Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 2 Azhmar dan Elindra
Seperti cerita di film-film, ketika hilang atau tidak sadarkan diri di dalam air laut, maka munculnya di pantai dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Purwasaga tergeletak di pasir pantai dalam kondisi badan tengkurap dan pipi kiri menempel di pasir. Sepasang ujung kakinya sesekali tersentuh oleh lidah ombak yang halus. Putra Demang Bungi Pitam itu tidak sadarkan diri.
Singkat cerita, datanglah seseorang mendekati tubuh pemuda itu.
Seperti cerita-cerita di film, jika yang terdampar seorang pemuda, biasanya penolongnya adalah seorang wanita cantik. Sama seperti cerita kali ini.
Seorang wanita cantik berusia kisaran masih gadis datang menghampiri tubuh Purwasaga. Rambut gadis itu kuning jenis keriting mie instan. Uniknya, sepasang matanya memiliki pupil hitam yang lebih besar dari mata normal. Hidungnya bangir. Pokoknya dia cantik sekali, bukan dua kali.
Ia mengenakan pakaian berlapis warna cokelat, krim dan putih. Itu warna kombinasinya. Pakaian bawahnya bermodel rok panjang hingga mata kaki.
Namun ada yang aneh. Kedua tangan si wanita bercahaya ungu muda seperti lampu yang redup. Di tangan kanannya ada gelang manik-manik keong mini.
“Balik badannya!” kata si gadis memberi perintah kepada dua lelaki yang mengikutinya. Ternyata dia tidak sendirian.
Dua lelaki berpakaian biasa itu segera menghampiri tubuh Purwasaga. Tangan kedua lelaki itu juga bercahaya ungu seperti lampu redup, tetapi warnanya lebih gelap dibandingkan kedua tangan si gadis.
Keduanya segera membalik badan Purwasaga, tetapi sebatas dimiringkan. Terlihat ada jejak luka kulit yang robek di dahinya, tetapi sudah tidak berdarah.
“Azhmar, dia manusia,” kata salah satu lelaki tersebut.
“Masih hidup,” kata lelaki lainnya.
“Banyak air masuk ke badannya. Coba keluarkan!” perintah gadis yang disebut namanya Azhmar.
“Uhhuk uhhuk!”
Tiba-tiba Purwasaga batuk dan mulutnya mengeluarkan air. Salah satu dari lelaki itu lalu menekankan jempolnya ke satu titik di badan Purwasaga.
“Hoekh!”
Ternyata tekanan jempol itu langsung berefek. Tidak berapa lama, Purwasaga muntah air yang banyak.
“Uhhuk uhhuk! Hoekkhr!”
Purwasaga kembali batuk-batuk lalu muntah air asin lagi. Rasa itu jelas menyiksa tenggorokan si pemuda, terlihat dari wajahnya yang mengerenyit dan memerah kelam.
“Bawa!” perintah Azhmar.
Ketika salah satu lelaki bertangan ungu hendak mengangkat tubuh Purwasaga, anak demang itu seketika berontak, menolak untuk diangkat.
“Lepaskan!” teriak Purwasaga sambil menepis tangan bercahaya ungu.
Karena sedang dalam kondisi lemas tanpa banyak tenaga, Purwasaga hanya bisa mengesot mundur menjauhi orang-orang bertangan aneh itu.
“Siapa kalian?” tanya Purwasaga dengan wajah mengerenyit tapi menatap tajam, termasuk ketika menatap wajah cantik Azhmar.
“Anak muda! Seharusnya kami yang bertanya siapa kau. Kau yang datang ke negeri kami!” hardik salah satu lelaki bertangan ungu. Dari wajahnya dapat dipastikan usianya jauh lebih tua dari Purwasaga.
Mendengar hardikan itu, Purwasaga jadi melihat ke sekelilingnya. Karena itu di pantai, awalnya ia merasa masih berada di pantai Kademangan Kerangilo. Seketika dia paham bahwa pantai itu bukan pantainya, pantai yang asing.
“Jangan membentaknya, Mushthor. Dia adalah tamu negeri ini,” kata Azhmar.
Lelaki berkumis yang bernama Mushthor hanya mengangguk karena diingatkan.
“Ini di mana?” tanya Purwasaga setelah yakin bahwa dia tidak sedang berada di kampungnya sendiri.
“Ini di Negeri Elindra. Sebutkan siapa namamu, Lelaki Manusia!” kata lelaki satunya yang bernama Bugoor.
“Apakah kalian bukan manusia?” tanya Purwasaga terkejut karena ia disebut manusia.
“Kami Bangsa Penjaga Biru,” jawab Bugoor. “Sebutkan namamu atau kami serahkan kau kepada prajurit Negeri Elindra.”
“Namaku Purwasaga. Aku dari Kademangan Karangilo di Kerajaan Pasir Langit,” jawab Purwasaga segera.
“Purwasaga, lebih baik kau ikut kami. Jika kau memberontak, maka kau akan menjadi buruan prajurit. Jika prajurit Elindra yang menemukanmu dalam kondisi seperti ini, maka kau akan ditangkap,” ujar Azhmar.
“Baik,” ucap Purwasaga.
Dia lalu bergerak hendak bangkit, tetapi belum juga tegak, lututnya kembali jatuh menumbuk pasir pantai.
Melihat itu, tanpa berkata-kata lagi, Mushthor langsung meraih tubuh Purwasaga, mengangkatnya dan memanggulnya. Purwasaga langsung dibawa pergi.
Azhmar dan Bugoor mengikuti Mushthor meninggalkan pantai.
Agak lama mereka berjalan, mungkin tiga menit, sampai suasana pantai sudah tidak terdengar dan tercium aromanya.
Mereka sampai di sebuah rumah batu yang besar. Model rumah itu unik. Dindingnya terbuat dari susunan batu-batu karang kecil, tetapi susunannya rapi. Sedangkan atap rumah memiliki pucuk-pucuk lancip yang tinggi. Ada satu pucuk tertinggi yang ujungnya seperti antena penangkal petir.
Yang paling unik adalah halaman. Selain ada pagar tanaman hias, di halaman yang luas ada kerangka tulang raksasa yang dirakit membentuk lorong di tengah-tengah, seolah-olah jalan wajib yang harus dilalui untuk menuju ke pintu utama rumah besar tersebut. Ketebalan tulang saja setebal satu badan orang.
Jika diperhatikan, maka akan dapat disimpulkan bahwa tulang-tulang itu adalah milik hewan laut raksasa.
Ada sejumlah orang yang sama-sama bertangan ungu yang beraktivitas di lingkungan rumah. Mereka mengangguk menghormat ketika berpapasan dengan Azhmar.
Purwasaga kemudian diturunkan di sebuah dipan batu di samping rumah besar. Dipan itu tidak memiliki dinding, tetapi ada atap daun pandan yang menaungi.
“Beristirahatlah di sini, Purwasaga. Nanti kau akan diberi makan dan minum agar tenagamu pulih dengan cepat,” kata Azhmar.
“Tunggu!” tahan Purwasaga saat melihat si gadis berambut kuning keriting hendak pergi.
Azhmar kembali memandang pemuda tampan golongan manusia itu.
“Ini rumah siapa?” tanya Purwasaga.
“Rumahku,” jawab Azhmar.
“Tapi kau siapa?” tanya Purwasaga lagi.
“Namaku Azhmar. Ayahku bernama Zamar. Semua orang Negeri Elindra mengenal ayahku,” jawab Azhmar. “Istirahatlah. Kau akan lama di negeri ini. Kau harus menunggu satu purnama untuk bisa meninggalkan negeri ini kembali.”
Purwasaga hanya terdiam mendengar pemberitahuan Azhmar.
Purwasaga kemudian ditinggalkan seorang diri dalam kondisi pakaian masih lembab.
Namun, kesendirian Purwasaga tidak berlagsung lama karena ada yang datang kepadanya. Dua orang wanita.
Kedua wanita itu berambut kuning seperti Azhmar, tetapi usianya jauh lebih tua. Keduanya berpakaian putih-putih dengan bawahan rok panjang. Mereka membawa pakaian dan makanan berupa sop daging, lalapan dua batang mentimun dan minuman di dalam kendi logam berwarna merah gelap.
“Apakah Nak Purwasaga mau digantikan pakaian basahnya atau ganti sendiri?” tanya salah satu wanita itu menawarkan.
“Eh, biar aku sendiri saja yang mengganti pakaianku,” jawab Purwasaga sambil menerima tumpukan kain yang dibawa oleh wanita itu. Tangan kedua wanita itu juga bercahaya ungu muda.
“Nak Purwasaga juga harus memakai ini,” kata si wanita sambil menyodorkan sebuah gelang perak yang memiliki ukiran warna ungu seperti sebuah tulisan berhurup asing.
“Untuk apa, Nyai?” tanya Purwasaga tidak langsung menerima.
“Sebagai tanda bahwa Nak Purwasaga adalah tanggungan Rungga Zamar. Setiap manusia yang datang ke Negeri Elindra ini wajib memiliki penanggung. Jika tidak, maka dianggap pendatang busuk,” jelas si wanita.
“Jadi sebenarnya kalian ini bangsa apa? Apakah bangsa dedemit?” tanya Purwasaga.
Kedua wanita itu tersenyum, lalu saling pandang.
“Jika Nak Purwasaga memerlukan sesuatu, cukup panggil Ping Darr. Aku ada di belakang,” kata wanita tersebut lalu menunjuk ke belakang Purwasaga.
Pemuda itu menengok ke belakang. Ternyata di sisi belakang tempatnya berada ada sebuah rumah batu kecil yang sekelilingnya memiliki kotak-kotak jendela.
“Iya,” ucap Purwasaga seraya mengangguk kepada Ping Darr. (RH)
hahhhh