Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gejala yang Aneh
Matahari pagi baru saja merayap naik, menyinari puncak-puncak pepohonan di kawasan bukit dengan cahaya keemasan yang hangat.
Di dalam kamar utama, tirai sutra abu-abu muda bergoyang lembut, membiarkan seberkas cahaya fajar jatuh di atas ranjang king-size tempat Alice masih berguling di balik selimut tebalnya.
Di sisi ranjang yang lain, Elvano sudah terbangun sejak satu jam yang lalu.
Pria itu berdiri di depan cermin besar, merapikan letak jam tangan Audemars Piguet miliknya sembari sesekali melirik ke arah siluet ramping Alice yang masih terlelap.
Hari ini adalah hari yang penting bagi klan Salvatore, sebuah rapat dewan direksi untuk membahas akuisisi jalur logistik baru di pelabuhan utara dijadwalkan berlangsung pukul sembilan pagi.
Elvano sudah mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna hitam arang yang kaku, memancarkan aura seorang Bos Mafia yang tak terelakkan.
Namun, kedamaian pagi itu hancur berantakan dalam hitungan detik.
Selimut tebal di atas ranjang mendadak tersibak dengan kasar.
Alice tiba-tiba terduduk, wajahnya yang semula tenang kini berubah pucat pasi dalam sekejap.
Matanya melebar penuh kepanikan. Tangan mungilnya membekap mulutnya sendiri dengan erat, sementara tubuhnya bergetar hebat menahan sesuatu yang mendesak di pangkal tenggorokannya.
Tanpa sempat memakai alas kaki atau melirik ke arah Elvano, Alice melompat dari tempat tidur.
Ia berlari kencang, nyaris tersandung ujung gaun tidur lavendernya, menuju kamar mandi utama yang terletak di sudut ruangan.
Brak!
Pintu kaca buram kamar mandi didorong terbuka. Alice langsung berlutut di depan wastafel marmer putih, mencengkeram pinggiran wastafel dengan jemarinya yang memutih, dan sedetik kemudian... ia muntah dengan sangat hebat.
Uhukk! Huekk!
Suara rintihan yang menyakitkan itu bergaung di keheningan pagi.
Tubuh ramping Alice melengkung pasrah, dadanya naik turun dengan tidak teratur saat cairan bening dan asam mendesak keluar dari lambungnya.
Rasa mual yang teramat tajam, dan tidak tertahankan seolah-olah sedang mengaduk-aduk seluruh isi perutnya tanpa ampun.
Elvano yang menyaksikan kejadian itu dari pantulan cermin langsung membeku.
Jantungnya berdegup kencang dengan ritme yang kacau.
Tanpa memedulikan jas mahalnya yang bisa saja kotor, Elvano melangkah lebar, nyaris berlari mengejar Alice ke dalam kamar mandi.
"Alice!" seru Elvano, suara baritonnya tidak lagi terdengar dingin, melainkan bergetar hebat oleh kecemasan yang mendalam.
Pria itu langsung berlutut di samping Alice di atas lantai yang dingin.
Tangan besarnya yang biasa memegang senjata api kini bergerak lembut namun kaku dan protektif.
Ia mengumpulkan helaian rambut ikal cokelat muda Alice yang berantakan, menahannya ke belakang agar tidak terkena muntahan, sementara tangan kirinya mengusap tengkuk dan punggung ramping gadis itu dengan gerakan memutar, mencoba meredakan siksaan fisik yang sedang dialami tawanannya.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Elvano bertubi-tubi, matanya menyapu wajah Alice dengan tatapan berkerut tajam.
Alice tidak bisa menjawab. Tubuhnya lemas tak bertenaga.
Ia kembali terbatuk-batuk, mengeluarkan sisa-sisa cairan asam dari perutnya hingga air mata menetes di sudut manik hazelnya yang tampak sayu dan kehilangan binarnya.
Kulit wajahnya benar-benar kehilangan warna, putih bersih namun pucat bagai mayat, dengan keringat dingin yang mulai membasahi dahinya.
"U-Udah... Tuan... p-perut saya... sakit sekali..." bisik Alice dengan suara yang sangat parau dan lemah, nyaris tak terdengar.
Tubuhnya ambruk ke belakang, kehilangan seluruh topangan energinya jika saja Elvano tidak dengan sigap menangkapnya ke dalam dekapan dada bidangnya yang kokoh.
Melihat kondisi Alice yang begitu memprihatinkan, rasa panik dalam diri Elvano meroket ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia mengangkat tubuh ringkih Alice ke dalam gendongan ala bridal style dengan sangat mudah, seolah-olah gadis itu tidak memiliki bobot sama sekali.
Elvano melangkah cepat keluar dari kamar mandi, meletakkan Alice kembali ke atas ranjang dengan hati-hati, seakan-akan ia sedang memegang sebuah porselen langka yang mudah retak.
Ia menarik selimut tebal hingga sebatas dada Alice, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi gadis itu.
Dingin. Namun, keringat terus mengucur.
"Mbok Nem! Siapa pun di luar, cepat masuk!" teriak Elvano dengan suara menggelegar yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun yang mendengarnya.
Pintu kamar langsung terbuka dalam hitungan detik. Mbok Nem masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya dipenuhi ketakutan karena mendengar teriakan murka dari sang Bos.
"I-Iya, Tuan Besar? Ada apa- Astaga, Nona Alice!" Mbok Nem menutup mulutnya saat melihat kondisi Alice yang terkulai lemas di atas kasur dengan wajah pucat.
"Panggil dokter pribadi sekarang juga! Katakan padanya jika dia tidak sampai di mansion ini dalam waktu lima belas menit, aku sendiri yang akan mencabut izin praktiknya dan melemparnya ke laut!" perintah Elvano berapi-api, matanya berkilat penuh emosi yang meledak-ledak.
"Baik, Tuan Besar! Baik!" Mbok Nem buru-buru berlari keluar untuk menghubungi tim medis.
Saat itu, ponsel pintar di saku celana Elvano bergetar intens.
Layarnya menampilkan nama Kaiven, asisten pribadinya.
Elvano menggeser tombol hijau dengan sentakan kasar dan menempelkannya ke telinga.
"Halo, El? Kau di mana? Dewan direksi sudah berkumpul di ruang rapat pelabuhan. Suasananya agak tegang karena orang-orang tua itu mulai mempertanyakan keterlambatanmu—"
"Batalkan rapatnya," potong Elvano tajam, tanpa basa-basi.
Seberang telepon mendadak hening selama dua detik, sebelum suara Kaiven meninggi karena terkejut.
"Apa? Kau bercanda, kan, El? Ini rapat akuisisi empat mata dengan klan sekutu! Kita sudah menyiapkan ini selama tiga bulan! Kenapa dibatalkan begitu saja?"
"Aku bilang batalkan, Kaiven! Atur ulang jadwalnya minggu depan, atau biarkan mereka menunggu sampai aku punya waktu!" bentak Elvano, emosinya benar-benar berada di puncak menara akibat rasa frustrasi melihat Alice yang masih memejamkan mata menahan sakit.
"Alice sakit. Dia muntah-muntah hebat sejak pagi. Aku tidak akan meninggalkan mansion ini satu inci pun hari ini."
Klik.
Elvano mematikan sambungan telepon secara sepihak, mengabaikan teriakan protes Kaiven yang mungkin sedang menjambak rambut pirangnya sendiri di ruang rapat sana.
Bagi Elvano saat ini, hilangnya keuntungan bisnis ratusan miliar rupiah akibat pembatalan rapat tidak sebanding dengan hilangnya nyawa gadis bermata hazel di hadapannya.
Elvano duduk di tepi ranjang, mencondongkan tubuhnya ke arah Alice.
Ia mengambil selembar tisu kain, dengan telaten menyeka sisa-sisa keringat dingin di pelipis dan leher jenjang Alice.
Sifat mafianya yang biasa bekerja dengan dingin kini mulai berfikir dengan liar dan dipenuhi rasa bersalah yang kelam.
Apakah ada yang meracuninya? Pikir Elvano, matanya menggelap penuh kilatan dendam.
Apakah ada musuhku yang berhasil menyusup ke dapur dan menaruh sesuatu di makanannya?
Ataukah... ini karena masakan rumahan yang dibuatnya semalam? Apakah bahan makanan yang disediakan pelayan sudah kedaluwarsa?
"Alice... tatap aku," panggil Elvano, suaranya melembut secara drastis saat ia menggenggam tangan kecil Alice yang terasa sangat dingin.
"Bagian mana yang paling sakit? Katakan padaku."
Alice membuka matanya sedikit, manik hazelnya yang sayu menatap wajah tegang Elvano.
Ada rasa takjub yang aneh merayapi hati kecilnya di tengah rasa mual yang mendera.
Pria di hadapannya ini adalah seorang bos mafia yang kejam, orang yang bisa memerintahkan pembunuhan tanpa berkedip, namun kini... pria itu duduk di tepi kasurnya dengan kecemasan yang begitu nyata, membatalkan urusan dunianya hanya untuk menemaninya yang bukan siapa-siapa.
"Hanya... mual, Tuan... lambung saya rasanya berputar..." lirih Alice, mencoba menarik tangannya karena merasa tidak enak, namun cengkeraman Elvano justru semakin mengerat penegasan sifat posesifnya yang enggan melepaskan tangan wanita itu sedikit pun.
"Diam dan beristirahatlah. Dokter akan segera datang," ucap Elvano tegas namun protektif.
Ia menarik kursi kerja ke samping ranjang, duduk di sana tanpa berniat melepaskan genggaman tangannya pada Alice.
Di dalam keheningan kamar yang mewah itu, Elvano terus berjaga dengan mata yang tak pernah lepas dari wajah pucat Alice.
Pria itu benar-benar tak berfikir tentang kondisi tubuhnya sendiri yang divonis mandul, sehingga opsi bahwa Alice mengalami morning sickness gejala awal kehamilan akibat benih yang ia tanam setiap malam tanpa pengaman, sama sekali tidak melintas di kepalanya.
Sang duda itu terlampau fokus menduga adanya racun atau kelelahan fisik, tidak menyadari bahwa di dalam rahim subur Alice, sebuah keajaiban yang nyata sedang mulai memperlihatkan keberadaannya.