Warning! bijaklah dalam memilih bacaan!
***
Elkan duduk bersila, tangan kekarnya bersedekap di dada. Tatapannya tajam, menyapu tubuh Alsa dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Pelayananmu memuaskan. Tinggallah di sini, jadilah simpananku. Aku akan membayarmu semaumu." Nada bicara Elkan angkuh, penuh percaya diri.
"Jangan harap! Aku tak sudi lagi berhubungan dengan pria sepertimu. Bayar saja yang semalam, lalu tinggalkan aku. Anggap saja kita tak pernah bertemu."
Elkan tertawa, suaranya menggelegar. "Tak sudi berhubungan denganku?" tanyanya, memastikan. "Ingat, benihku ada di rahimmu, anakku! Kau takkan bisa lepas begitu saja dariku!"
***
Ikuti akun kami:
Instagram: OH HA LU
TikTok: OH HA LU
Facebook: OH HA LU
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OH HA LU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Pembangkit Rindu
"Kenapa berhenti, El?."
Risma mengamati wajah Elkan yang nampak sudah tak berselera, padahal ini masih separuh permainan, belum selesai sepenuhnya. Tetapi laki-laki itu malah menghentikannya begitu saja.
"Ayo lanjutin!." Rengek Risma manja, seraya mengelus dada tel*nj*ng kekasihnya itu.
Elkan diam saja. Laki-laki itu bingung pada dirinya sendiri. Dia bahkan belum sampai puncaknya, tapi kenapa tiba-tiba hilang g*ir*h?.
"Ayo.. El.. Bukankah ini yang kau mau? Sekarang aku sudah mau menuruti mu. Cepat, tunggu apa lagi? Aku hampir sampai." Desaknya tak sabar.
"Kita lanjutkan nanti lagi. Aku ingin menghubungi Asisten ku dulu, ada hal penting yang harus kami bicarakan sekarang." Ujar laki-laki itu beralasan. Di lanjutkan pun percuma, dia sudah tak minat.
"Kok gitu, sih? Kenapa enggak di tuntaskan dulu?."
Risma segera menahan leher Elkan, ketika laki-laki hendak turun dari atas tubuhnya.
"Aku lupa kalo ada masalah yang cukup penting, dan harus di selesaikan malam ini juga."
Elkan melepaskan kembali lingkaran tangan Risma di lehernya.
"Baiklah."
Pada akhirnya, Risma hanya bisa pasrah, walaupun dengan wajah cemberut. Wanita itu tak dapat menahan kepergian Elkan, biarlah dia menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu. Lagian, masih ada waktu panjang untuk melanjutkan lagi permainan yang tertunda.
"Jangan cemberut."
Cup!
Elkan, melabuhkan sebuah kecupan singkat di bibir kekasihnya, sebelum kemudian beranjak berdiri.
"Kalo ngantuk tidurlah lebih dulu!."
Laki-laki itu meraih celana pendeknya yang tergelatak di atas lantai, lalu kemudian memakainya. Tak lupa, ia juga mengambil ponselnya yang berada di atas meja nakas. Setelah itu, barulah bergegas pergi ke balkon.
Ketahuilah, sebenarnya Elkan hanya sedang beralasan saja. Laki-laki itu sudah tak n*fs* lagi untuk melanjutkan olahraga ranjangnya dengan Risma.
"Ternyata lebih nikmat melakukannya dengan Alsa." Batinnya sambil mengusap wajahnya prustasi.
Tiba-tiba saja, Elkan menjadi ragu untuk melanjutkan pernikahannya dengan Risma. Rasa wanita itu hambar, sehingga membuatnya tak bisa merasakan puas.
Huh!
Suara helaan nafas Elkan, terdengar sangat berat sekali. Ini sungguh di luar ekspektasinya. Wanita yang ia gadang-gadang keindahannya, malah seperti ini.
Elkan, menghubungi seseorang, tapi bukan asistennya, melainkan Alsa. Dia tadi sudah berbohong pada Risma, mau menelpon asistennya untuk membahas urusan pekerjaan, dan dia ingin membuat wanita itu biar percaya, meskipun yang dia telpon adalah orang lain.
Tak lama kemudian, sambungan telepon telah terhubung.
"Hallo!." Sapa Alsa dari seberang sana.
Bukannya lekas menjawab, Elkan malah diam saja. Baru saja mendengar suaranya, tapi sudah membuatnya merindu.
"Ada apa, El?." Tanya Alsa kepanasan.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mendengar suaramu saja." Jawabnya lirih. Dia tak ingin suaranya sampai di dengar oleh Risma.
"Kau sudah gila, ya? Ku kira tadi telepon yang penting." Gerutu wanita itu.
"Ini memang penting."
"Apanya yang penting? Kau hanya buang-buang waktu istirahatku saja." Sungutnya kesal.
"Mendesah lah, Sa. Aku ingin mendengarnya."
"Ha?."
Terdengar konyol, memang! Tapi, Elkan memang benar-benar ingin mendengar Alsa melakukan itu. Hanya dengan mendengar suaranya saja mampu membuat ke laki-lakiannya menjadi kembali on.
"Aku enggak mau! Bukankah kau di sana bersama kekasih mu? Lalu untuk apa menyuruh ku melakukan hal konyol seperti itu?."
"Jangan banyak ngomong. Cepat lakukan!." Desak Elkan yang sudah tak sabar.
"Tapi..
"Jangan pakai tapi-tapian, cepat!."
"Iya, iya.. aku harus m*nd*sah bagaimana?."
Di dengar dari suaranya, bisa di pastikan kalo wanita itu sedang kesal kepada Elkan.
"M*ndes*h lah seperti yang biasanya kau lakukan saat sedang ber-c*nt* denganku."
"Yang bagaimana? Aku lupa?."
"B*ngs*t! cepat lakukan! Jangan banyak alasan!."
"Iya, Iya!."
Pada akhirnya, Alsa hanya bisaa pasrah. Mau tak mau, dia harus menuruti permintaan Elkan yang luar biasa itu.
"Akhhhh!."
"Embbhhh.."
***
Sudah hampir setengah jam, Alsa mendesah sendiri seperti orang gila. Tapi, Elkan masih saja memintanya untuk tetap lanjut.
"Bagaimana? Sudah belum?." Tanya Alsa yang sudah mulai lelah karena terus menerus merancau tak jelas.
"Sebentar lagi.. teruskan..emmbb." Jawab laki-laki itu terdengar berat.
Alsa, memutar bola matanya jengah. Kemudian, ia kembali mengeluarkan lagi suara menjijikkannya.
"Embbhhh.."
"Akhhh!."
Samar-samar, Alsa mendengar suara grasak-grusuk dari sambungan telepon, hingga kemudian terdengarlah suara seorang wanita, yaitu Risma.
"Kenapa, Sayang? Kenapa wajahmu memerah? Apa yang aku bicarakan dengan asisten-mu, sehingga membuat mu begini?." Tanya Risma kepada Elkan.
"Cepat buka selimutmu, aku ingin melanjutkannya lagi." Jawabnya tergesa.
"Sabar dong, Sayang.."
Dengan penuh semangat, Risma kembali membuka selimut yang menutupi tubuh tel*nj*ng nya, lalu laki-laki segera merangkak naik di atas tubuhnya kembali.
"Akhhh.. Elkan."
Terdengarlah suara orang yang sedang memadu kasih. Alsa, dapat mendengar suara Risma dan Elkan secara jelas karena sambungan telepon mereka masih tersambung.
Tes!
Setetes air mata kepedihan, lolos membasahi pipi Alsa. Tega-teganya Elkan melakukan ini padanya. Jika hanya ingin memadu kasih dengan Risma, kenapa musti memberitahunya?.
"Good! ..Eembbbhhh faster, El!.."
Karena sudah tak sanggup lagi mendengarkannya, akhirnya dia pun memutus panggilan telepon secara sepihak.
Brak!
Wanita itu langsung melempar ponselnya ke sembarang arah, lalu kemudian menelungkupkan wajahnya di atas lututnya.
"Hiks.. Kenapa kamu harus mendengarkan percintaanmu padaku, El?." Lirihnya di sela tangisnya.
"Aku tahu, kalo kamu hanya menganggap ku sebagai selimut pengganti penghangat ranjang mu, tapi tidak begini juga caranya. Aku masih punya hati, dan hatiku sakit sekali! Hiks.."
Alsa, menepuk-nepuk dadanya untuk menghilangkan rasa sesak.
"Aarggghhh! Elkan si*l*n!."
Untuk meluapkan semua sakit hatinya, Alsa melempar semua bantalnya di lantai. Entah ini perasaan yang di ciptakan oleh janinnya saja atau real perasaan sendiri, yang jelas dia merasa cemburu dan marah.
"Arrrgggg!." Teriaknya menggema.
"Hiks.."
Tubuh Alsa, tersentak-sentak karena tangisnya yang semakin menjadi.
"Selalu saja begini. Kapan aku akan bahagia dan mendapatkan cinta yang tulus?." Teriaknya penuh dengan nada keputusasaan.
"Aku lelah, Tuhan.. Rasanya aku ingin menyerah saja. Hiks.."
Alsa menangis seorang diri di dalam kamarnya, sampai dia benar-benar lelah.
Setelah tangisnya itu sudah mulai mereda, dia mengelus permukaan perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Jangan sedih, Nak. Biarkan Ayah-mu bahagia dengan wanita lain, yang penting kamu bahagia bersama Bunda. Setelah kita bebas dari jeratan Ayah-mu, kita akan memulai hidup bahagia di desa. Kamu tenang saja, nanti aku akan menjadi sosok Ayah sekaligus Bunda untukmu. Aku juga bersumpah untuk menyayangimu melebihi nyawaku sendiri."
Alsa, menjeda kalimatnya sejenak untuk menarik napas panjang.
"Dan kita akan pergi selamanya dari Ayah-mu, bahkan bila perlu, tak 'kan ku biarkan kau mengenali sosok Ayah-mu yang b*jing*n itu." Sambungnya penuh kebencian yang mendalam.