#Karya ini merupakan Karya Kreatif Modern
Setelah di-PHK dari pekerjaannya sebagai buruh, kehidupan Bara berputar 180 derajat. Kehidupan tak lagi berpihak kepadanya dan terpaksa harus menjadi pemulung yang selalu dihina oleh mertua.
Bara adalah laki-laki yang tak banyak bicara. Segala hinaan yang diberikan pun tak pernah ia balas. Hingga sebuah peristiwa mengubah segalanya. Bara diberi tugas untuk mengatakan hal-hal yang menyakiti hati orang lain. Dia dibayar mahal untuk itu semua.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti series berlanjut dari Bacot System, ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Hanya Aku yang Boleh Berbohong
Pria itu menatap Bara dengan penuh amarah, merasa yakin bahwa Bara sedang melakukan sesuatu terhadapnya. Ia ingin berteriak, tetapi mulutnya terasa semakin remuk bagai digenggam dengan kuat oleh sesuatu tetapi tak terlihat.
"Ada apa? Kenapa kau hanya diam begitu?" tanya Bara dengan nada ringan.
Pria itu terlihat berusaha untuk membuka suara tetapi semakin membuatnya tersiksa. Sementara itu, anggotanya yang lain terlihat mulai heran karena tingkah rekannya ini.
"Bur ... Bur ... Lu kenapa?" bisiknya.
Pria yang dipanggil Bur hanya menggeleng kebingungan. Ia menunjuk Bara bergantian dangan mulutnya yang terkunci dengan ajaib.
"Kenape lu tibe-tibe bisu? Kesambet?" tanya kawannya yang lain, antara serius dan tak serius.
Pria yang bermasalah dengan mulutnya itu menggeleng pasrah. Ia melambaikan tangan dan pergi meninggalkan rumah kontrakan Bara. Salah satu dari kawanan yang menyerang Bara pun mendekati Bara. Dengan kasar ia menarik pakaian Bara membuat ayah satu anak ini hampir ambruk karenanya. Rangga, putranya semakin tampak ketakutan.
"A-Ayaaah, Ayaaaah, Ayaaaaah," tangis balita itu.
"Rangga, kamu ingat apa yang Ayah katakan tadi?" Bara kembali mencoba menenangkan Rangga.
"Tapi Rangga takuut. Ayaaah, siapa bapak-bapak ini? Kenapa mereka jahatin Ayah?" Tangisan Rangga semakin menjadi, sehingga membuat perasaan pria yang mendatangi ayahnya menjadi kalut.
"Bocah, kau masuk ke rumah sana. Kami mau bicara dulu sama bapakmu. Kalau kau anteng, maka semuanya akan cepat selesainya," ucap pria itu.
"Rangga mau sama ayah. Rangga pengennya sama ayah."
Pria itu menggaruk kepalanya dengan kasar. "Bocah, kalau lu nggak mau minggir, jangan salahin gue kalau ...." Ia memamerkan otot-otot yang kendur itu.
"Kalau kalian ke sini hanya untuk kerusuhan, pergi lah seperti kawan kalian itu. Saya tak akan rela jika kalian berani mengganggu Rangga. Saya sudah mengetahui seluruh akal bulus kalian! Sebaiknya, kelakuan buruk memanfaatkan warga baru seperti ini harus dibuang. Selagi saya masih bisa berbicara dengan baik-baik, enyah lah dari lingkungan rumah saya! Jangan pernah kembali jika kalian berniat buruk!"
Kawanan yang masih tersisa saling bertatapan dan mengeluarkan sengiran pada bibir dengan dagu terangkat tinggi. "Hahaha, apa yang kau maksud? Akal bulus? Jangan sok tahu!" Salah satu dari mereka mencoba menyerang Bara dengan kepalan kuat. Namun, alangkah terkejutnya ia karena yang ia pukul hanya lah angin membuat ia jatuh terjungkang.
Kawanan lain melongo melihat kejadian aneh yang menimpa mereka. Salah satu dari mereka mencoba memutar kepala mencari posisi Bara yang tiba-tiba lenyap begitu saja.
Alangkah terkejutnya mereka melihat Bara sedang menggotong putranya berdiri di dekat sebuah pohon.
"Hah? Kenapa dia sudah berada di sana?"
Pria yang tadinya jatuh mencoba bangkit kembali. Ia melirim Bara dengan wajah menahan amarah. "Kau, punya jurus kanuragan, ternyata?"
Ia pun mengeluarkan gerakan silat yang ia pelajari entah di mana. Kedua kakinya berdiri dengan siap, pinggul sedikit turun, dan kedua tangan aktif diputar ke kiri ke kanan.
"Gue ini, jagoan kampung sini! Lu salah membuat gue emosi! Harusnya elu manut aje!" ucapnya sembari memasang kuda-kuda.
Bara tersenyum sinis melihat aksi lawan. Ia membuka pintu dan meletakkan Rangga di dalam rumah.
"Kamu di dalam saja!" Setelah itu Bara langsung mengunci pintu dan berjalan dengan santainya ke arah para warga yang tak lain adalah preman-preman yang memang senang memalak kaum yang lemah.
'Di sini, yang hanya boleh berbohong hanya lah aku,' batinnya.
Bara menjentikkan jemarinya.
...****************...
Karya berikutnya:
Napen: Siti Fatimah
Judul: Jeritan Sang Kupu-Kupu