NovelToon NovelToon
Thornless Red Rose

Thornless Red Rose

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Teen / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Runtuhnya Istana Es

Gemercik air yang menghantam dinding-dinding batu tua Tamansari seolah menjadi satu-satunya suara yang menjembatani keheningan di antara mereka. Glen menatap Melanie, membiarkan sepasang matanya menelusuri wajah gadis yang selama berbulan-bulan ini menjadi pusat dari segala kemarahan, obsesi, dan kini ketakutannya yang paling besar.

Angin sore yang berembus kencang menerbangkan beberapa helai rambut panjang Melanie, namun gadis itu tetap bergeming. Ia tidak melangkah mundur, tidak juga memalingkan wajah. Keberanian murni yang terpancar dari manik matanya justru membuat Glen merasa amat kecil, jauh dari sosok Danuel yang angkuh dalam naskah sandiwaranya.

Glen mengepalkan tangan di dalam saku jaket denimnya. Ia bisa merasakan perih yang teramat sangat menjalar di dadanya, sebuah penolakan fisik terhadap ego yang selama belasan tahun ini ia pelihara dengan air mata ayahnya dan kesetiaan Bik Sisi di rumah mewahnya yang kosong.

"Melanie..." suara Glen akhirnya keluar, pecah di antara deru angin, kehilangan seluruh intonasi teatrikal yang biasa ia agungkan. "Kamu bertanya apakah aku masih membencimu? Pertanyaanmu itu... adalah hal paling kejam yang pernah kudengar."

Melanie menatapnya lekat-lekat, setitik air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa, Glen? Kenapa jujur pada perasaanmu sendiri terasa begitu menyiksa bagimu?"

Glen melangkah maju dengan cepat, memotong jarak di antara mereka hingga Melanie bisa melihat dengan jelas gurat-gurat kelelahan yang mendalam di wajah tampan pria itu. Rahang Glen menegang, dan napasnya memburu, seolah-olah seluruh pasokan udara di selasar tua itu telah habis.

"Karena jika aku tidak membencimu, aku mengkhianati ayahku!" desis Glen, suaranya bergetar hebat oleh emosi yang membuncah, sebuah pengakuan jujur yang selama ini ia kunci rapat di balik dinding esnya. "Setiap kali aku melihat senyummu di kampus, setiap kali aku mengingat bagaimana tulusnya kamu membantuku di kelas teater, ada bagian dari diriku yang berteriak bahwa aku tidak boleh merasa nyaman. Aku harus membencimu, Melanie. Aku sudah menulisnya di halaman pertama ceritaku bahwa kamu adalah musuhku!"

Glen menjeda kalimatnya, menarik napas dalam yang terasa begitu sesak sembari menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar.

"Tapi aku takut..." bisik Glen lirih, kepalanya tertunduk, membiarkan seluruh keangkuhannya runtuh berkeping-keping di atas lantai batu yang basah. "Aku sangat takut karena setiap kali aku mencoba merajut jaring untuk menjatuhkanmu, hatiku justru berbalik arah. Aku takut... kalau rasa benci yang kupelihara setengah mati ini, sudah sepenuhnya kalah oleh rasa yang lain. Aku takut aku telah jatuh cinta padamu, Melanie."

Mendengar pengakuan yang sarat akan keputusasaan itu, pertahanan Melanie runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras membasahi pipinya. Namun, alih-alih menjauh karena ngeri melihat kerapuhan sang pangeran kegelapan, Melanie justru melangkah maju. Dengan perlahan dan penuh ketulusan, ia mengulurkan kedua tangannya, menggenggam jemari Glen yang dingin dan gemetar.

Glen sempat tersentak, berniat menarik tangannya kembali karena rasa bersalah yang mendadak menghantam hatinya. Namun, cengkeraman lembut Melanie menahannya. Kehangatan yang mengalir dari jemari gadis itu seolah perlahan-lahan mencairkan dinding es yang membekukan jiwa Glen selama dua belas tahun.

"Glen, lihat aku," bisik Melanie di antara tangisnya, mendongak menatap sepasang mata elang yang kini meredup pasrah. "Cinta bukan sebuah pengkhianatan kepada ayahmu. Kamu tidak sedang mengkhianati siapa pun dengan menjadi manusia yang memiliki rasa. Luka masa lalu keluargamu adalah bagian dari sejarah, tapi masa depanmu... masa depan kita, tidak harus ditulis dengan tinta hitam yang sama."

Glen tidak menjawab. Ia hanya diam terpaku, menatap jalinan jemari mereka yang bertautan di tengah rintik gerimis tamansari. Untuk pertama kalinya setelah belasan tahun hidup dalam kepura-puraan dan kesunyian rumah besarnya, Glen merasakan sebuah kedamaian yang asing namun teramat ia rindukan menyelinap masuk ke dalam dadanya. Istana es yang ia bangun dengan megah untuk mengurung dendamnya kini telah runtuh sepenuhnya, menyisakan dua anak manusia yang memilih untuk berhenti saling melukai di bawah langit Jogja yang temaram.

1
Filan
langsung nembak aja nih Melanie
Filan
terlalu kejam untuk Melanie? untukmu kali
Xlyzy
sadarkan teman mu itu thone
Xlyzy
Kamu fikir naskah mu sudah rapih namun kamu lupa kamu membuat naskah dengan manusia yang memiliki akal dan sifat yang berbeda kamu tidak bisa mengatur mereka sesuai dengan alur yang kamu mau seharus nya kamu punya naskah cadangan antisipasi kalau naskah pertama tidak sukses di eksekusi
-Thiea-
perlahan, tanpa kamu sadari, niatmu itu sudah melenceng dari tujuan aslinya.
-Thiea-
ditantangin langsung sama Melani tuh Glen. kamu melampiaskan kekesalan pada orang yang gak tahu apa-apa. Apakah itu adil?
Mingyu gf😘
wahhh ada apa nih
Three Flowers
kayaknya kehidupan Glen ini ngeri banget sampai dia selalu ngehalu jadi pahlawan, mungkin dia pingin banget menyelamatkan keluarganya tapi tidak berdaya
Mingyu gf😘
iya kalau di pikir pikir buat apa begitu
Mingyu gf😘
Aduhh para cogan kampus🤭
Three Flowers
dia habis ngadepin penjahat terselubung 🤣
Filan
Kok Thone tahu segalanya? Kasihan juga Glen sok misterius padahal semua orang bisa baca dia 😅
Cimol krispy
panjang lebar banget kalimat Melanie dan itu langsung kena ke hati sih harusnya
Cimol krispy
Kenapa Glen? Kamu berfikir Melanie akan terus menjadi kelinci ketakutan yang tidak akan melawanmu
Sarifah_Aini97: Kelinci penakutnya sekarang udah berubah jadi penantang paling telak buat Glen 🤭 Makasih banget ya Kak Cimol udah selalu ngikutin perkembangan karakter Melanie dan Glen sejauh ini 🤭
total 1 replies
Miu.Nuha
selamatkan Glen, Melanie...
dia kayaknya gk benar2 jahat, tapi tersesat 😭😭
Miu.Nuha
karna melanie bukan wanita yang mudah kamu pikirkan bahkan kamu permainkan...
mau dicoba? entar kamu kena mental lagi malah 🤭🤭🤭
Mega Siregar
memang benar... walaupun Melanie tidak tahu apa2, tapi hati Glen pasti sakit melihat kehidupan yg hancur karena orang tua Melanie sedangkan Melanie hidup dengan kecemewahan diatas air mata orang tua Glen..
Mega Siregar
akhirnya, kamu jujur juga, Glen...
pasti beran memendam semuanya sendiri...
ginevra
inikah awal Glen menyukai melanie
ginevra
makjleb banget melanie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!