Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Croissant Terakhir
Aku selalu percaya satu hal.
Kalau hidup tiba-tiba terasa terlalu menyenangkan...
Biasanya semesta sedang menyiapkan lelucon.
Dan aku...
Sering kali menjadi bahan leluconnya.
"Tiga croissant, satu sup bawang, dua cokelat panas."
Kataku sambil meletakkan beberapa lembar euro di atas meja.
Penjual toko roti menatapku dari balik kacamatanya.
"Untuk pesta?"
"Tidak."
"Ulang tahun?"
"Bukan."
"Lalu?"
Aku mengangkat bahu.
"Hari ini kami kaya."
Pria itu tersenyum kecil.
"Kalau begitu, selamat."
"Terima kasih."
"Tapi besok?"
Aku tersenyum tipis.
"...besok kembali miskin."
Pria itu tertawa pelan.
"Setidaknya kau jujur."
"Aku terlalu lelah untuk berbohong."
Beberapa menit kemudian, kantong kertas hangat berpindah ke tanganku.
Aroma mentega memenuhi hidungku.
Aku sampai menutup mata.
"Mon Dieu..."
gumamku.
"Ini surga."
Léo langsung merebut salah satu kantong.
"Jangan dicium terus."
"Dimakan."
"Kau merusak momen."
"Momen tidak bisa mengenyangkan."
"Itu juga benar."
Kami berjalan menyusuri tepian Sungai Seine.
Udara masih dingin.
Namun kali ini...
Tanganku terasa hangat karena memegang kantong roti.
Aku bahkan bersiul pelan.
Léo menatapku heran.
"Kau sedang senang sekali."
"Tentu."
"Karena uang?"
"Bukan."
"Karena roti?"
"Itu juga."
"Lalu?"
Aku berpikir sebentar.
"Karena hari ini..."
"...aku tidak perlu mencuri."
Léo terdiam.
Kemudian ia tersenyum kecil.
"Semoga besok juga begitu."
Aku ikut tersenyum.
"Amin."
── Maël kepada kalian ──
Jangan salah paham.
Anak jalanan bukan bangga karena mencuri.
Kami bangga...
Kalau berhasil bertahan sehari tanpa harus melakukannya.
Ada bedanya.
Besar sekali bedanya.
── Kembali ke cerita ──
Ketika kami kembali ke bawah jembatan...
Marcel sedang duduk di atas peti kayu sambil membaca koran.
Lebih tepatnya...
Berpura-pura membaca.
Karena aku tahu pasti.
Kacamata tuanya sudah pecah sebelah sejak musim dingin lalu.
"Bonjour, orang tua."
Sapaku.
Marcel mendengus.
"Bonjour."
"Kau terlambat."
"Aku membawa oleh-oleh."
"Tidak tertarik."
"Kali ini bukan koran."
Marcel akhirnya menurunkan korannya.
Aku mengeluarkan satu croissant hangat dari kantong.
Matanya langsung membesar.
"Itu..."
"Iya."
"Untukku?"
Aku mengangguk santai.
"Hasil kerja jujur."
Marcel menatap roti itu cukup lama.
Seolah takut kalau itu hanya mimpi.
Lalu perlahan ia menerimanya.
Tangannya sedikit gemetar.
"Aku..."
Ia berhenti bicara.
Aku langsung memotong.
"Jangan."
"Kenapa?"
"Kalau kau menangis..."
"...aku tarik lagi rotinya."
Marcel mendengus.
"Siapa bilang aku mau menangis?"
"Matamu merah."
"Itu debu."
Léo langsung tertawa.
"Tuh kan."
"Kubilang juga."
Marcel memelototi kami berdua.
"Kalian berisik."
"Tapi kau sayang."
kataku.
"Jangan sok tahu."
Ia menggigit croissant itu.
Pelan.
Sangat pelan.
Seolah ingin rasa menteganya bertahan lebih lama.
Aku pura-pura tidak melihat.
Tetapi...
Sudut mataku menangkap sesuatu.
Air mata kecil.
Marcel buru-buru mengusapnya.
"Debu."
gumamnya.
Aku mengangguk.
"Tentu."
Kami bertiga duduk di bawah jembatan.
Tidak ada meja.
Tidak ada kursi.
Hanya peti kayu, kardus, dan suara kereta yang sesekali melintas di atas kepala.
Namun entah kenapa...
Makan siang itu terasa lebih hangat daripada restoran mana pun.
Léo menyeruput cokelat panas.
Lidahnya langsung kepanasan.
"PANAS!"
Aku tertawa terbahak-bahak.
"Kau lucu sekali."
"Diam."
"Sudah kubilang pelan-pelan."
"Aku lapar."
"Itu bukan alasan."
Marcel ikut tertawa.
Suara tawanya berat.
Jarang sekali terdengar.
Dan setiap kali terdengar...
Aku selalu merasa tempat ini sedikit lebih mirip rumah.
"Maël."
panggil Marcel tiba-tiba.
"Hm?"
"Tunjukkan tanganmu."
Aku mengernyit.
"Kenapa?"
"Tunjukkan."
Aku mengulurkan tangan.
Marcel membalik telapak tanganku.
Melihatnya cukup lama.
Lalu menghela napas.
"Tidak ada luka baru."
"Tidak."
"Bagus."
Aku mengangkat alis.
"Apa?"
"Tanganmu..."
katanya pelan.
"...lebih cocok memegang pena."
"Bukan dompet orang."
Aku tertawa kecil.
"Masalahnya..."
"Aku tidak pandai menulis."
Marcel menatapku.
"Siapa bilang?"
"Kau."
"Aku tidak pernah bilang."
"Lalu?"
Ia menunjuk kepalaku.
"Kau selalu bercerita."
"Tentang orang."
"Tentang kota."
"Tentang hidup."
"Itu juga menulis."
Aku terdiam.
Léo ikut mengangguk.
"Iya."
"Kau memang cerewet."
"Itu bukan pujian."
"Tapi benar."
Aku melempar bungkus roti ke arahnya.
Ia tertawa sambil menghindar.
── Maël kepada kalian ──
Lucu ya.
Aku bahkan tidak sadar kalau aku suka bercerita.
Mungkin...
Karena tidak ada yang pernah mau mendengarkan.
Jadi sejak kecil...
Aku terbiasa bercerita kepada diriku sendiri.
Dan sekarang...
Kepada kalian.
Terima kasih karena masih bertahan sampai halaman ini.
Semoga kalian tidak bosan.
Karena...
Ceritaku baru saja dimulai.
── Kembali ke cerita ──
Tiba-tiba...
Dari kejauhan terdengar suara mesin mobil.
Bukan mobil biasa.
Sebuah sedan hitam mengilap berhenti tepat di depan jalan menuju bawah jembatan.
Mobil seperti itu...
Jarang sekali masuk ke kawasan ini.
Pintunya terbuka perlahan.
Seorang pria tua keluar.
Jas hitam.
Tongkat kayu.
Topi fedora abu-abu.
Penampilannya terlalu rapi untuk berada di lingkungan kami.
Ia melihat sekeliling.
Lalu...
Tatapannya berhenti tepat padaku.
Bukan kepada Marcel.
Bukan kepada Léo.
Padaku.
Pria itu tersenyum tipis.
Kemudian mengucapkan satu kalimat dalam bahasa Prancis yang membuat Marcel mendadak berdiri.
"Enfin... je t'ai retrouvé."
"Akhirnya... aku menemukanmu."
Aku mengernyit.
"Kita saling kenal?"
Pria itu tidak menjawab.
Namun wajah Marcel...
Mendadak kehilangan warna.
Seolah-olah...
Ia baru saja melihat hantu dari masa lalunya.