"I think I'm addicted to your body"-Jeffranz Altair-
Sherra menyesali keputusannya malam itu. Malam dimana ia menyerahkan tubuhnya pada cinta pertamanya---Jeffranz Altair si Perisai PASBARA yang terkenal dingin dan kasar.
Sherra menyesal. Karena setelah hari itu sikap Jeff berubah. Yang awalnya benci menjadi terobsesi.
Jeff menghancurkan masa depan Sherra dengan mengurung gadis itu dalam hubungan rahasia.
Sherra terpaksa menjadi selingkuhan.
Diperlakukan layaknya binatang.
Hingga dianggap wanita murahan.
Hidupnya hancur berantakan. Namun Jeff sama sekali tak peduli.
Karena bagi Jeff apa yang ia lakukan pada Sherra, adalah hukuman karena gadis itu berani mengusiknya.
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara prina Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Mama
...TOXICSERIES...
"Mama harus banyak makan biar cepet sembuh terus pulang kerumah"
Tiga hari setelah operasi. Kondisi mama Dinda mulai membaik. Wanita paruh baya itu sudah bisa menggerakkan tangan, kaki dan bagian tubuh lain. Mama Dinda juga sudah mulai berbicara lagi seperti biasa walaupun harus selalu di pantau dan di bantu takut kondisinya drop lagi.
Selama 3 hari juga Sherra tidak pergi kesekolah dan lebih memilih merawat Mama Dinda rumah sakit. Beruntung, Zara dan Mona selalu datang setiap pulang sekolah untuk memberikkan catatan dan kisi kisi untuk ulangan kelulusan kurang lebih 3 bulan lagi.
"Sherra... "Lirih mama Dinda. Gadis itu menoleh.
"Iya Ma?"
"Kamu dapet uang itu darimana?" Sherra terdiam.
Gadis itu memang sudah pernah mbahas hal ini. Lebih tepatnya menenangkan sang ibu untuk tidak khawatir perihal biaya rumah sakit. Namun sepertinya Mama Dinda masih khawatir. Terlihat dari sorotnya yang meminta sebuah penjelasan lebih.
"Pokoknya mama gausah khawatir, itu urusan Sherra. Mama ga perlu tau" Jawab Sherra seperti sebelum sebelumnya. Ya, gadis itu tak ingin membebani mama Dinda lagi.
"Tapi--- kamu gak macem-macem kan? Maksud mama-"
"Enggak kok Ma. Mama tenang aja ya?' Mama Dinda mau tak mau pasrah dengan jawaban putrinya. Membiarkam Sherra melakukkan apapun yang menurut gadis itu baik untuk dilakukkan.
Sedangkan Sherra terus memandang mamanya penuh syukur. Seraya memegang telapak tangannya lembut.
"Ma, sembuh ya? Sherra gak bisa liat mama kaya gini" ujarnya. Mama Dinda tersenyum sangat tulus kearahnya.
"Sherra, apapun yang terjadi. Mama mohon jangan lupa pada tuhan, kalaupun nanti Mama pergi. Kamu jangan merasa sendiri, karena mama akan selalu ngejaga kamu dari atas sana" Dada Sherra terasa sesak seketika. Gadis itu semakin mengeratkan pegangannya pada sang Mama.
"Kok Mama ngomongnya gitu sih? Mama gaakan pernah pergi. Kita bakal selalu bareng bareng, ya?" Sherra masih berusaha tersenyum walaupun dalam hatinya terasa petih. Takut jika apayang diucapkan mamanya adalah sebuah pertanda.
Pertanda sebelum kehilangan.
Mama Dinda mengusap surai coklat putrinya lembut.
"Semoga ya... "
...TOXICSERIES...
Motor Kai membelah jalanan kota kebang. Seperti pagi hari biasanya, setelah mengantarkam sarapan pada Sherra lelaki itu akan langsung betangkat kesekolah menggunakan motor KLX hijau miliknya.
Jalanan hari ini tak seramai sebelumnya. Mungkin karena hari sudah beranjak siang dan sekolah Kai yang memang masuk pukul 9 pagi dikarenakan jam sebelumnya dipakai rapat guru.
Kai jadi bisa mengendarai motornya dengan santai dan tak terburu buru. Namun entah karena matanya yang kurang cairan insto atau memang seseorang di depannya sengaja menabrakkan diri. Karena tepat seperkian detik saat Kai hendak berbelok seprang gadis menyebrangi jalan, membuat Kai tanpa sengaja menyerempet tubuh mungil itu hingga terjatuh ke aspal.
"Awas!!!!" Pekik Kai.
"Akh....... "
Kai langsung menghentikkan motornya. Dan seketika itu juga berjalan menghampiri seorang gadis yang tak sengaja ia tabrak tadi.
"Hei, kaki kamu gapapa?" tanya Kai pada gadis yang kini menangis sambil memegangi kakinya.
"Sini aku bantu" Kai meraih pundak gadis itu lalu membawanya ke pinggir jalan, mendudukkan gadis itu disana.
"Aku anter kamu kerumah sakit ya?" Suara Kai terdengar bergetar, penuh rasa bersalah. Gadis itu yang semula hanya fokus pada kakinya seketika mengangkat wajahnya.
Ia terdiam sebentar kala memandangi wajah khas barat dengan kulit seputih susu itu.
"A-aku gapapa... Cuman keseleo dik-awh" Ringisnya, kakinya sangatlah ngilu saat digerakkan membuat Kai semakin panik.
"Gapapa gimana?! Aku bawa kamu kerumah sakit! Gimana pun juga aku harus tanggung jawab atas kesalahan aku" ujar lelaki itu menghentikkan taksi lalu membawa gadis mungil bersurai coklat itu masuk kedalam mobil biru itu dengan cara menggendongnya.
Katakanlah Kai kurang ajar. Tapi ia lebih kurang ajar lagi jika membiarkan gadis itu terbaring lemah dijalan. Karena kesalahannya.
...TOXICSERIES...
"Ck, lo kemana sih Ca?!" panik Jeff saat tunangannya tak bisa di hubungi. Gadis itu selalu saja menolak panggilannya dan beberapa saat kemudian mematikan ponselnya hingga Jeff tak bisa memgaksesnya.
"Argh!" Geram Jeff kesal. Gadis itu benar benar menguras kesabaran Jeff!
Lelaki itu kemudian berjalan keluar dari kelas menuju lapangan. Karena kelas sedang jamkos Jeff yang memang kebingungan harus mencari Caca kemana berinisiatif untuk menuju lapangan, meghampiri teman temannya. Barangkali ada murid kelas Caca disana.
Maksudnya adalah Sonya dan kawan2 yang mungkin tau keadaan Caca lebih daripada dirinya.
Benar dugaannya! Tepat di samping lapangan terlihat Sonya dan anak gadis lain tengah menonton pertandingan basket dari Shakka lawan adik kelas. Jeff hendak menghampiri namun tiba tiba pundaknya di tepuk seseorang di belakangnya.
"Jeff lo gimana sih? Cewe lo kecelakaan masih bisa santai santai disini" Jojo tiba tiba membentaknya membuat Jeff mengernyitkan keningnya keheranan sambil menyingkirkan tangan Jojo di pundaknya.
"Maksud lo apa?!" Jojo berdecak, memgusap wajahnya kasar.
"Caca diserempet motor dan dia ada dirumah sakit sekarang!"
Mendengar hal itu tanpa pikir panjang Jeff langsung berlari menuju parkiran. Sedangkan Jojo yang belum selesai berbicara pada sahabatnya itu hanya bisa membuka mulut belum sempat mengeluarkan kata selanjutnya.
...TOXICSERIES...
"Masih sakit?" tanya Kai lembut pada gadis mungil diatas brankar setelah gadis itu ditangani dokter dan mendapat beberapa jahitan di luka yang cukup dalam karena goresan aspal.
"Udah mendingan"balasnya. Gadis itu mengangkat wajahnya seraya memandang kearah Kai dalam.
"Sorry banget ya, tadi itu pure kesalahan gue gak liat jalan" Sesal Kai ketiga kalinya. Membuat gadis itu terkekeh kecil.
"Gapapa, kalian kamu juga udah tanggung jawab kan? By the way nama kamu siapa? Aku juga belum berterimakasih loh" Netra Kai sedikit terbuka menatap uluran tangan gadis di depannya.
"Helmi Kairav. Panggil aja Kai, lo??" Masih menatap Kai dengan senyum simpulnya. Gadis itu kemudian bersuara.
"Acacia Khalistha, kamu bisa panggil aku Caca"Kai terdiam sebentar. Ia seperti pernah mendengar nama itu, tapi dimana?. Entah mungkin karena ingatannya yang jangka pendek atau memang ia hanya mendengar namanya sekilas.
Tapi kalau dilihat dari wajahnya Kai seperti pernah melihatnya. Wajah bulat dan netra monoloidnya benar benar mengingatkan Kai pada seseorang. Tapi, bukan berasal dari sini.
Seperti orang yang pernah Kai jumpai di Australia beberapa tahun lalu. Namun Kai lupa namanya.
"Nomor hape lo?" Caca, memelototkan matanya tak menyangka jika Kai meminta nomor ponselnya.
"Buat apa?"
"Takutnya lo ada keluhan lagi, jadi lo tinggal telfon gue. Biar biaya pengobatan lo semuanya gue tanggung sampai sembuh" ujarnya tak ingin ada hutang budi ataupun hutang yang lainnya. Kai ingin masalah ini beres dengan ia yang bertanggung jawab hingga kesembuhan Caca. Itu saja.
Gadis itu segera memberikan ponselnya. Setelah selesai Kai kembali menyerahkan ponsel itu pada Caca.
"Udah gue simpen nomor lo" Caca tersenyum manis.
"Makasih ya. Maaf jadi ngerepotin kamu"
"Harusnya gue yang minta maaf" sahut Kai memasukkan ponselnya kedalam saku.
"Kalau ada apa apa sama kaki lo, telfon gue aja ya" Caca mengangguk.
"Siap"Caca menelisik pada Kai yang bangkit dari duduknya sambil merapihkan pakaiannya.
"Kamu mau pergi lagi?" Kai yang tengah melipat lengan jaketnya pun menoleh.
"Iya, gue mau ambil motor sekalian pergi ke sekolah. Lo? Udah telfon nyokap atau bokap lo buat jemput?" Seolah tersadar Caca langsung menganggukan kepalanya.
"Udah, aku udah telfon Mama. Bentar lagi pasti dateng" Kai beroh ria. Sedangkan Caca terkekeh geli melihat wajah Kai yang ekspresif sekali.
"Kalo gitu gue balik dulu. Sekali lagi sorry ya Ca. Salamin buat nYokap lo" Ujar Kai hangat.
"Astaga gapapa Kai. Kamu hati hati ya, maaf gara gara aku motor kamu harus di tinggal di jalan" Sesal Caca tak enak. Kai menatap gadis itu dengan senyum simpul yang terpatri di bibir tipisnya.
"Sans, gue udah telpon temen gue buat bawa motornya kesini"
Keduanya pun akhirnya terpisah dengan Kai yang pergi meninggalkan Caca di balik ruangan perawatan sendiri. Namun terlihat senyum indahnya masih terpatri apalagi saat Kai beranjak pergi, gadis itu langsung menutupi wajahnya dengan bantal, karena terus teringat pada wajah manis dan tampan milik pemuda bijak bernama Helmi Khairav.
...TOXICSERIES...
Jeff menyusuri koridor rumah sakit dengan perasaan hati yang tak tenang. Setelah mendapati tunangannya kecelakaan. Jemarinya tak berhenti menelponi tunangannya itu namun tak ada jawaban sama sekali. Membuat Jeff berdecak kesal sambil terus mengumpati sosok yang menjadi pengikat antar keluarga tersebut.
Sedang cemas memikirkan tunangannya. Tiba tiba saja ia malah menangkap sosok Kai yang baru keluar dari ruangan rawat tunangannya. Jeff melirik kearah saudara tirinya lalu beralih pada nomor kamar yang ia dapatkan dari Jojo.
Tok
Tok
Cklek.
"Ca" Panggil Jeff khawatir. Caca tersenyum kecil.
Kondisi gadis itu benar benar mengkhawatirkan. Dengan sebelah kaki di perban dan wajah yang pucat. Sedang dibantu untuk turun dari brankar oleh ibunya dan suster.
"Sama Jeff aja Ma" ucap Jeff mengambil alih Caca. Ibu dari gadis cantik itu segera menjauhkan diri, membiarkan Jeff membawa tunangannya menuju parkiran untuk menaiki mobil mereka.
"Kalo gitu Mama urus administrasi dul-"
"Eh gausah Ma. Tadi Udah di bayarin sama orangnya" potong Caca. Netra Jeff mengernyit.
"Orangnya mau tanggung jawab?" Caca menoleh kearah tunangannya.
"Iya, dia juga yang bawa aku kesini" Jeff terdiam sebentar. Apakah orang yang dimaksud adalah Kai?
Secara, Jeff menemukkan lelaki itu keluar dari ruangan ini.
...TOXICSERIES...