⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.
Bagaimana jadinya jika seorang gadis bermata batin harus terikat dalam pernikahan dengan mafia berdarah dingin?
Aiko Kurogawa sudah cukup tersiksa dengan "kutukan" Indigo yang mengalir di darahnya. Namun, demi terhindar dari dunia kelam keluarganya, ia terpaksa menerima perjodohan dengan Ren Tachibana. Pria kejam yang hidupnya hanya didorong oleh dendam.
Awalnya, Aiko hanya ingin bertahan hidup. Namun, tinggal di sisi Ren membuat hidupnya kian mencekam. arwah-arwah penasaran tak pernah berhenti berbisik di sekitar pria itu, mengungkap satu per satu rahasia kelam dari masa lalu.
Kini, Aiko dihadapkan pada pilihan sulit.
Tetap diam demi menyelamatkan nyawanya sendiri, atau menggali kebenaran yang ternyata mengikat takdir mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 28
Daichi menginjak pedal gas sedalam mungkin. Suara raungan mesin mobil bergemuruh di antara dinding tebing batu saat mobil itu melesat di tengah desingan peluru. Suara logam berdentang keras saat beberapa peluru musuh mulai menghantam bodi mobil.
"Pegangan, Nyonya!" teriak Daichi.
Dengan satu putaran tajam pada setir dan rem tangan, Daichi melakukan manuver drifting hingga mobil itu berputar sembilan puluh derajat, meluncur horizontal, dan berhenti dengan dentuman keras tepat di depan mobil Ren yang sudah terbalik. Posisi mobil mereka kini menjadi tameng untuk memutus sudut tembak musuh yang berada di tebing atas.
Detik itu juga, Daichi menendang pintu kemudi hingga terbuka. Ia keluar sambil memegang senjatanya, melepaskan rentetan tembakan balasan ke arah atas tebing untuk menekan pergerakan musuh.
"Bos Ren! Bos!" teriak Daichi, bergerak cepat menerobos kepulan asap menuju pintu mobil yang sudah ringsek.
Di dalam reruntuhan mobil, Ren Tachibana terengah-engah. Pelipisnya bersimbah darah yang mengalir hingga ke rahang, dan bahu kirinya tampak terluka. Namun, sepasang matanya masih terlihat tajam dengan tangan yang mencengkeram erat pistol di bawahnya.
"Daichi... keparat, kenapa kau baru datang..." geram Ren.
Daichi tidak menjawab. Ia menyentak pintu mobil yang bengkok hingga terbuka, lalu menarik tubuh Ren keluar dari balik kemudi yang menjepitnya. Sambil terus melepaskan tembakan perlindungan, Daichi memapah tubuh Ren yang limbung, membawanya dengan cepat menuju pintu belakang mobilnya yang sengaja dibuka.
Daichi mendorong tubuh Ren masuk ke dalam kursi penumpang belakang. Begitu tubuh Ren mendarat di jok, gerakannya mendadak terhenti. Matanya membelalak.
Di sebelahnya Aiko duduk dengan tubuh gemetar, wajahnya terlihat sangat pucat, dan terdapat noda darah yang masih menetes dari hidungnya.
"A-Aiko...?" Ren tercekat. "Kenapa kau ada di sini?! Aku menyuruhmu pergi ke kampus! Bukan memberikan nyawamu di sini, Bodoh!"
"Jika aku tidak di sini... kau sudah mati, Ren," bisik Aiko, dengan tatapan matanya yang menatap Ren tanpa rasa takut sedikit pun.
Duar! Duar!
Dua dentuman keras menghantam bagian bawah mobil mereka. Ban mobil ditembak hingga hancur oleh musuh yang mulai bergerak turun dari tebing. Daichi masuk kembali ke dalam mobil dengan magasin yang sudah kosong. Wajahnya terlihat putus asa saat melihat melalui spion luar. belasan pria berpakaian hitam dengan senjata lengkap kini telah mengepung mobil mereka, melangkah maju dengan langkah pasti untuk melakukan eksekusi akhir.
"Bos... kita terperangkap. Bagaimana ini?" ucap Daichi dengan napas memburu, tangannya bergerak mencari magasin cadangan yang tersisa, namun nihil.
Ren menggeram rendah, mencoba menegakkan tubuhnya yang lemas, dengan darah yang terus mengucur dari pelipisnya. Ia mengokang pistolnya dengan sebelah tangan. "Daichi, begitu mereka mendekat, buka pintu kanan. Aku akan menarik perhatian mereka. Kau bawa Aiko lari lewat semak-semak tebing."
"Tidak," potong Aiko tiba-tiba.
Sebelum Ren atau Daichi sempat mencegahnya, Aiko menyeka darah di hidungnya dengan punggung tangan. Mengabaikan rasa sakit di kepalanya yang semakin menusuk, ia menyentak tuas pintu mobil dan melangkah keluar ke area terbuka.
"Aiko! Jangan! Kembali ke dalam!" teriak Ren histeris. Ia mencoba menggapai sweter Aiko, namun jarinya hanya menyentuh udara kosong.
Aiko berdiri tegak di samping mobil. Angin perbukitan yang dingin menerpa rambutnya. Di depannya, belasan moncong senapan otomatis langsung terarah tepat ke dadanya. Para pembunuh bayaran itu siap menarik pelatuk.
Begitu mereka melihat dengan jelas siapa sosok yang keluar dari mobil, gerakan mereka mendadak terhenti. Suasana di jalur perbukitan itu seketika berubah hening yang mencekam hanya terdengar deru angin dan hawa panas dari kepulan asap.
Aiko mengangkat dagunya, menatap lurus pada pria yang tampaknya menjadi pemimpin pergerakan musuh. Sorot matanya yang sayu mendadak berubah menjadi tajam dan penuh intimidasi.
"Siapa di antara kalian yang ingin menjadi penyebab punahnya seluruh silsilah keluarga kalian besok pagi?"
Para pembunuh bayaran itu saling melirik.
"Dengar baik-baik," desis Aiko lagi, melangkah satu kali ke depan tanpa rasa takut sedikit pun. "Aku adalah Aiko Kurogawa, putri tunggal dari Hiroshi Kurogawa. Kalian dikirim ke sini untuk menghabisi seorang Tachibana. Tapi jika satu saja peluru kalian menggores kulitku hari ini, ayahku tidak akan hanya membunuh kalian. Dia akan memastikan kalian merangkak di tanah untuk memohon kematian kalian sendiri."
Pemimpin pembunuh bayaran itu menelan ludah dengan susah payah. Tangannya yang memegang senjata perlahan mulai turun beberapa inci. Tugas mereka adalah membunuh Ren Tachibana secara misterius. Bukan untuk membunuh Aiko Kurogawa kerena jika itu terjadi. Mereka tahu, itu akan memicu perang saudara berskala besar yang akan menghancurkan mereka semua.
"Turunkan senjata kalian," perintah Aiko. "Atau kalian ingin buktikan padaku seberapa berani kalian mati hari ini."
"Nyonya Aiko," pemimpin pembunuh bayaran itu melangkah maju, ia justru mengangkat moncong pistolnya kembali, menodongkannya tepat di antara kedua mata Aiko. Senyum miring yang keji nampak di wajahnya yang tertutup sebagian dengan topeng. "Tuanku tentu akan sangat senang jika kepala Ren Tachibana jatuh hari ini. Dan jika Anda menolak menyingkir... Jangan salahkan aku jika kematian kalian hanya akan dilaporkan sebagai serangan kelompok tak dikenal yang menewaskan menantu dan putri Kurogawa sekaligus. Tentu tidak akan ada bukti yang menyeret kami, Nona Muda."
Ren menyandarkan tubuhnya di kursi belakang mobil, seraya memegangi lengannya yang masih mengucurkan darah. "Apa sebenarnya yang mau di lakukan gadis bodoh ini?" Desis Ren dari dalam mobilnya.
Tepat saat jemari si pemimpin mulai bergerak di atas pelatuk, tangan Ren yang gemetar mencengkeram kuat dari ambang pintu mobil yang terbuka di belakang Aiko.
Tangan yang basah oleh darah itu menarik sweter Aiko ke belakang, memaksa tubuh gadis itu terhuyung mundur hingga jatuh terduduk di atas jok mobil, tepat di dekapan Ren yang setengah bersandar di sana.
"Mobil ini anti peluru gadis bodoh...! Untuk apa kau memberikan nyawamu begitu mudah!" bisik Ren tepat di kuping Aiko.
Aiko tersentak dengan pintu mobil yang masih terbuka. saat punggungnya menabrak dada Ren yang naik-turun tidak teratur. Sebelum Aiko sempat memprotes, lengan kanan Ren yang berlumuran darah melingkar di depan dadanya, mendekap tubuh Aiko agar tetap merunduk di bawah lindungan tubuhnya.
Menggunakan bodi mobil sebagai tumpuan, Ren memaksakan moncong pistol di tangan kanannya terarah lurus ke dahi si pemimpin musuh melalui celah pundak Aiko. Bidikannya sedikit bergetar, namun tatapan matanya tetap terlihat tajam dan mengintimidasi.
"Mundur satu langkah, Keparat, atau kita mati bersama di sini," geram Ren parau. Napasnya yang memburu dan terasa berat menerpa langsung di ceruk leher Aiko, mengirimkan sensasi hangat di tubuh wanita itu.
Daichi mencari celah dari depan kemudi, namun jumlah mereka yang banyak dan sisa peluru yang tidak memadai, membuatnya merasa pesimis dengan hasil dari situasi ini.
"Bos, tahan sebentar lagi, bantuan akan segera datang." bisik Daichi parau dengan tangan yang masih mengokang senjata.
Sementara jantung Aiko terus berdegup kencang, entah karena situasi yang mengancam nyawanya atau karena pria yang melindunginya saat ini.
"Jangan sok pahlawan, Gadis Bodoh," bisik Ren. "Kau mau mati bersama denganku di tempat kotor ini, huh?"
makanya om kenji, baek2 jadi orang.
ber partner sama orang licik ya resiko gini, ikutan dikhianati 🥴
di mana2 jadi pengkhianat 🥴
Semangat.....
harusnya ren nih yg lihat adegan ini 🥴
apa jangan2 hiroshi ngira bapaknya ren sengaja ngebunuh yumi, terus hiroshi ngebunuh pasutri tachibana?
hanya perkiraanku 🙏