tapi cinta juga loh ,,dari sinopsisnya seperti itu ya Thor di tunggu part di mana babang bego mengemis cintahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
partini
mantap Nadia bikin suami mu ga bisa tenang CEO bego mau aja di kadalin
partini
iya juga ngapain juga mikirin mereka berdua,,bisa agak bar bar ga Thor Nadia nya
Isshabell: gitu ya kak🤭
total 1 replies
partini
nice
Isshabell: terimakasih kak .....
total 1 replies
partini
minum aja yg banyak habis itu Ina inu aihhhhh CEO 1/2 ons ,,aku benci Ama si nenek Thor bikin sengsara orang aja
partini
nek kamu malah bikin seorang perempuan di hina di rendah kan dan di sakiti kaya bintang cuma mau bikin cucumu sadar tega kamu nek
partini
mau di apain cucumu nek ,lagi tergila gila ma pacarannya mau dengar kalau iya cuma masuk telinga kiri keluar telinga kanan susah cucumu CEO 1/2 ons
partini
ikuti aja alur nya Nadia nanti juga jatuh cinta kalau sudah tau betapa beratnya sang kekasih untuk sekarang masih cinta buta mau ini itu ga bakal mempan adanya kamu yg sakit hati
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang
Isshabell: hai kak maksih ya sdh mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!