NovelToon NovelToon
Istri Figuran Sang Pewaris

Istri Figuran Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Figuran
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.

Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.

Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.

Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.

Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?

JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA

FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cek Dari Alexander Group

Leon menaikkan satu alisnya, terkesan dengan ketegasan yang tiba-tiba muncul dari mata gadis yang semalam menangis tersedu-sedu di kakinya.

"Bagus. Pertahankan ucapanmu itu sampai akhir." balasnya.

Jefri mengetuk dokumen itu lagi, mengalihkan perhatian mereka kembali.

"Terakhir, Pasal empat yang sempat Anda baca tadi yaitu tentang Kerahasiaan Mutlak. Saya tegaskan kembali, pernikahan ini tidak boleh diketahui oleh publik, media, agensi, atau teman-teman Anda. Jika ada informasi yang bocor dari pihak Anda meski hanya berupa desas-desus kecil di media sosial maka kontrak batal, pembiayaan rumah sakit adik Anda akan dihentikan seketika, dan Anda wajib membayar ganti rugi seratus kali lipat dari seluruh biaya yang telah dikeluarkan Tuan Leon. Apakah semua poin ini sudah jelas bagi Anda, Nona Alina?" seru Jefri setelah membacakan pasal-pasal yang tercantum didalam kontrak rahasia itu.

Alina memejamkan matanya sejenak, membayangkan wajah Agra yang pucat di atas bangsal rumah sakit. Taruhannya begitu besar. Satu langkah salah, dia tidak hanya akan kehilangan uang, tapi juga nyawa adiknya.

"Ya, Pak Jefri. Semuanya sudah sangat jelas." jawab Alina sambil membuka matanya, menatap draf kontrak itu dengan pasrah.

"Sempurna." Jefri menutup map jepitnya dengan bunyi klik yang rapi.

Dia mengambil cek seratus juta di atas meja dan menyerahkannya kepada Alina dengan kedua tangan.

"Ini cek untuk menyelesaikan urusan administrasi darurat adik Anda di rumah sakit lama. Setelah ini, saya telah menyiapkan ambulans khusus dari Rumah Sakit Internasional Alexander untuk memindahkan adik Anda ke ruang VIP nomor 401. Anda bisa ikut di dalam ambulans untuk menemani beliau."

Alina menerima cek itu, meremasnya dengan rasa syukur yang membuncah.

"Terima kasih... terima kasih banyak, Pak Jefri. Terima kasih, Tuan Leon."

Leon tidak menjawab. Dia hanya mengibas-ngibaskan tangannya, memberi isyarat agar Alina segera meninggalkan ruangannya.

Bagi Leon, urusan ini telah selesai untuk pagi ini. Bidak catur telah diletakkan di atas papan, dan dia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk memainkannya di depan sang nenek.

Begitu pintu ruangan tertutup dan Alina telah pergi bersama Jefri, Leon memutar kursi kerjanya menghadap ke jendela kaca besar. Dia menatap pemandangan ibu kota yang padat di bawah sana. Sinar matahari pagi mulai menghalau sisa-sisa mendung semalam, memantul di atas gedung-gedung kaca di sekitarnya.

Leon mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, dadanya terasa sedikit lebih lapang. Dengan adanya kontrak ini, dia memiliki waktu satu tahun penuh untuk bernapas bebas dari kejaran perjodohan kakek dan neneknya.

Namun, di sudut terjauh pikirannya, Leon tidak bisa tidak memikirkan bagaimana sebuah takdir bekerja. Semalam gadis itu hanyalah seorang ojek online yang mengacaukan jalannya, dan hari ini, tanda tangannya telah terikat bersama namanya.

"Satu tahun," gumam Leon pada dirinya sendiri, matanya menyipit menembus awan.

"Hanya satu tahun permainan sandiwara, Leon. Jangan sampai kamu sendiri yang merusak skenarionya." lirihnya.

Gedung tinggi Alexander Tower terasa makin menekan ketika Alina melangkah keluar dari lift barang di lantai dasar. Di tangannya, selembar cek senilai seratus juta rupiah terasa begitu panas, seolah-olah kertas itu adalah bara api yang siap membakar seluruh hidup lamanya. Namun, bagi Alina, bara api inilah yang akan menghangatkan kembali tubuh Agra yang kian hari kian mendingin di atas bangsal rumah sakit.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Alina berlari ke luar lobi, mengabaikan tatapan heran orang-orang yang melihat penampilannya yang kusut dan penuh perban.

Di luar gerbang, sebuah mobil ambulans modern dengan logo Rumah Sakit Internasional Alexander sudah terparkir dengan mesin yang menyala halus. Di samping pintu kemudi, seorang pria paruh baya berseragam sopir rapi langsung membungkuk hormat begitu melihat Alina.

"Nona Alina? Saya diinstruksikan oleh Pak Jefri untuk mengantar Anda menyelesaikan administrasi di rumah sakit lama, lalu mengawal proses pemindahan Den Agra." ucap sopir itu dengan nada yang sangat sopan.

Alina sempat tertegun. Diperlakukan sehormat ini adalah hal yang sangat asing baginya.

"Ah... iya, Pak. Terima kasih. Mari kita berangkat sekarang, waktu kita tidak banyak." seru Alina.

Perjalanan membelah kemacetan kota terasa begitu lambat bagi Alina yang dirundung kecemasan. Sepanjang jalan, matanya tidak lepas dari lembaran cek di pangkuannya.

Pukul 07.45 belas menit lagi sebelum tenggat waktu dari bagian keuangan rumah sakit kota habis. Alina terus meremas jemarinya, berdoa dalam hati agar roda ambulans ini bisa berputar lebih cepat.

Begitu mobil berhenti di lobi depan rumah sakit kota, Alina langsung melompat turun sebelum sopir sempat membukakan pintu untuknya. Dia berlari menyusuri koridor yang pengap dan berbau obat-obatan yang tajam, menuju loket administrasi yang berada di sudut lantai satu.

"Permisi, Sus! Ini... ini pembayaran untuk pasien Agra Savina, ruang ICU darurat." ucap Alina terengah-engah, menempelkan cek tersebut pada kaca loket yang tebal.

Petugas administrasi yang semalam menghubunginya mendongak dengan raut wajah skeptis. Namun, begitu matanya menangkap nominal dan logo bank swasta eksklusif yang tertera di atas cek berlapis emas tersebut, ekspresinya langsung berubah drastis. Matanya melebar, menatap Alina dengan pandangan tidak percaya.

"Cek dari Alexander Group?" gumam petugas itu lirih, jemarinya dengan cepat mengetik sesuatu di komputer untuk memvalidasi keaslian dokumen tersebut.

"Baik, Nona Alina. Pembayaran senilai seratus juta rupiah kami terima. Biaya semalam dan obat-obatan untuk tiga hari ke depan sudah lunas, sisa saldonya akan kami masukkan ke dalam deposit perawatan." ucap sang suster.

"Tidak perlu deposit, Suster." sela Alina sambil mengatur napasnya yang memburu.

"Hari ini juga, adik saya akan dipindahkan ke Rumah Sakit Internasional Alexander. Tolong siapkan seluruh dokumen rekam medisnya sekarang." seru Alina.

"Baik, Nona Alina." sahut sang suster.

Petugas itu hanya bisa mengangguk patuh tanpa berani bertanya lebih jauh. Kekuasaan uang Alexander Group seolah langsung meruntuhkan semua dinding birokrasi yang biasanya mempersulit hidup Alina, semua terasa begitu lancar tanpa ada hambatan seperti seperti sebelumnya.

Setelah urusan administrasi selesai, Alina segera melangkah menuju ruang ICU. Melalui kaca jendela kecil di pintu besi yang rapat, dia bisa melihat tubuh kurus adiknya yang berusia lima belas tahun itu terbaring di atas ranjang dengan berbagai selang dan kabel monitor menempel di dadanya. Wajah Agra sangat pucat, napasnya terlihat pendek dan dibantu oleh masker oksigen.

Alina mendorong pintu dengan perlahan, melangkah masuk tanpa menimbulkan suara. Dia duduk di kursi besi di samping ranjang, lalu menggenggam tangan kanan Agra yang terasa sangat dingin dan kurus.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
Silvia
lanjut
Euis Amalia
sombong banget clarissa... berat berat lahir bathin yaa Alina... tetap semangat...
partini
peran figuran,, biasanya sering interaksi sama aktor wah boleh itu
kiky
next...😍😍
Asni Mariati
haduhhhh bakal sekamar nih🤭🤭🤭
rinifikalisa
mampir 👍
Lala_Syalala: selamat datang kak,,, semoga ceritanya menghibur yaaaa🙏🙏😊😊🤗🤗😍😍😍😍😍
total 1 replies
Asni Mariati
lagii up ny
kuraanggg terus
kelamaan nunggu bsok thor😭😭😭😭
Lala_Syalala: sabar ya kakakku,, author masih nulis tungguin aja pokoknya kelanjutan cerita nyaa😍😍😍😍
total 1 replies
Rarik Srihastuty
akting yang sebenarnya akan segera dimulai
Silvia
perjuangan baru di mulai💪💪
Silvia
semangat Alina 💪💪 perjuangan baru di mulai
partini
aku ga yakin Alin bisa bertahan tetep anyep ga ada rasa suka ke Leon
Silvia
cerita nya bagus
Lala_Syalala: Terima kasih atas ulasan baiknya kak,,, semoga bisa selalu menghibur ya ceritanya🙏🙏😊😊🤗🤗🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Silvia
walaupun miskin tapi harus punya harga diri Alina semangat💪💪
kiky
next
partini
aihhh aduh ngmng kaya gitu perasan itu gampang berubah lah alamak 🤦
apa lagi perasaan wanita yg lemah lembut kaya lelembut wehhh melot duluan
Asni Mariati
kita lihat saja siapa dluan yg bakal jatuh cintrong 🤣🤣🤣
partini
pikiran adikmu aja jangn jatuh cinta Alin berbahaya karena kamu yg akan menderita
Euis Amalia
buktian alina... terpenting adik dapatbpengobatan terbaik...💪💪💪👍🙏
Asni Mariati
lanjuttttt tambah seru
gak sabar nunggu leon bucin akut 🤣🤣🤣
Koesbandiana
berakhir pernikahan sampai mempunyai cicit 🤣🤣🤣😜🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!